Centris dari kata Centralize berarti memusatkan sehingga Bali centris dalam tulisan ini diartikan sebagai suatu pandangan yang menempatkan budaya dan tradisi Hindu di Bali sebagai pusat/ acuan pelaksanaan dan tatanan hidup beragama bagi pemeluk Hindu di Indonesia. Di Bali budaya dan Agama telah menyatu karena keduanya saling mendukung.
Keinginan mengadakan reformasi di segala bidang akhir-akhir ini menimbulkan wacana yang berkembang, antara lain tentang Bali centris yang ditolak oleh beberapa kalangan baik yang tinggal dan berasal dari Bali maupun yang di luar Bali. Hal ini sebaiknya dikaji lebih dalam agar reformasi dilaksanakan dengan tepat dan berdampak positif bagi umat Hindu di tanah air.
Kajian diawali dengan meneliti sejarah perkembangan agama Hindu di Indonesia. Sebagaimana ditulis dalam buku Pengantar Agama Hindu untuk perguruan tinggi, Cudamani, 1990 ada tujuh Maha Rsi, yaitu Grtsamada, Wiswamitra, Wamadewa, Atri, Bharadwaja, Wasista, dan Kanwa yang menerima wahyu Weda di India sekitar 2500 tahun sebelum Masehi.
Mereka mengembangkan agama Hindu masing-masing menurut bagian-bagian Weda tertentu. Kemudian para pengikutnya mengembangkan ajaran yang diterima dari guru mereka sehingga lama kelamaan terbentuklah sekta-sekta yang jumlahnya ratusan. Sekta-sekta yang terbanyak pengikutnya antara lain: Pasupata, Linggayat Bhagawata, Waisnawa, Indra, Saura, dan Siwa Sidhanta.
Sekta Siwa Sidhanta dipimpin oleh Maha Rsi Agastya di daerah Madyapradesh (India tengah) kemudian menyebar ke Indonesia. Di Indonesia seorang Maha Rsi pengembang sekta ini yang berasal dari pasraman Agastya Madyapradesh dikenal dengan berbagai nama antara lain: Kumbhayoni, Hari Candana, Kalasaja, dan Trinawindu.
Yang populer di Bali adalah nama Trinawindu atau Bhatara Guru, begitu disebut-sebut dalam lontar kuno seperti Eka Pratama.
Ajaran Siwa Sidhanta mempunyai ciri-ciri khas yang berbeda dengan sekta Siwa yang lain. Sidhanta artinya kesimpulan sehingga Siwa Sidanta artinya kesimpulan dari Siwaisme. Kenapa dibuat kesimpulan ajaran Siwa? karena Maha Rsi Agastya merasa sangat sulit menyampaikan pemahaman kepada para pengikutnya tentang ajaran Siwa yang mencakup bidang sangat luas.
Diibaratkan seperti mengenalkan binatang gajah kepada orang buta; jika yang diraba kakinya, maka orang buta mengatakan gajah itu bentuknya seperti pohon kelapa; bila yang diraba belalainya mereka mengatakan gajah itu seperti ular besar. Metode pengenalan yang tepat adalah membuat patung gajah kecil yang bisa diraba agar si buta dapat memahami anatomi gajah keseluruhan.
Bagi penganut Siwa Sidhanta kitab suci Weda-pun dipelajari yang pokok-pokok/ intinya saja; resume Weda itu dinamakan Weda Sirah (sirah artinya kepala atau pokok-pokok). Lontar yang sangat populer bagi penganut Siwa Sidhanta di Bali antara lain Wrhaspati Tattwa. Pemantapan paham Siwa Sidhanta di Bali dilakukan oleh dua tokoh terkemuka, yaitu Mpu Kuturan dan Mpu/ Danghyang Nirartha.
Di India wahyu Hyang Widhi diterima oleh Sapta Rsi dan dituangkan dalam susunan sistematis oleh Bhagawan Abyasa dalam bentuk Catur Weda.
Pengawi dan ahli Weda I Gusti Bagus Sugriwa dalam bukunya: Dwijendra Tattwa, Upada Sastra, 1991 menyiratkan bahwa di Bali wahyu Hyang Widhi diterima setidak-tidaknya oleh enam Maha Rsi.
Wahyu-wahyu itu memantapkan pemahaman Siwa Sidhanta meliputi tiga kerangka Agama Hindu, yaitu Tattwa, Susila, dan Upacara. Wahyu-wahyu itu berupa pemikiran-pemikiran cemerlang dan wangsit yang diterima oleh orang-orang suci di Bali sekitar abad ke delapan sampai ke-empat belas, yaitu:
1. DANGHYANG MARKANDEYA
Pada abad ke-8 beliau mendapat wahyu di Gunung Di Hyang (sekarang Dieng, Jawa Timur) bahwa bangunan palinggih di Tolangkir (sekarang Besakih) harus ditanami panca datu yang terdiri dari unsur-unsur emas, perak, tembaga, besi, dan permata mirah.
Setelah menetap di Taro, Tegal lalang – Gianyar, beliau memantapkan ajaran Siwa Sidhanta kepada para pengikutnya dalam bentuk ritual: Surya sewana, Bebali (banten), dan Pecaruan. Karena semua ritual menggunakan banten atau bebali maka ketika itu agama ini dinamakan Agama Bali.
Daerah tempat tinggal beliau dinamakan Bali. Jadi yang bernama Bali mula-mula hanya daerah Taro saja, namun kemudian pulau ini dinamakan Bali karena penduduk di seluruh pulau melaksanakan ajaran Siwa Sidanta menurut petunjuk-petunjuk Danghyang Markandeya yang menggunakan bebali atau banten.
Selain Besakih, beliau juga membangun pura-pura Sad Kahyangan lainnya, yaitu: Batur, Sukawana, Batukaru, Andakasa, dan Lempuyang.
Beliau juga mendapat wahyu ketika Hyang Widhi berwujud sebagai sinar terang gemerlap yang menyerupai sinar matahari dan bulan. Oleh karena itu beliau menetapkan bahwa warna merah sebagai simbol matahari dan warna putih sebagai simbol bulan digunakan dalam hiasan di Pura antara lain berupa ider-ider, lelontek, dll.
Selain itu beliau mengenalkan hari Tumpek Kandang untuk mohon keselamatan pada Hyang Widhi, digelari Rare Angon yang menciptakan darah, dan hari Tumpek Pengatag untuk menghormati Hyang Widhi, digelari Sanghyang Tumuwuh yang menciptakan getah.
2. MPU SANGKULPUTIH
Setelah Danghyang Markandeya moksah, Mpu Sangkulputih meneruskan dan melengkapi ritual bebali antara lain dengan membuat variasi dan dekorasi yang menarik untuk berbagai jenis banten dengan menambahkan unsur-unsur tetumbuhan lainnya seperti daun sirih, daun pisang, daun janur, buah-buahan: pisang, kelapa, dan biji-bijian: beras, injin, kacang komak.
Bentuk banten yang diciptakan antara lain canang sari, canang tubugan, canang raka, daksina, peras, panyeneng, tehenan, segehan, lis, nasi panca warna, prayascita, durmenggala, pungu-pungu, beakala, ulap ngambe, dll. Banten dibuat menarik dan indah untuk menggugah rasa bhakti kepada Hyang Widhi agar timbul getaran-getaran spiritual.
Di samping itu beliau mendidik para pengikutnya menjadi sulinggih dengan gelar Dukuh, Prawayah, dan Kabayan.
Beliau juga pelopor pembuatan arca/ pralingga dan patung-patung Dewa yang dibuat dari bahan batu, kayu, atau logam sebagai alat konsentrasi dalam pemujaan Hyang Widhi.
Tak kurang pentingnya, beliau mengenalkan tata cara pelaksanan peringatan hari Piodalan di Pura Besakih dan pura-pura lainnya, ritual hari-hari raya: Galungan, Kuningan, Pagerwesi, Nyepi, dll.
Jabatan resmi beliau adalah Sulinggih yang bertanggung jawab di Pura Besakih dan pura-pura lainnya yang telah didirikan oleh Danghyang Markandeya.
3. MPU KUTURAN
Pada abad ke-11 datanglah ke Bali seorang Brahmana dari Majapahit yang berperan sangat besar pada kemajuan Agama Hindu di Bali.
Atas wahyu Hyang Widhi beliau mempunyai pemikiran-pemikiran cemerlang mengajak umat Hindu di Bali mengembangkan konsep Trimurti dalam wujud simbol palinggih Kemulan Rong Tiga di tiap perumahan, Pura Kahyangan Tiga di tiap Desa Adat, dan Pembangunan Pura-pura Kiduling Kreteg (Brahma), Batumadeg (Wisnu), dan Gelap (Siwa), serta Padma Tiga, di Besakih.
Paham Trimurti adalah pemujaan manifestasi Hyang Widhi dalam posisi horizontal (pangider-ider).
4. MPU MANIK ANGKERAN
Setelah Mpu Sangkulputih moksah, tugas-tugas beliau diganti oleh Mpu Manik Angkeran. Beliau adalah Brahmana dari Majapahit putra Danghyang Siddimantra.
Dengan maksud agar putranya ini tidak kembali ke Jawa dan untuk melindungi Bali dari pengaruh luar, maka tanah genting yang menghubungkan Jawa dan Bali diputus dengan memakai kekuatan bathin Danghyang Siddimantra. Tanah genting yang putus itu disebut segara rupek.
5. MPU JIWAYA
Beliau menyebarkan Agama Budha Mahayana aliran Tantri terutama kepada kaum bangsawan di zaman Dinasti Warmadewa (abad ke-9).
Sisa-sisa ajaran itu kini dijumpai dalam bentuk kepercayaan kekuatan mistik yang berkaitan dengan keangkeran (tenget) dan pemasupati untuk kesaktian senjata-senjata alat perang, topeng, barong, dll.
6. DANGHYANG DWIJENDRA
Datang di Bali pada abad ke-14 ketika Kerajaan Bali Dwipa dipimpin oleh Dalem Waturenggong. Beliau mendapat wahyu di Purancak, Jembrana bahwa di Bali perlu dikembangkan paham Tripurusa yakni pemujaan Hyang Widhi dalam manifestasi-Nya sebagai Siwa, Sadha Siwa, dan Parama Siwa. Bentuk bangunan pemujaannya adalah Padmasari atau Padmasana.
Jika konsep Trimurti dari Mpu Kuturan adalah pemujaan Hyang Widhi dalam kedudukan horizontal, maka konsep Tripurusa adalah pemujaan Hyang Widhi dalam kedudukan vertikal.
Danghyang Dwijendra mempunyai Bhiseka lain: Mpu/ Danghyang Nirarta, dan dijuluki: Pedanda Sakti Wawu Rawuh karena beliau mempunyai kemampuan supra natural yang membuat Dalem Waturenggong sangat kagum sehingga beliau diangkat menjadi Bhagawanta (pendeta kerajaan).
Ketika itu Bali Dwipa mencapai jaman keemasan, karena semua bidang kehidupan rakyat ditata dengan baik. Hak dan kewajiban para bangsawan diatur, hukum dan peradilan adat/ agama ditegakkan, prasasti-prasasti yang memuat silsilah leluhur tiap-tiap soroh/ klan disusun. Awig-awig Desa Adat pekraman dibuat, organisasi subak ditumbuh-kembangkan dan kegiatan keagamaan ditingkatkan.
Selain itu beliau juga mendorong penciptaan karya-karya sastra yang bermutu tinggi dalam bentuk tulisan lontar, kidung atau kekawin. Karya sastra beliau yang terkenal antara lain: Sebun bangkung, Sara kusuma, Legarang, Mahisa langit, Dharma pitutur, Wilet Demung Sawit, Gagutuk menur, Brati Sesana, Siwa Sesana, Aji Pangukiran, dll.
Beliau juga aktif mengunjungi rakyat di berbagai pedesaan untuk memberikan Dharma wacana.
Saksi sejarah kegiatan ini adalah didirikannya Pura-pura untuk memuja beliau di tempat mana beliau pernah bermukim membimbing umat, misalnya: Purancak, Rambut siwi, Pakendungan, Hulu watu, Bukit Gong, Bukit Payung, Sakenan, Air Jeruk, Tugu, Tengkulak, Gowa Lawah, Ponjok Batu, Suranadi (Lombok), Pangajengan, Masceti, Peti Tenget, Amertasari, Melanting, Pulaki, Bukcabe, Dalem Gandamayu, Pucak Tedung, dll.
Ke-enam tokoh suci tersebut telah memberi ciri yang khas pada kehidupan beragama Hindu di Bali sehingga terwujudlah tattwa dan ritual yang khusus yang membedakan Hindu-Bali dengan Hindu di luar Bali.
Di bidang tattwa misalnya, ciri khas yang paling menonjol adalah penyembahan Hyang Widhi dalam manifestasi sebagai Trimurti dan Tripurusa dalam bentuk palinggih Kemulan Rong Tiga dan Padmasana yang dikembangkan masing-masing oleh Mpu Kuturan dan Mpu/ Danghyang Nirartha.
Di bidang ritual ciri khas Hindu-Bali yang terpenting adalah adanya bebali atau banten yang dikembangkan oleh Danghyang Markandeya dan Mpu Sangkulputih.
Sejarah kemudian membuktikan bahwa walaupun di Nusantara telah berkembang Agama lain seperti Islam dan Kristen, Bali tetap dapat bertahan pada Hindu karena agama Hindu telah membudaya mewujudkan jati diri orang-orang Bali yang mengagumkan dunia sehingga tokoh-tokoh dunia memberikan julukan yang menakjubkan antara lain:
J.P. Nehru menyatakan Bali is the morning of the world; Hickman Powell menyatakan Bali is the paradise island; Gregory Bateson dan Margaret Mead menyatakan Bali is the steady state; dan masih banyak lagi julukan-julukan domestik seperti: pulau Dewata, pulau Kahyangan, pulau Kesenian dll.
Bahkan di Eropa sejak abad ke 19 telah berkembang slogan: see Bali before you die yang mula-mula diungkapkan oleh Ni Ketut Tantri dalam bukunya Revolt in Paradise. Ini membuat orang-orang Bali bangga tetapi tetap berjiwa sederhana karena keterikatan dengan filsafat-filsafat Agama Hindu yang dituturkan turun temurun oleh tetua mereka.
Zaman berubah menuju era globalisasi, dunia yang tanpa batas, pengaruh budaya luar terus menerus menghantam ketahanan orang-orang Bali.
Bermula dari perubahan nama Agama di era Orde Baru, di mana Agama Hindu-Bali dirubah menjadi Agama Hindu Dharma. Ini membawa dampak positif dan negatif. Positif, karena sebagian kecil penduduk dari suku-suku: Batak Karo, Dayak, Banten, Jawa, dll. mendapat pengakuan pada keyakinan spiritualnya di luar Agama yang sudah ada, menjadi tertampung dalam Hindu Dharma.
Di samping itu dapat dikatakan segi positif karena prosentase pemeluk Hindu di Indonesia meningkat walaupun masih tetap menjadi golongan minoritas.
Dampak negatif perubahan nama dari Hindu-Bali menjadi Hindu Dharma adanya gejala orang Bali kehilangan ke-Baliannya, yang akhir-akhir ini nampak semakin serius karena berkembangnya wacana universalisme Hindu yang arahnya dapat saja mengeliminir perbedaan-perbedaan tattwa, susila, dan ritual Hindu antar etnis pemeluk Hindu.
Jika ini berkembang terus bukankah akan mengaburkan nilai-nilai budaya Hindu-Bali yang telah diwariskan oleh para leluhur terutama tentang hal-hal yang sudah di-”Bhisama”-kan oleh keenam tokoh suci di atas?
Jika membaca buku I Gde Pitana: Dinamika masyarakat dan kebudayaan Bali, Bali Post, 1994 mungkin ada benarnya pendapat kelompok pesimistis yang menyatakan lambat laun Bali akan kehilangan ke-Bali-annya, seperti yang dikemukakan oleh Picard, 1990, Sujana, 1989, Artadi, 1993. Hanya waktu sajalah yang akan membuktikan benar tidaknya pendapat itu.
Pesimisme itu digelitik lagi dengan berkembangnya wacana yang tidak menginginkan Bali Centris atau disebut: Non Bali Centris. Wacana ini diterjemahkan sebagai ingin melaksanakan Agama Hindu tidak seperti di Bali, terutama dalam bidang ritualnya.
Jika wacana itu berkembang dan terlaksana di luar Pulau Bali, masih mungkin namun dalam batasan nalar dan logika yang perlu dikaji. Misalnya tentang acuan yang lengkap dalam bidang tattwa, susila, dan upacara lokal dari etnis lain yang tidak berbau Bali.
Salah satu contoh adalah mengenai bentuk bangunan pemujaan Hyang Widhi, yang di luar Bali hanya menggunakan palinggih Padmasana. Seperti yang diuraikan di atas, Padmasana pertama kali ada di Bali dipelopori oleh Mpu/ Danghyang Nirarta setelah menerima wahyu di Purancak pada abad ke-14.
Padmasana hanya digunakan oleh pemeluk Hindu di Bali, tidak ada di zaman Majapahit apalagi di India. Sejarah membuktikan hal ini, misalnya situs-situs Hindu di Jawa antara lain Candi Prambanan, tidak memiliki palinggih Padmasana.
Kemudian jika di luar Bali menggunakan Padmasana pertanyaan beruntun tiba misalnya tentang ritualnya apakah tidak menggunakan papendeman panca datu, lalu bentuk caru dan proses ngelinggihang Hyang Widhi di Padmasana bagaimana.
Selain itu di luar Bali tidak dijumpai palinggih Kemulan atau Padma-tiga yang dikembangkan oleh Mpu Kuturan. Bila hanya menggunakan Padmasana, berarti hanya memuja Hyang Widhi dalam kedudukan vertikal saja, sedangkan pemujaan beliau dalam kedudukan horizontal (pangider-ider) belum dilaksanakan karena tidak ada palinggih Kemulan atau Padma-tiga.
Mengherankan juga karena Pura-pura Jagatnatha di Bali ikut-ikutan tidak dilengkapi dengan Kemulan atau Padma-tiga.
Pura Jagatnatha dapat dikatakan sebagai pengembangan baru (sekitar 1960-1970), yang tidak mengacu pada lontar Gong Besi. Oleh karena itu ada baiknya lebih berhati-hati menggunakan istilah “Non Bali centris”.
Bagi umat Hindu di Bali rasanya aneh jika turut mengembangkan wacana non Bali centris karena mereka tidak mungkin bisa leluasa meninggalkan ke-Bali-annya. Sulit untuk tidak mentaati Bhisama-bhisama para leluhur dan keenam tokoh suci di atas.
Reformasi memang perlu, namun hendaknya diinventarisir terlebih dahulu butir-butir mana dari pelaksanaan tattwa, susila, dan ritual yang perlu direformasi. Reformasi perlu diarahkan misalnya pada hal-hal yang “meracuni” Agama Hindu di Bali, antara lain:
- Feodalisme
- Dresta yang bertentangan dengan inti ajaran Agama Hindu-Bali
Feodalisme berkembang pesat di Bali sejak pendudukan Majapahit pada tahun 1350 M.
Kasta stelsel dihidupkan, meniru India di abad ke-5 ketika kaum elit, yaitu Raja dan Brahmana berkolusi mempertahankan status quo sehingga filosofi “varna” berubah menjadi “kasta” padahal yang menamakan kasta (aslinya: caste) itu justru orang-orang Portugis yang melihat tatanan masyarakat India yang berkelas dan berjenjang.
Caste kemudian berkembang di Eropa yang ketika itu masih agraris. Majapahit memakai strategi itu di Bali di mana kaum elit pendatang dari Majapahit digolongkan Triwangsa dan penduduk Bali Aga yang dikalahkan menjadi Sudra padahal diantaranya ada yang masih keturunan Danghyang Markandeya dan keturunan Warmadewa.
Feodalisme dengan ciri khas berupa kasta stelsel makin dikokohkan oleh Belanda karena ini menguntungkan politik divide et impera atau politik memecah belah pribumi yang dijajahnya. Dampak feodalisme sangat terasa pada tatanan kehidupan beragama di Bali, misalnya adanya kesenjangan antara Sulinggih dengan rakyat.
Kesenjangan yang mengarah pada gap communication berabad-abad mengakibatkan rakyat kebanyakan tidak tahu banyak tentang tattwa agama. Rakyat menghayati Hyang Widhi hanya melalui dua jalur, yaitu Karma marga dan Bhakti marga.
Kini kaum muda yang rata-rata sudah terdidik di Perguruan Tinggi tidak puas beragama hanya melalui kedua Marga itu. Mereka ingin menginjak ke Jnana marga, bahkan ke Yoga marga.
Kedua marga terakhir ini dahulu ditabukan bagi kaum kebanyakan dengan ancaman: Aje wera. Kehausan kaum muda pada tattwa agama menyuburkan berkembangnya sampradaya-sampradaya.
Kini sudah waktunya (dapat dikatakan belum terlambat benar) bagi para Sulinggih untuk meninggalkan pikiran feodalisme, kemudian mengadakan pendekatan yang lebih akrab kepada umat Hindu agar mereka tidak kehilangan pegangan.
Para Sulinggih hendaknya bersatu tanpa membeda-bedakan dari mana asal-usul keturunannya.
Pandangan yang menganggap sulinggih keturunan Danghyang Nirarta dan Danghyang Astapaka lebih tinggi statusnya dari sulinggih-sulinggih keturunan Danghyang Markandeya, Mpu Gnijaya, Mpu Semeru, Mpu Saguna, Danghyang Kepakisan, Arya dan yang lain-lain perlu diluruskan karena bertentangan dengan kaidah-kaidah Agama Hindu.
Hal ini perlu disosialisasikan seluas-luasnya ke masyarakat.
Para Sulinggih agar bahu membahu mengejar ketertinggalan dalam mengemban tugas suci membimbing dan mengayomi umat Hindu secara proaktif.
Dresta yang bertentangan dengan inti ajaran agama Hindu. Sebagaimana diketahui ada catur dresta, yaitu: Desa, Loka, Kuna, dan Sastra dresta. Tiga dresta, yaitu desa, loka, dan kuna dresta tidak bersumber pada sastra atau kitab suci. Sumbernya tidak jelas kecuali bisa dijawab dengan singkat: “mula keto” (memang demikian).
Pengaruh negatif ketiga dresta ini pada kehidupan beragama di Bali antara lain melambungnya biaya upakara. Bebali atau banten yang dikembangkan oleh Danghyang Markandeya dan Mpu Sangkulputih mulanya sederhana.
Tanpa diketahui sumber sastranya yang jelas banten dewasa ini menjadi beragam dan sangat banyak. Para Sulinggih dan tukang banten mengajarkan pada umat membuat banten tanpa penjelasan apa dasar sastranya dan apa arti simbol-simbol setiap jenis banten.
Tradisi: gugon tuwon dan aje wera menyuburkan perkembangan volume, bentuk, dan jenis banten menurut selera dan keinginan masing-masing. Tidak jarang pembuatan banten menjadi sumber nafkah memperkaya Sulinggih dan tukang banten.
Ironisnya banyak rakyat yang menjadi miskin karena terpaksa menjual sawah-ladangnya untuk upacara ngaben. Bebali atau banten yang rumit dan mahal inilah yang “menakutkan” para pemeluk Hindu di Bali dan di luar Bali.
Kini orang Bali sudah berpikir kritis, realistis, dan ekonomis. Biaya upakara yang tinggi dipertanyakan. Para Sulinggih sekali lagi perlu membuat terobosan yang berani untuk menghemat biaya upakara agar jangan sampai umat takut me-yadnya gara-gara biaya yang tinggi.
Sebenarnya dilema ini akan dapat diatasi jika umat Hindu di Bali sadar untuk berubah dan berani menilai mana yang benar dan mana yang tidak benar. Masalahnya feodalisme di Bali sudah berurat berakar yang pada gilirannya menumbuhkan fanatisme kuat dalam memilih pemuput karya, tingkatan/ besar kecilnya upacara dan bebali yang dibuat.
KESIMPULAN:
Bali centris perlu dipertahankan karena koleksi tattwa, susila, dan upacara di Bali lengkap, sementara saudara-saudara kita se-dharma di luar Bali masih mencari bentuk yang pas karena sudah ratusan generasi ada yang meninggalkan Hindu atau tidak bersentuhan dengan Hindu atau ke-Hindu-annya tidak berkembang seperti di Bali.
Walaupun demikian segi-segi negatif seperti feodalisme dan dresta yang tidak sesuai tidak perlu ditiru. Bali sendiri perlu berbenah menuju Hindu-Bali yang direformasi artinya dikembalikan pada nilai-nilai luhur yang diwariskan paling tidak oleh keenam tokoh suci yang disebutkan di atas.
Dengan mohon maaf bila pada tulisan ini ada hal-hal yang tidak berkenan di hati beberapa pembaca, maka tulisan ini diakhiri dengan doa semoga umat sedharma senantiasa diberikan pikiran terang untuk melaksanakan ajaran-ajaran-Nya menuju kepada moksartham jagattita ya caiti dharmah.

Hindu Dalam Wacana Bali Centris
Om Swastiastu,
Maaf Pinandita, yang saya tahu umat kita di Jawa (khususnya Jawa Timur) memiliki adat tersendiri dalam ke-Hinduannya. Dalam menghaturkan sesaji mereka jauh lebih sederhana, boleh dibilang apa adanya. Kalau bikin banten, mungkin mereka bertanya-tanya, buat apa…..? Kantong-kantong umat kita di Jawa, kalau boleh dibilang tingkat ekonomi mereka pas-pasan. Terus terang Pinandita, di kalangan umat kita di Jawa sering terjadi pertanyaan “Haruskah ke Hinduan saya tercampur adat Bali?” Haruskah saya berpakaian adat Bali kalau ke Pura/Sanggar, sedangkan saya memiliki pakaian Lorek dan blangkon? Banyak pertanyaan seperti itu. Ada juga pertanyaan yang cukup menggelitik dikalangan umat kita “Kita sudah punya Pinandita (Jawa), kenapa masih mendatangkan dari Bali. Apa Pinandita kita sebodoh itu?”
Mohon penjelasan Pinandita, Suksma/Matur sembah Nuwun
OM Swastyastu,
Saya sdh 3 x ke Pura Senduro, Pura di Jogya , baru sekali ke Gunung Salak (memang belum banyak) dan saya sangat menikmati dan merasa damai ketika dipimpin oleh Pinandhita setempat. Malah sembahyang di Jawa jauh lebih tertib, tuntunan Pinanditha nya jelas dan bersih dari “sampah” bekas persembahan. Jadi janganlah Bpk Ki Puspo Sekar Jagat merasa kecil hati. Berkembanglah Hindu disitu sesuai dgn budaya yang diagungkan disitu. Saya malah termasuk kurang sreg, kok Pura di Jawa kok “mirip atau persis” Bali. Saya tidak setuju Bali centris, sebab agama HINDU bukan utk orang Bali saja. Saya malah bangga bertemu orang Hindu saat di Baltimore , John Hopkins Hospital (sangat lama thn 1985) ada dari Sri Langka, Malaysia dan Nepal, dan kami sembahyang pakai dupa (karena itu saja yg ada). Yang berbeda adalah BUDAYA-nya, tetapi bukan agamanya. Masing masing punya kelebihan atau kekurangan dan biarlah itu berubah sesuai dengan kebutuhan yang berkembang. Mandir yg saya lihat di Singapore berbentuk rumah beratap. banyak patungnya, bersih dan terawat rapi dan tiap hari ada orang yg sembahyang. Sementara di Bali (tak seluruhnya) Pura besar hanya rame saat ada Odalan atau Hari Raya tertentu , diluar itu kosong dan sepi.
Jadi nanti kalau ada odalan di Pura Ki Puspo , maka yg jadi komandan adalah Pinanditha Jawa-nya, pemedek yang datang darimanapun harus ngikuti. Bebantenan atau sejenisnya pakai saja yg lokal , pokoknya umat se-dharma yg datang ikut sembahyang saja.
Terus terang saya sangat senang kalau mengalami variasi sembahyang bila tirtha yatra ke berbagai Pura. Dan jangan lupa di Bali sendiripun masih ada variasinya. Jadi tetplah Hindu, peganglah WEDA , kita menyembah Ida Sang Hyang Widhi Wasa, Dewa / Orang Suci yang distanakan dan Leluhur kita. Selamat …
OM Shanti Shanti Shanti OM
Semoga keselamatan untuk kita semua.
semoga apa yang saya sampaikan menjadi manfaat.
1. DANGHYANG MARKANDEYA, apa yang diajarkannya adalah bagaimana manusia agar dapat mengelola sumberdaya yang ada seperti emas, perak, tembaga, besi, dan permata mirah agar dapat menjadi bekal bagi generasi penerusnya. apa yang diberikan haruslah tidak menjadi beban, hanya semampunya saja, dan yang terkumpul menjadi tabungan untuk keberlangsungan dunia yang dibutuhkan pada saatnya nanti dimasa yang akan datang.
2. MPU SANGKULPUTIH, apa yang diajarkannya adalah berbagi dengan sesama, yang punya seharusnya membantu yang tidak punya, yang tidak punya dapat membantu dengan tenaganya. sehingga dengan bebali diharapkan masyarakat tidak ada yang kelaparan dan mati karena lapar, karena kita semua saudara, apa yang diserahkan untuk sesama diterima perbuatannya oleh Hyang Widhi.
3. Nyepi, adalah cara terbaik bagaimana manusia seharunya mengelola sumberdaya Bhumi ini agar kembali menjadi Swarga, mengendalikan hawa nafsu yang telah menghancurkan dunia karena kesombongan dan keserakahan bentuk dari tipu daya nafsu. hiduplah dalam kedamaian.
4. Dalam pemujaan Hyang Widhi alangkah baiknya kembali seperti semula yaitu melakukan konsentrasi melalui hati, lihatlah hati dan berkonsentrasilah sesungguhnya hati kita adalah yang terdekat dengan Hyang Widhi, jika tidak mampu teruslah berusaha dengan mengecilkan arca, terus hingga menjadi benda yang menempel didada (kalung) terus sehingga tidak perlu lagi benda hanyalah hati kita yang ada didada yang membantu kita melakukan konsentrasi untuk pemujaan Hyang Widhi.
4. Hyang Widhi hanya satu janganlah iri dan tercampur dengan ajaran agama lain yang memliki 3 tuhan. kembalilah dan pahamilah sehingga kamu tidak tersesat.
@agastyahadi: Semua (no. 1,2,3,4,5) betul. Yang nomor 5 (4 ?) saya tambahi pernyataan seorang Indologist bernama Sir William Jones sbb. : ………..very respectable natives have assured me that one or two missionaries have been absurd enough, in their zeal for the conversion of the Gentiles, to urge that the Hindus were even now almost Christians because their Brahma, Visnu, and Mahesa (Siwa) were no other than the Christians trinity, a sentence in which we can only wonder whether folly, ignorance, or impiety predominates………….. Oleh karena itu sejak dulu saya (Bhagawan Dwija) selalu menaruh curiga bila ada terjemahan Weda, Bhagawad Gita, dll. dalam bahasa Inggris, atau sudah dalam bahasa Indonesia, tetapi sumbernya dari yang berbahasa Inggris (berarti melalui tiga tahap penerjemahan : Sanskrit – Inggris – Indonesia). Karena Indologist adalah perkumpulan sarjana kristen Barat (mayoritas Inggris) yang mempelajari budaya India dan agama Hindu untuk kepentingan kolonial. Maka bila mau belajar Weda yang benar, lebih baik dari bahasa aslinya : Sanskerta
Saya bingung.. klo sudah ada sumber dari para empu terdahulu (sebagai penerima wahyu langsung) dalam hal banten kususnya, kenapa tidak isi lontar itu di publikasikan atau bila perlu di pajang di suatu tempat desa/ balebanjar agar masyarakat tau kususnya tentang banten-banten apa saja yang diperlukan. dengan begitu tidak ada seorang yang melakukan penambahan dan pengurangan dalam hal bebantenan. apalagi untuk tujuan bisnis.
PENGALAMAN
OM Swastyastu,
Agama Hindu sumbernya adalah WEDA , maka isi WEDA-lah yang utamanya menjadi acuan. Adat dan budaya adalah CARA umat menerjemahkan rasa bhakti terhadap-NYA. Disini pula letak ke-universalam Hindu , sesuai dgn BHAGAWADGITA ; dengan cara apapun kau datang kepadaKU aku akan terima… Yang Bali, yang Kaharingan, yang Jawa … bisa Beda. Jangan ikuti yang lain bila tak nyaman dan jangan pula memaksa agar ikut cara kita. Saya pernah sembahyang di Mandir Singapore , Malaysia dan Kota Medan dgn hadir beserta umat setempat. Kami plong dgn cara kami masing-masing tetapi sembahan bunga dan dupa serta MANTRAM GAYATRI-nya sama. Kami saling menanyakan dari mana asal dan bahkan memuji cara-cara sembahyang masing masing , dan mengakui ke-universalan Hindu. Tanpa mengurangi rasa hormat pada PARA PINANDHITA / ORANG SUCI YANG TERDAHULU . tetap saja yang diwariskan sekarang ITU adalah produk jaman, ketika pendidikan, infra struktur, situasi dan kegiatan ekonomi sesuai jaman itu. Jadi adat dan budaya BISA berubah (pastilah tidak sim salabim), makanya ada jaman batu, jaman perunggu, era agraris, industri dan seterusnya. Dan mestinya TIDAK TAKUT bahwa BUDAYA BALI akan hancur. Sebab budaya adalah akal, usaha, upaya menyiasati yang lama lama menjadi kebiasaan ketika sekelompok manusia menghadapi tantangan jamannya. Manusia Bali pada jaman batu, pastilah sangat berbeda dgn sekarang … Membuat banten sekarang tak lagi pakai semat …tetapi pakai steples …. Pakaian tarian Bali serta tema temanya berkembang luar biasa dan sangat mencengangkan dan membanggakan. Kreasi tarian baru yang kolosal bikinan ASTI / STSI (?) luar biasa …. budaya Bali-nya masih kelihatan kental. Ogoh ogoh dan bade pengabenan sekarang didorong pakai .. kendaraan beroda. Unsur teknologi masuk disitu. Belum lagi ngomong cara Dalang CenkBlong mengadopsi kemajuan teknologi. Budaya Bali tetap menonjol disitu. Bahkan saya punya pemikiran yang lain … dgn tetap Hindu sebagai agama saya. Pernahkah anda mengalami sembahyang Bethara Turun Kabeh di Besakih … saat habis hujan lebat?. Saya pernah melihat ada orang India yang mau sembahyang dan sama dgn saya, sangat kesulitan mencari tempat utk duduk di lantai yang becek, berlumpur serta penuh gundukan canang aturan yang habis terpakai. Yah maklum karena saat seperti itu pakaian para pemedek semua bersih dan merupakan pakaian kesayangan. Dalam hati , tidakkah ada arsitek Hindu , orang Bali yg mau membuat gambar lapangan sembahyang yg luas seperti pendopo beratap yang melindungi pemedek saat sembahyang dari terik matahari, hujan dan sejenisnya? Bangunan TRI MURTI tetap diluar pendopo dan terbuka menghadap ke langit. Pendopo didisain (disayembarakan lebih dulu) utk minimal 300 – 500 pemedek (utk satu ronde sembahyang) dan ditata, ada tempat sulinggih didepan berdiri tegak, terlindung dari panas dan hujan. Paling tidak pemikiran saat membuat PURA yangbaru. Pemedek akan duduk dilantai (bisa diaturlah) dgn lapisan marmer yang bersih dan ditata dgn manajemen modern. Yang saya tahu, kalau rencana penataan jelas maka dana PUNIA masyarakat akan selalu datang … dan diyakini akan meluber bila ada rencana seperti itu. Jadi perubahan tempat sembahyang menjadi ke Padmasana BESAR di persembahyangan umum, itu LOGIS dan termasuk dalam PERUBAHAN JAMAN ITU SENDIRI akan tetapi yang disembah disana TETAP yaitu IDA SANG HYANG WIDHI serta DEWA / Oran Suci yang distanakan disana. Rong TELU biarlah tetap di merajan keluarga swang swang. Suksma lan ampura bila wenten pikiran lain. Intinya penghormatam kepada leluhur TETAP adanya akan tetapi cara kita menyiasati perubahan (yg adalah ciptaan-NYA) sesuai dgn jamannya . Kok saya yakin kalau saja LELUHUR yang sangat lawas itu reinkarnasi pada jaman sekarang…. maka kalo diajak urun rembug …. rasanya SETUJU. OM Shanti Shanti Shanti OM