Kalau ditelusuri Sejarah Bali, ternyata di sekitar abad 11 – 14 para Sulinggih/ Maha Rsi tugasnya lebih banyak sebagai ‘Acarya’, yaitu memberikan dharma wacana, berkeliling ke desa-desa, bahkan tanpa diundang.
Beliau berinisiatif sendiri mengumpulkan umat untuk diajak berbincang-bincang tentang dharma. Bukti sejarah, adanya pura-pura: Pulaki, Ponjok Batu, Rambut Siwi, Peti Tenget, Sakenan, dan lain-lain sebagai penghormatan/ pemujaan kepada Ida Danghyang Nirartha karena di tempat-tempat itu beliau pernah ‘mondok’ memberikan dharma wacana.
Itu dilakukan setelah beliau mendapat pengalaman pahit, punah/ merosotnya Hindu di Jatim. Untuk mempertahankan Bali tetap Hindu, maka beliau menjadi Acarya, sehingga bergelar pula ‘Dang Acarya’.
Sekarang, sejarah terulang, Bali menghadapi ‘serangan’ gencar. Maka para Sulinggih mohon turun gunung, jangan ada ‘gap – communication’ dengan umat, baik karena bahasa, tata-krama, anggah-ungguh, dan lain-lain.
Umat juga jangan segan-segan/ malu-malu/ ewuh-pakewuh, menghubungi Sulinggih, tatap langsung, via telepon, via internet, dan lain-lain.

saya suka artikel ini.
Suksma atas Wejangannya, semoga semuanya selalu diberikan keselamatan , Budi pekerti dan Pemikiran yg Dharma untuk mencapai Kedamaian bagi semuanya tanpa mengurangi rasa hormat kepada semua Warna dan Unsur yg ada di Alam Semesta ( Jagadita ya Caiti Dharma ) Astungkara
Betul,mari kita bahu-membahu mempertahankan ajaran Weda. Jauhkan fanatisme soroh, wangsa, dan perbedaan-perbedaan lainnya.
Artikel yang sangat inspiratif dan motivatif. Semoga semua sulinggih yang ada baik di Bali maupun luar Bali punya pemikiran dan spirit yang sama dengan Ratu Bhagawan sehingga Hindu bangkit kembali dan ajaran Weda menyebar keseluruh pelosok negeri
Semoga juga. ini di Bali-TV sudah sering/rutin ada dharma wacana; itu sangat bagus.
saling mengayomi,dan berempati.
om swasti astu
kemungkinan ada beberapa kawan saya yang tertarik masuk hindu.tetapi terbentur masalah soroh/kasta. dan mereka berpikir jika masuk hindu akam tetap tersisih karena tidak ada soroh/kasta untuk mereka. mohon solusinya/pencerahannya
om santi santi santi
Om Swastyastu,
Kasta stelsel sudah tidak eksis lagi di Bali. Berbicara Hindu tentu tidak dalam pandangan sempit hanya Bali saja.
Om Santih, santih, santih, Om
like diz…..