Babad Arya Tegeh Kuri

Arya Kenceng Tegeh Kuri (bukan Kori) adalah anak kandung dari Dalem (Raja). Ada dua kemungkinan ‘Dalem’, yaitu:

  1. Dalem Sri Kresna Kepakisan, raja I setelah pendudukan Majapahit, beristana di Puri Samprangan.
  2. Dalem Agra Samprangan, raja II setelah wafatnya Sri Kresna Kepakisan, juga tetap beristana di Puri Samprangan.

Ketidakjelasan tentang raja yang mana, karena:

  1. Dalam babad Arya Kenceng Tegeh Kuri tidak jelas disebutkan nama Dalem.
  2. Dalam babad Dalem, tidak pernah disebutkan bahwa kedua raja itu pernah mempunyai anak yang ‘dihadiahkan’ kepada Arya Kenceng.

Perkiraan itu muncul karena Arya Kenceng adalah salah satu panglima perang dari pasukan Gajahmada yang menaklukkan Bali di tahun 1300, jadi seangkatan dengan Dalem Sri Kresna Kepakisan, atau menjadi penglingsir Dalem berikutnya.

Anak (putra) Dalem itu dianggap bersalah karena merangkul ayahnya yang sedang duduk di balai persidangan. Oleh karena bersalah, maka anaknya di-’pecat’ sebagai anak, kemudian diberikan kepada Arya Kenceng untuk diboyong ke istananya di Buahan, Tabanan, serta diberi nama Arya Kenceng Tegeh Kuri (AKTK).

Sementara itu Arya Kenceng mempunyai anak kandung bernama Arya Ngurah Tabanan. Setelah Arya Kenceng wafat, terjadi perselisihan diantara anak kandung dan anak angkat, sehingga AKTK merantau dan akhirnya menetap di Benculuk (Tonja – Denpasar)

Suatu ketika, ATKT mempunyai anak gadis bernama Ni Gusti Ayu Mimba; gadis ini diperebutkan oleh anak Arya Ngurah Tabanan bernama Arya Pucangan, dengan rivalnya, putra Raja Menguwi.

Karena AKTK memihak Menguwi, maka puri Benculuk digempur oleh Arya Pucangan, maka disinilah berakhirnya kerajaan Benculuk.

Keturunan AKTK semuanya menyebar ke seluruh Bali.

61 comments on this post.
  1. agung wijaya:

    saya oleh para penglingsir di ceritakan bahwa dahulu leluhur saya yang memerintah di badung, namun kemudian karena ada perselisihan mengenai perkawinan kemudian badung di serang dan kemudian lari menyebar dan salah satunya ke karang asem angan tiga. mohon ratu begawan bisa memberi saya penjelasan mengenai hal ini.
    NB: diceritakan dahulu juga leluhur saya sempat tinggal di peguyangan.

  2. A. A. B. Palguna:

    Ini berarti bahwa Arya Kenceng Tegeh Kuri (AKTK) yang tertulis di atas tidak sama dengan Kyayi Ngurah Tegeh yang disebut juga dengan Arye Tegeh Kori (bukan Kuri) yang purinya si sebelah selatan Setra Badung (posisi kira2 di sebelah selatan Griye Tegal sekarang)? Suksma Ida Begawan.

  3. A. A. B. Palguna:

    Saya memperoleh suatu kutipan tentang TEGEH KURI sbb:
    Arya Benculuk datang ke Bali, beristrikan wanita dari dewa Tangkas, lalu putranya bernama Arya Tangkas, Arya Tangkas inilah yg mendirikan Puri Benculuk (di Tonja sekarang), dan beliau inilah yg menerima Arya Tegeh Kuri itu. Puri Benculuk itu musnah karena gempuran dari Jambe Merik, dan untuk membendungnya maka dirikan Puri Pemayun di Kesiman. Jadi, Arya Tegeh Kuri memang berbeda dengan Arha Tegeh yg kemudian dijuluki ARYA TEGEH KORI (purinya dulu purinya di daerah Tegal sekarang).

  4. putu suharta:

    saya mohon penjelasan tentang kawitan kepada Ida Begawan, saya punya pura namanya Pura Sibang ring Bongan-Tabanan, saya biasanya ngaturan piodalan Buda Kliwon Pagerwesi. saya tanya kepada orang tua yg dirumah semua tdk tahu mengapa saya punya pura sibang? saya mau punya adik meninggal saat dalam kandungan dan ibu saya(almrh) sakit terus nanya keorang pinter katanya tidak mau numadi kalo tidak tangkil ke sibang saya dah tangkil tapi tdk terus2an. dan saya punya keponakan juga begitu suruh tangkil kesana lagi. keponakan saya sudah bawa nama waktu nanya keorang pinter yaitu Anak agung puja adi. saya pingin tahu kawitan saya sebenarnya dimana? karena dirumah saya juga punya sanggah sendiri?

  5. Bhagawan Dwija:

    @putu suharta: Leluhur anda adalah Bendesa Sibang. Kalau dirunut keatas (mencari Kawitan) sebagai berikut : Bendesa Sibang – Pangeran Manik Mas – Bendesa Gelgel – Kiyai Agung Pasek Gelgel – Ki Gusti Rare Angon – Kiyai Gusti Semaranatha – Patih Wulung – Mpu Wijaksara – Mpu Lampita – Mpu Wiradharma – Mpu Withadharma – Mpu Gnijaya. Pamerajan Agung di Sibang, dan Dasar Bhuwana Gelgel, Kawitan anda di Lempuyang Madya, Pedharman anda di Pura Catur Lawa, Besakih.

  6. putu suharta:

    mohon maaf niki bagawan tiang cerewet niki metaken, mengapa tiang tanya keorang pinter sampai 2kali disuruh tangkil ke puri sibang terus dan mengapa keponakan saya disuruh ngasi nama anak agung puja adi? maaf niki bukannya tiang pingin naik kasta tapi tiang ingin jalan benar dan selamat sareng sami. terimakasih

  7. arik wibawa:

    om swastiastu

    ampura tiang jagi metaken mohon pencerahan supaya tidak kebingungan karna sampe karang saya tau kawitan tp belum bsa tangkil.
    tiang saking lombok.jagi metaken sareng ida baghawan.
    napai wenten ring prasati tertulis kisah penyerangan tegeh kuri ke lombok,ring dija tiang dapat melihat ulasan nya???
    ping kalih napa wenten nama2 keturunan bliau tercatat dalam prasasti sane menetap ring lombok?? suksma karna tiang keturunan arya tegeh kuri nenten uning kawitan .ring dija hanya pedarman ring besakih mohon penjelasan ring ida bhagawan suksma banget

  8. Bhagawan Dwija:

    @arik wibawa: Kerajaan Benculuk diserang dan dikalahkan oleh Kiyai Pucangan pada abad ke-XIV. Sira Arya Kenceng Tegeh Kuri lalu mengungsi ke kerajaan Menguwi dan dilindungi oleh Raja Menguwi : Anglurah Agung Menguwi. Di Menguwi beliau menetap lama sampai wafat. Putrinya bernama Ni Gusti Ayu Mimba dikawini oleh Anglurah Agung Menguwi. Keturunan Sira Arya Kenceng Tegeh Kuri yang bernama Ki Gusti Tegeh Gara, Ki Gusti Tegeh Kebek, Ki Gusti Tegeh Tegal berpindah dari Menguwi menuju ke Klungkung, kemudian melanjutkan ke Karangasem akhirnya mengabdi pada Raja Karangasem Ki Gusti Jelantik. Ketika Karangasem menyerbu Lombok pada abad ke-XVI Ki Gusti Tegeh Gara menjadi panglima perang, kemudian beliau menetap di Lombok (Selaparang). Beliau menurunkan warga Tegeh Kuri di Lombok. Jadi Pura Kawitan keturunan Sira Arya Kenceng Tegeh Kuri ada di Benculuk (Badung). Namun selain itu Pura-Pura yang patut disungsung oleh keturunan beliau adalah : Pamerajan Dalem Seganing di Banjar Sengguhan, Klungkung, Pura Penambangan di Denpasar, pamerajan Agung Dalem Menguwi di Mengui, pamerajan Agung Arya Kenceng di Buahan Tabanan. Lebih jauh dapatkan informasi di buku : Babad Arya Kenceng Tegehkuri, Dra Segatri Putra Gst.,Paramita Grafika, Denpasar 1990. Informasi juga bisa didapat pada Rektor Univ. Mahendradata : Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna. Coba cari melalui google, mungkin ada website-nya.

  9. Bhagawan Dwija:

    @putu suharta: Memang karena dahulu jabatan beliau adalah Pemimpin (Bendesa) dimana mempunyai rakyat, dan wilayah tertentu, maka penduduk menyebut beliau sebagai Anak Agung. Orang tua-tua di desa, hingga sekarang kalau maksudnya bertanya : “Siapakah Bupati Buleleng sekarang ?”, maka ucapannya :”Sira dados anake agung mangkin ring Beleleng ?” Jadi kalau sekarang ada yang ingin mengikuti jejak Bhatara Kawitan dengan gelar Anak Agung, tentu berpulang pada diri mereka sendiri.

  10. arik wibawa:

    suksma ida bhagawan sampun ledang mmemberikan tiang wejangan.
    tiang jagi metaken malih pisan
    napi sane patut margiang tiang napi keh tiang harus daftar yening tiang tangkil ring benculuk napi wenten pendatan warga kawitan mangda polih kejelasan ???
    ring rahina napi pujawali ring pura benculuk??manda tiang prasida tangkil…. suksma banget mangda ida bhagawan ledang nyawis pitaken tiang….

  11. Bhagawan Dwija:

    @arik wibawa: Indayang metaken ring Bapak Arya Wedakarna, rereh web dane ring Google

  12. putu ebit:

    om swastiasyu…
    dalam babad / lontar Merta jati Tamblingan juga menyebutkan keberadaan barak tegeh kori.Di sebutkan sebagai anak dari sh Ratih dan sh Surya. pernah disuruh oleh Ida Dalem Tamblingan untuk mencari saudaranya di ampenan, (gelogor?).
    Pertanyaan Tyang,
    1.Bagaiman kebenaran babd tersebut dan hubungannya dengan Arya Tegeh Kori yang dibahs tersebut?
    2.Dalam babad Kerta Jati disebutkan penyebab dinamai “tegeh kori”karena dijatuhkan oleh NGr. Ngenter sehingga menjadi cacat/senggel/tegeh kori. Apakah hal tersebut dapat dibenarkan sebagai asal mula penyebutan tegeh kori?

    suksema

  13. Bhagawan Dwija:

    @putu ebit: Arya Kenceng Tegeh Kuri adalah putra Dalem (Raja) namun karena waktu kecil dianggap prasangga kepada ayah beliau yakni berdiri lebih tingi (megandong) kepada Raja, lalu dibatalkan sebagai putra diberikan kepada Arya Kenceng, dibawa ke Tabanan, menjadi anak angkat. Kini pretisentanan beliau bernama Dalem Benculuk. Perlu diperhatikan, di Bali ada dua nama yang hampir mirip : Arya Kenceng Tegeh Kuri, dan Arya Tangkas Kori Agung. Perhatikan kata “Kuri” dan “Kori” (kuri artinya belakang/dibelakang, dan kori artinya pemedal). Dalam kasus Arya Kenceng Tegeh Kuri, adalah nama yang diberikan oleh ayahanda beliau sendiri sebagai nama baru setelah diberikan kepada Arya Kenceng, dimana nama itu mengenang peristiwa menyedihkan karena beliau megandong sehingga posisinya lebih tinggi “dibelakang” Raja (kurin Dalem). Dalam kasus Arya Tangkas Kori Agung, karena Pangeran Tangkas salah mengerti pada perintah Dalem sehingga terpaksa membunuh putranya sendiri yang bernama Pangeran Tangkas Dimade. Untuk menyelesaikan masalah ini, Dalem menghadiahkan seorang istrinya yang sedang hamil tua kepada Pangeran Tangkas, namun dengan syarat : 1) tidak boleh dicampuri sampai melahirkan. 2) Berikan nama si bayi : Arya Tangkas Kori Agung, sebagai tanda bahwa beliau berasal dari Puri (Istana yang mempunyai kori = pemedal Agung)
    Dalem Tamblingan “diduga” adalah Maha Rsi Markandeya, yang lama menetap di sekitar Danau Tamblingan, menunggu saat beliau moksah.

  14. bagus dhika:

    apa hubungannya arya geh kori dgn arya tegeh kori terkait dari diri saya pribadi masih blm jelas dan dari orang tua saya pura kawitan sy di benculuk denpasar mohon taggapannya

    terima kasih

  15. Bhagawan Dwija:

    @bagus dhika: Beliau adalah putra kandung Dalem (Raja), namun karena sesuatu hal dimana beliau dianggap tidak sopan (patut) lalu diberikan kepada Arya Kenceng untuk menjadi anak angkat dengan pesan agar dinamakan Arya Kenceng Tegeh Kuri. Pura Pedarman Pusat (Kawitan) ada di Benculuk, Badung. Kalau Arya Tangkas Kori Agung, juga adalah putra Dalem yang lahir dari istri Dalem yang dihadiahkan kepada Pangeran Tangkas. Kawitannya ada di Desa Tangkas, Klungkung.

  16. Nyoman Latra:

    OM SWASTYASTU Maaf ratu Begawan saya mohon penjelasannya tentang Kawitan saya,saya mempunyai Pura Nagasari terdapat di Desa Keramas.Dulu saya pernah tanya Ke orang Pintar,disuruh menghaturkan Sesajen (tepatnya Pejati dengan perlengkapannya serba warna putih )ke Pura PULASARI,katanya anak saya yang lahir mempunyai janji di pura tersebut.Sebelumnya terima kasih banyak atas penjelasannya. OM SHANTI SHANTI SHANTI OM

  17. ketut budi setiawan:

    Om Swastyastu, Dari data dan bukti yang masih ada di keluarga besar kami di desa Guang, Sukawati-Gianyar, sejak awal kami disebutkan sebagai keturunan Arya Kenceng. Namun seiring perjalanan waktu dan generasi, saya selaku generasi muda ingin sekali mengetahui sejarah perjalanan Beliau (Arya Kenceng)hingga sampai di desa Guang lalu “Nyineb Wangsa”. Adakah kaitannya dengan Arya Tegeh Kori? Sedangkan dari petunjuk yang kami dapat dari perjalanan “Meluasin” bahwa Pura kawitan kami adalah Arya Kepakisan. Mohon penjelasannya. OM Shanti, Shanti, Shanti Om.

  18. Bhagawan Dwija:

    @ketut budi setiawan: Arya Kenceng adalah pepatih Ida Bhatara Sri Aji Kresna Kepakisan yang di abad ke-13 berstana di Samprangan (Samplangan) Gianyar. Beliau diminta oleh Dalem untuk memelihara putranya dan diberikan nama Arya Kenceng Tegeh Kuri (kini soroh ini bernama Dalem Benculuk). Kalau hubungan darah dengan Arya Kepakisan tidak ada.

  19. putu wirawan:

    Om Swastyastu, tolong bantu ceritakan bagaimana Arya Kenceng Tegeh Kuri bisa berada di Buleleng (Desa Bestala)?

  20. bhagawan dwija:

    Penyebaran damuh sentana Ida Bhatara Arya Kenceng Tegeh Kuri (Dalem Benculuk)yang ada di Buleleng masih samar-samar, karena penduduk Buleleng ada yang datang karena kehendak sendiri mencari lahan pertanian atau berdagang, ada yang menjadi prajurit kerajaan Menguwi, dll. Perpindahan-perpindahan itu tidak tercatat dan tidak mendapat pebancangah dari Dalem atau dengan kata lain beliau-beliau tidak membawa prasasti karena kepergiannya bukan atas perintah Dalem/Raja. Maka catatannya tidak ada. Untuk merunut kembali, beberapa soroh di Buleleng ada yang mendengarkan cerita-cerita lisan para tetua, misalnya pernah mendapat peras dalam upacara pitrayadnya dari keluarganya di Bali selatan, timur, dll. Ada juga yang berdasarkan keberadaan pura, yang hari odalannya sama dengan semetonnya di Bali selatan, dll.

  21. bhagawan dwija:

    Om Swastyastu,
    Perbedan “kuri” dengan “kori” adalah : “kuri” artinya dibagian belakang. Maka bhisama Dalem : “tegeh kuri” artinya yang berada lebih tinggi (tegeh) dibagian belakang (kuri). Sedangkan “kori” artinya pemedal agung puri/keraton, sering juga disebut kori-agung. Maka dalam peristiwa lain (Babad Arya Tangkas) putra dari Kiyai Pangeran Tangkas yang berasal dari kelahiran ibu yang pernah menjadi istri Dalem (kemudian dihadiahkan kepada Kiyai Pangeran Tangkas sebagai istri dengan syarat “tidak boleh dicampuri” sampai bayi dalam kandungan – yang buah dari Dalem – lahir) berdasarkan bhisama Dalem, dinamakan Arya Tangkas Kori Agung.

    Menurut kitab Mahabharata, setelah penobatan Raja Parikesit, dunia mengalami zaman kalisengarayuga. Mengenai kalisengarayuga, ditemukan pula pada ramalan Jayabaya bait 142,yang berbunyi sebagai berikut :

    Pancen wolak-waliking zaman
    Amenangi zaman edan
    Ora edan ora kumanan
    Sing waras pada nggagas
    Wong tani padha ditaleni
    Wong dora padha ura-ura
    Beja-bejane sing lali
    Isih beja kang eling lan waspadha

    Terjemahannya :
    Sungguh zamannya sedang gonjang-ganjing (sekarang ini)
    Menyaksikan zaman gila
    Tidak ikut gila tidak dapat bagian
    Yang sehat olah pikir
    Para petani dibelenggu
    Para pembohong bersuka ria
    Berbahagialah orang yang lupa
    Tetapi masih lebih bahagia yang ingat dan waspada

    Walaupun kini kalisengarayuga, namun kewajiban kita sebagai umat beragama adalah senantiasa menegakkan dharma, memelihara kethayuga dalam diri kita masing-masing, dan tidak boleh terpengaruh oleh hal-hal/godaan adharma yang berasal dari luar diri kita. Prabu Salya dalam perang Bharata (Bharatayuda) menasihati Nakula dan Sadewa : Kelak bila zaman kalisengarayuga tiba, hendaknya kamu menggunakan senjata kalimusadha. Senjata kalimusadha adalah senjata dari Dharmawangsa. Ini mengandung kias, seorang yang menegakkan dharma, bersenjatakan kalimusadha. Kalimusadha = kali + usadha atau dengan kata lain : obat di zaman kali. Seperti kita ketahui senjata Dharmawangsa yang bernama kalimusadha itu berbentuk kitab suci (lontar). Maka arti/makna lugasnya : di zaman kali seperti sekarang ini, kita harus mengikuti/menjalankan ajaran agama yang tertuang dalam kitab suci. Di Bali, kitab suci, selain catur weda samhita, dan pancama weda, juga yang termasuk kitab suci adalah kelompok nibandha, antara lain lontar-lontar tentang Babad yang ditulis oleh para Maha-Rsi, Pedanda, Dalem (Raja).
    Om Santih, santih, santih, Om

  22. Hendra:

    om swastyastu.

    sebelumnya saya mohon maaf atas ketidak tahuan saya…
    saya juga semeton tegeh kuri dari desa medahan, blahbatuh gianyar titiang nyungsung di desa setempat yaitu Pakulun Ida Bhatara Dalem Peling.
    yang ingin saya tanyakan, apa tidak bisa diketahui dengan pasti siapa ayahanda tegeh kuri? trus, sebenarnya tegeh kuri adalah soroh dalem atau arya ? (maaf yg saya ketahui soroh arya merupakan keturunan dari Kepatihan dan Dalem merupa keturunan dai Dalem/raja)
    apakah ada tegeh kuri yang lain selain memakai nama Arya? (masalahnya orang tua saya tidah pernah menyebutkan nama Arya, yang orang tua saya sebutkan hanyalah Tegeh Kuri, dari dulu penglingsir2 kami tidak mengetahui kami dari soroh mana, hanya saja kami nyungsung pura Dalem Peling, mereka mengatakan kami soroh Peling, tetapi orang tua saya pernah nunasan baos, katanya kami dari soroh Tegeh kuri, karena orang tua saya sudah tidak ada, maka kami kebingungan mencari kawitan kami, kami hanya menemukan pedarmaan dibesakih saja yaitu kami yakinkan di Krisna Kepakisan) mungkin bhagan bisa membantu saya dan membri tau dimana saja letak pura kawitan Tegeh kuri itu yang ada dikabupaten kabuten daerah bali..?
    sekali lagi saya mohon maaf klo ada kesalahan saya dalam menyampaikan katakata.

    om shantih shantih shanti om

  23. ir putu gelgel wisanatapa dipl he:

    Maaf sblm ke Sibang(kaje) leluhurnya di Pasek GelgelAAN(KLK) betul? Maaf dan terima kasih

  24. ir putu gelgel wisanatapa dipl he:

    mohon tanya apabedanya Tangkas Kori Agung dengan Tegeh Kori diatas. Kalau Kori Agung kan yang menurunkan Pasek Gelgel yang pernah 7 thn, mengawini Luh Tangkas atas permintaan ayahnya karena anak laki2 nya mati dibunuh/tangannya sendiri. Semua rajabrana dikasikan Pasek Gelgel, tapi anaknya tetap Pasek Tangkas Kori Agung. Mohon penjelasan

  25. bhagawan dwija:

    Om Swastyastu,
    Tentang Babad itu, beli/baca buku : Babad Arya Kenceng Tegehkuri, Drs Segatri Putra Gst., Paramita Grafika, Denpasar.
    Beliau adalah putra Dalem (Raja) yang diserahkan kepada Arya Kenceng. Pura Kawitannya ada di Benculuk (Tonja, Denpasar) Kini soroh anda bernama Dalem Benculuk. Pedarmaan ada di Besakih, di Pedarman Dalem.
    Om Santih, santih, santih, Om

  26. hendra:

    inggih suksma

  27. Rah De:

    Om Swastyastu, Ratu Bhagawan

    Ampure titiyang Ratu Bhagawan dan para semethon sami.

    tiyang ngaturang usul mangda komentar no 13 itu dihapus saja oleh admin. agar tidak bertambah panjang.

    selain menyimpang dari konteks juga sangat sensitif.

    Titiyang juga metaken. kira kira tahun masehi berapa itu kejadian – kejadian bersejarah tersebut.

    Om Santih, santih, santih, Om

  28. bhagawan dwija:

    Om Swastyastu,
    1. Di zaman demokrasi sekarang tidak mungkin kita bisa melarang orang berbicara atau menulis, sepanjang ia tidak melanggar hukum.
    2. Jawaban saya mengacu pada sebuah buku berjudul : Babad Arya Kenceng Tegehkuri yang ditulis oleh Dra. Segatri Putra, Gst. Penerbit Paramita Grafika, Denpasar, 1990 Hal mengenai ramalan Jayabaya, mengacu pada buku : Ramalan Jayabaya, Indonesia masa lampau, masa kini, dan masa depan, oleh Suwidi Tono. Penerbit Vision)3, Depok, Jakarta, 2003
    3. Website kami mengikuti kebiasaan dalam dunia maya. Kalau seseorang merasa tidak cocok dengan apa yang ada di Web, ya jangan dibuka, atau ditinggalkan saja.
    Om Santih, santih, santih, Om

  29. Agus Sepang buleleng:

    Yang Saya Sucikan Ratu Bhagawan : Sebelumnya saya Minta Maaf kalo nanti ada kata2 saya yang salah atau salah matur.
    Saya mau konsultasi : saya adalah warga dari Desa Sepang Kelod Buleleng yang sampai saat masih belum ketemu dengan leluhur kawitan kami dan selama ini keluarga besar saya meangakui dari soroh pasek, Tetapi setelah sekian puluh tahun nyungkemin yang namanya soroh pasek banyak sekali kejadian2 diluar nalar yang menimpa kami (sakit, buut diklrga, ekonomi morat-marit dsb) sehingg krn tdk tahan dng keadaan tsb saya memberanikan diri untuk bertanya secara niskala dengan leluhur, dari proses ratusan kali bertanya tsb hampir 90% saya mendapatkan petunjuk bahwa saya adalah keturunan Arya/Ksatria bahkan ada beberapa petunjuk menyatakan bhw saya adalah soroh dalem tapi nyineb wangsa, bukan soroh pasek. Bahkan beberapa kali kami bertemu dng org paranormal dengan melihat wajah dan aura wajah saya saja mereka bisa memvonis saya adalah soroh ksatria bukan Pasek.dan Banyak sekali juga baos beras jinah yang kami terima bahwa leluhur kami dulu adalah seorang pepatih yang sangat dipercaya oleh dalem.

    Yang Kedua : ada bukti yang ditinggalkan oleh leluhur kami pada saat pertama kali sampe didesa sepang bersama 33 orang yang skg menjadi penduduk wed. yaitu sebuah merajan dengan atap ijuk berkaki kayu dadap/kayu sakti yg disebut dg “Kemulan Sakti” yang satu paket dengan pekarangan rumah tua, dan secara letak geografis letak pekarangan tersebut ada disebelah utara dan lebih tinggi dg dataran yang lain dan hanya tempat tsb (pekarangan Red)yang disebut dengan “BANJAR TEGEHAN” padahal nama banjar dinas skg bernama “Banjar Asah Badung”. Menurut Cerita Tetua/pengelingsir2 yang ada didesa Sepang dulu tempat pekerangan Banjar tegehan tersebut setiap malam selalu mengeluarkan aura sinar dan orang2 yang sehari-hari melwati tempat itu harus dalam posisi meruduk/membungkuk sperti stengah bersujud.

    Yang Ketiga: Bahwa leluhur kami yang ada di Banjar Tegehan Red tsb dulu saat datang kesepang dan nyineb wangsa dan membawa sebuah Bapencangah/tanda pengenal yang terbuat dari tembaga dan kuningan, tapi sayang entah dimana skg benda tsb.dan banyak sekali cerita2 unik yang kami terima dari pengelingsir, tapi sayang sekali kami sekarang betul “Kepetengan” siapa sebenarnya leluhur kami yang pertama kali sampe disepang.

  30. Agus Sepang buleleng:

    Yang Saya Sucikan Ratu Bhagawan : Sebelumnya saya Minta Maaf kalo nanti ada kata2 saya yang salah atau salah matur.
    Saya mau konsultasi : saya adalah warga dari Desa Sepang Kelod Buleleng yang sampai saat masih belum ketemu dengan leluhur kawitan kami dan selama ini keluarga besar saya meangakui dari soroh pasek, Tetapi setelah sekian puluh tahun nyungkemin yang namanya soroh pasek banyak sekali kejadian2 diluar nalar yang menimpa kami (sakit, buut diklrga, ekonomi morat-marit dsb) sehingg krn tdk tahan dng keadaan tsb saya memberanikan diri untuk bertanya secara niskala dengan leluhur, dari proses ratusan kali bertanya tsb hampir 90% saya mendapatkan petunjuk bahwa saya adalah keturunan Arya/Ksatria bahkan ada beberapa petunjuk menyatakan bhw saya adalah soroh dalem tapi nyineb wangsa, bukan soroh pasek. Bahkan beberapa kali kami bertemu dng org paranormal dengan melihat wajah dan aura wajah saya saja mereka bisa memvonis saya adalah soroh ksatria bukan Pasek.dan Banyak sekali juga baos beras jinah yang kami terima bahwa leluhur kami dulu adalah seorang pepatih yang sangat dipercaya oleh dalem.

    Yang Kedua : ada bukti yang ditinggalkan oleh leluhur kami pada saat pertama kali sampe didesa sepang bersama 33 orang yang skg menjadi penduduk wed. yaitu sebuah merajan dengan atap ijuk berkaki kayu dadap/kayu sakti yg disebut dg “Kemulan Sakti” yang satu paket dengan pekarangan rumah tua, dan secara letak geografis letak pekarangan tersebut ada disebelah utara dan lebih tinggi dg dataran yang lain dan hanya tempat tsb (pekarangan Red)yang disebut dengan “BANJAR TEGEHAN” padahal nama banjar dinas skg bernama “Banjar Asah Badung”. Menurut Cerita Tetua/pengelingsir2 yang ada didesa Sepang dulu tempat pekerangan Banjar tegehan tersebut setiap malam selalu mengeluarkan aura sinar dan orang2 yang sehari-hari melwati tempat itu harus dalam posisi meruduk/membungkuk sperti stengah bersujud.

    Yang Ketiga: Bahwa leluhur kami yang ada di Banjar Tegehan Red tsb dulu saat datang kesepang dan nyineb wangsa dan membawa sebuah Bapencangah/tanda pengenal yang terbuat dari tembaga dan kuningan, tapi sayang entah dimana skg benda tsb.dan banyak sekali cerita2 unik yang kami terima dari pengelingsir, tapi sayang sekali kami sekarang betul “Kepetengan” siapa sebenarnya leluhur kami yang pertama kali sampe disepang.

    Yang saya mau tanyakan adalah :
    1. Mungkinkah “Kata Banjar Tegehan” sebagai tanda leluhur kami masih ada hubungan dengan arya Tegeh Kuri Agung?
    2. Dimana Kami bisa berkonsultasi secara jelas, selain didi Web ini?
    3. Setiap Kapan prosesi Pembacaan Prasasti di Pura Tegeh Kuri Benculuk di Tonja?

    saya Kira itu saja sementara yg bisa saya gambarkan dan tanyakan, semoga ida bhagawan bisa memberikan kami pencerahan.Nunas Ampure Titiang yening iwang atur..

    Matur suksema

  31. bhagawan dwija:

    Pertanyaan 1 dan 2 hampir sama, jadi akan saya jawab sekali gus saja.
    Masalah kawitan memang penting dalam srada Atma Tattwa. Di Buleleng banyak terjadi kasus nyineb wangsa seperti pengalaman anda sekeluarga, sehingga menyulitkan kehidupan beragama dari generasi berikutnya, turun-temurun. Untuk memotong rantai kesulitan seperti ini ada banyak cara, antara lain :
    1. Napak tilas perjalanan hidup leluhur
    2. Mengumpulkan ceritra-ceritra orang tua-tua
    3. Mencari bukti-bukti atau acuan tertulis lainnya
    4. Meminta bantuan paranormal atau Sulinggih tertentu yang mempunyai reputasi dalam hal ini.
    Bila anda berminat, hubungi saya di HP 081-338-423-720 agar kita bisa bertemu, karena banyak hal yang perlu ditanyakan, tidak bisa melalui internet/email, juga saya perlu melihat on the spot.

  32. Agus Sepang Buleleng:

    Suksema Ping Banget Titiang Ucapkan Atas Jawaban Yang Ratu Bhagawan Berikan. Tetapi Titiang Mohon Maaf…klo untuk sementara titiang konsultasi dulu lewat web ini…krn saya perlu konsultasi dulu sama keluarga yang lain untuk menindaklanjuti konsultasi yang ratu Bhawagan berikan.

    Dari Keempat jawaban dan saran atu Bhagawan berikan sudah semua kami lakukan. Untuk Napak tilas perjalanan leluhur sdh kami pernah lakukan: diawali dgn mendak nuntun leluhur di pura kerangkeng puncak mundi nusa penida,dan untuk sementara Leluhur kami yang paling lingsir tersebut tidak berkenan dipendak tuntun kesepang di merajan wit kami yang ada di Banjar tegahan Sepang dan sekarang beliau berkenan kami linggihkan dikemulan kami yang ada di dalung permai. Setelah itu Prosesi dilanjutkan nangkilan leluhur kebeberapa pura yg ada di Jimbaran seperti pura taman sari dan pura bukit balangan sampe ke pura goa gong, setelah itu kami nagkil ke pura Catur lawa dan nyatur lawa di Pura Besakih, Ke Pura pedarman dalem sagening semarapura, dan terakhir leluhur kami memberikan pewisik lewat dasaran di pura Pusering jagat/Puseh Gelgel/Taman Magendra; dalam pewisik leluhur kami tsb dikatakan dgn menggunakan parab Biang dan aji Kawitan Masih Ngaturang ayah di Pura tersebut Red. Sampe kami pernah menghaturkan guru piduka disana…dan memang secara skala niskala ada perubahan yang siginifikan setelah kami melakukan prosesi tersebut.

    Tetapi sayangnya, leluhur kami belum bisa menyampaikan kepada kami siapa sebenarnya beliau (asal-asul, soroh, dan pesengan beliau), karena kalo itu belum kami ketahui secara otomatis kami tidak bisa menyambung silsilah dan untuk mencari bukti2 berupa tulisanpun selama ini kami menemui kendala…

    Demikianlah beberapa proses pengalaman yang bisa saya ceritakan…dan terus terang sekarang kami yang berproses ini disoroti oleh keluarga yang lain yang masih nyungkemin soroh pasek gelgel dan ekstrimnya kami dibilang ngelen2 dan hampir kesepekang….Tapi kami tetap pageh karena kami punya prinsip kami mencari suatu kebenaran hakiki demi keturunan anak cucu kami itu yang selama ini kami pegang selama ini.

    Semoga Saran dan pencerahan dari Ratu Bhawagan Bisa memberikan kami lebih banyak pencerahan, shg kami lebih mantap dalam mengemban titah leluhur untuk menyatukan seluruh warih leluhur kami.Semoga Moment ini awal dari silaturahmi antara kami dgn Ratu Bhagawan.

    Terima kasih

  33. bhagawan dwija:

    Om Swastyastu,

    Memang pada umumnya kita yang tinggal di Buleleng, banyak yang sulit mencari Kawitan yang benar, karena leluhur kita dahulu datang ke Buleleng ada yang nyineb wangsa, sehingga kini keturunannya bingung. Hal ini juga pernah saya alami. Namun berkat kegigihan kami, kesabaran, dan selalu sembah bhakti kepada leluhur, akhirnya kami diberikan jalan terang, sehingga sejak tahun 1959 kami menemukan Kawitan yang sebenarnya. Sejak itu hidup kami membaik, dan anak-anak sekolahnya lancar, mencari kerja mudah, dan rezeki datang memberikan kebahagiaan kepada kami. Semoga Agus demikian pula, berhasil menemukan jalan yang benar. Tetaplah bhakti kepada-Nya. Suatu saat pasti akan diberikan jalan/petunjuk yang jelas.

    Om Santih, santih, santih, Om

  34. Wijaya Kusuma:

    OM Swastyastu,

    Ratu Bhagawan Sane Wangiang Tityang, ijinkan kami menyampaikan beberapa hal, sehingga Semeton tityang menjadi lebih paham.

    Dalem Wawu Rawuh berkata lebih lanjut, bahwa pangeran I Dewa Anom Pemayun diserahkan pada Arya Kenceng untuk diangkat sebagai anak dengan upacara yang baik dan benar dan dipersaudarakan dengan putra Arya Kenceng. Meskipun demikian, I Dewa Anom Pemayun berhak menggunakan tatacara seorang putra Dalem, baik dalam hal manusa yadnya maupun pitra yadnya. Dalem juga mengganti nama I Dewa Anom Pemayun menjadi Sira Arya Tegehkori. Selanjutnya Dalem menugaskan Arya Kenceng untuk kembali ke Tabanan memimpin wilayahnya serta membawa putra beliau untuk diupacarai dan dipersaudarakan dengan putra – putra Arya Kenceng.

    “ Bhisama Ida Batara Dalem Sri Aji Krisna Kepakisan kepada Ida Batara Arya Kenceng, bahwa putranya I Dewa Anom Pemayun Memang Didarmaputrakan Kepada Arya Kenceng, Tetapi Memiliki Hak Yang Sama Dengan Putra Dalem”.

    ”Yayi Arya Kenceng, aja kadurusan, ulapi geleng ta yayi, upasama yasa kerti amanira, amahayu ikang rat, wus wruh manira sira yayi pascat ri wiweka, asadana satiya bhakti maprabhu, wus weruh manira, umenget ri bisamaninghulun uni kala, tan wenang saparan anuil manira ri sadakalaning angrangsuk busana ning kaprabhon, bilih – bilih ri jeng papahoman agung kaye mangke, rare bangeran ngaran putrangku, tan-wiyar-tan kaklesa, kayeka inucap ri raja niti.
    Amaten putrangku yayi, patemokakena asanak lawan putranta Anglurah Tabanan, nging hana pamintanku ri kita, upapira putrangku dena becik, mabaleman sirsa ning kebo bhinasmi.

    Manira lugraha aweh pasalin aran ri putrangku, manira aweh aran Arya Dalem Benculuk Tegehkori, muang kawenang angangge sa upacara Raja Putra”.

    OM Shanti Shanti Shanti OM.

  35. bhagawan dwija:

    Om Swastyastu,

    Inggih suksma

    Om Santih, santih, santih, Om

  36. damar:

    swatiastu bhagawan saya mau tanya

    1.gmn sejarah singkatnya arya tegeh kori menyerang lombok atas oerintah dalem???

    2.apa benar yang diutus kesana adalah generasi ketiga dari artya tegeh kori yaitu igusti nyoman tegeh kori

    suksma ats info nya

  37. bhagawan dwija:

    Om Swastyastu,

    Acuan saya adalah buku : Babad Arya Kenceng Tegeh Kuri, oleh Dra Segatri Putri, Gst, Paramita Grafika, Denpasar, 1990.
    Dalam buku itu tidak ditemukan kisah yang ditanyakan itu.
    Mungkin di Babad yang lain ada. Saya akan berusaha menemukan.

    Om Santih, santih, santih, Om

  38. Wijaya Kusuma:

    OM Swastyastu,

    Ratu Bhagawan sane wangiang tityang.
    Ida Dalem Sagening pernah menyerbu Lombok tahun 1615, menghadapi Ki Kebo Mundar.

    Dari Bali yang berangkat adalah laskar Badung (di bawah Tegehkori) dan laskar Kuta (di bawah I Gusti Telabah).
    Laskar Badung dipimpin oleh I Gusti Munang yang bertempur mengalahkan Ki Kebo Mundar.

    Karena I Gusti Telabah melarikan diri saat perang, maka wilayah Kuta diserahkan kepada I Gusti Tegehkori. Wilayah kerajaan Badung menjadi bertambah luas, hingga ke Kuta-Jimbaran.

    Selanjutnya jero Telabah digantikan oleh Pendeta, dan hingga kini menjadi Griya Telabah.

    Ampura ping banget, yen tityang iwang.

    OM Shanti Shanti Shanti OM.

  39. bhagawan dwija:

    Om Swastyastu,

    Inggih nika dados anggen acuan, sakewanten perlu taler uningang sumber duwene, mangde semeton lianan presida galang apadang manah ide/dane.

    Om Santih, santih, santih, Om

  40. partika:

    Om Swastyastu,
    Ratu bhagawan sane wangiang titiang,sebelumnya tiang mohon maaf kalo nanti ada kata kata tiang yang salah.
    Tiang dari desa gesing buleleng ,ada hal yang mau tiang tanyakan tentang kawitan Tegeh Kuri.
    1.disni ada yang bilang soroh kita adalah Barak Tegeh kuri, ada yang bilang Arya Tegeh Kuri. mana yang benar?
    2.ada yang bilang kawitan kita di pure dalem benculuk, ada yang bilang cuma di pura Dalem Tamblingan saja (di danau Tamblingan )?tiang jadi bingung mohon Ratu Bhagawan memberikan tiang penjelasan.
    3.selama ini tiang pribadi selalu tangkil ke pura Dalem Benculuk trus kalo mau nangkil ke Pura Besakih dimana Pedarmannya?
    Suksma atas perhatian Ratu Bhagawan
    Om Santih,Santih.Santih Om

  41. alit kumara:

    Om Swastiastu
    Ratu Begawan sane wangiang tityang, sedurungnyane tityang nunas ampura banget niki tityang jagi metaken.
    Tityang saking Negara, warih Ida Dalem Benculuk Tegeh Kuri.Puniki pitaken tityang:
    1.napi pengaruh beda nama “Tegeh Kuri” dan Tegeh Kori” mawinan tityang pribadi yakin dengan sebutan “TEGEH KURI” nanging ring pesemetonan nganggen sebutan/nama “TEGEH KORI” ???!!!…
    2.Sira warih Ida dalem Benculuk Tegeh Kuri sane kapertama rauh ring Jembrana/Negara.
    Tityang nunas ampura yening wenten kalimat tityang sane salah. Suksema Om Shanti Shanti Shanti Om….

  42. bhagawan dwija:

    Om Swastyastu,

    1. Bhiseka sane kaunggahang ring Babad : Arya Kenceng Tegeh Kuri. Wenten taler terjemahan babad merupa buku : Babad Arya Kenceng Tegeh Kuri, olih Dra Segatri Putra Gst. Penerbit Paramita Grafika, Denpasar, 1990

    2. Nama “Benculuk” adalah nama kedudukan Puri beliau setelah mejadi Raja (Dalem). Benculuk itu sendiri artinya = buahan, jambe, pucangan, peji. Parahyangan beliau bernama lengkap : Pura Dalem Arya Tegeh Kuri Benculuk. Kemungkinan nama Benculuk digunakan untuk mengenang ayah angkat beliau : Arya Kenceng yang telah membesarkan beliau di Puri Buahan (Tabanan).

    3. Kalau nama “Kori” berkaitan dengan Arya Tangkas Kori Agung, yakni bayi dalam kandungan dari Dalem (Seganing ?) yang diberikan kepada Pangeran Tangkas.

    4. Sira Arya Tegeh Kuri berperang dengan Kiyai Pucangan, lalu kalah, Puri Benculuk direbut musuh. Beliau mengungsi ke Menguwi. Setelah lama bermukim di Menguwi, putra-putra beliau antara lain Ki Gusti Tegeh Gara, Ki Gusti Tegeh Kebek, Ki Gusti Tegeh Tegal, pindah dari Menguwi ke Jembrana. Sebahagian tidak meneruskan ke Jembrana, tetapi menetap di Mambal, Klungkung, dan Jimbaran.

    Om Santih, santih, santih, Om

  43. bhagawan dwija:

    Om Swastyastu,

    1. Nama Soroh yang benar : Arya Kenceng Tegeh Kuri atau Dalem Benculuk. Gelar Dalem digunakan karena beliau bertahta menjadi Raja Badung berkedudukan di Benculuk.

    2. Pura Kawitan benar ada di Benculuk. Yang di Tamblingan dinamakan “Batur” artinya stana pemujaan Bhatara Wisnu, yang ajarannya dikembangkan olih Ida Maha Rsi Markandeya, sejak abad ke-8.

    4. Pedarman di Besakih : Pedarman Dalem (Raja-Raja)

    Om Santih, santih, santih, Om

  44. alit kumara:

    Om Swastiastu
    Ratu Begawan sane wangiang tityang, tityang ngaturang suksema banget atas penjelasan Ida Ratu Begawan atas pertanyaan tityang tgl 29 Pebruari 2012. druwenang niki tityang jagi metaken malih..
    Menyangkut pertanyaan tityang nmr 2 kemarin, tityang sampun ngewacen babad saking Dra Segatri Putra Gst.ring halaman 45 penjelasan nmr 4. sbb “Rombongan keempat ambil jalan paling singkat menuju kota Tabanan dipimpin oleh Kyai Gusti Tegeh Wayanan, Kyai Gusti Tegeh Made Segara bersaudara, dst..dst..”
    Masalah tityang mangkin wenten salah satu semeton tityang sane meduwe kebrebehan polih meluasan ke baas jinah, lantas polih pewuus saking salah satu Leluhur tityang (Kompyang Wy Badung)yang menerangkan bahwa
    “duk wug Badung, leluhur tityang (Kompyang Wy Badung)kari alit,mesemeton tetiga ngungsi mewali ring Buahan Tabanan, ngelantur ke jimbarwana. duk ring jimbarwana meyuda sareng prajurit Blambangan.(sekitar th 1778)”.
    Pertanyaan tityang :
    1. Bila melihat tahun itu (1778) dan diselaraskan dengan Babad dari Dra Segatri Putra Gst, mungkinkah salah satu dari rombongan yang ke Tabanan itu adalah orang tua dari leluhur tityang sane rauh ring baas jinah..? (krn pada saat Ida rauh penjelasan dari Beliau hanya sedikit)
    2. Kira-kira yang mana dari mereka yang menjadi orang tua/warih langsung leluhur tityang sane rauh ring baas jinah..
    Tityang ngaturang suksema banget atas perhatian dan pencerahan Ida Ratu Begawan, mudah mudahan Ida Ratu Begawan dapat memberi pencerahan lebih kepada kami, atau tidak menutup kemungkinan bila ada semeton pecinta Blog ini yang mempunyai informasi tenteng pertanyaan tityang ini dapat pula menginformasikan kepada kami. Suksema..
    Om Shanti..Shanti..Shanti..Om..

  45. bhagawan dwija:

    Om Swastyastu,

    Secara pasti sulit dijawab karena para leluhur kita di zaman dahulu sedikit yang menulis/mencatat oto-biografinya. Cara yang pernah ditempuh untuk mengungkap misteri seperti ini melalui paranormal atau balian metuwun. Namun gunakan beberapa balian. Kalau jawaban mereka sama, bolehlah dipercaya. Saya sendiri pernah melakukan itu tahun 1959.

    Om Santih, santih, santih, Om

  46. udayati:

    om swastyastu,
    ampura tyang nyelang driki,
    tyang kari alit tyang driki mataken tentang pedarman dalem punika genah nyane di sebelah mana??
    suksma..
    om santhi santhi santhi om

  47. Tu Agus:

    OM SWASTYASTU Maaf ratu Begawan saya mohon penjelasannya tentang Tingkatan Leluhur dari Tingkat Bapak/Bape keatas sampe 11 level keatas apa sebutan masing2 dari tingkatan tersebut…? dan Mohon Penjelasan juga dari sebelas level tersebut, smp level mana saja bisa dilinggihkan dipaibon dan level berapa yg sdh disebut sebutan Bethara dan dilinggihkan di Pura Lelangit…???

    Nglungsur sinampure yening iwang antuk titing metaken. Suksema Atur Titing.

  48. Tu Agus:

    Ampure Ratu Bhagawan Lali malih siki petaken titiang :

    Baru2 Ini titiang dapet bawos sakeng leluhur titiang yang baru pertama kali sampe di buleleng tepatnnya di Desa Sepang, Sesampe Disepang Beliau Membuat/menancapkan pelinggih rong siki beratap ijuk dan sakanya menggunakan kayu sakti (dan saka+atap tidak boleh diganti)dan disebut pelinggih Kemulan Sakti, nah dari sejarah itu kami sepakat bahwa sanggah dimana kemulan sakti tsb dibuat tsb merupakan merajan kawitan titiang disepang dan pura tsb RED oleh leluhur kami disebut Pura sanggah suwun Banjar Tegehan (Hanya diareal merajan tsb saja disebut Banjar TEGEHAN).

    …nah dari bawos yang kami terima dari lelhur kami yg membuat sanggah tsb…berkehendak dibuatkan pelinggih LELANGIT…Sehubungan dengan Pertanyaan titiang tersbut diatas,:

    Apa yang dimaksud dengan Pelinggih Lelangit dan dari Tingkatan Leluhur yang mana disebut lelangit yg patut dilinggihkan di pelinggih tersebut.???

    Mungkinkah saya ada hubungan dengan ARYA TEGEH KORI, Karena hanya NAMA Banjar tegehan tsb RED saja yg ditinggalkan oleh lelhur kami. Karena Beliau kelunta-lunta smp kesepang NYINEB WANGSA.

    Mohon Pencerahan Ratu Bhagawan krena sangat penting bagi titing utk mengetahui sebagai dasar utk memberikan pemahaman kepada semeton titiang yang belum paham. Matur suksema.

  49. De Agus:

    Om Suastiastu?

    Tiang jagi metaken Ring Ratu Bhagawan, untuk Arya Tauman wenten Munggah Napi?

  50. putu:

    swastyastu,
    ampura dumun tityang sareng minta petunjuk ring ratu begawan,.
    1. beberapa hal mengenai “Tegeh kori/kuri” tyang ada petikan yang besumber dari Lontar Merta Jati-tamblingan.Mohon Ratu Bhagawan atau teman -teman yang lain dapat membantu untuk penjelasnnya.Mungkin ada yang sesuai tau mungkin ada hal yang keliru. sbb :
    Pada suatu hari, diceritakan Anjing dan Kambing yang dipelihara oleh Raden Patas (Pengiring Ida Bhatara Dalem Tamblingan) sedang berkelahi memperebutkan tanduk Anjing yang dipinjam oleh Kambing dan lama tidak mau dikembalikan kepada Anjing (silih-silih kambing?), hal inilah yang membuat Bayi Barak tersebut menjadi takut dan langsung saja berlarian serta naik diatas punggungnya Ngurah Pangenter, karena merasa terkejut, maka Bayi Barak tersebut dijatuhkan oleh Ngurah Pangenter sehingga leher dari Bayi Barak tersebut menjadi patah. Kemudian kejadian ini dilaporkan oleh paman Belog Bengkung (Arya Belog?/Pengiring Ida Bhatara Dalem Tamblingan) kepada Ida Bhatara Dalem Tamblingan dan diperintahkan untuk membawa Bayi Barak tersebut ke dalam Puri untuk dipijat lehernya oleh Ida Bhatara Dalem Tamblingan, namun leher dari Bayi Barak tersebut tidak bisa disembuhkan kembali seperti sediakala, sehingga kepalanya kelihatan sedikit Sengel (miring). Semenjak saat itulah Bayi Barak tersebut diberi nama Gusti Arya Barak Tegeh Kori, karena turun di Dalem Tamblingan, maka disebut sebagai Turunan Dalem Tamblingan (bukan Keturunan), diberikan anugrah sebuah Tedung (Payung) dan ditugaskan menjadi Juru Sapuh (Pemangku) di Palinggih Gedong Kertajati-Tamblingan di Hutan Mertajati (di Pura Dalem Tamblingan) dan juga ditugaskan menjadi Juru Sapuh ring Linggih Bhatara Ibu Hyang (Siwa Muka Istri) yang melinggih di Pura Siwa Muka Suukan.

    Sebelum turun ke Gobleg, Gusti Arya Barak Tegeh Kori diberitahu oleh Ida Bhatara Dalem Tamblingan tentang keberadaan kedua Ayah-Ibunya yang melinggih di Pura Dalem Dasar (Pura Dalem Benculuk?) di wilayah Badung-Denpasar (Dajan Gelogor), kemudian diberikanlah Dedasar (semacam Pancer) oleh Ida Bhatara Dalem Tamblingan kepada Gusti Arya Barak Tegeh Kori untuk dibawa dan ditanam di Pura Dalem Dasar-Badung tersebut. Selanjutnya berangkatlah Gusti Arya Barak Tegeh Kori diantar oleh Ngurah Pangenter menuju Badung, sesampainya di Badung, Ngurah Pangenter kembali ke Dalem Tamblingan, kemudian ditanamlah Dedasar tersebut di Pura Dalem Dasar oleh Gusti Arya Barak Tegeh Kori dan selanjutnya diketahui oleh semetonnya (saudaranya) yang melinggih di Badung dan diajaklah Gusti Arya Barak Tegeh Kori untuk bersama-sama melinggih di Badung, namun karena merasa berbeda Ayah-Ibunya, maka Gusti Arya Barak Tegeh Kori tidak bersedia melinggih di Badung dan memutuskan untuk kembali ke Dalem Tamblingan.

    Sesampainya kembali di Dalem Tamblingan, Gusti Arya Barak Tegeh Kori diperintahkan oleh Ida Bhatara Dalem Tamblingan untuk ikut turun ke Gobleg sebagai pengiring Ngurah Bendesa Dalem Tamblingan dan Bhatara Ibu Sakti yang juga ikut turun ke Gobleg, atas dasar inilah Gusti Arya Barak Tegeh Kori Ma-Siwa ring Bhatara Ibu Sakti dan Pathirtaannya ring Gusti Ngurah Mancawarna (ring Gobleg).

    Kemudian, Gusti Arya Barak Tegeh Kori juga diperintahkan untuk menggunakan Gama Tirta (bukan Gama Bodha), disini dijelaskan sedikit tentang Gama Tirta yaitu Nunas Wisnu (Tirta) ring Siwa (kalau pada waktu meninggalnya nanti akan Ma-Siwa Dewa), sedangkan Gama Bodha yaitu Nunas Wisnu ring Bodha (siwa kemanusan).
    Kalau Gusti Arya Barak Tegeh Kori membuat Pura Kawitan, buatlah Pura Kawitannya dengan Palinggih-Palinggih sebagai berikut:
    1. Palinggih Gedong Susun Lima (Meru Tumpang Lima) sebagai Linggih Ida Bhatara Dalem Tamblingan
    2. Palinggih Gedong Susun Tiga (Meru Tumpang Tiga) sebagai Linggih Bhatara Kawitan Gusti Arya Barak Tegeh Kori
    3. Bale Piyasan Saka Enam
    4. Warna Gama-nya adalah Merah-Hitam

    2. untuk temen tyng tu agus, meihat dari pelinggih : kayu sakti beratap ijuk ,nike dinamai pelinggih Batara kembulan Sakti, dan untuk membuatkan pelinggih LELANGIT,kemungkinan besar untuk pengayengan ke Gedong Kerta Jati,karena istilah “lelangit” tersebut cukup familiar diucapkan penglingsir ring Catur Desa Tamblingan.
    demikian dapat tyng sampaikan ,nunas ampura yening wenten iwang

  51. Tu Agus:

    OM Swastiastu Ratu Bhagawan…Kalo Boleh Tiang Tanya Lagi ; apa sebenarnya yang dimaksud dg “Pelinggih Lelangit” tsb ? dan kalo Pelinggih tsb ada di Merajan Keluarga Siapa Yang Mestinya dilinggihkan disana???

    Mohon Maaf kalo ada kata2 titing yang kurang berkenan.

    Matur Suksema dan Mohon Penjelasannya?

  52. bhagawan dwija:

    Om Swastyastu,

    Pemujaan kepada leluhur adalah :
    1. Yang tertinggi Ida Bhatara Kawitan
    2. Berikutnya, Ida Bhatara Putra-Putri
    3. Bhatara Raja Dewata (leluhur yang sudah disucikan dengan upacara pitrayadnya dan distanakan di sanggah pamerajan)
    Kepada ortu/kakek-nenek/kumpi yang masih hidup disebut bhakti, bukan pemujaan.

    Om Santih, santih, santih, Om

  53. bhagawan dwija:

    Om Swastyastu,

    “Lelangit” artinya yang tertinggi atau Ida Bhatara Kawitan.

    Om Santih, santih, santih, Om

  54. Yuliana:

    maaf saya mau tanya, keturunan raja kediri ada yag bernama Raden Sentot ?
    trimakasih, harap dibalas :)

  55. Tu Agus:

    Om suastiastu Ratu Bhagawan, Sebelumnya Titiang Mohon Maaf Kalo ada Kata Titiang yg Tidak Berkenan.

    Begini Ratu Bhagawan, dikeluarga titiang lagi berkembang pemahaman yg menurut titiang membingungkan,yg tiang tanyakan sesuai dg kasus tsb adalah :

    1. Apa sebenarnya makna/pengertian hakiki dari :
    a. Bhatara Kawitan
    b. Bhatara Hyang Kawitan, dan
    c. Hyang Kawitan

    2. apa Perbedaan dan persamaan dari makna tsb diatas, dan
    dimerajan mana Pelinggihan-Nya?

    3. Setelah nyegare gunung dan proses ngingkup ring Merajan
    Kawitan, apakah boleh/benar/patut/ melinggihkan sang hyang
    dewata-dewati dimasing-masing merajan ibu/sanggah pekurenan
    di masing-masing keluarga..?

    Titiang mohon pencerahan dari Ratu bhagawan shg kami tidak bingung lagi dalam menafsirkan makna tsb.

    Matur Suksema titiang Haturkan.

  56. bhagawan dwija:

    Om Swastyastu,

    “Bhatara” artinya “yang melindungi” Dalam pengertian ini, melindungi lebih luas tidak hanya nyata (skala) tetapi juga dalam niskala (tidak nyata). Tuhan, roh leluhur, yang diyakini meberi perlindungan di Bali disebut Ida Bhatara. Bahkan raja-raja besar di zaman dahulu baik yang masih hidup maupun yang sudah newata karena jasa-jasa beliau melindungi rakyat, disebut juga Ida Bhatara Dalem…….

    “Hyang” berasal dari kata “Sang-hyang” artinya “yang dimuliakan”. Jadi seperti Bhatara, Hyang juga bermaksud sama, tetapi pengertian bhatara lebih luas dan lebih tinggi statusnya. Jadi “Ida Bhatara Kawitan”, lebih populer digunakan dari pada “Hyang Kawitan” Linggih beliau bisa berupa Meru atau Gedong.

    3. Boleh dan baik

    Om Santih, santih, santih, Om

  57. Tu Agus:

    Om Swastiastu Ratu Bhagawan yg titiang sucikan, Titiang mau bertanya :

    Pada Umumnya habis ngaben terus nyegara gunung, setelah Nyegara gunung ada istilah “NGINGKUP” sang hyang newata/i di merajan, dan dikeluarga kami “prosesi ngingkup” dilakukan di merajan Dadia Kawitan. Yang titiang mau tanyakan adalah :

    1. Apa yang dimaksud dengan “NGINGKUP” TERSSEBUT ?
    2. Di merajan manakah sebenarnya proses pengikupan itu
    dilakukan,
    dan apakah mutlak dilakukan dimerajan dadia kawitan?
    3. Apakah Boleh Pengingkupan tersebut dilakukan di Paibon Panti?
    4. Setelah Proses Pengingkupan dilakukan di Merajan Dadia
    Kawitan,
    Apakah memang Patut/benar Hyang Newata/i tidak boleh lagi
    dipundut untuk dilinggihkan di paibon keluarga atau Paibon
    pantimasing-masing?

    Alasan Kenapa titiang menanyakan pertanyaan point 4 adalah :

    Karena ada beberapa fenomena kasus yg titiang temui: bahwa sang hyang Newata/i yg sdh di INGKUP DI MERAJAN DADIA KAWITAN TIDAK BOLEH LAGI DIPUNDUT KEMANA-MANA.

    Demikian yang titiang tanyakan, Mohon Penjelasan dan pencerahan dari Ratu Bhawagawan. Titiang Nunas Gengrenesinampure yening wenten salah kata. Suksema titiang ucapkan.

  58. darmendra:

    Om Swastyastu Ratu Bhagawan yg titiang sucikan, Titiang mau bertanya tentang soroh..
    Di sanggah merajan titiang wenten meru tumpang kalih, taler wenten pesimpangan dalem kubontingguh….tiang metaken ken pekak2 tiang, ten keni antuk ngorahang soroh napi. sakewanten etiap odalan sakin pure dalem kubontingguh tetep tangkil merike..soroh napi titing niki ratu bhagawan?. yening kirang atur utawi bahase titiang nunas gengrena sinampure.
    Om Santih,santih,santih om.

  59. wayan eka:

    om swastyastu
    maaf tiang pakai bahasa indonesia
    tiang mau tanya, tentang soroh serumbong aryawaringin dengan pandharman nya,

    om santi santi santi om

  60. suana:

    Om Swastiastu..

    Dados tiang metaken indik sasampune Kerajaan Badung Kaon, Wenten kacrite Ki Gusti tegeh Tegal ngungsi ke Jimbaran….

    Napi wenten babad utawi purana sane nyritayang indik ki gusti tegeh tegal punike?….Napi Wenten pusaka sane kebakte duk ngungsi gumi jimbaran.

    suksema kahatur ring ratu begawan.

  61. Putu Khosa:

    Om Swastyastu,
    Mohon maaf saya kurang paham dengan konsep leluhur jika dibagi ke masing-masing pulau.
    Apa mungkin keturunan Arya menyembah leluhur sampai situs-situs Pulau Jawa (Majapahit) dan mungkin juga pemujaan cukup di ‘split’ per pulau seperti Pulau Lombok?
    Artinya mengingat orang suci atau ksatria atau leluhur pertama yang menjejakkan kaki pertama kali di suatu Pulau.

Leave a comment