Suatu kajian singkat mengenai keberadaannya, yang perlu dipikirkan dalam upaya pencerahan Agama Hindu di Indonesia, khususnya di Bali
Disampaikan pada Seminar Mahasabha ke-8 PHDI Wilayah Bali dan sekitarnya bertempat di Natour Bali Hotel, Jalan Veteran No. 3, Denpasar.
1. PENDAHULUAN
Gairah generasi muda Hindu di Indonesia khususnya di Bali untuk mempelajari dan meresapkan ajaran-ajaran Agama Hindu, sejak beberapa tahun terakhir ini menunjukkan peningkatan yang menggembirakan. Read more » Sampradaya
APAN IKING DADI WWANG, UTTAMA JUGA YA, NIMITTANING MANGKANA, WENANG YA TUMULUNG AWAKNYA SANGKENG SANGSARA, MAKASADHANANG SUBHAKARMA, HINGANING KOTTAMANING DADI WWANG IKA. (SARASAMUSCCAYA, 4)
Atman yang menjelma menjadi manusia adalah sungguh utama, sebab ia akan dapat menolong dirinya dari keadaan sengsara (lahir dan mati berulang-ulang) dengan jalan berbuat baik; demikianlah keuntungannya dapat menjelma menjadi manusia. Read more » Satyam, Siwam, Sundaram Menuju Moksartham Jagadhita
Kebetulan semalam saya baru menonton film di Indovision: “Tears of The Sun”. Pada penutup film ada kata-kata mutiara: “Kejahatan akan terwujud bila orang-orang baik berdiam diri”. Kata-kata ini sangat berkesan dalam pikiran saya.
Dalam konteks ini, maka wejangan Sri Krishna di Bhagawadgita Bab II pasal 33 tentang Teori Samkhya dan pelaksanaan Yoga, sangat tepat. Read more » Kejahatan Akan Terwujud Bila …
Sampradaya, bila dilaksanakan sesuai dengan tujuannya, menurut beberapa upanisad, bertujuan baik, yakni mencerdaskan dan menguatkan pengetahuan spiritual para anggota kelompoknya sehingga mereka menjadi manusia yang taat melaksanakan ajaran agama.
Namun demikian, sampradaya bisa mengarah ke hal negatif bilamana dipimpin oleh rohaniawan yang mempunyai misi dan visi menyimpang, misalnya: Read more » Quo Vadis Sampradaya
Kalau ditelusuri Sejarah Bali, ternyata di sekitar abad 11 – 14 para Sulinggih/ Maha Rsi tugasnya lebih banyak sebagai ‘Acarya’, yaitu memberikan dharma wacana, berkeliling ke desa-desa, bahkan tanpa diundang.
Beliau berinisiatif sendiri mengumpulkan umat untuk diajak berbincang-bincang tentang dharma. Bukti sejarah, adanya pura-pura: Pulaki, Ponjok Batu, Rambut Siwi, Peti Tenget, Sakenan, dan lain-lain sebagai penghormatan/ pemujaan kepada Ida Danghyang Nirartha karena di tempat-tempat itu beliau pernah ‘mondok’ memberikan dharma wacana. Read more » Dang Acarya
Kayu untuk bahan bangunan di Bali dibedakan menurut kelompok kesakralan yang dikandung dalam pohon asal kayu itu.
Di Lontar Bhuwana Kosa dan Lontar Wrhaspati Tattwa dinyatakan bahwa Ida Sanghyang Widhi yang bermanifestasi sebagai Bhatara Brahma menciptakan isi bumi melalui tahapan proses sebagai berikut: Setelah air laut disurutkan melalui pembentukan es di kutub utara dan di kutub selatan, maka muncullah daratan. Read more » Penggunaan Kayu Sebagai Bahan Bangunan
|
|
Recent Comments