Arya Kenceng Tegeh Kuri (bukan Kori) adalah anak kandung dari Dalem (Raja). Ada dua kemungkinan ‘Dalem’, yaitu:
- Dalem Sri Kresna Kepakisan, raja I setelah pendudukan Majapahit, beristana di Puri Samprangan.
- Dalem Agra Samprangan, raja II setelah wafatnya Sri Kresna Kepakisan, juga tetap beristana di Puri Samprangan.
Ketidakjelasan tentang raja yang mana, karena:
- Dalam babad Arya Kenceng Tegeh Kuri tidak jelas disebutkan nama Dalem.
- Dalam babad Dalem, tidak pernah disebutkan bahwa kedua raja itu pernah mempunyai anak yang ‘dihadiahkan’ kepada Arya Kenceng.
Perkiraan itu muncul karena Arya Kenceng adalah salah satu panglima perang dari pasukan Gajahmada yang menaklukkan Bali di tahun 1300, jadi seangkatan dengan Dalem Sri Kresna Kepakisan, atau menjadi penglingsir Dalem berikutnya.
Anak (putra) Dalem itu dianggap bersalah karena merangkul ayahnya yang sedang duduk di balai persidangan. Oleh karena bersalah, maka anaknya di-’pecat’ sebagai anak, kemudian diberikan kepada Arya Kenceng untuk diboyong ke istananya di Buahan, Tabanan, serta diberi nama Arya Kenceng Tegeh Kuri (AKTK).
Sementara itu Arya Kenceng mempunyai anak kandung bernama Arya Ngurah Tabanan. Setelah Arya Kenceng wafat, terjadi perselisihan diantara anak kandung dan anak angkat, sehingga AKTK merantau dan akhirnya menetap di Benculuk (Tonja – Denpasar)
Suatu ketika, ATKT mempunyai anak gadis bernama Ni Gusti Ayu Mimba; gadis ini diperebutkan oleh anak Arya Ngurah Tabanan bernama Arya Pucangan, dengan rivalnya, putra Raja Menguwi.
Karena AKTK memihak Menguwi, maka puri Benculuk digempur oleh Arya Pucangan, maka disinilah berakhirnya kerajaan Benculuk.
Keturunan AKTK semuanya menyebar ke seluruh Bali.

Om Swastyastu Ratu Bhagawan yg titiang sucikan, Titiang mau bertanya tentang soroh..
Di sanggah merajan titiang wenten meru tumpang kalih, taler wenten pesimpangan dalem kubontingguh….tiang metaken ken pekak2 tiang, ten keni antuk ngorahang soroh napi. sakewanten etiap odalan sakin pure dalem kubontingguh tetep tangkil merike..soroh napi titing niki ratu bhagawan?. yening kirang atur utawi bahase titiang nunas gengrena sinampure.
Om Santih,santih,santih om.
om swastyastu
maaf tiang pakai bahasa indonesia
tiang mau tanya, tentang soroh serumbong aryawaringin dengan pandharman nya,
om santi santi santi om
Om Swastiastu..
Dados tiang metaken indik sasampune Kerajaan Badung Kaon, Wenten kacrite Ki Gusti tegeh Tegal ngungsi ke Jimbaran….
Napi wenten babad utawi purana sane nyritayang indik ki gusti tegeh tegal punike?….Napi Wenten pusaka sane kebakte duk ngungsi gumi jimbaran.
suksema kahatur ring ratu begawan.
Om Swastyastu,
Mohon maaf saya kurang paham dengan konsep leluhur jika dibagi ke masing-masing pulau.
Apa mungkin keturunan Arya menyembah leluhur sampai situs-situs Pulau Jawa (Majapahit) dan mungkin juga pemujaan cukup di ‘split’ per pulau seperti Pulau Lombok?
Artinya mengingat orang suci atau ksatria atau leluhur pertama yang menjejakkan kaki pertama kali di suatu Pulau.
Om Swastyastu,
Perbedan “kuri” dengan “kori” adalah : “kuri” artinya dibagian belakang. Maka bhisama Dalem : “tegeh kuri” artinya yang berada lebih tinggi (tegeh) dibagian belakang (kuri). Sedangkan “kori” artinya pemedal agung puri/keraton, sering juga disebut kori-agung. Maka dalam peristiwa lain (Babad Arya Tangkas) putra dari Kiyai Pangeran Tangkas yang berasal dari kelahiran ibu yang pernah menjadi istri Dalem (kemudian dihadiahkan kepada Kiyai Pangeran Tangkas sebagai istri dengan syarat “tidak boleh dicampuri” sampai bayi dalam kandungan – yang buah dari Dalem – lahir) berdasarkan bhisama Dalem, dinamakan Arya Tangkas Kori Agung.
Menurut kitab Mahabharata, setelah penobatan Raja Parikesit, dunia mengalami zaman kalisengarayuga. Mengenai kalisengarayuga, ditemukan pula pada ramalan Jayabaya bait 142,yang berbunyi sebagai berikut :
Pancen wolak-waliking zaman
Amenangi zaman edan
Ora edan ora kumanan
Sing waras pada nggagas
Wong tani padha ditaleni
Wong dora padha ura-ura
Beja-bejane sing lali
Isih beja kang eling lan waspadha
Terjemahannya :
Sungguh zamannya sedang gonjang-ganjing (sekarang ini)
Menyaksikan zaman gila
Tidak ikut gila tidak dapat bagian
Yang sehat olah pikir
Para petani dibelenggu
Para pembohong bersuka ria
Berbahagialah orang yang lupa
Tetapi masih lebih bahagia yang ingat dan waspada
Walaupun kini kalisengarayuga, namun kewajiban kita sebagai umat beragama adalah senantiasa menegakkan dharma, memelihara kethayuga dalam diri kita masing-masing, dan tidak boleh terpengaruh oleh hal-hal/godaan adharma yang berasal dari luar diri kita. Prabu Salya dalam perang Bharata (Bharatayuda) menasihati Nakula dan Sadewa : Kelak bila zaman kalisengarayuga tiba, hendaknya kamu menggunakan senjata kalimusadha. Senjata kalimusadha adalah senjata dari Dharmawangsa. Ini mengandung kias, seorang yang menegakkan dharma, bersenjatakan kalimusadha. Kalimusadha = kali + usadha atau dengan kata lain : obat di zaman kali. Seperti kita ketahui senjata Dharmawangsa yang bernama kalimusadha itu berbentuk kitab suci (lontar). Maka arti/makna lugasnya : di zaman kali seperti sekarang ini, kita harus mengikuti/menjalankan ajaran agama yang tertuang dalam kitab suci. Di Bali, kitab suci, selain catur weda samhita, dan pancama weda, juga yang termasuk kitab suci adalah kelompok nibandha, antara lain lontar-lontar tentang Babad yang ditulis oleh para Maha-Rsi, Pedanda, Dalem (Raja).
Om Santih, santih, santih, Om
Om Swastyastu, Ratu Bhagawan
Ampure titiyang Ratu Bhagawan dan para semethon sami.
tiyang ngaturang usul mangda komentar no 13 itu dihapus saja oleh admin. agar tidak bertambah panjang.
selain menyimpang dari konteks juga sangat sensitif.
Titiyang juga metaken. kira kira tahun masehi berapa itu kejadian – kejadian bersejarah tersebut.
Om Santih, santih, santih, Om
Om Swastyastu,
1. Di zaman demokrasi sekarang tidak mungkin kita bisa melarang orang berbicara atau menulis, sepanjang ia tidak melanggar hukum.
2. Jawaban saya mengacu pada sebuah buku berjudul : Babad Arya Kenceng Tegehkuri yang ditulis oleh Dra. Segatri Putra, Gst. Penerbit Paramita Grafika, Denpasar, 1990 Hal mengenai ramalan Jayabaya, mengacu pada buku : Ramalan Jayabaya, Indonesia masa lampau, masa kini, dan masa depan, oleh Suwidi Tono. Penerbit Vision)3, Depok, Jakarta, 2003
3. Website kami mengikuti kebiasaan dalam dunia maya. Kalau seseorang merasa tidak cocok dengan apa yang ada di Web, ya jangan dibuka, atau ditinggalkan saja.
Om Santih, santih, santih, Om