Terlebih dahulu saya memohon ampun kepada para leluhur yang telah suci yang berstana di sunia-loka, karena saya telah membaca dan menyebut-nyebut nama beliau serta menceritakan riwayat hidup beliau, dan ada kemungkinan pula salah menafsirkan prasasti Babad Gobleg. Semoga tiada halangan dan tiada terkena tulah cakra-bhawa.
1. Desa Gobleg, yang terletak di Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, Bali, pada zaman dahulu bernama: Indu Gobed
2. Masyarakat Gobleg sejak awal berdirinya Kerajaan Indu Gobed, dipimpin oleh I Gusti Ngurah Panyarikan yang bertindak sebagai pemimpin pemerintahan dan juga pemimpin spiritual.
3. Sima-sima (tradisi adat) yang ditetapkan sebagai peraturan adalah sbb:
3.1. Pemimpin pemerintahan dan spiritual adalah I Gusti Ngurah Panyarikan dan keturunan-keturunan beliau, berlanjut terus sepanjang masa, dengan gelar I Gusti
3.2. Apabila ada penduduk Gobleg melahirkan anak kembar lelaki-perempuan, patut didenda 5.000 keping uang bolong, dan keluarga itu diungsikan ke tepi ongkok agung.
Peristiwa itu disebut ngamedalang kama salit atau kama ucing, atau kama buncing, yang menyebabkan desa menjadi panes dan leteh. Kalau anak perempuan lahir mendahului yang laki, itu salahnya lebih besar. Denda 5.000 itu dibagi dua, 2.500 untuk I Gusti Ngurah Panyarikan dan 2.500 untuk penduduk desa.
Upacara pensucian desa agar dilakukan tengah (siang) hari, dipimpin oleh I Gusti Ngurah Panyarikan. Setelah itu memohon pengampunan pada Bhatara Aji Sakti
3.3. Bila ada penduduk Gobleg melahirkan anak kembar kedua-duanya lelaki, atau kedua-duanya perempuan, maka itu suatu tanda tibanya anugerah Bhatara untuk kemakmuran dan kesejahteraan desa. Seluruh penduduk desa patut menyambut dengan upacara preteka, dipimpin oleh I Gusti Ngurah Panyarikan
3.4. I Gusti Ngurah Panyarikan mempunyai tiga istri dan enam anak lelaki. Dari istri pertama mempunyai empat anak, yang tertua bernama I Gusti Ngurah Bendesa, diberikan istana dan rakyat yang tinggal di bebengan kelod kangin. Penduduk agar tunduk kepada perintah dan kepemimpinan beliau. Yang tidak mau tunduk, dihukum mati.
Yang kedua bernama I Gusti Ngurah Nyerita setelah dewasa di-diksa sebagai Brahmana, yang ketiga bernama I Gusti Ngurah Kubayan, dan yang keempat bernama I Gusti Ngurah Agung Sakti.
Dari istri kedua I Gusti Ngurah Panyarikan mempunyai seorang putra diberi nama I Gusti Ngurah Pangenter, kemudian setelah dewasa diberi tugas memelihara pura-pura yang ada di Indu Gobed.
Dari istri yang ketiga, I Gusti Ngurah Panyarikan mempunyai seorang putra bernama I Gusti Ngurah Panye. Setelah dewasa bertugas sebagai pemimpin: di bidang pembangunan dan kekaryaan dengan gelar I Gusti Ngurah Manca Warna; di bidang penerangan dan pemberitaan dengan gelar I Cedrawa; di bidang menyiapkan upacara dengan gelar I Ngurah Bendesa.
Untuk semua jabatan pemerintahan yang dirangkap itu, I Gusti Ngurah Panye bergelar Bupati. Untuk semua jabatan spiritual I Gusti Ngurah Panye bergelar Bhagawan Sakti. Tidak ada orang lain yang boleh menjabat hal-hal yang disebutkan di atas. Bila ada penduduk lain yang melanggar patut dihukum mati.
3.5. Semua upacara yadnya agar menggunakan banten yang lengkap, dibuat oleh tukang banten yang ditunjuk oleh I Gusti Ngurah Panyarikan. Biaya pembuatan banten yang dibayar oleh mereka yang berupacara, dibagi tiga, yaitu sepertiga untuk I Gusti Ngurah Panyarikan, sepertiga untuk tukang banten, dan sepertiga untuk masyarakat Indu Gobed
3.6. Bilamana ada orang meninggal dunia, maka upacara pitra yadnya dipimpin oleh I Gusti Ngurah Panyarikan sebagai pengenter, sejak awal nyiramang layon sampai akhir.
3.7. Setiap upacara Panca Yadnya apapun, diawali dengan upacara pensucian jagat dengan banten: sesayut pacer gni, sesayut cerangcang gumi, sesayut pengenteg linggih, sesayut cakra gni, gambar badak putih, tumpeng agung. Banten itu katur kepada Sanghyang Galundu.
Selain itu ada lagi kelompok banten: sesayut cerangcang gumi, tumpeng agung berwarna putih, tumpeng alit empat buah diletakkan di sekeliling tumpeng agung semua berwarna hitam, di tengah-tengahnya sebuah tumpeng alit berwarna kuning. Banten itu katur kepada Sanghyang Prakesa Gumi.
Sebagai penutup upacara yang disebut sida karya, digunakan banten: sesayut pangider bhuwana, penek tingkeban, tumpeng putih, sesayut pengenteg linggih. Banten itu katur kepada Sanghyang Ibu Akasa.
Selanjutnya ada kelompok banten: penek cerangcang gumi, penek sudamala, dihaturkan kepada Sanghyang Indra. Sesayut cakra gni, dihaturkan kepada Sanghyang Brahma dan Sanghyang Wisnu.
Tumpeng alit diletakkan di empat penjuru: timur putih, selatan merah, barat kuning, utara hitam dihaturkan kepada Sanghyang Surya. Sesayut satak gumi dihaturkan kepada Bhatara Siwa Ayu Kentel Gumi. Sebuah cetakan nasi berbentuk bulat berwarna ungu, di tengah-tengah berisi bunga pucuk bang, digunakan untuk nuwur tirta: Prama siwa, Sada siwa, Siwa, Sanghyang Aji Sakti, Bhatara Pustaka Manik.
Tirta Sanghyang Aji Sakti digunakan untuk nyengker sekeliling tempat upacara mulai dari sisi timur, menuju ke: selatan, barat, utara, dan tengah. Pada pertengahan rangkaian upacara, menghaturkan Penek Boga kepada Bhatara Catur Dewata, di empat arah mata angin, yaitu timur, selatan, barat, dan utara.
Semua pelaksanaan upacara dan penggunaan banten-banten tersebut diawasi oleh I Gusti Ngurah Agung Sakti. Selain itu, setiap upacara Panca Yadnya agar menghaturkan banten-banten yang dinamakan: “Bongkol Karya”: Sesayut Cakra Geni kepada Sanghyang Bedawangnala yang berkedudukan di kelod kauh.
Sesayut Dasar Bumi kepada Sanghyang Pujut, I Dingkil, I Pahang Geni yang berkedudukan di kaja kangin. Sesayut Pengider Bhuwana kepada Sanghyang Langlang Bhuwana yang berkedudukan di kaja kangin. Sesayut Kentel Gumi kepada Sanghyang Kentel Gumi, yang berkedudukan di kelod kangin.
Sesayut Pengenteg Linggih kepada Bhatara Ayu Dewa Ayu-Aya juga bergelar Ida Dewa Ayu Masmirah Kencana Manik atau I Dewa Ton, yang berkedudukan di tengah-tengah. Sesayut Resi Gana kepada Sanghyang Ratih, Sesayut Wisnu Puncak Manik kepada Bhatara Sanghyang Aji Sakti.
3.8. Hyang Widhi distanakan di Indu Gobed sebagai (manifestasi):
- Bhatara Bayu
- Bhatara Sapujagat
- Bhatari Durga
- Bhatara Agung
- Bhatara Manik Aji
- Bhatara Sanghyang Sidi
- Bhatara Guru
- Bhatari Sakti
- Bhatara Brahma
- Bhatara Mahadewa
- Bhatara Wisnu
- Bhatara Iswara
- Bhatara Siwa
- Bhatara Bhagawan Baruna
- Bhatara Aji Darmajati
- Bhatara Sanghyang Kintiya
- Bhatari Kunti
- Bhatara Dalem
3.9. Terutama di Pura Kahyangan Jagat di Indu Gobed, stana ke-18 Bhatara itu harus tetap dipertahankan dan disembah oleh segenap penduduk Indu Gobed sepanjang masa. Jangan lalai atau mengabaikan kewajiban ini.
4. Ada dua orang tokoh Indu Gobed menjadi pepatih raja Kiyai Panji Sakti yang beristana di Sukasada, masing-masing bernama I Degug, bertugas di istana Sukasada, dan I Pasek Panji Landung di Tamblingan.
Pada suatu ketika I Pasek Panji Landung ditugasi oleh Kiyai Panji Sakti untuk memimpin prajurit memerangi Blambangan. Ternyata beliau kalah dan dikejar-kejar oleh tentara Blambangan.
Beliau melarikan diri, kemudian bertemu dengan seorang pendeta bernama Dukuh Sakti. Pendeta ini menyeberangkannya ke Bali dan mendarat di Kalianget.
Sebagai ucapan terima kasih, I Pasek Panji Landung membangun sebuah Pura pemujaan Dukuh Sakti di Kalianget. Lama kelamaan I Pasek Panji Landung mempunyai seorang anak lelaki bernama I Ngurah Kalianget, ditugaskan oleh Kiyai Panji Sakti menjadi pepatih di Pengastulan.
I Pasek Panji Landung kembali ke Tamblingan, dan untuk mengurus Pura Dukuh Sakti di Kalianget diserahkan kepada warga Bendesa Mas.
5. Setelah I Gusti Ngurah Panyarikan berusia lanjut (lingsir) maka beliau menyerahkan segala tugas dan tanggung jawab sebagai pemimpin pemerintahan dan pemimpin spiritual di Indu Gobed kepada putranya yang tertua, yaitu I Gusti Ngurah Bendesa, dengan gelar kepanditaan/ Brahmana: Siwa Muka.
Penduduk Indu Gobed diminta untuk terus taat pada segala sima-sima yang sudah ditetapkan dan tunduk pada pemerintahan Siwa Muka. Bila ada yang melanggar, kepastu menjadi gila, kena penyakit yang tidak bisa diobati sampai mati.
6. Penobatan I Gusti Ngurah Bendesa sebagai Siwa Muka, dikuatkan dengan didirikannya Pura Siwa Muka di mana distanakan Bhatara Siwa dan kemudian di Pura ini juga nantinya distanakan roh-roh I Gusti Ngurah Panyarikan dan keturunannya sebagai keluarga besar Brahmana. Penduduk Indu Gobed wajib nyungsung Pura ini, bila hendak selamat dan hidup damai dan bahagia.
7. Di dalam Pura Siwa Muka, pelinggih utama berbentuk Gedong, stana Bhatara Siwa, dinamakan Gedong Amerta Jati. Di dalamnya terdapat arca Siwa duduk di atas singgasana dari besi kuning.
Besi kuning ini adalah karunia Ida Bhatara Siwa, agar dijaga dengan baik karena wangsuh-pada besi kuning ini digunakan untuk menyelesaikan segala upacara dan dapat juga digunakan untuk mengobati/ menyembuhkan segala jenis penyakit.
8. Penobatan Siwa Muka dihadiri oleh seluruh penduduk Indu Gobed, dan juga dihadiri oleh seluruh keturunan I Gusti Ngurah Panyarikan, di mana mereka mengadakan sumpah setia kepada Siwa Muka. Siwa Muka juga digelari sebagai bupati.
9. Pada suatu ketika adalah seorang putra Dalem (raja) Solo (Surakarta) yang bernama Sang Aji Kretet. Karena sesuatu hal ia ‘diusir’ oleh ayahnya.
Ia kemudian datang ke Bali bersama istrinya dan lama menetap di Klungkung. Dalem Klungkung menugasinya mengurus Pura Gelgel. Setelah lama bermukim di Gelgel, ia diminta menghadap pada Siwa Muka di Indu Gobed untuk menjadi pengikut Siwa Muka. Ia diterima oleh Siwa Muka, dan diberi tempat tinggal di alas bukit Gunung Raung.
Ketika terjadi pemberontakan I Gusti Agung Maruti terhadap Dalem Klungkung, Sang Aji Kretet diutus oleh Siwa Muka untuk membantu Dalem Klungkung, tetapi kalah. Ia kembali ke Indu Gobed melaporkan kekalahannya.
Siwa Muka kurang senang dengan kekalahan Sang Aji Kretet. Oleh karena itu derajat Sang Aji Kretet diturunkan menjadi Pasek Salunglung.
Pada saat upacara pencopotan gelar itu, Siwa Muka sekali lagi mengingatkan agar seluruh keturunan Pasek Salunglung tunduk pada sima Indu Gobed dan setia pada kepemimpinan Siwa Muka. Hal ini disanggupi oleh Pasek Salunglung dengan upacara sumpah setia di Pura Siwa Muka.
10. Hubungan antara keluarga I Gusti Ngurah Panyarikan dengan raja Kiyai Anglurah Panji Sakti sangat dekat seperti bersaudara. Dalam setiap peperangan antara kerajaan Buleleng dengan kerajaan lain, keluarga I Gusti Ngurah Panyarikan selalu membantu raja.
Misalnya dalam perang ke Blambangan, keluarga I Gusti Ngurah Panyarikan membantu dengan empat orang panglima perang beserta laskarnya. Perang ke Blambangan itu tidak berhasil (kalah) dan salah seorang panglima perang I Gusti Ngurah Panyarikan (tidak disebutkan namanya) gugur di Blambangan.

yang anda tuliskan perlu dikaji ulang.
Be constructive donk mas arya, kaji ulang tulisan seperti apa? kalau ada yang salah ditunjukkin donk ah…
Babad yang ditulis pada abad ke : 14 – 15 memang perlu dikaji ulang, karena ketika ditulis, kejadiannya bisa sudah berlangsung 100 tahun lampau (sebelum saat penulisan). Banyak yang berpendapat bahwa Babad ada muatan “politik” di masa lampau dari si penguasa. Artinya sulit digunakan sebagai referensi sejarah yang benar. Juga sulit menelusuri,karena tidak pernah dicantumkan nama si penulis. Beberapa Lontar Babad ada yang mendapat pengesyahan dari Dalem dengan adanya stempel Kerajaan. Namun demikian Babad juga berguna paling tidak untuk mengungkap kejadian-kejadian di masa lalu. Babad Gobleg diatas saya kutip dari Lontar Babad Gobleg, dari Gedong Kirtya, Singaraja.
Om Swasti astu saya menanggapi tentang babad gobed dan saya tidak sependapat dengan uraian naskah yang tercantum dalam babad gobled mengapa demikian ….karena sayapunya sumber lontarnya dari gedung kirtiya singaraja. jika ada sumberlain tolong yang menulis babad ini, tulis nama dan alamat tinggal sehingga kita bisa nelusurinnya. ya tidak ngapa – ngapain namun mau cari sumber lontar yang sangat berkaiatan dengan babad gobed ini karen jaman sekarang banyak hal yang bisa menjatuhkan nama pemeluk sehingga sarada dan bakti bisa mangurang, namun disisi lain saya sangat berterima kasih jika sumber – sumber babad gobeg yang dimaksud benar – benar adanya lontar no…..adanya,suksma.om santhi santhi santhi om.
@dinkes: Sumbernya dari turunan rontal druwen krama desa Gobleg, Kecamatan Banjar, Buleleng. Di tik dalam huruf latin oleh I Gusti Ngurah Suarna pada tanggal 20-08-1973. Diperiksa oleh I Kwetut Suwidja. Ada di Gedong Kirtya Singaraja. Selain itu dapat juga bertanya kepada Bapak Ketut Lama di Undiksha Singaraja.
Kerajaan Indu Gobed, dipimpin oleh I Gusti Ngurah Panyarikan
darimanakah asal usul I Gusti Ngurah Panyarikan?
saya sangat berterimakasih apa yang telah dipaparkan merupakan pengetahuan yang berharga…the next mrupakan masukan bagi saya dalam proces learning sesuunan…..
saya sangat bertetimaksih ada yang nulis seperti ini namun perlu dicarikan tulisan pembanding
Begitulah babad gobed. Kadang lain pembaca., lain pula terjemahannya. Karena kemungkinan saat menyalin lontar tsb sudah tidak utuh urutannya, sehingga banyak kalimat yang berulang ulang atau tidak nyambung, akan tetapi saya pribadi sangat senang ada yang mau menulis tentang babad gobed atau tentang catur desa. Dan dengan kehati – hatian penulis pada pembukaan sudah mohon ampura jika salah menafsirkan. itu merupakan cara pembukaan yang sangat positif. saya yakin beliau pun mengetahui banyak bisama pada lontar yang menjadi salah satu sumber untuk menjalankan sima gama bagi pemeluk siwamuka terutama warga catur desa atau pewarisnya.