Guestbook

Welcome to Stiti Dharma Online Guestbook. You can comment to our site as you want. Hope it is a usefull comment not spam. Thanks!

291 comments to Guestbook

  • 131
    dewa san says:

    mengapa tidak boleh tidur ke arah barat dan selatan ?

  • 132
    rahayu says:

    mengapa tidak boleh tidur ke arah barat dan selatan ?

    • 132.1

      Om Swastyastu,

      Ini menyangkut keyakinan :
      1. Ada hulu-teben; dimana hulu adalah purwa/timur sebagai arah “terbit”-nya matahari dan kaja sebagai arah gunung. Matahari dan gunung diyakini sebagai sumber kekuatan dan kehidupan.
      2. Letak tempat suci (sanggah-pamerajan) juga berada di wilayah hulu. Maka kepala kita yang bermakna siwa-dvar (siwa = Tuhan; dvar = pintu. Jadi siva-dvar artinya pintunya siwa) atau di Bali disebut siwadwara (ubun-ubun), hendaknya diletakkan pula di arah hulu ketika tidur.

      Om Santih, santih, santih, Om

  • 133
    dude says:

    om swastiastu..
    sekedar masukkan ida ratu begawan…
    webnya ini bisakh dibuatkan DAFTAR ISI nya agar kami mudah dalam mencari dan membaca judul yang kami inginkan. suksme
    om shanti shanti shanti om

  • 134
    arya says:

    osa. maaf ingin sedikit bertanya bagaimana prosesi upakaranya kalau anak itu lahir mesemayut dimana lahirnya pada hari minggu. terimakasi

    • 134.1

      Om Swastyastu,

      Seperti biasa saja, namun diwaktu upacara tiga bulanan, buatkan banten dapetan di tempat mengubur plasenta, dan di sanggah kemulan haturkan banten guru-piduka, maksudnya untuk mohon keselamatan dan mohon maaf atas ketidak normalan kelahiran bayi itu.

      Om Santih, santih, santih, Om

  • 135
    aprillia says:

    Om Swastiastu
    Ratu Bhagawan Dwija , saya mimpi menyeberangi jembatan batu bersama suami dan 2 anak saya, tiba tiba di pertengahan jembatan , jembatan tersebut patah dan saya melihat air yg melintasi sungai di bawah jembatan tersebut berwarna putih bening … tetapi saya dan keluarga selamat, hanya saja di saat saya mendekati suami saya ada seorang nenek yg berkata kepada saya ” made dulu di beri baju baru oleh kakek, sekarang made sudah besar, sudah punya suami dan 2 anak jika bisa tolong kembalikan baju yg kakek berikan dulu” saya tidak mengerti maksud dari perkataan nenek itu Ratu Bhagawan. sampai 2 kali nenek tersebut mengulang perkataan yg sama pada saya … mohon Ratu Bhagawan dapat memeberi tahu saya ada apa sekiranya yg akan terjadi pada saya …
    Matur Suksme. Om Santih Santih Santih Om

    • 135.1

      Om Swastyatsu,

      Pada saat anda menikah (pawiwahan) dahulu, belum sempurna upacara mepamit di sanggah pamerajan anda. Jadi ulangi upacara itu dipimpin seorang sulinggih, karena roh/atman anda masih “tercatat” di sanggah pamerajan anda (sanggah pamerajan waktu masih gadis). Seterusnya matur piuning mepamit dan ngaturang banten guru piduka disana, karena yang ber-reinkarnasi ke diri anda adalah roh/atman kakek anda. Bila tidak dilaksanakan, bisa mendapat kesulitan/bahaya di keluarga.

      Om Santih, santih, santih, Om

  • 136
    Ketut Ari S. Sparre says:

    Om Swastyatsu,

    Ratu Bhagawan Dwija,Saya orang Bali dr Singaraja menikah dan yang tinggal di Denmark dimana saya tetap memeluk agama Hindu,karena saya tetap pengen sembahyang seperti umat Hindu lainnya walaupun jauh di rantau maka saya mendirikan pelangkiran dengan upacara seadanya pertanyaan saya apakah Hyang Whidi/betare hyang Guru sudah berstana di pelangkiran saya dan apakah ada Mantra khusus untuk mengstanakan Beliau/mendirikan pelangkiran? Mohon petunjuk dan nasehat dari Ratu Bhagawan Dwija.
    Om Santih, santih, santih, Om

    • 136.1

      Om Swastyastu,

      Tuhan ada dimana-mana. Dimanapun Ia dipuja, Ia akan datang dan hadir, bahkan di diri kita sendiri Ia bersemayam. Yang kurang diketahui oleh kebanyakan manusia, bahwa mereka tidak tahu keberadaan-Nya. Maka untuk anda yang dirantau, selain membuat niyasa berupa pelangkiran, dll. yang penting rajinlah bersembahyang. Cara yang paling mudah adalah puja trisandya, kramaning sembah, atau yang singkat, mantram gayatri. Itu sudah cukup asal dilakukan dengan serius, konsentrasi kuat. Cintailah Dia, berbhaktilah pada-Nya, turuti ajaran-ajaran-Nya (Weda), dekatkan diri anda kepada-Nya, maka Ia akan dekat pula kepadamu. Tapi jika anda jauh dari-Nya iapun akan menjauh darimu.

      Om Santih, santih, santih, Om

  • 137
    ngurah septyadi says:

    om swastyastu. apakah ada mantra tersendiri untuk bisa membangkitkan kundalini/cakra agar bisa dipraktekan sendiri untuk tujuan ketenangan bathin, kalau bisa tyang mohon banget di bukakan cakra tyang / mengaktifkan kundalini tyang hanya dengan ida bhagawan dwija yg tyang sucikan, dan apa saja kiranya kalau ada pantangan yg harus dilakukan?
    suksma,
    om shanti,shanti,shanti om

  • 138
    komang praya says:

    ratu bhagawan,,saya ingin bertanya cara meletakan banten;

    1 . untuk pelinggih sanggah atau pura hulu/luan bantennya menghadap ke mana?? demikian juga untuk banten di sanggah caru..

    2. kalo mebanten canang di beten atau natah atau depan tugu menghadap kemanakah hulu banten tersebut,,,

    mohon pencerahannya terima kasih….

    • 138.1

      Om Swastyastu,

      1. Banten menghadap ke pelinggih. Banten sanggah cerukcuk caru menghadap ke arah caru : bula ayam putih ke timur, biying ke selatan, dst.

      2. Menghadap ke hulu (kangin/kaja) dan sudah pasti menghadap ke pelinggih tsb.

      Om Santih, santih, santih, Om

  • 139
    Gina says:

    Ratu Beghawan,
    Saya pernah melihat bagia pulakerti utk upacara di sanggah Dadia yang isinya luar biasa (perhiasan emas+perak+permata asli) yang totalnya mencapai puluhan juta.
    Setelah prosesi dilaksanakan, bagia tersebut ditanam di natah depan pengaruman dadia tersebut.
    Pertanyaan :
    1. Apa makna bagia pulakerti shg biaya dan isinya amat luar biasa ?
    2. Kenapa sebelum bagia ditanam banyak yang menghaturkan sembah ?

    Suksma,
    Gina

    • 139.1

      Om Swastyastu,

      1. “Bagia pulekerti” artinya “berbahagia karena telah berbuat dharma, bhakti” (bagia = bahagia; pula = menanam; kerti = perbuatan dharma) Pada upacara, dibuatlah niyasa (simbul) berupa kendi yang didalamnya diisi banten bebangkit, panca-datu : emas, perak, permata, besi, tembaga. Juga ada unsur-unsur pala gantung – pala bungkah artinya buah-buahan dan umbi-umbian, semuanya sebagai sarin-amertha, sebagai ucapan terima kasih karena telah dilimpahi wara nugraha, kehidupan moksartham jagaditaya ca iti dharmah. Mendem bagia pulakerti dilakukan disaat upacara pedudusan agung.

      2. Sembahyang sebelum menanam bagia pulakerti maksudnya untuk menyampaikan bhakti makna upakara itu.

      Om Santih, santih, santih, Om

  • 140
    Ketut Arsa says:

    OM Swastyastu.
    Ratu Nak Lingsir yang tiyang sucikan. Tiyang bertanya mohon maaf..
    Ketika Kawitan sudah diketahui dan kita sudah menghaturkan banten pejati kepada beliau yang lama kita lupakan apakah kita, untuk selanjutnya upacara apa yang harus kita laksanakan..?
    Om Shantih, Shantih, Shantih Om..

    • 140.1

      Om Swastyastu,

      1. Terus setiap saat berbhakti/memuja kepada-Nya baik dalam persembahyangan, maupun dalam meningkatkan kwalitas SDM diri sendiri agar menjadi “suputra” Karena seorang suputra dapat mensucikan roh leluhur, mengharumkan nama leluhur (Ida Bhatara Kawitan), serta menjadi panutan masyarakat.

      2. Untuk menambah bhakti, cinta dan sayang kepada leluhur, bacalah berkali-kali babad/sejarah hidup beliau, dalam artian mengenal lebih mendalam. “Tak kenal maka tak sayang” begitu kata populernya masa kini.

      3. Jadi jangan terkungkung pada ritual semata.

      Om Santih, santih, santih, Om

Leave a Reply

  

  

  

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Subscribe without commenting