Bersembahyang yang Baik dan Benar

QUESTION:

Bagaimanakah bersembahyang yang baik dan benar di Pura?

ANSWER:

Bersembahyang perlu suasana yang hening, damai, dan sakral. Sedapat mungkin usahakan agar anak-anak tidak ribut, berkelahi, menangis, atau tertawa terbahak-bahak di Pura.

Selagi bersembahyang ibu-ibu yang momong anak dapat menitipkan anaknya di jaba Pura kepada anggota keluarga lainnya, seterusnya diatur bergiliran. Dapat juga anak-anak dibawa bersembahyang asal diyakini tidak akan ribut di Pura.

Ibu-ibu tidak diperkenankan menyusui bayi di Pura karena air susu yang tidak sengaja menetes di halaman Pura akan menyebabkan “keletehan” Pura.

Selain itu wanita dilarang masuk ke Pura dengan rambut terurai (megambahan) karena rambut wanita yang terurai simbol: kasmaran, marah, atau “nesti”. Semuanya bertentangan dengan hakekat tujuan ke Pura.

Juga dilarang masuk ke Pura bagi yang: terluka parah, cacat badan (lumpuh, tangan/ kaki tidak lengkap), sakit lepra (atau Aids?), berkeringat banyak, mabuk, berpakaian tidak layak, dalam keadaan marah, sedih atau terlalu gembira.

Berbicara mengenai tata cara masuk ke Pura, dewasa ini lagi ngetren gadis-gadis (bahkan juga yang sudah tidak gadis lagi) pergi ke Pura memakai kebaya yang terbuat dari bahan tipis seperti kaca sehingga dengan jelas terlihat BH, dan bentuk payudara yang menyembul. Ini sangat bertentangan dengan norma Agama karena akan mengganggu konsentrasi orang lain yang bersembahyang.

Jika umat Islam bersembahyang dengan berusaha menutup auratnya sebanyak mungkin, kenapa kita kok bersembahyang dengan menonjolkan aurat, malukan? Nah para remaja putri, sadarlah, bersembahyanglah dengan pakaian yang baik dan sopan. Nanti ada tempat dan waktunya di mana remaja putri dapat memamerkan kemolekannya. Tetapi jangan di Pura.

3 comments to Bersembahyang yang Baik dan Benar

  • 1
    nyoman says:

    Om Swastyastu,
    Yang Terhormat Bhagawan Dwija. Mohon maaf sebelumnya atas dangkalnya pemahaman saya terhadap Hindu. Bhagawan Dwija, saya ijin bertanya kenapa Orang Yang Cacat (Bagian tubuh tidak lengkap) tidak boleh ke Pura??? Bukankah Ida Sang Hyang Widhi Wasa tidak pernah membeda-bedakan fisik umatnya. Mohon Penjelasannya. Terimakasih.

    Om Shanti Shanti Shanti Om

    • 1.1

      Om Swastyastu,

      Dalam melakukan kegiatan spiritual kita perlu memperhatikan dua azas : vertikal dan horizontal. Vertikal maksudnya, upaya dan keyakinan menuju kepada-Nya menurut kemampuan dan cara (ritual) kita. Ini adalah masalah yang sangat pribadi. Horizontal, maksudnya, desa – kala -patra, yakni kita wajib memperhatikan kepentingan dan kebersamaan kita sebagai mahluk sosial. Jadi sing dadi nganggoang keneh di tempat-tempat umum seperti pura, merajan, dll. Ada norma-norma yang patut diperhatikan agar orang lain tidak terganggu. Dalam hal ini diatur dalam lontar Catur cuntaka. Mereka yang “sakit gede” tidak diperkenankan masuk ke Pura. Kalau bersembahyang dirumahnya sendiri, tentu boleh/bagus. Bukankh Tuhan ada dimana-mna, tidak hanya di Pura.

      Om Santih, santih, santih, Om

  • 2

    [...] dan waktunya di mana remaja putri dapat memamerkan kemolekannya. Tetapi jangan di Pura. Sumber: Stitidharma.org This entry was posted in Ajaran on February 10, 2013 by [...]

Leave a Reply

  

  

  

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Subscribe without commenting