om swastyastu bhagawan dwija, tiang punya pertanyaan..! setiap tiaang melakukan titayatra sepertinya tiang sudah pernah tangkil k tempat suci itu, atau pernah memeimpikan tempat itu, padahal tyang belum pernal tangkil; k tempat suci itu..? kejadian seraing sekali terjadi. mohon d beri penjelasan. suksma
Itulah “Karmawasana” yang tetap melekat di atman walau sudah punarbhawa berkali-kali. Jadi dikehidupan anda yang lampau (entah kapan) anda memang sudah pernah ke tempat itu.
om swastyastu bhagawan dwija,
Saya sering disarankan mebersih “saraswati” oleh beberapa pemangku karena saya sering mendapat petunjuk dan penampakan makhluk2 ghaib lewat mimpi atau setengah sadar.Dari petunjuk2 yang sy terima lewat mimpi dan penglihatan saya itu, sy dan keluarga terdekat sering terhindar dari bencana yang dibuat manusia…Tentu saja hal ini karena Sang Hyang Widhi belum mengijinkan kami disakiti
…masih banyak tugas2 yadnya yang ingin saya haturkan jika sy memiliki kesempatan dan umur. Saya wanita karir yang tidak tahu banyak soal agama hindu…saya masuk hindu mengikuti suami 9th lalu.
Benarkah jika sy mebersih, akan lebih mudah bagi saya memperoleh petunjuk shg bisa membantu keluarga dan orang lain?
Mohon pencerahan. Suksma
O. S. A ratu bhagawan yang titiang hormati.
titiang mempunyai pertanyaan mungkin agak melenceng dari topik pembicaraan.
titiang dan suami ngontrak rumah di suatu tempat,.
waktu mulai menenpati rumah itu titiang hanya mengaturkan pejati di padmasana, karna hanya ada padmasana di sana..
dan titiang tinggal nyaman aja, setelah selang beberapa bulan titiang merasa seperti ada yang menggangu, kadang ada seperti ada yang duduk di kamar, kadang seperti ada yang menenggok, pas kejadian setengah sadar pas saya tidur atau kadang pas titiang menenggok tanpa sengaja, tapi setelah diperhatikan tidak ada, kadang seperti di belakang titiang, pokonya tidak nyaman..!
waktu niki juga sempat kejadian, titiang tidur siang anak titiang juga tidur di rumah tidak ada siapa, ketika titiang mau bangun langsung seperti di cekik, badan titiang lemas,suara aneh seprti menekan, sangat kuat, tapi titiang lawan dengan minta tolong dari shang hyang widhi..akhirnya titiang bisa lepas dan bangun..
mulai saat itu itu titiang terus merasa seperti di hantui..tapi ketika suami titiang dirumah semua baik baik saja, pas titiang sendiri selalu seperti itu. titiang sudah sempat menanyakan pada orang pintar, katanya itu adalah penunggu karang yang ingin sesuatu, dan titiang sudah menghaturkannya.
pertanyaan titiang adalah
1, apakah benar itu penunggung karang dan bukan dari seseorang,?
2. upacara apa yang harus dilakukan? atau titiang tanyakan pada tuan rumah?
3. apa itu semua terjadi karna titiang penakut? trauma? apa titiang sensitif dengan hal tersebut?
4. apa ada hubungannya dengan orang yang lahir kajeng kliwon? karna titiang lahir kamis kliwon- kajeng kliwon enyitan, warigadian, apakah hari lahir dihitung berdasarkan 24 jam? karna titiang lahir jam 11 malam keatas..
5. titiang merasa punya keanehan, misalnya waktu ini ada orang yang sedang membicarkan titiang dibelakang, titiang tanpa sengaja menenggok orang itu, padahal titiang tidak mendengarkan sama sekali, titiang menjadi tidak enak karna dia seperti merasa ketahuan. sudah sering kejadian yang sama,. padahal titiang tidak ingin tahu..
dan kalau ada yang punya niat tidak baik, niat jahat, niat tulus, atau sekedar saja titiang bisa merasakannya lewat tatapan dia tapi titiang TIDAK TAHU apa artinya, apa maksudnya, cuman titiang punya perasaan seperti tidak enak/ tidak bisa di pungkiri/ tatap muka tidak nyaman.
dan kalau memasuki tempat baru yang di percaya angker titiang akan merasa tidak nyaman.. tapi TIDAK MELIHAT apapun..
kadang titiang berkata dalam hati ” apa sebenarnya yang ada disini dan kenapa saya merasa tidak nyaman ”
mohon rau bhagwan penjelasaanya,
karna titiang ingin merasa nyaman kemanapun titiang pergi, titiang pengen nyaman bertemu dengan siapapun, titiang ingin nyaman dimanapun titiang tinggal ketika sendirian,.
suksma ping banget ratu bhagawan.
terima kasih sebelumnya atas waktu dan kesempatan ratu bhagawan selalu menjawab pertanyaan titiang.. dan maaf kalau berbelit belit..
Pertanma saya ingin menjelaskan bahwa roh manusia (menurut keyakinan Hindu-Bali)terdiri dari 3 unsur : 1. Ahamkara, 2. Manas, 3 Budhi. Ahamkara bertugas menangkap sinyal-sinyal yang diterima panca indria. Sinyal itu dilanjutkan kepada Manas untuk dianalisa, dikaji, dipertimbangkan dan diteruskan ke Budhi. Budhi mengambil keputusan. Keputusan itu diteruskan kembali kepada Ahamkara, sekali gus diberi perintah untuk berbuat, berpikir dan berbicara dengan peralatan yang dimiliki panca indria. Makin tinggi pendakian spiritual seseorang, makin bagus keputusan Budhi, sebaliknya makin rendah kesadaran spiritualnya makin rendah pula kwalitas Budhi. Dalam kasus anda, anda sedang berada pada pertengahan pendakian spiritual, sehingga sensitifitas Ahamkara agak kuat, dengan kata lain sinyal-sinyal panca indria semakin kuat. Ini hendaknya dipelihara dan ditingkatkan. Namun dalam kondisi seperti ini anda juga memerlukan kesucian lingkungan, karena bila lingkungan tidak suci akan membuat sinyal yang tidak menyenangkan Ahamkara. Pengertian suci adalah lingkungan ke-Tuhanan, atau alam kedewataan (swah-loka) Dampaknya memang rumit, misalnya rumah, pekarangan, tempat tidur, makanan harus suci. Singkatnya, rumah anda harus disucikan dengan suatu upacara yang disebut memangguh, dan anda diminta untuk mewinten saraswati.
ratu bhagawan..
terima kasih atas jawabnya..
sebelumnya titiang mau menanyakan apa itu upacara memangguh? besar napi teen? apa yang harus di buat?
kalau mau mewinten saraswati apa sarananya? dimana? apa tidak kalangan tertentu akan mengira titiang aneh? soalnya menurut titiang mewinten adalah suatu menyucian diri yang disertai dengan tanggung jawab juga, apa pantangannya setelah mewinten?
bagaimana kalau tidak mewinten? dari pada entar titiang mewinten tapi titiang tidak bisa melakukan apa yang seharusnya di lakukan. titiang tidak mau menyianyiakan…
titiang hanya ingin tidak diganggu sama apapun dan siapapun…
titiang ingin biasa biasa saja..
sebenarnya titiang suka sekali mengeluti di bidang spiritual tapi mungkin titiang belum siap saja, karna waktu dan lain lain, jadi terhalang..
selama ini titiang hanya berusaha untuk sembahyang setiap ada waktu saja,.
1. Memangguh asal katanya : kepangguh = kepanggih = menemukan. Dalam kasus ini “menemukan” sebidang tanah yang digunakan untuk perumahan/sanggah pamerajan/pura. Jadi kita (manusia) perlu meminta ijin kepada Sanghyang Widhi menggunakan tanah itu, karena dalam pengertian semua alam semesta ini adalah ciptaan-Nya dan milik-Nya. Upacara ini dikaitkan dengan mecaru (lihat uraian tt hal ini di web), melaspas, dan memendak/ngelinggihang Ida Bhatara. Biayanya total sekitar Rp.9 juta.
2. Pawintenan saraswati bisa diadakan bersamaan dengan upacara memangguh, jadi menghemat biaya. Menurut filosofi catur purushaartha, mewinten adalah kewajiban setiap umat dalam menempuh kehidupan setelah gryahasta (berumah tangga). Jadi bukan hal yang istimewa. Memang setelah mewinten ada pantangan-pantangannya, misalnya : tidak boleh kecemeran (kesucian yang ternoda), tidak makan sembarangan/berlebihan, menjaga trikaya parisudha, dll. Bukankah itu baik ? dan harus dilakukan oleh kita sebagai pemeluk Hindu. Jangan melihat kebanyakan orang yang mewinten, lalu tindakan/ucapannya eksklusif, arogan, dll.
3. Menempuh kehidupan spiritual tidak susah, asal kemauannya ada, apalagi dapat dilakukan sambil beraktivitas dalam keseharian. Misalnya daripada membuang waktu menonton TV/sinetron kan lebih baik membaca buku-buku agama; dari pada keluyuran/jalan-jalan kan lebih baik metirtayatra, dst. dst.
Masalahnya adalah time management (mengatur waktu = membagi aktivitas dalam 24 jam). Pilih aktivitas yang berguna untuk meningkatkan kwalitas SDM. Bila anda ingin hidup sehat hendaknya sehat yang lengkap : 1. Spiritual. 2. Emosional. 3. Inteligensial. 4. Sosial. 5. Physical. Urutan itu tak boleh diputar balik, karena mengandung unsur berkaitan. Misalnya emosional tak mungkin sehat bila spiritual tidak sehat. dst. Sehingga ada rumusan bahwa bila seseorang mampu memelihara kesehatan menyeluruh seperti tersebut diatas, maka ia akan berumur panjang. Disamping 5 prinsip kesehatan itu, anda juga harus mempunyai pola hidup : Simple living, high thinking. Artinya hidup sederhana tetapi berpikiran maju/produktif.
OM SWASTYASTU
Ratu Bhagawan yang titiang sucikan. Titiang salah seorang umat di Kota Makassar.ada yang titiang perlu tanyakan berkaitan dengan Sesana Pandita dalam memberikan Pelayanan kepada Umat. Sebagai informasi titiang sampaikan ring Ratu Bhagawan bahwa saat ini di Makassar ada 5 orang Pinandita. Kesadaran umat tentang pelaksanaan upacara saat ini sudah sangat bagus, hal ini dibuktikan dengan banyaknya permintaan dari umat untuk nganteb menjalankan upacara seperti nelubulanin, otonan, melaspas rumah, ngeruak bangunan dll yang sudah pasti memerlukan pelayanan dari para Pinandita yang ada. Dengan jumlah umat yang mencapai 5000 an orang tentu sebagai umat sangat berharap bahwa pelaksanaan upacara itu berkembang semakin meningkat baik kuantitas maupun kualitasnya, sehingga seiring dengan hal tersebut ada keinginan dari salah seorang Pinandita untuk meningkatkan kemampuan Spiritualnya untuk me Dwijati dengan harapan bahwa kalau ada upacara-upacara yang tingkatannya lebih besar tidak perlu lagi mendatangkan Pandita dari luar Kota Makassar. Untuk hal tersebut yang ingin titiang tanyakan sareng Ratu Bhagawan adalah : Kalau nanti sudah menjadi seorang Pandita. 1). Apakah seorang Pandita itu tidak dibenarkan lagi Muput upacara seperti melaspas rumah, otonan, nelubulanin, mesakapan, Ngaben kalau ada umat yang meninggal? 2). Apakah Pandita itu hanya dibolehkan untuk Muput upacara yang berskala besar saja???
Titiang mohon Ratu Bhagawan berkenan memberikan penjelasan, Inggih sukseme.Salam Hormat dari Umat di Makassar
OM SHANTI SHANTI SHANTI OM
Bedanya Pandita dengan Pinandita adalah : Pandita sudah medwijati (mediksa) sedangkan Pinandita baru ekajati (mewinten). Dengan demikian Pandita mempunyai kewenangan yang sangat luas, yakni muput semua jenis upacara Panca Yadnya. Sedangkan Pinandita hanya boleh nganteb upacara kecil-kecil dimana menggunakan pedudusan alit. Namun demikian, untuk tidak menimbulkan kecemburuan sosial sebaiknya diadakan musyawarah yang dipimpin oleh Ketua (banjar/suka-duka ?) pembagian tugas antara Pandita dengan Pinandita, misalnya untuk Pinandita sebatas banten hulunya maksimal suci. Tetapi kalau upacara itu dengan banten hulu bebangkit, pulagembal, atau catur, harus dipuput oleh Pandita. Ini sesuai dengan ketentuan yang ada dalam lontar Eka Pratama, ataki-taki diksa, dan siwa sesana.
“Om Swastyastu” ratu bhagawan dwija, tiang meduwe pitaken..!
Soal mimpi yang nyambung dengan keadaan, titiang punya ajik mimpi menggendong bayi, bayi yang digendong berubah jadi anjing kecil dan mau menggigit leher ajik, ajik tiang berusaha melepas ajing sambil memukul keesokan hari kira kira jam 3 pagi setelah bangun ternyata bantal yang dipakai tidur sudah sobek sampai isi bantal ber hamburan (itu cerita mimpi). Dan orang tua saya melanjutkan kegiatan yang rutin dilaksanakan tiap pagi yaitu pergi ke pasar,singkat cerita sesampai di rumah sambil membikin air hangat ada binatang kelelawar besar(bukal jantan) yang bertengger di sepeda motor. Sekarang kelelawar itu di pelihara (ajik titiang dados mangku ring merajan ageng) yang tiang tanya
1. apa airti mimpi itu ?
2. bahaya / tidak
1. Mimpi yang menjadi kenyataan adalah signal early warning system dari kandapat yang berstana di didiri ajik, gunanya agar bersiap menghadapi sesuatu yang tidak baik (contoh bantal yang sobek/disobek ? Oleh siapa ?
2. Berbahaya bila warning itu tidak diperhatikan
3. Kelelawar sebaiknya tidak dipelihara, karena ia bisa menjadi medium black magic, sama seperti kera, babi, dll.
Suksema atur titiang ratu sampun nyawis pitaken titiang.
Sane (yang menyobek bantal adalah ajik titiang, dia memukul anjing kecil tak taunya bantal yang dipukul sampai sobek dan ke esokan hari baru sadar bahwa ajik titiang sedang mimpi)
Untuk mengkafer tanda alam bagaimana caranya (apa dengan menghaturkan sesajen ? atau yang lain) tolong saran Ratu Bhagawan.
Kelelawar itu sekarang sudah ada yang minta, untuk di rawat
Suksma
Om Santih, santih, santih, Om
mengenai pemakaian ganitri, itu di tarik dengan jempol atau di dorong dengan jempol? apakah bedanya di tarik sama yang di dorong? mohon penjelasannya.
suksma
om swastyastu ratu baghawan riatkala ngaben wenten sekah, sekah punika titiang pangih medaging cenana,mirah,don bingin ,don acak,bungan temuri napi suksman ipun? lan wenten tengked sekah ngangen kyu ee napi mawinan nganggen kayu ee, lan napi suksmana?
Any private or public question about Hinduism aspects? Whatever lightweight or heavyweight level of the question(s), DO NOT HESITATE, just meet him online.
Bhagawan Dwija mengharap Anda turut berpartisipasi medana punia melalui rekening: 0088-01-019616-50-7 atas nama Ida Pdt Sri Bagawan DWNS pada BRI Cabang Singaraja. Dana punia Anda akan digunakan untuk membina umat sedharma berupa pencetakan/mengcopy buku-buku Agama Hindu, dll
Any comment you make here, will be routed directly to his email. So if there is question in there, he will reply you.
[1] Try Stiti Dharma Mobile with your mobile phone.
[2] Translate this site using Google Translate. It doesn’t give a perfect result but give it a try. Click .
[3] View our Gallery at the sidebar Pages menu (also appear at the top of our website). Click here.
[4] A lot of QA (Question & Answer) content at QA category. Click here.
om swastyastu bhagawan dwija, tiang punya pertanyaan..! setiap tiaang melakukan titayatra sepertinya tiang sudah pernah tangkil k tempat suci itu, atau pernah memeimpikan tempat itu, padahal tyang belum pernal tangkil; k tempat suci itu..? kejadian seraing sekali terjadi. mohon d beri penjelasan. suksma
Itulah “Karmawasana” yang tetap melekat di atman walau sudah punarbhawa berkali-kali. Jadi dikehidupan anda yang lampau (entah kapan) anda memang sudah pernah ke tempat itu.
om swastyastu bhagawan dwija,
Saya sering disarankan mebersih “saraswati” oleh beberapa pemangku karena saya sering mendapat petunjuk dan penampakan makhluk2 ghaib lewat mimpi atau setengah sadar.Dari petunjuk2 yang sy terima lewat mimpi dan penglihatan saya itu, sy dan keluarga terdekat sering terhindar dari bencana yang dibuat manusia…Tentu saja hal ini karena Sang Hyang Widhi belum mengijinkan kami disakiti
…masih banyak tugas2 yadnya yang ingin saya haturkan jika sy memiliki kesempatan dan umur. Saya wanita karir yang tidak tahu banyak soal agama hindu…saya masuk hindu mengikuti suami 9th lalu.
Benarkah jika sy mebersih, akan lebih mudah bagi saya memperoleh petunjuk shg bisa membantu keluarga dan orang lain?
Mohon pencerahan. Suksma
Betul, lihat jawaban saya kepada Sadea dibawah ini. Pertanyaannya serupa.
O. S. A ratu bhagawan yang titiang hormati.
titiang mempunyai pertanyaan mungkin agak melenceng dari topik pembicaraan.
titiang dan suami ngontrak rumah di suatu tempat,.
waktu mulai menenpati rumah itu titiang hanya mengaturkan pejati di padmasana, karna hanya ada padmasana di sana..
dan titiang tinggal nyaman aja, setelah selang beberapa bulan titiang merasa seperti ada yang menggangu, kadang ada seperti ada yang duduk di kamar, kadang seperti ada yang menenggok, pas kejadian setengah sadar pas saya tidur atau kadang pas titiang menenggok tanpa sengaja, tapi setelah diperhatikan tidak ada, kadang seperti di belakang titiang, pokonya tidak nyaman..!
waktu niki juga sempat kejadian, titiang tidur siang anak titiang juga tidur di rumah tidak ada siapa, ketika titiang mau bangun langsung seperti di cekik, badan titiang lemas,suara aneh seprti menekan, sangat kuat, tapi titiang lawan dengan minta tolong dari shang hyang widhi..akhirnya titiang bisa lepas dan bangun..
mulai saat itu itu titiang terus merasa seperti di hantui..tapi ketika suami titiang dirumah semua baik baik saja, pas titiang sendiri selalu seperti itu. titiang sudah sempat menanyakan pada orang pintar, katanya itu adalah penunggu karang yang ingin sesuatu, dan titiang sudah menghaturkannya.
pertanyaan titiang adalah
1, apakah benar itu penunggung karang dan bukan dari seseorang,?
2. upacara apa yang harus dilakukan? atau titiang tanyakan pada tuan rumah?
3. apa itu semua terjadi karna titiang penakut? trauma? apa titiang sensitif dengan hal tersebut?
4. apa ada hubungannya dengan orang yang lahir kajeng kliwon? karna titiang lahir kamis kliwon- kajeng kliwon enyitan, warigadian, apakah hari lahir dihitung berdasarkan 24 jam? karna titiang lahir jam 11 malam keatas..
5. titiang merasa punya keanehan, misalnya waktu ini ada orang yang sedang membicarkan titiang dibelakang, titiang tanpa sengaja menenggok orang itu, padahal titiang tidak mendengarkan sama sekali, titiang menjadi tidak enak karna dia seperti merasa ketahuan. sudah sering kejadian yang sama,. padahal titiang tidak ingin tahu..
dan kalau ada yang punya niat tidak baik, niat jahat, niat tulus, atau sekedar saja titiang bisa merasakannya lewat tatapan dia tapi titiang TIDAK TAHU apa artinya, apa maksudnya, cuman titiang punya perasaan seperti tidak enak/ tidak bisa di pungkiri/ tatap muka tidak nyaman.
dan kalau memasuki tempat baru yang di percaya angker titiang akan merasa tidak nyaman.. tapi TIDAK MELIHAT apapun..
kadang titiang berkata dalam hati ” apa sebenarnya yang ada disini dan kenapa saya merasa tidak nyaman ”
mohon rau bhagwan penjelasaanya,
karna titiang ingin merasa nyaman kemanapun titiang pergi, titiang pengen nyaman bertemu dengan siapapun, titiang ingin nyaman dimanapun titiang tinggal ketika sendirian,.
suksma ping banget ratu bhagawan.
terima kasih sebelumnya atas waktu dan kesempatan ratu bhagawan selalu menjawab pertanyaan titiang.. dan maaf kalau berbelit belit..
suksma..
OM, S. S. S. OM
Pertanma saya ingin menjelaskan bahwa roh manusia (menurut keyakinan Hindu-Bali)terdiri dari 3 unsur : 1. Ahamkara, 2. Manas, 3 Budhi. Ahamkara bertugas menangkap sinyal-sinyal yang diterima panca indria. Sinyal itu dilanjutkan kepada Manas untuk dianalisa, dikaji, dipertimbangkan dan diteruskan ke Budhi. Budhi mengambil keputusan. Keputusan itu diteruskan kembali kepada Ahamkara, sekali gus diberi perintah untuk berbuat, berpikir dan berbicara dengan peralatan yang dimiliki panca indria. Makin tinggi pendakian spiritual seseorang, makin bagus keputusan Budhi, sebaliknya makin rendah kesadaran spiritualnya makin rendah pula kwalitas Budhi. Dalam kasus anda, anda sedang berada pada pertengahan pendakian spiritual, sehingga sensitifitas Ahamkara agak kuat, dengan kata lain sinyal-sinyal panca indria semakin kuat. Ini hendaknya dipelihara dan ditingkatkan. Namun dalam kondisi seperti ini anda juga memerlukan kesucian lingkungan, karena bila lingkungan tidak suci akan membuat sinyal yang tidak menyenangkan Ahamkara. Pengertian suci adalah lingkungan ke-Tuhanan, atau alam kedewataan (swah-loka) Dampaknya memang rumit, misalnya rumah, pekarangan, tempat tidur, makanan harus suci. Singkatnya, rumah anda harus disucikan dengan suatu upacara yang disebut memangguh, dan anda diminta untuk mewinten saraswati.
ratu bhagawan..
terima kasih atas jawabnya..
sebelumnya titiang mau menanyakan apa itu upacara memangguh? besar napi teen? apa yang harus di buat?
kalau mau mewinten saraswati apa sarananya? dimana? apa tidak kalangan tertentu akan mengira titiang aneh? soalnya menurut titiang mewinten adalah suatu menyucian diri yang disertai dengan tanggung jawab juga, apa pantangannya setelah mewinten?
bagaimana kalau tidak mewinten? dari pada entar titiang mewinten tapi titiang tidak bisa melakukan apa yang seharusnya di lakukan. titiang tidak mau menyianyiakan…
titiang hanya ingin tidak diganggu sama apapun dan siapapun…
titiang ingin biasa biasa saja..
sebenarnya titiang suka sekali mengeluti di bidang spiritual tapi mungkin titiang belum siap saja, karna waktu dan lain lain, jadi terhalang..
selama ini titiang hanya berusaha untuk sembahyang setiap ada waktu saja,.
titiang bicara apa adanya,
suksma dan suksma….
sadea..
1. Memangguh asal katanya : kepangguh = kepanggih = menemukan. Dalam kasus ini “menemukan” sebidang tanah yang digunakan untuk perumahan/sanggah pamerajan/pura. Jadi kita (manusia) perlu meminta ijin kepada Sanghyang Widhi menggunakan tanah itu, karena dalam pengertian semua alam semesta ini adalah ciptaan-Nya dan milik-Nya. Upacara ini dikaitkan dengan mecaru (lihat uraian tt hal ini di web), melaspas, dan memendak/ngelinggihang Ida Bhatara. Biayanya total sekitar Rp.9 juta.
2. Pawintenan saraswati bisa diadakan bersamaan dengan upacara memangguh, jadi menghemat biaya. Menurut filosofi catur purushaartha, mewinten adalah kewajiban setiap umat dalam menempuh kehidupan setelah gryahasta (berumah tangga). Jadi bukan hal yang istimewa. Memang setelah mewinten ada pantangan-pantangannya, misalnya : tidak boleh kecemeran (kesucian yang ternoda), tidak makan sembarangan/berlebihan, menjaga trikaya parisudha, dll. Bukankah itu baik ? dan harus dilakukan oleh kita sebagai pemeluk Hindu. Jangan melihat kebanyakan orang yang mewinten, lalu tindakan/ucapannya eksklusif, arogan, dll.
3. Menempuh kehidupan spiritual tidak susah, asal kemauannya ada, apalagi dapat dilakukan sambil beraktivitas dalam keseharian. Misalnya daripada membuang waktu menonton TV/sinetron kan lebih baik membaca buku-buku agama; dari pada keluyuran/jalan-jalan kan lebih baik metirtayatra, dst. dst.
Masalahnya adalah time management (mengatur waktu = membagi aktivitas dalam 24 jam). Pilih aktivitas yang berguna untuk meningkatkan kwalitas SDM. Bila anda ingin hidup sehat hendaknya sehat yang lengkap : 1. Spiritual. 2. Emosional. 3. Inteligensial. 4. Sosial. 5. Physical. Urutan itu tak boleh diputar balik, karena mengandung unsur berkaitan. Misalnya emosional tak mungkin sehat bila spiritual tidak sehat. dst. Sehingga ada rumusan bahwa bila seseorang mampu memelihara kesehatan menyeluruh seperti tersebut diatas, maka ia akan berumur panjang. Disamping 5 prinsip kesehatan itu, anda juga harus mempunyai pola hidup : Simple living, high thinking. Artinya hidup sederhana tetapi berpikiran maju/produktif.
OM SWASTYASTU
Ratu Bhagawan yang titiang sucikan. Titiang salah seorang umat di Kota Makassar.ada yang titiang perlu tanyakan berkaitan dengan Sesana Pandita dalam memberikan Pelayanan kepada Umat. Sebagai informasi titiang sampaikan ring Ratu Bhagawan bahwa saat ini di Makassar ada 5 orang Pinandita. Kesadaran umat tentang pelaksanaan upacara saat ini sudah sangat bagus, hal ini dibuktikan dengan banyaknya permintaan dari umat untuk nganteb menjalankan upacara seperti nelubulanin, otonan, melaspas rumah, ngeruak bangunan dll yang sudah pasti memerlukan pelayanan dari para Pinandita yang ada. Dengan jumlah umat yang mencapai 5000 an orang tentu sebagai umat sangat berharap bahwa pelaksanaan upacara itu berkembang semakin meningkat baik kuantitas maupun kualitasnya, sehingga seiring dengan hal tersebut ada keinginan dari salah seorang Pinandita untuk meningkatkan kemampuan Spiritualnya untuk me Dwijati dengan harapan bahwa kalau ada upacara-upacara yang tingkatannya lebih besar tidak perlu lagi mendatangkan Pandita dari luar Kota Makassar. Untuk hal tersebut yang ingin titiang tanyakan sareng Ratu Bhagawan adalah : Kalau nanti sudah menjadi seorang Pandita. 1). Apakah seorang Pandita itu tidak dibenarkan lagi Muput upacara seperti melaspas rumah, otonan, nelubulanin, mesakapan, Ngaben kalau ada umat yang meninggal? 2). Apakah Pandita itu hanya dibolehkan untuk Muput upacara yang berskala besar saja???
Titiang mohon Ratu Bhagawan berkenan memberikan penjelasan, Inggih sukseme.Salam Hormat dari Umat di Makassar
OM SHANTI SHANTI SHANTI OM
Bedanya Pandita dengan Pinandita adalah : Pandita sudah medwijati (mediksa) sedangkan Pinandita baru ekajati (mewinten). Dengan demikian Pandita mempunyai kewenangan yang sangat luas, yakni muput semua jenis upacara Panca Yadnya. Sedangkan Pinandita hanya boleh nganteb upacara kecil-kecil dimana menggunakan pedudusan alit. Namun demikian, untuk tidak menimbulkan kecemburuan sosial sebaiknya diadakan musyawarah yang dipimpin oleh Ketua (banjar/suka-duka ?) pembagian tugas antara Pandita dengan Pinandita, misalnya untuk Pinandita sebatas banten hulunya maksimal suci. Tetapi kalau upacara itu dengan banten hulu bebangkit, pulagembal, atau catur, harus dipuput oleh Pandita. Ini sesuai dengan ketentuan yang ada dalam lontar Eka Pratama, ataki-taki diksa, dan siwa sesana.
“Om Swastyastu” ratu bhagawan dwija, tiang meduwe pitaken..!
Soal mimpi yang nyambung dengan keadaan, titiang punya ajik mimpi menggendong bayi, bayi yang digendong berubah jadi anjing kecil dan mau menggigit leher ajik, ajik tiang berusaha melepas ajing sambil memukul keesokan hari kira kira jam 3 pagi setelah bangun ternyata bantal yang dipakai tidur sudah sobek sampai isi bantal ber hamburan (itu cerita mimpi). Dan orang tua saya melanjutkan kegiatan yang rutin dilaksanakan tiap pagi yaitu pergi ke pasar,singkat cerita sesampai di rumah sambil membikin air hangat ada binatang kelelawar besar(bukal jantan) yang bertengger di sepeda motor. Sekarang kelelawar itu di pelihara (ajik titiang dados mangku ring merajan ageng) yang tiang tanya
1. apa airti mimpi itu ?
2. bahaya / tidak
Om Swastyastu,
1. Mimpi yang menjadi kenyataan adalah signal early warning system dari kandapat yang berstana di didiri ajik, gunanya agar bersiap menghadapi sesuatu yang tidak baik (contoh bantal yang sobek/disobek ? Oleh siapa ?
2. Berbahaya bila warning itu tidak diperhatikan
3. Kelelawar sebaiknya tidak dipelihara, karena ia bisa menjadi medium black magic, sama seperti kera, babi, dll.
Om Santih, santih, santih, Om
Om Swastyastu Ratu Bhagawan
Suksema atur titiang ratu sampun nyawis pitaken titiang.
Sane (yang menyobek bantal adalah ajik titiang, dia memukul anjing kecil tak taunya bantal yang dipukul sampai sobek dan ke esokan hari baru sadar bahwa ajik titiang sedang mimpi)
Untuk mengkafer tanda alam bagaimana caranya (apa dengan menghaturkan sesajen ? atau yang lain) tolong saran Ratu Bhagawan.
Kelelawar itu sekarang sudah ada yang minta, untuk di rawat
Suksma
Om Santih, santih, santih, Om
osa,tiang wenten akidik metaken niki sareng ratu!!
tiang wawu 2 rahina melewati upacara pawintenan saraswati krana tiang jagi ngeranjing di ikip ngrereh jurusan bhsa bali,patut ampun punika tiang sampun mawinten?asapunika napi patangan”ne dados sisia yening sampun wusan mawinten?suksma ngih dumogi wenten cawis nyane
Om Swastyastu,
Patut pisan mawinten Saraswati sekadi punika. Yasa-kerthi sane kelaksanayang :
1. Pageh ring trikaya parisudha
2. Setata bhakti ring Ida Sanghyang Widhi Wasa naler ten mamuwuk ring daging-daging Weda
3. Melaksana dharma
4. Nyuciang stula lan atma sarira skala-niskala
5. Upawasa
6. Miwah sane lian-lianan, cingak artikel satyam, siwam, sundaram
Om Santih, santih, santih, Om
Om Swastyastu,
mengenai pemakaian ganitri, itu di tarik dengan jempol atau di dorong dengan jempol? apakah bedanya di tarik sama yang di dorong? mohon penjelasannya.
suksma
om swastyastu ratu baghawan riatkala ngaben wenten sekah, sekah punika titiang pangih medaging cenana,mirah,don bingin ,don acak,bungan temuri napi suksman ipun? lan wenten tengked sekah ngangen kyu ee napi mawinan nganggen kayu ee, lan napi suksmana?