Agama Hindu berkembang menjadi banyak sekte. Ini disebabkan karena Weda tidak diwahyukan kepada seorang Maha-Rsi saja, dan juga tidak diwahyukan dalam kurun waktu yang sama dan diwahyukan pula di tempat yang berbeda.
Ada tujuh Maha Rsi yang menerima wahyu Weda, yaitu: Read more » Pemujaan Siwa
Derma atau pemberian sesuatu kepada kaum fakir miskin yang dalam agama lain disebut zakat fitrah, di dalam ajaran Agama Hindu disebut sebagai Drwya yadnya.
Drwya dalam Bahasa Kawi berarti barang-barang yang dimiliki; sedangkan Yadnya artinya pengorbanan suci yang tulus ikhlas. Jadi Drwya Yadnya arti bebasnya: memberikan barang-barang milik kita kepada orang lain yang membutuhkan, didasari oleh hati suci dan tulus ikhlas tanpa pamrih. Read more » Drwya Yadnya
Meludah di Pura itu dilarang, termasuk kencing, “metenges” membuat Pura “leteh” atau tidak suci. Siapa yang melihat ini mestinya melarang, jangan dibiarkan saja. Apa saja yang keluar dari badan manusia di Pura adalah “leteh” misalnya selain ludah, kencing, ingus, juga: darah, keringat, air susu.
Makanya ibu-ibu jangan menyusui anak di pura apalagi di Utama Mandala. Di Madya Mandala saja tidak boleh. Hal-hal itu dibolehkan di Nista Mandala. Itulah gunanya ada ruangan-ruangan: nista, madya dan utama mandala, agar secara bertahap kita mensucikan diri sebelum masuk ke Pura. Read more » Meludah di Pura
Penggunaan “pedagingan” pada pelinggih-pelinggih atau bentuk-bentuk niyasa di suatu Pura atau Sanggah Pamerajan diatur dalam Lontar Bhuwana Tattwa Maha Rsi Markandheya, Gong Besi, dan Sanghyang Aji Swamandala.
Jika bangunan-bangunan itu tidak diberi pedagingan maka dalam Sanghyang Aji Swamandala disebutkan: Read more » Pedagingan
1. Panca Upakara yang terdiri dari unsur-unsur: daun, bunga, buah, air, api adalah sebagai cetusan rasa bhakti kepada Tuhan (Hyang Widhi).
Panca upakara sangat dibutuhkan bagi mereka yang tergolong Aparabhakti, yaitu yang mewujudkan rasa cinta kasih kepada-Nya dalam simbol-simbol, karena merasa tingkat kerohaniannya masih belum tinggi. Read more » Ngaben dan Aparabhakti
Menurut Lontar Wewaran, dalam melaksanakan kegiatan agama, tidak semata-mata berpedoman pada ala-ayuning dewasa yang termuat di kalender Saka-Bali.
Para Sulinggih diberikan pedoman agar meneruskan kepada umatnya bahwa ada rumus sbb.: Wewaran (ekawara, dwiwara, triwara, dst; dalam hal ini “pasah” adalah triwara yang patut dihindari karena berada dalam aksara “mang” yakni akhir = pralaya), dapat diabaikan bila di hari itu ada penanggal atau sukla-paksa yakni hari-hari setelah tilem menuju ke purnama. Read more » Ala Ayuning Dewasa
|
|
Recent Comments