“Potong Gigi” Ceremony (Mepandes)

REFERENCE

The references about Potong Gigi ceremony are Kala Pati Manuscript, Kala Tatwa Manuscript, Semaradana, and Sanghyang Yama. The Kala Pati states that Potong Gigi is the sign of the human status changing to be a holy human with good manner so that when he/ she dies, the spirit will be in unity with the ancestors in heaven.  Read more » “Potong Gigi” Ceremony (Mepandes)

Berupacara Dengan Biaya Murah

Upacara adalah salah satu dari tiga kerangka Agama Hindu. Dua lainnya adalah Tattwa dan Susila.

Ketiganya merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan bagaikan sebutir telur, Tattwa diibaratkan sebagai sari telur yang berwarna kuning, Susila diibaratkan sebagai putih telur, dan Upacara diibaratkan sebagai kulit telur. Read more » Berupacara Dengan Biaya Murah

Bencana Alam dan Caru - Part I

Ada teman yang bertanya, mengapa bila ada bencana alam, lalu umat Hindu di Bali mengadakan ‘pecaruan’? Jawabannya:

1. Caru, dalam bahasa Jawa-Kuno (Kawi) artinya: korban (binatang), sedangkan ‘Car’ dalam bahasa Sanskrit artinya ‘keseimbangan/ keharmonisan’. Read more » Bencana Alam dan Caru – Part I

Mantram Pawiwahan - Short Story

Beberapa kutipan Veda di bawah ini dapat digunakan sesuai dengan tujuannya:

1. Rgveda X.85.23

SAM JASPATYAM SURYAMAM ASTU DEVAH

Ya, Hyang Widhi, semoga kehidupan perkawinan kami berbahagia dan tentram. Read more » Mantram Pawiwahan – Short Story

Nyegara Gunung

Filosofi upacara nyegara gunung: nyegara (ke-segara) mensucikan roh leluhur dengan sapta (7) gangga (air suci), yakni 7 sungai suci di India: Gangga, Sindhu, Saraswati, Yamuna, Godawari, Narmada, Sarayu.

Di tempat-tempat tersebut Weda diwahyukan kepada 7 Maha Rsi: Grtsamada, Wiswamitra, Wamadewa, Atri, Bharadwaja, Wasista, Kanwa. Read more » Nyegara Gunung

Kertas Ulantaga

Kertas Ulantaga memang diimport dari Cina, dibuat dari bahan sejenis bambu yang hanya tumbuh di Cina. Mengapa harus memakai Ulantaga, tidak ada sumber sastra yang saya temukan. Lontar-lontar seperti Yama Purana Tattwa tidak menyebutkan “kenapa” tetapi hanya mengatakan “harus menggunakan”.

Demikian juga mengenai penggunaan “pis bolong” dari Cina. Hanya saja untuk penggunaan pis bolong sudah ada keputusan Paruman Sulinggih yang dituangkan dalam Kesatuan Tafsir Terhadap Aspek-aspek Agama Hindu, bahwa pis bolong bisa diganti dengan uang Rupiah resmi yang berlaku sekarang, misalnya dengan uang logam. Read more » Kertas Ulantaga

Page 1 of 912345...Last »