Kesadaran manusia telah memasuki zaman edan (zaman kali) mungkin awalnya dirasakan tahun enam puluhan oleh maman Wirya, penjual daging babi keliling asal Banjar Jawa, Singaraja. Sambil bernaung dari terik matahari siang yang menyengat tengkuknya, maman Wirya duduk setengah bersender di sebatang pohon singapur di tepi jalan Giri Putri.
Dia memikirkan pasang surut usaha kecil-kecilan yang ditekuninya sejak lima tahun lampau. Dengan rajin mulai jam empat dini hari maman Wirya naik sepeda gayung dari rumahnya ke Kampung Tinggi menemui jagal cina bernama Babah Leong.
Ia membeli kontan daging babi sepuluh kilo, campur-campur ada tulang, daging, lemak, jeroan, kulit, kadang-kadang kepala babi. Dagangan itu dimasukkan ke dalam peti kayu yang diikat di gandengan sepeda reotnya. Dalam peti sudah ada pula pisau jagal dan talenan kayu.
Dari rumah Babah Leong, maman Wirya keluar masuk gang-gang kampung Banjar Jawa, Peguyangan, Penataran, Petak, Paketan, Bale Agung, dan Liligundi, menjajakan dagangannya. Selain bunyi bel sepeda: kring, kring, kriiiiing, dia juga berteriak: “be, be, beeeeeee” artinya daging, daging, daging, tanda kehadirannya kepada pelanggan dan pembeli ketengan.
Ibu-ibu rumah tangga yang mendengar bel sepeda dan teriakan maman Wirya berhamburan keluar rumah menyongsong kedatangannya dengan senyum dan sapaan ramah. “Beh I maman, uli tuni antiang, kenken man, seger?” (wah si paman, dari tadi ditunggu, bagaimana paman, sehat?) sapaan ibu-ibu berbasa-basi menyenangkan maman Wirya.
Mereka berebut minta ini dan itu, memilih seraya memegang-megang daging yang diinginkannya. Ada yang membayar kontan tetapi tidak sedikit yang ngebon atau disebut “nganggeh.” “Man, baang nganggeh malu nah buin mani bayah, ne bapanne I Losog konden gajian” (paman, kasi ngebon dulu ya, besok dibayar, ini bapaknya I Losog belum gajian) kata seorang ibu seraya menunjuk anak kecil gundul yang digendongnya.
Si anak yang tidak tahu dirinya jadi objek melongo memperhatikan kesibukan sekitar. “De terus-terusan nganggeh, Kintamani-Pupuan, yen sing buin mani, buin puan mara mejanji mayah” (Jangan terus-terusan ngebon, kalau tidak besok, lusa baru janji dibayar) jawab maman Wirya dengan ketus.
“Meh, de je keto maaan, pedalem je ne panake konden medaar uli semengan” (wah, jangan gitu dong pamaaan, kasihanilah anakku ini belum makan dari pagi). Rayuan ibu yang memelas itu meluluhkan hati maman Wirya, akhirnya dikasi lagi ibu itu ngebon.
Karena banyak yang ngebon maka modal maman Wirya-pun menciut. Awalnya berdagang dia sanggup menghabiskan daging sepuluh kilo dalam sehari; sekarang hanya bisa mengedarkan lima kilo sehari karena uangnya banyak membeku alias bon-bonan belum tertagih.
Sebaliknya, maman Wirya pantang ngebon, dia selalu bayar tunai. Babah Leong yang susah dimengerti bahasa Balinya berdialek cina totok suka marah-marah bila maman Wirya minta ngebon. Omongan Cina-Bali Babah Leong yang kasar memanasi kuping maman Wirya: “Suud cai nagih nganggeh, awake kekaden tusing keweh masi!” (Berhenti kamu minta ngebon, kau kira aku juga tidak susah).
Kalau terus-terusan begini, maman Wirya bisa bangkrut. Lalu bagaimana menghidupi dua istri dan enam anaknya? Menjelang tidur dia terkadang menyesal punya istri dua. Teori ekonomi rumah tangga yang sangat sederhana pada awalnya menggerakkan keinginannya untuk menambah sumber tenaga kerja manusia dengan mengawini Luh Kajeng yang berdagang pecerakenan: beras, kedele, kacang, asem, bumbu-bumbuan, dll. di pasar Buleleng. Dagangan Luh Kajeng juga habis di-bon dan tak tertagih, apalagi setelah dia absen selama melahirkan I Bontoan.
Maman Wirya memutar otak mencari jalan keluar, mengusahakan agar langganannya mau membayar tunai atau paling tidak jika ngebon jangan lama-lama. Dengan kata-kata rupanya tidak mempan, karena ucapannya selalu dimentahkan oleh ibu-ibu dengan gurauan dan bujukan.
Tiba-tiba otaknya jadi encer seolah-olah ada bisikan dari dunia lain! Bagaimana kalau di kotak papan tempatnya menaruh dagangan itu ditulisi dengan kalimat yang tujuannya menyindir, sehingga langganannya jadi malu dan segan ngebon, atau paling tidak menepati janji membayar.
Ini zaman edan, orang-orang banyak yang tidak tahu malu, bermuka tebal dan tidak segan-segan berbohong demi mencapai keinginannya. Begitu pikir maman Wirya. Lalu mekanisme otaknya menjalar mulai memilih kata-kata yang tepat dan bernada sinis.
Nah, berbohong dalam bahasa Buleleng adalah “bobab”. Bohong bagi yang ngebon, janji-janji akan bayar tetapi tidak dipenuhi. Muka tebal alias tidak tahu malu, bahasa Bulelengnya: “pongah” atau “juari”. Muka tebal karena si pelaku merasa tidak berbuat salah.
Berbekal pada dua kata pokok itu, maman Wirya sampai pada kesimpulan yang didasari oleh pengalamannya, memang di zaman edan “bobab” itu diperlukan dan “juari” itu yang berlaku. Banyak orang yang hidupnya secara material kelihatan bagus karena menggunakan “filsafat” bobab dan juari, walaupun kedua hal itu sudah jelas tidak sesuai dengan ajaran Agama Hindu.
Di zaman edan orang-orang banyak yang mengabaikan ajaran Agama, tidak lagi takut pada Karmaphala, tidak memperhatikan etika, tidak satya wacana, dan lain-lain.
Bertentangan sekali dengan wirama-wirama kekawin (dharma gita) yang sering didengarnya di Pura Desa. Maman Wirya merasa mendapat dorongan yang besar untuk menulis kata-kata yang tepat yang tidak hanya sebagai sindiran, tetapi juga peringatan dan sekaligus ajakan untuk berbuat sesuai dengan ajaran Agama Hindu.
Entah karena dia memang cerdas, ataukah karena hari itu memang nasibnya mendapatkan slogan yang tepat, maka akhirnya tersusunlah kalimat: “Bobabe perlu, juarine kanggo” Akhiran “e” pada kata bobab dan juari dimaksudkan sebagai penguatan arti, sedangkan “kanggo” adalah kependekan dari “ke-anggon” atau “dipakai” dalam bahasa Indonesia, sehingga keseluruhan artinya: “Berbohong diperlukan, muka tebal itu bermanfaat.” Maman Wirya bergegas pulang mencari cet warna merah, seraya menulis di kotak papan alias gerobagnya kalimat sinis itu.
Keesokan harinya, di gerobag maman Wirya sebelah kiri dan kanan sudah ada tulisan itu dengan warna merah mencolok. Orang-orang yang lewat, tua, muda, kecil, dewasa, laki, perempuan semua tertegun membaca tulisan itu: “Bobabe perlu, juarine kanggo.”
“Ape artinne ento man?” (apa artinya itu paman) tanya orang-orang. “Bace pedidi, keresepang pedidi” (baca sendiri dan hayati sendiri) kata maman Wirya dengan ketus. Ternyata taktik maman Wirya berhasil! Sejak itu ibu-ibu pelanggannya jarang ngebon dan ibu-ibu yang tidak punya uang lebih memilih tidak membeli daging babi dari pada dituding sebagai orang yang bobab dan juari.
Sayang di Buleleng tidak ada musium gerobag dan sayang juga karena rangkaian kata-kata maman Wirya itu tidak didaftarkan sebagai hak paten. Seandainya ada, kata-kata maman Wirya yang sudah almarhum lebih sepuluh tahun lalu bisa digunakan di abad millennium ini.
Mungkin bisa dipampang besar-besar digerbang kota, karena tidak sedikit diantara kaum elit pemimpin bangsa, pemimpin partai politik, tokoh agama, tokoh masyarakat berkelakuan seperti itu untuk mencapai tujuannya: “Bobabe perlu, juarine kanggo.”

ampure…alur tuturnya sangat lugas dan merakyat…becik pisan anggen ngentenin jadma sane sedeng aturu,kaliput dening kegelapan jaman kali sekadi mangkin,sane katah ” sakwale payu jani,beneh pelihne bin mani itungang “. ring dije dije pateh jagate sekadi niki. matur suksme.
Om Swastyastu,
Nike sampun aab jagate mangkin, indayang cingakin ring TV nyabran raina munggah tokoh-tokoh pemimpin rakyat sane bobab lan juari nanging ipun sugih ngereped. Tios ring i rakyat sane belog polos, setata ngemanggihin kakewehan maurip.
Om Santih, santih, santih, Om