Hakekat kerawuhan hendaknya ditinjau dari logika berdasarkan Sastra Agama. Apakah mungkin Ida Sanghyang Widhi Wasa melalui Bethara-Bethari manifestasi-Nya mewujudkan bentuk diri memasuki badan atau suksma seseorang?
Bukankah Beliau “Acintya” tidak dapat dibayangkan, dipikirkan, apalagi dilihat dengan mata atau didengar suaranya? Hanya Maha Rsi tertentu di jaman Weda saja yang dapat menerima wahyu-wahyu-Nya. Read more » Kerawuhan
Manusia (siapapun) selalu mempunyai dua kekuatan/ kecenderungan sifat/ perilaku yang bertentangan:
- Asuri Sampad: sifat-sifat keraksasaan (negatif)
- Daiwi Sampad: sifat-sifat kedewataan (positif)
Kita fokus pada asuri sampad: Sifat ini akan tumbuh berkembang dengan subur bila manusia tidak bisa mengendalikan pengaruh-pengaruh negatif dari Pancaindria: Read more » Asuri Sampad
Perkataan DEWASA berasal dari bahasa Sanskerta: DIV artinya “Sinar” kemudian menjadi DEVA (arti yang ke-3: sama dengan Dewa, yaitu manifestasi Hyang Widhi) dan menjadi DIVASA (arti yang ke-4: langit, sorga, hari).
Perkataan Divasa, berkembang di Bali menjadi DEWASA atau PADEWASAAN, atau WARIGA DEWASA, yaitu pemilihan hari baik untuk menuju jalan yang mulia berdasarkan posisi dan peredaran benda-benda langit di angkasa: matahari, bulan, dan bintang. Read more » Padewasaan
Menurut keyakinan agama Hindu (Bali) maka perputaran bumi adalah ‘purwadaksina’ atau ‘predaksina’, yakni perputaran dari purwa (timur) ke daksina (selatan) atau dengan kata lain: sesuai dengan putaran jarum jam.
Orang menciptakan jam juga berpikir agar putarannya itu sesuai dengan perputaran bumi. Read more » Arah Putaran Bumi
Dalam wewaran dan ala ayuning dewasa disebutkan bahwa setiap hari ada hal-hal yang baik dan ada hal-hal yang buruk, disebabkan karena pengaruh dari posisi bumi, bintang, bulan yang selalu berubah terhadap matahari.
Kita mengenal ada 7 macam wewaran, salah satunya triwara, yaitu: pasah, beteng, kajeng. Siklus 3 hari ini adalah akibat perubahan posisi bulan mengelilingi bumi. Setiap lima kali siklus triwara akan terjadi purnama atau tilem. Read more » Ada Apa Dengan Pasah (AADP)
Menurut Lontar Wewaran, dalam melaksanakan kegiatan agama, tidak semata-mata berpedoman pada ala-ayuning dewasa yang termuat di kalender Saka-Bali.
Para Sulinggih diberikan pedoman agar meneruskan kepada umatnya bahwa ada rumus sbb.: Wewaran (ekawara, dwiwara, triwara, dst; dalam hal ini “pasah” adalah triwara yang patut dihindari karena berada dalam aksara “mang” yakni akhir = pralaya), dapat diabaikan bila di hari itu ada penanggal atau sukla-paksa yakni hari-hari setelah tilem menuju ke purnama. Read more » Ala Ayuning Dewasa
|
|
Recent Comments