Istri Menstruasi

QUESTION:

Yening anak istri sedeng ngeraja (sebel di raga/ menstruasi):

  1. Napi kalugra nguncarang mantram Trisandya
  2. Mekarya/ menyiapkan banten
  3. Napi kemanten pekaryane sane nenten kedadosang (dilarang) duaning ipun sedek asapunika.

ANSWER:

1. Boleh tetapi di dalam hati, tidak menggunakan sarana apapun dan bukan di tempat suci: Merajan, Pura, dll. sebab siapa pun dan dalam keadaan apapun wajib menyembah Ida Sanghyang Widhi.

Secara ringkas dikatakan Mantram Trisandya tidak terkena cuntaka; dilakukan di dalam hati agar menjaga prasangka buruk dari orang lain yang tidak mengerti hal ini.

2. Dilarang.

3. Wanita yang sedang haid membawa cuntaka pada dirinya dan kamar tidurnya. Oleh karena itu selain tidak boleh masuk ke Pemerajan/ Pura dan menyiapkan banten, yang dilarang juga adalah antara lain:

  1. Tidur sekamar dengan suami, anak atau orang lain karena akan mencemari kesucian mereka, apalagi kalau suaminya Pamangku.
  2. Menggendong bayi, karena bayi terkena keletehan.
  3. Memasak makanan, karena makanan akan tercemar dan mencemari kesucian mereka yang memakannya.

Setelah selesai cuntaka segera mebersih mandi di segara/ kelebutan/ di rumah lalu natab banten prayascita, sekaligus kamar tidur yang bekas dipakai di-prayascita juga.

8 comments to Istri Menstruasi

  • 1
    sembariawan says:

    bagawan yang saya hormati,
    om swastiastu,
    1. jika wanita mens mempunyai ketidakbolehan seperti diatas bukankah sangat mengganggu aktivitasnya sebagai seorang ibu terutama memasak, bisa kelaparan anak dan suaminya?
    2. bukankah mens itu adalah kondisi alami yang terjadi pada wanita dan merupakan siklus ciptaanNya, kenapa manusia mencuntakakan, mungkin jaman dulu teknologi belum canggih dikhawatirkan darah kotor itu berjatuhan ditempat suci, bukankah sekarang sudah ada pembalut wanita yang canggih yang bisa membuat wanita nyaman, apakah ini bukan gawean sang laki-laki aja?
    tentunya tidak adil buat wanita….
    om shanti shanti shanti om

    • 1.1
      GekW says:

      ngih setuju tiang..
      1. kalo dalam keluarga ada suami istri dan anak..
      berarti kita tidak boleh masak,…trus apakah bayi menangis kita biarkan?

      2. lalu bagaimana..jika masih menyusui p dalam keadaan mens? kalo kita tidak menyusui..anak..akan rewel..dan susu ibu pun akan jadi bengkak.? apa harus dibiarkan selama 1 minggu tidak menyusu?lalu habis melahirkan masih keluar darah…bagaimana masalah mnyusui?

      3. kalo ada rainan suami tidak mengerti menyiapkan banten ini bagaimana?
      kan tidak bisa berjalan….mohon solusinya

      punapi niki.?

      • Om Swastyastu,

        1. Jawaban saya serupa dengan dibawah ini. Sekali lagi jangan di-dramatisir atau dilebih-lebihkan.
        2. Tidak ada kalimat saya menyatakan dilarang menyusui anak kandung sendiri. Yang ada kalimatnya adalah jangan menggendong bayi, maksudnya bayi orang lain.
        3. Menyiapkan banten bisa diminta tolong ke pemangku anda atau ke Gerya.

        Where is a will that is a way.

        Om Santih, santih, santih, Om

    • 1.2

      Om Swastyastu,

      1. Aktivitas rumah tangga bisa berjalan sebagaimana biasa dengan berbagai cara terobosan, misalnya soal memasak, bisa dibantu adik, ibu atau siapa saja yang serumah. Juga bisa membeli makanan diluar selama 2 minggu (selama haid). Jangan terlalu didramatisir bahwa anak dan suami akan kelaparan.
      2. Keyakian agama Hindu di Bali menyatakan bahwa sebel/cuntaka yang disebabkan oleh beberapa hal, adalah keadaan tidak suci. Namun bila ada yang tidak yakin, itu berpulang pada dirinya masing-masing. Agama kita tidak “memaksa” maka namanya sanatana-dharma. Namun ketidak yakinan itu diharap tidak mengganggu keyakinan orang lain disekitar kita.

      Om Santih, santih, santih, Om

  • 2
    suriati says:

    Kalau seorang wanita sedang mens dilarang masuk pura itu masuk akal tetapi kalau dilarang menyusui dan memasak itu yang sy tidak setuju,otomatis bayi akan kelaparan dan mengurangi hak bayi dan itu jga bertentangan dnga ajaran agama hindu tentang kuwajiban ibu terhadap anak.mohon direnungkan kembali artikel ini trimakasi

    • 2.1

      Om Swastyastu,

      1. Artikel ini bukan karangan saya, tetapi kutipan dari lontar Catur Cuntaka
      2. Jawabannya sama dengan kedua pertanyaan diatas. Jadi yang perlu direnungkan bukan masalah isi lontarnya, tetapi makna filosofisnya and how to follow that.

      Om Santih, santih, santih, Om

  • 3
    Surya says:

    Bhagawan yang saya hormati,
    saya jadi binging dengan artikel ini. Sebelumnya saya mau tanya apa Bhagawan Dwija sama dgn Bhagawan
    Dwidja ya?
    Soalnya sy sempat baca di artikel ” masalah Cuntaka dan Kebebasan Berpikir” kira2 di tulis 8 tahun lalu. Bhawa di sana di sarankan untuk kita berfikir lebih dalam lg. Jgn mau makan mentah2 apa yg tertulis dalam lontar tetang cuntaka. Dan disana jg ditulis bahwa Bhagawan Dwidja itu berfikir bahwa orang yg cuntaka bisa masuk pura. Katanya di India tidak ada larangan bahwa wanita yang mestruasi dilarang masuk tempat suci. Jadi mana ni artikel yang bener???????? Maunya
    bebas berpikir malah jadi bingung….

    Apakah Agama Hindu sekejam itu??? Salah satu pertanyaan yg saya kutip dari artikel tersebut.
    Mohon di bantu…

Leave a Reply

  

  

  

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Subscribe without commenting