Galungan Nara Mangsa

PENGERTIAN

Galungan Nara Mangsa adalah hari raya Galungan yang mempunyai semangat agak bertentangan dengan hari raya Galungan biasa. Kata “Nara” dalam Bahasa Sanskerta berarti: orang (laki-laki); dan “Mangsa” artinya: memakan (daging). Jadi “Nara Mangsa” artinya: Pemakan daging manusia. Dalam mithologi, pemakan daging manusia adalah raksasa atau bhuta kala.

Jadi Galungan Nara Mangsa, dapat juga disebutkan sebagai Galungan Raksasa atau Galungan Kala-Rau. Pengertian yang lebih jauh adalah hari yang sebenarnya lebih cocok untuk melaksanakan Bhuta Yadnya dan bukan untuk merayakan kemenangan Dewa seperti hari raya Galungan biasa.

Yang menyebabkan hari raya Galungan tertentu disebut Galungan Nara Mangsa adalah karena pada hari tersebut menurut perhitungan wariga adalah “Kala-Rau”.

Di alam semesta ini ada dua kekuatan besar yang sifatnya bertentangan, yaitu “Ketu” dan “Rau”. Ketu artinya Dewa, terang, dan Rau artinya Kala, gelap. Jadi hari Kala-Rau berarti hari yang gelap atau bulan Tilem. Ada dua tilem yang dipercaya sebagai hari yang tergelap adalah Tilem Sasih Kapitu dan Tilem Sasih Kasanga.

ACUAN NARA MANGSA

Untuk menetapkan apakah suatu Galungan disebut sebagai Nara Mangsa atau tidak, Lontar Sunari Gama dan Lontar Sanghyang Aji Swamandala menyebutkan:

  1. Bila Buda Kliwon Dungulan bertepatan dengan Tilem Sasih Kapitu.
  2. Bila Buda Kliwon Dungulan bertepatan dengan Tilem Sasih Kasanga, rah sanga, tenggek sanga.

HUBUNGAN GALUNGAN NARA MANGSA DENGAN RANGKAIAN UPACARA TAWUR KESANGA

Menurut Lontar Siwa Gama, bilamana terjadi Galungan Nara Mangsa, maka Tawur Kesanga dilaksanakan sebelum Buda Kliwon Dungulan, sehingga sifat Nara Mangsa-nya hilang, tetapi perayaan Galungan dilaksanakan berbeda:

  1. Melaksanakan caru nasi cacahan dicampur ubi keladi, dialasi daun telujungan, ditujukan kepada Sang Kala Rau.
  2. Tidak memotong hewan dalam rangkaian hari Galungan, serta tidak menghaturkan banten Galungan yang memakai daging binatang.
  3. Tidak memasang penjor.
  4. Tidak memakai “tumpeng Galungan” pada banten-banten hari Galungan.

CONTOH

Hari raya Galungan yang akan jatuh pada Buda Kliwon Dungulan, tanggal 9 Maret 2005, menurut:

  1. Acuan-acuan tersebut di atas.
  2. Surat PHDI Pusat – Jakarta Nomor: 221/Parisada-P/XII/2004 tanggal 1 Desember 2004
  3. Hasil Paruman PHDI Propinsi Bali tanggal 15 Januari 2005
  4. Surat PHDI Propinsi Bali Nomor: 08/UM/Parisada Bali/2005 tanggal 18 Januari 2005.

Ditetapkan sebagai bukan Galungan Nara Mangsa. Oleh karena itu,maka:

  1. Tawur Kesanga dilaksanakan pada hari Kamis, tanggal 10 Maret 2005
  2. Melasti dilaksanakan pada kesempatan yang ada menurut dresta.
  3. Galungan dirayakan sebagaimana biasa.

1 comment to Galungan Nara Mangsa

Leave a Reply

  

  

  

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Subscribe without commenting