Asta Aiswarya

Asta Aiswarya adalah bentuk dan sifat ke-Maha-Kuasa-an Sanghyang Widhi skala dan niskala, yang terdiri dari delapan kekuatan, sehingga Aiswarya sering pula disebut Asta Aiswarya:

  1. Anima: sangat halus
  2. Laghima: sangat ringan
  3. Mahima: sangat besar dan sangat luas, tak terbatas
  4. Prapti: dapat mencapai segala tempat
  5. Isitwa: melebihi segala-galanya
  6. Prakamya: kehendak-Nya selalu tercapai
  7. Wasitwa: sangat berkuasa
  8. Yatrakamawasayitwa: kodrati tidak dapat diubah

Kedelapan bentuk dan sifat ini bersemayam pada-Nya yang dilambangkan sebagai Singhasana meliputi seluruh alam semesta, terpusat pada empat kekuatan aktif, yaitu:

  1. Dharma: hukum
  2. Jnyana: pengetahuan
  3. Wairagya: kesempurnaan
  4. Aiswarya: kekuasaan

Niyasa (lambang) Singhasana (singa) ini disebut pula Catur Aiswarya karena dihubungkan dengan empat jenis bentuk Sakti-Nya yang berkedudukan disetiap sudut Anantasana, yaitu:

  1. Dharma berkedudukan di tenggara (agneya) sebagai singa putih
  2. Jnyana berkedudukan di barat-daya (nairity) sebagai singa merah
  3. Wairagya berkedudukan di barat-laut (wayabya) sebagai singa kuning
  4. Aiswarya berkedudukan di timur-laut (airsaniya) sebagai singa hitam

Mengapa menggunakan niyasa Singha? Karena Singha (singa) adalah mahluk alam yang paling kuat dan berkuasa. Sehingga niyasa singha berarti pula symbol kekuatan dan kekuasaan.

Selanjutnya keempat niyasa shakti-shakti Sanghyang Widhi itu akan membawa kebaikan bagi manusia bila dalam pemujaan menggunakan mudra dan bija- mantra yang tepat:

  1. Untuk singha putih dengan mudra Sara, dan bija-mantra Reng, menimbulkan perasaan mendalam dan aktif
  2. Untuk singha merah dengan mudra Sikha, dan bija-mantra Rreng, memberi kepuasaan
  3. Untuk singha kuning dengan mudra Kawaca, dan bija-mantra Leng, memberi kesejahteraan seluruh alam
  4. Untuk singha hitam dengan mudra Parasu, dan bija-mantra Ling, menimbulkan rasa kagum

Yang dimaksud dengan kebaikan bagi manusia, seperti yang disebutkan di atas, adalah perasaan yakin dan dekat kepada Sanghyang Widhi, sehingga dapat mengharapkan Aiswarya Atman pada diri manusia setidak-tidaknya menyerupai atau mendekati kesamaan dengan Aiswarya Brahman (Sanghyang Widhi).

Mantra Catur Aiswarya Niyasa:

OM RENG DHARMAYA SINGHA RUPAYA SWETA WARNAYA NAMAH
OM RRENG JNYANAYA SINGHA RUPAYA RAKTA WARNAYA NAMAH
OM LENG WAIRAGYAYA SINGHA RUPAYA PITA WARNAYA NAMAH
OM LING AISWARYAYA SINGHA RUPAYA KRESNA WARNAYA NAMAH

Published by

Bhagawan Dwija

Bhagawan Dwija dari Geria Tamansari Lingga, Singaraja, lahir di Singaraja tanggal 13 Maret 1945. Pendidikan dimulai di Sekolah Rakyat No. 1 Singaraja, dilanjutkan ke SMP No. 1 Singaraja, SMEA Singaraja, FE UniBraw Malang, Sekolah Kader Pimpinan I BRI Jakarta, Univ. of Phillippines, Los Banos, dan SESPIBANK Jakarta.

7 thoughts on “Asta Aiswarya”

  1. 1
    I Dewa Agung says:

    thanks for this blog (^__^)

  2. 2
    made sujana says:

    swasti astu hyang bhagawn……apa ada kelanjutannya… mengingat…ada kelengkapan arah mata angin …..tolong diposting….suksme

    • 2.1

      Kelengkapannya masih banyak, sulit menguraikan disini. Bila berminat, beli/baca buku : Weda Parikrama, sara samhita kirana, naskah – terjemahan – penjelasan. G. Puja MA SH, Penerbit Setia, 1977

  3. 3
    kadek rita mulyani says:

    pelajaran ini sangat bagus!!
    terimakasih atas penjelasannya!!
    :)

  4. 4

    Pelajaran yang bermanfaat…….:D

  5. 5
    adhimastra says:

    Suksma sampun mapica pawarah-warah, dumogi rahayu rahajeng makasami

  6. 6
    ramakrishna says:

    I would have been happier had the explanation been in a language understand by common folk like me

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *