Dang Acarya

Kalau ditelusuri Sejarah Bali, ternyata di sekitar abad 11 – 14 para Sulinggih/ Maha Rsi tugasnya lebih banyak sebagai ‘Acarya’, yaitu memberikan dharma wacana, berkeliling ke desa-desa, bahkan tanpa diundang.

Beliau berinisiatif sendiri mengumpulkan umat untuk diajak berbincang-bincang tentang dharma. Bukti sejarah, adanya pura-pura: Pulaki, Ponjok Batu, Rambut Siwi, Peti Tenget, Sakenan, dan lain-lain sebagai penghormatan/ pemujaan kepada Ida Danghyang Nirartha karena di tempat-tempat itu beliau pernah ‘mondok’ memberikan dharma wacana.

Itu dilakukan setelah beliau mendapat pengalaman pahit, punah/ merosotnya Hindu di Jatim. Untuk mempertahankan Bali tetap Hindu, maka beliau menjadi Acarya, sehingga bergelar pula ‘Dang Acarya’.

Sekarang, sejarah terulang, Bali menghadapi ‘serangan’ gencar. Maka para Sulinggih mohon turun gunung, jangan ada ‘gap – communication’ dengan umat, baik karena bahasa, tata-krama, anggah-ungguh, dan lain-lain.

Umat juga jangan segan-segan/ malu-malu/ ewuh-pakewuh, menghubungi Sulinggih, tatap langsung, via telepon, via internet, dan lain-lain.

9 comments to Dang Acarya

Leave a Reply

  

  

  

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Subscribe without commenting