Bendesa Manik Mas

Ada buku yang bagus, dijual di toko-toko buku: K.G.P. BENDESA MANIK MAS, disusun oleh Rsi Bintang Dhanu Manik Mas I.N. Djoni Gingsir, Penerbit: Yayasan Diah Tantri, Lembaga Babad Bali Agung, Jl. Cinere Raya No. 17.C, Pangkalan Jati, Jakarta 16514.

Pada halaman 90 jelas dinyatakan bahwa Ki Patih Wulung bergelar Kiyai Gusti Pangeran Bendesa Manik Mas. Beliaulah yang mengembangkan keturunan yang sekarang disebut warga Bendesa Manik Mas.

Ki Patih Wulung tiada lain adalah Mpu Jiwaksara (berganti gelar dan profesi karena perintah Maharaja Majapahit: Tribuwanattunggadewi melalui Gajahmada). Beliau adalah putra dari Mpu Wijaksara, datang di Bali dan membangun Pura Dasar Gelgel tahun 1189 S atau 1267 M.

Jika dirunut lebih ke atas, akhirnya ketemu bahwa Kawitan warga Bendesa Manik Mas adalah Mpu Gnijaya. Jadi warga Bendesa Manik Mas adalah masuk dalam keluarga besar Pasek Sanak Sapta Rsi.

Pura Kawitan semua warga Pasek Sanak Sapta Rsi adalah di Lempuyang Madya; pura-pura lain seperti di Tamanpule, Mas dll. statusnya sebenarnya Pamerajan Agung yang lingkupnya lebih sempit.

Daripada bingung ke sana ke mari, lebih baik langsung ke Lempuyang Madya dan di Pedarman Pasek di Besakih atau dikenal sebagai stana Ratu Pasek. Di sanalah Ida Mpu Gnijaya distanakan.

Memuja kawitan itu perlu karena meliputi tiga dari Pancasrada, yaitu: Widhi Tattwa, Atma Tattwa, dan Punarbhawa. Sama seperti kita sekarang, bagaimana sakit hatinya jika anak kandung kita tidak mengakui kita sebagai ayahnya? atau tidak tahu bahwa kitalah ayahnya?

Kawitan berasal dari kata “Wit” artinya asal-usul. Bhisama leluhur yang dimuat di Prasasti antara lain berbunyi sbb.: (terjemahan)

…”tulah” hukumnya bagi orang-orang yang tidak tahu kawitan; bagi mereka yang demikian itu akan tertimpa kesusahan seperti “sabe asanak” (berkelahi antar keluarga), “tanpegat agering” (sakit terus menerus tanpa sebab yang jelas), “katemah dening bhuta kala dengen” (diganggu pikiran yang tidak pernah tenang), “surud kawibawaan” (tidak punya wibawa/ kharisma), “surud kawisesan” (bodoh, malas dan kata-katanya tidak berarti), “kelangenan tan genah” (hidup boros sehingga menjadi miskin), “sedina anangun yuda neng pomahan” (tidak pernah rukun dengan anak-istri), “rame ing gawe kirang pangan” (banyak kerjaan tetapi hasilnya kurang/ tidak memadai)…

Tetapi berbakti kepada Kawitan, tidak berarti lalu membangkitkan fanatisme soroh.

34 comments to Bendesa Manik Mas

  • 11
    rino says:

    swastiastu.
    yth.bapak bhagawan
    saya lahir di sumatra,
    dan kluarga besar sudah mendirikan
    kawitan bendesa manik mas disana..
    bagaimana runtutan piodalan agar
    terlaksana dg baik dan beliau memberi restu kpada smua
    kturunannya..
    suksema

    • 11.1

      Urutan upacara piodalan :
      1. Mepiuning
      2. Mecaru
      3. Memendak Ida Bhatara
      4. Mekalahyas
      5. Mesucian
      6. Ngelinggihang
      7. Katuran ayaban
      8. Muspa, nunas tirta wangsuhpada, mebija
      9. Dharmawacana
      10.Parama santi

  • 12
    Prof. Oka Manik Mas/Mk. Manikmas says:

    1. Matur piuning dalam manifestasi SWW sebagai?
    2. Mecaru dengan tingkatan?
    3. Mendak Ida Bhatara dalam manifestasi sebagai?
    4. Jelas
    5. Jelas
    6. Mapurwa Daksina? sebelum ngalinggihan
    7. Katurang ayaban: dasar pertimbangan dalam minetukan tingkat
    ayaban?
    8. Jelas, tapi apakan tahapan ini sama untuk semua Pura?
    9. Sebaiknya Darmatula agar ada saling melengkapai atas dasar
    pengalaman dan pengetahuan.
    10. Jelas, tetapi persembahyangan di sebagian besar Pura-pura di Bali begitu selesai nunas tirta umat banyak yang berdiri dan mepamit dan kurang tertib.

    Suksma Sri Bhagawan atas perhatian dan bimbingannya.

    Oka Manikmas

    • 12.1

      1. Sebagai Siwa Raditya/ Maknanya : mohon ijin melaksanakan upacara
      2. Tergantung dari biaya/upakara yang ada. Minimal caru ekasata. Maksimal Caru Rsigana.
      3. Sebagai Sada-Siwa (Saguna Brahman).
      6. Berputar seperti arah jarum jam. Dari Purwa (timur) ke Daksina (selatan) dan seterusnya : selatan – barat – utara. Ini simbol kehidupan (uttpti-stiti-pralina). Ini sudah kehendak-Nya seperti perputaran bumi pada sumbunya : ma-purwa-daksina.
      7. Tergantung dana yang ada : alit, madya, atau utama (agung)
      8. Garis besarnya sama, mungkin ada variasi sedikit-sedikit sesuai dengan desa- kala – patra.
      9. Betul
      10. Bisa ditertibkan oleh pengenter acara. Masyarakat perlu dibimbing agar tertib, disiplin, patuh pada aturan, dan tepo-saliro.

    • 12.2
      Prof. Oka Manik Mas/Mk. Manikmas says:

      Pada kesempatan yang baik ini titiang ingin berbagi pandangan dan pengamatan kepada Bhagawan yang titiang hormati dan sucikan.

      Ada seorang Pendeta dari trah tertentu mengatakan di Bali TV, bila wanita membiarkan rambutnya terurai (megambahan), ini mencerminkan gumi/dunia sudah mencirikan ketidak harmonisan istilah bali mejugjak ajak nyama dan banyak lagi terjemahan negatif dari rambut mayang mangurai yang sesungguhnya natural yang tidak disasak dengan model Zamrud Katulistiwa atau model Kanjeng Mami sebesar bola basket). Apakah sesederhana itu terjemahan rambut terurai?

      Kiranya Bhagawan yang titiang hormati berkenan membuka you tube bali kuno, rambut wanita bali ketika itu (sekitar tahun 1930an) banyak yang terurai dengan indahnya serta maaf tanpa penutup payudara (bh), tetapi masyarakat ketika itu biasa-biasa saja dan tidak diterjemahkan negatif atau rasa miris dsb.

      Ini sebenarnya zaman apa? jika dikatakan zaman kaliyuga memang sepertinya begitu tetapi zaman kaliyuga sudah dimulai sejak zaman Prabu Parikesit (putra tunggal Prabu Abimanyu) menjadi raja sekitar 3,000 tahun yang lalu.

      Titiang khawatir, Pnedeta yang satu ini sepertinya mendramatisir keberadaan wanita yang rambutnya terurai dengan segala terjemahan negatifnya. Drupadi dijadikan contoh, rambutnya terurai bukan kemauannya sendiri, melainkan oleh ulah Dursasana. Harusnya beliau melihat prosesnya, bukan hasil akhirnya karena itu merupakan sebab akibat bukan dunia sudah rusak pada zaman itu melainnkan adharma sudah mendominasi dharma sehingga Dewa Wisnu harus avatara.

      Mengacu kepada falsafah Jawa kuno sejak zaman Airlangga, Mojopahit sampai sekarang yang tersurat seperti berikut:

      1.Ajining diri soko lati (jati diri seseorang sangat tergantung kepada lidahnya) atau orang batak bilang lidahmu adalah harimaumu.

      2.Hergo dirimu soko busono (harga diri seseorang sangat tergatung dari cara berpakian).

      3.Sakti tanpo aji (hebat dan disegani oleh orang lain tanpa guna-guna) atau disegani karena prestasi kerja dan pengabdiannya kepada keluarga, bangsa dan Negara sesuai dengan agama yang dianutnya.

      Dengan demikian ketiga palsafah di atas bukan karena rambut melainkan karena bibit, bebet dan bobot (keturunan/genetik, pendidikan, dan wibawa secara alami). Atau seseorang disegani, dihormati dan ditakuti dalam artian positif karena lidahnya, caranya berpakian, dan tidak belajar kesamping atau kepada balian/dukun melainkan selalu astiti kepada Ida SWW berdasarkan empat jalan menuju kepadaNya: Bhakti, Jnana, Karma, dan Raja marga.

      Satu hal lain yang sering diucapkan oleh Pendeta ini yaitu Bali akan kehilangan ketenarannya atau tidak dikenal oleh orang lagi bila tidak ada upacara agama hindu. Sungguh ini sesuatu yang menyakitkan, apakah tujuan upacara selama ini semata-mata agar Bali terkenal atau menjadi salah satu tujuan wisata yang terkenal di dunia? Oh my God, upacara agama intinya merupakan salah satu jalan menuju kepadaNya yaitu Bhakti Marga yang harus seimbang dengan Tattwa dan Susila.

      Jika uapacara yang mendominasi dalam menjalankan ajaran agama hindu maka manusia hindu akan seperti orang buta tanpa tongkat, tidak jelas mau kemana karena tidak ada tuntunan. Di sisi lain, jika tattwa yang mendominasi maka manusia hindu akan menjadi panatik dan akan merasa diri paling benar atau yang berbeda dengan dirinya harus disingkirkan dengan berbagai sebutan kafirlah, sesatlah dsb seperti ajaran agama maaf Islam.

      Oleh karena itu keseimbangan antara tattwa dan upacara lah yang akan melahirkan manusia hindu yang bersusila dan berbudi pekerti yang merupakan jembatan antara sorga dan neraka. Sabdo Palon Naya Genggong yang merupakan titisan Semar menyebut agama budha dan hindu sebagai agama budi (budi pekerti) tidak hanya mengajarkan sorga dan neraka seperti agama lainnya dengan sebutan agama modern oleh penganutnya.

      Ampura, titiang mohon dengan hormat tanggapan dan saran-saran Bhagawan yang titiang sucikan. Titiang takut apabila banyak pendeta Hindu yang seperti itu, humat hindu khususnya di Bali akan terperangkap oleh tafsir bebas yang hanya menurut cipta dan karsa sendiri dan tidak berdasarkan kitab suci. Terimakasih banyak atas tanggapan Bhagawan, dan teriring doa semoga Sri Bhagawan selalu sehat.

      Titiang
      Mk. Manikmas
      (Prof. Oka Manikmas)

      • Om Swastyastu,

        Ya sekarang banyak pedharma wacana dan pedharmatula, baik di tv atau media lain. Bila ada yang kurang dimengerti atau pendapatnya berbeda, minta tolong kepada nara sumber agar menyebutkan sumber sastra dari apa yang diucapkan/ditulisnya itu, agar umat kita tidak bingung.

        Om Santih, santih, santih, Om

  • 13

    Apakah keturunan bendesa manik mas,boleh menikah dengan orang yg berkasta!

    • 13.1

      om Swastyastu,

      Tidak ada masalah, karena sistim kasta di Bali kini sudah tidak ada, demikian pula keberadaan soroh-soroh hanyalah dalam rangka berbhakti kepada leluhur, Ida Bhatara Kawitan, dan mempererat tali persaudaraan sesama keluarga besar. Jadi silahkan saja.

      Om Santih, santih, santih, Om

  • 14
    dama says:

    Om Swastiastu,

    bagaimana dengan Pasek Tapesan?mengapa dalam silsilah Warga Pasek tidak ada namanya Pasek Tapesan atau Pasek Dalem Tapesan?

    Om Santi Santi Santi Om

  • 15
    ketut atmadja says:

    Pura Tamanpule di Desa Mas sudah diyakini adalah Kawitan dari Pratisentana Bandesa Manik Mas. Kalau penulis di atas mengatakan Pura Tamanpule Mas Pemrajan Agung apa dasarnya.
    Kalau mengenai empu Genijaya ini dipakai menarik kawitan berarti di Bali semua sama termasuk tidak ada pasek lagi kan?, karena semuanya sudah menjadi satu keturunan kalau seperti yang pernah saya baca silsilahnya secara sepintas saja.

  • 16
    gede haryono says:

    Om swastyastu

    Berarti di bali ada delapan Pasek termasuk Pasek Bendesa mas ….?

    Om Santih..Santih..santih Om

  • 17
    De'Oka says:

    Om Suatiastu

    Akhirnya Ratu Bhagawan menyimpulkan bahwa Pura kawitan warga pasek sanak sapta rsi adalah di lempuyang madya.

    jadi warga pasek sanak sapta rsi ngga perlu bingung2 mencari pura kawitan lagi.

    di keluarga besar saya (anggota sanggah gede) masih ribut soal pura kawitan, tiap sangkep ribut. saling tarik menarik agar ikut ke suatu pura kawitan.
    silsilah keluarga sudah ada.. tapi ada yang menganggap pura kawitan adalah pura kawitan yang dibangun generasi (misal ke10)
    ada yang menganggap pura kawitan adalah pura kawitan yang dibangun misal generasi ke 12… ada lagi yang mengganggap pura kawitan adalah pura kawitan yang dibangun generasi 1.

    jadi saya sekarang bisa ngasih tau mereka… kalau pura kawitan kami di Pura lempuyang Madya.

    dalam kaitan upacara yadnya kan sering itu perlu tirta kawitan… biasanya kami nunas di pura kawitan yang dibangun misal generasi 12 (hitungannya saya kurang pasti tau).

    apakah sekarang harus nunas di Pura lempuyang madya?? atau tetap seperti dulu.

    Matur Suksma ratu bhagawan
    Om santih Santih Santih Om

  • 18
    Bgs Pt Sugwastra says:

    Swastiastu, saya pernah membaca di google ttg sejarah desa mas ubud, bahwa pangeran bendesa manik mas adalah mas wilis atau tan kober. Si tan kober, tan kaur dan tan mundur adalah weisya dr majapahit.

  • 19
    ayuk says:

    Om swastiastu
    Yth.bapak bagawan
    saya minta pencerahan tentang kawitan,apakah saya boleh tidak ikut bergabung kawitan di desa tempat saya tinggal,apakah menyalahi aturan kalau saya langsung tangkil di pura taman pule,ada yg bilang saya menyalahi aturan karena saya langsung tangkil kepusat.semoga bapak bagawan segera memberi pencerahan supaya saya tidak bingung trimakasih,Om santi santi santi om

  • 20

    Sebelumnya tyang matur panganjali Om Suastiastu Beghawan, tyang membaca penjelasan Baghawan ring internet, tentang Bendesa Manik Mas.bahwa Kawitan warga Bendesa Manik Mas adalah Mpu Gnijaya. Jadi warga Bendesa Manik Mas adalah masuk dalam keluarga besar Pasek Sanak Sapta Rsi.

    Sampai sekarang ini soroh Bendesa Manik Mas, genah pedarmannya ring duur/sebelah timur “Sanggar Agung Besakih”

    Mangde nenten bingung tyang, Mohon Baghawan memberikan penjelasan
    Suksme.

    Om shanti, shanti, shanti Om

    Ketut Alit Suardana
    Banjar Baleagung/ Desa Paket Agung Singaraja

Leave a Reply

  

  

  

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Subscribe without commenting