Kasak-kusuk pemilihan Kepala Desa (kades) makin hari semakin ramai. Ada tiga kandidat yang mengajukan diri. Ketiganya mempunyai track record yang hampir sama. Berpendidikan formal S1, berwawasan luas, bukan PNS, berdedikasi tinggi pada kemajuan Desa, kaya, berusia sekitar 40-45 tahun.
Tak heran maka penduduk bingung mau memilih yang mana. Walaupun demikian dalam pandangan kebanyakan penduduk calon Made Suartana kelihatannya lebih banyak mendapat simpati dan dukungan. Dapat diduga sebabnya, karena ia salah seorang anggota Dadia (paguyuban keluarga) yang besar. Read more » Keto Malu
Nyepi di Bali dirayakan dengan berbagai cara yang mentradisi di masing-masing Desa sehingga membuatnya menjadi semarak dan menarik perhatian wistawan.
Di Desa Banjar, 15 kilometer arah barat kota Singaraja, Buleleng ada tradisi dalam rangkaian hari raya Nyepi yang dinamakan “Nyakan Diwang”. Read more » Nyakan Diwang
Ketukan pintu berkali-kali membangunkan Kadek Arianty dari tidurnya yang lelap. Semalam baru saja ia melakukan perjalanan bersejarah, pertama kali dan seorang diri menempuh jarak ratusan kilometer dari Singaraja ke Malang.
Di tahun 1964, perjalanan itu sangatlah melelahkan. Betapa tidak, pagi-pagi buta sekitar jam 4 ia harus bangun untuk mengejar bus “Alita” menuju Gilimanuk, lalu berebutan naik perahu motor ke Banyuwangi, terus berlari-lari mengejar kereta api ke Surabaya. Read more » Jero Jempiring
Udara panas di balai desa tidak menghambat semangat warga desa berkumpul hari itu mendengarkan dharma wacana saya. Beberapa hari sebelumnya pengurus desa sudah ke Geria merundingkan rencana ngaben massal yang sudah tercetus pada paruman-paruman desa beberapa bulan lalu.
Mereka datang berlima, dipimpin Klian Adat yang membuka pembicaraan pertama: “Maaf Ratu Bhagawan, kami sebenarnya sangat malu menyampaikan keinginan warga kami untuk melaksanakan ngaben massal, karena kemampuan kami sangat minim; tetapi atas desakan warga, kami berani datang karena mereka mendengar di beberapa desa lain, Ida Bhagawan sudah memimpin upacara Pitra Yadnya massal dengan biaya sangat rendah.” Read more » Ngaben Gotong-Royong
Kokok ayam bersahut-sahutan menyongsong terbitnya sang surya di pagi yang dingin membangunkan seisi rumah keluarga petani Pan Geredeg. Istrinya yang dipanggil lebih akrab dengan nama Kelepon dari pada nama aslinya Luh Sukaesih, sudah terbangun sejam lalu.
Ia sudah menyelesaikan tugasnya sebagai istri, memasak nasi serta lauknya, serta menyediakan kopi buat suaminya. Hari itu ia akan bekerja keras, manyi (panen padi) di sawahnya, Subak Bedugul. Read more » Manyi
Lek, hendaknya dibaca dengan mengucapkan “e” seperti “endapan” dalam Bahasa Indonesia. Di Buleleng, lek artinya “malu”. Bisa digunakan untuk memaki atau memarahi seseorang karena rasa kesal. Misalnya kalimat: “Cai sing nawang lek!” artinya: Kamu (laki-laki) tidak tahu malu!
Tiga huruf ajaib ini yang terangkai menjadi satu, ternyata besar sekali pengaruhnya pada perilaku manusia. Ia bisa menghentikan pembicaraan, menghentikan gerakan, atau bisa juga membuat gerakan seketika atau terencana. Read more » Lek
|
|
Recent Comments