Gamelan Untuk Upacara Panca Yadnya

QUESTION:

  1. Pada acara-acara seperti: mendak Ida Bethara, melelasti, maupun upacara-upacara Panca Yadnya yang lain biasanya menggunakan gamelan. Mengapa demikian, apakah boleh tidak menggunakan gambelan?
  2. Setiap mengantarkan mayat ke kuburan, sering para pengemudi dan pejalan kaki yang melewati iring-iringan melemparkan uang ke atas peti jenasah. Apa arti dan tujuannya demikian, dan apakah hal ini merupakan pelecehan bagi umat kita?

ANSWER:

1. Tetabuhan gambelan merupakan satu kesatuan dengan kekidungan dan ucapan Japa Mantra atau dengan bahasa yang tegas, bila kita mekidung di saat mengiringi Sulinggih mapuja perlu ada suara gambelan. Hal ini diatur dalam Kitab Gandarwa Weda yang merupakan penjelasan dari Sama Weda.

Kekidungan atau yang lazim juga disebut sebagai Dharmagita pada mulanya adalah pedoman menyanyikan bait-bait suci atau mantra-mantra Sama Weda di mana bersamaan dengan itu dibunyikan juga alat-alat musik.

Dalam Sama Weda ini mantra-mantra Reg Weda diberi tanda-tanda nada untuk dapat dinyanyikan untuk memenuhi kebutuhan pelaksanaan upacara yadnya.

Mantram yang diisi tanda-tanda nada itu ditembangkan dan dibantu alat-alat musik. Alat musik yang pertama kali digunakan di India adalah sitar seperti yang digunakan dalam gambar/ patung Dewi Saraswati.

Penggunaan alat-alat musik menumbuhkan rasa keindahan ketika mendengar ucapan kalimat-kalimat mantram yang memuja Hyang Widhi, membawa alam pikiran manusia bahwa di alam Hyang Widhi tersedia keindahan dan kebahagiaan abadi yang disebut suka tan pawali duka.

Dalam pengembangan budaya, alat musik yang pada mulanya sederhana kemudian menjadi beragam baik yang menyangkut bahan, irama, patutan, dll.

Kini kita mewarisi berbagai jenis alat musik misalnya: gong gede, baleganjur, gender, semara pagulingan, angklung, gambang, dan lain-lain. Alat-alat itu diciptakan untuk digunakan sesuai dengan pelaksanaan upacara Panca Yadnya.

Untuk Dewa Yadnya digunakan gong gede dan baleganjur; untuk Pitra Yadnya digunakan gambang, baleganjur, dan angklung; untuk Manusa Yadnya digunakan gong semara pagulingan dan gender, untuk Rsi Yadnya digunakan gong gede; untuk Bhuta Yadnya digunakan baleganjur.

Gambelan yang kita kenal sekarang selain beragam, juga dibedakan antara gambelan yang mengiringi tarian, dan yang tidak mengiringi tarian.

Gambelan yang mengiringi tarian dibedakan menjadi tarian wali (sakral) dan tarian bebalihan (hiburan). Tarian wali misalnya baris tumbak, barong, jauk, rangda, sanghyang, rejang dewa, dll. Tarian hiburan misalnya joged, janger, tari-tari lepas palegongan, dll.

Kesimpulan jawaban Pandita, gunakanlah gambelan yang sesuai dengan tujuan yadnya agar konsentrasi para trimanggalaning yadnya lebih intens, namun bila biaya terbatas minimal ada kekidungan.

2. Melemparkan uang ke peti jenazah tidak ada dalam tattwa, bahkan sebaliknya yang melemparkan uang mestinya keluarga yang meninggal dalam bentuk sekarura sebagai simbol sang lina me-dana punia kepada masyarakat di saat-saat terakhir meninggalkan alam dunia.

Kejadian yang anda alami jangan ditanggapi sebagai pelecehan; mungkin maksud dari orang yang melemparkan uang ke peti jenazah hanya cetusan hati mengucapkan turut berduka cita.

13 comments to Gamelan Untuk Upacara Panca Yadnya

  • 1
    Made Durya says:

    Om Swastyastu
    Salam kenal Ratu Bhagawan, mohon ratu berkenan memberikan pencerahan atas pertanyaan saya di bawah ini :
    1. Apa makna dari Surat Kajang pada upacara ngaben
    2. Apakah tulis/gambar pada Surat Kajang berbeda pada masing-2
    warna kulit/soroh
    3. Apakah yang membuat Surat Kajang harus dari Brahmana Dwijati
    dari warna kulit/soroh yang sama
    4. Kalau jawaban atas pertanyaan saya No 3 adalah YA, apa yang
    harus saya lakukan, saya adalah keturunan Pasek selama
    ini mohon Surat Kajang ke Peranda Brahmana, dan saat ini
    sudah ada Sri Mpu dekat rumah, apakah dengan pindah harus
    didahulu upacara matur pakeling.
    Sekian pertanyaan saya mohon penjelasan Ratu Bhagawan selengkapnya. Atas bantuan Ratu Bhagawan saya ucapkan terima kasih. Om Santi, Santi, Santi Om

    Hormat,
    Made Durya

  • 2

    1. Surat Kajang dalam upacara Pitra Yadnya : Kajang dalam bahasa Jawa-Kuno artinya penutup. Penutup secara simbolis dari lapisan-lapisan atman (roh) yang dalam Lontar Wrhaspati Tattwa disebut sebagai penutup tri sarira : stula sarira, suksma sarira dan antah karana sarira. Diambil dari ephos Bharata Yuda, dimana Dewi Hidimbhi (ibu Gatotkaca/istri Bima)ketika berjalan menuju tempat nenek moyangnya di sorga menggunakan kerudung penutup kepala/badan yang diberikan oleh Dewi Drupadi. Ia berhasil menemui leluhurnya. Maka di Bali ephos ini berkembang menjadi kajang sebagai sarana pembungkus tri sarira dan sebagai penuntun menuju sorga bertemu dengan leluhur. Itulah sebabnya kajang berbagai soroh di Bali berbeda-beda. Kajang ditulis di kain putih dimana kain putih adalah simbol badan kasar, sedangkan rerajahannya sebagai simbol badan rohani. Tulisan kajang terdiri dari aksara-aksara modre, swalalita, gambar bhatara, dan aksara suci lainnya : panca aksara, dasa aksara, dan berbagai ongkara.
    2. Yang membuat kajang adalah seorang Brahmana yang bisa/mengetahui gambar kajang yang diminta oleh soroh tertentu; tidak harus dari Pandita/Brahmana soroh yang sama karena kewenangan setiap Brahmana sama.

  • 3
    pande made utariyani dewi says:

    jika memang seharusnya keluarga yang berduka yang memberikan uang kepada masyarakat. kenapa jika kita lihat itu kebalikannya??? dan ucap guru saya juga bertentangan dengan jawaban bapak???

  • 4

    Dalam melakukan upacara, ada yang bernama “yadnya” yang dilakukan oleh semua pihak. Jadi dalam hal ini ada yadnya dari dua pihak : yang berupacara (yang berduka) dan yang melayat, sebagai tanda prihatin dan turut berduka cita, serta tanda persahabatan. Manusia adalah mahluk sosial yang tidak bisa hidup sendirian. Kita perlu bergaul, bersahabat, berkomunikasi, saling menyayangi, saling menghormati. Dalam aplikasinya banyak cara yang dilakukan sesuai dengan desa – kala – patra. Tidak ada keharusan, namun masyarakat akan menilai kita apakah kita ini orang yang sosial atau orang yang individualistis.

  • 5
    RATNA YULI says:

    om Swastyastu
    Salam kenal Ratu Bhagawan
    saya ingin bertanya dalam upacara ngaben yang mana yang dinamakan agama, adat dan budaya????

    • 5.1
      Bhagawan Dwija says:

      @RATNA YULI: Sulit membedakan dengan jelas, karena dalam tradisi di Bali, agama, adat, budaya, bercampur./membaur/menyatu

  • 6
    gek heny says:

    om suastiastu
    ada yang mengatakan pitra yadnya bukanlah saat leluhur atau orang tua sudah meninggal,, akan tetapi semasa hidulah yang penting,, karena ketika sudah meninggal ya meninggal dan sebenarnya ngaben juga bukan keharusan…bagaimana menurut ratu tentang hal ini?
    om santih santih santih om

    • 6.1
      Bhagawan Dwija says:

      @gek heny: Pitrayadnya adalah yadnya (pengorbanan suci dan tulus) dari anak kepada orang tua/leluhurnya sebagai wujud dari bhakti kepada guru rupaka. Kewajiban ini merupakan rna (hutang) yang harus di-”bayar” oleh preti sentana. Pitrayadnya ada dua yaitu : ketika ortu masih hidup, kita wajib menyayangi, merawat, mengasihi, memelihara beliau. Ketika beliau sudah kelayu sekar, si anak wajib membebaskan rohnya dari ikatan-ikatan panca mahabhuta dan panca tan matra, agar rohnya bisa “mantuk kesunia”. Pitrayadnya setelah meninggal terdiri dari tiga tahap : 1. Ngaben, 2. Nyekah/Ngeroras/Mamukur, 3. Mepaingkup (Ngerajeg linggih). Jadi kesimpulannya : bila si anak tidak melakukan itu, ia termasuk bukan anak suputra, dan tentu akan mendapat pahala yang buruk dalam kehidupan dan kematiannya kelak. Lebih lanjut baca tulisan tt hal ini di blog ini.

  • 7
    Agung says:

    om swastyastu ratu
    ttyang punya rsi ring rumah tyng sendiri, namun tingkah beliau sangat meresahkan saudara di dalam lingkungan rumah,entah itu yang dinamakan desti atau ilmu hitam, sampai-sampai paman dan wayah tyang meninggal…
    perlu juga ratu uning, pada stiap rahinan sering beliau megambahan rambut (kadang di natah, kadang di bale gede), dan juga stiap malam ten wenten lampu ane idup (memeteng). Serasa tenget. padahal sampun polih ketara tapi aji-aji tyng ten wenten sane bani sareng rsi punika.
    selain nika merajan tynge sampun dikatakan leteh oleh betara-betara leluhur sami (dalam meluasan). Karena beliau sering bah bangun ring merajan.
    tyng mau bertanya :
    pantaskah seorang rsi berprilaku begitu?
    sapunapi carane mangkin sikap tyng’e menghadapi rsi seperti itu?
    napi wenten cara mangda beliau nika sadar??
    suksma ratu..
    Om santih,santih,santih om

    • 7.1

      Om Swastyastu,

      Nike, Rsi napi ? Sampun madwijati ? Yen sampun madwijati, pastika sampun kewastanin Sang Brahmana warna. Antuk punika indayang matur ring Naben Idane, nunas piteket sane patut.

      Om Santih, santih, santih, Om

  • 8
    i made nuarta says:

    OM SWASTIASTU
    Rahajeng semeng ratu

    Membaca jawaban dari salah satu penanya yang di atas yang berkaitan dengan kata KAJANG didalam pengabenan,apakah itu artinya
    1. soroh di bali di bedakan menurut lontar ?
    2. untuk apa pembedaan berdasarkan “soroh” ?
    3. ada di desa di bali mayat yg meninggal tidak di bakar ,lalu apakah bs bertemu dengan leluhurnya?

    suksma ratu
    Om shanti,shanti,shanti,om

    • 8.1

      Om Swastyastu,

      1. Bukan lontar yang membedakan. Dalam pertanyaan ini perlu dijelaskan sebagai berikut : (a) Lontar adalah dokumen beraksara Bali, berbahasa Jawa-Kuno (Kawi), memuat berbagai tulisan dari para Maha-Rsi tentang : agama, igama, ugama. (b) Yang berkaitan dengan soroh ditulis dalam lontar sebagai prasasti, babad, yang menceritrakan asal-mula leluhur, bhisama-bhisama beliau, dan petunjuk pelaksanaan yadnya.

      2. Para Maha-Rsi, terutama Ida Danghyang Nirartha, tidak mebeda-bedakan soroh, tetapi menjelaskan asal-mula lelintih agar keturunan masing-masing dapat melakukan yadnya yang benar, terutama dalam pitra yadnya.

      3. Untuk mensucikan atma (roh) perlu dilakukan prosesi :
      (a) Ngaben (ngapiin-ngapen), yakni upacara untuk mengembalikan stula sarira (badan/tubuh) yang sudah menjadi mayat kembali ke alam semesta. Dalam istilah keagamaan disebut : mengembalikan panca-mahabhuta dari bhuwana alit ke panca mahabhuta di bhuwana agung. (b) Nyekah, yakni melepaskan ikatan-ikatan roh dengan suksma sarira yang unsur-unsurnya terdiri dari : panca tan matra, dasendria, triguna, dan cita (ahamkara, manas, budhi). Dengan dilaksankannya ngaben dan nyekah tinggallah duta karana sarira yakni roh yang masih dilekati oleh karma wasana. Karma wasana adalah hasil dari kehidupan di dunia berupa subha dan asubha karma. Roh dapat “bertemu” dengan brahman bila roh sudah suci (dibersihkan) dari stula sarira dan suksma sarira. Pada pertemuan roh (atman) dengan brahman, roh “diadili” oleh Bhatara Yamadipati dengan dua alternatif keputusan : (a) aworing acintya (bila subha karma bagus). (b) punarbhawa (bila asubha karma dominan)

      Beberapa Desa di Bali masih menganut keyakinan Waisnawa, dimana upacara pitrayadnya tidak dengan ngaben (membakar) tetapi dengan diperciki tirta dan layonnya ditanam. Dalam filosofi Hindu-Bali (kuno) yang tertuang dalam Lontar Pakem Gama Tirtha, ini dibenarkan karena didalam air ada api. Untuk meyakinkan bahwa didalam air ada api, baca lontar Siwa Lenggodbhawa, Bhuwana-Kosa, dan Wrhaspati Tattwa.

      Om Santih, santih, santih, Om

  • 9
    I NENGAH MERTAYASA says:

    Om swastyastu,
    Ida Pandita yang terhomat, titiang mau tahu bagaimana bentuk kajang untuk orang yang akan diaben terutama kajang untuk warga DUKUH SAKTI, karena penglingsir kami masih awam di bidang itu. Mohon penjelasan secara detail disertai gambar agar ada patokan baku bagi warga kami. suksma
    om santi3x om

Leave a Reply

  

  

  

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Subscribe without commenting