QUESTION:
Pertanyaan seputar jam persembahyangan Hari Raya Kuningan.
ANSWER:
Pada Hari Raya Kuningan, Ida Sanghyang Widhi Wasa memberkahi dunia dan umat manusia sejak jam 00 sampai jam 12. Jadi di saat itu sangat tepat kita datang menyerahkan diri kepada-Nya mohon perlindungan. Masalah jarak yang jauh ke kampung halaman, bisa diatur dengan time schedulle yang tepat, misalnya anda mulai mebanten di Denpasar jam 04 pagi selanjutnya mudik; mungkin sebelum jam 10 anda sudah tiba di kampung halaman untuk bersembahyang.

1. Kenapa Pura identik ditempat-tempat yang tergolong tenget?
2. Apa Pahala org yang terus mempertahankan agamanya?
3. Hari Kuningan sembahyang sampai jam 12, Bhatara siapa yg punya batas waktu sampai jam 12, apa setelah jam 12 tidak ada bhatara?
Om Swastyastu
1. tidak semuanya demikian…. sekarang tergantung kita saja…. namun umunya nilai “ketengetan” itu terkait nilai kesakralan pura bersangkutan…..
2. yg pastinya pahala berdasarkan penglaman hidup, pekerjaan, dan aktifitas sehari-harinya…. pahala / hasil seseorang yang mempertahankan agamanya adalah pribadinya akan semakin teguh pada pendirian, tidak mudah diombang-ambing dan tentunya hidupnya akan semakin berwarna,,,,
3. setelah saya baca literatur memang demikian adanya karena setelah jam 12 Bhatara-bhatari sampun mewali ke Kahyangan dadose biasanne ten dados lintang saking galah 12…. nanging yen kuningan nika selalu bertepatan dengan rahinan kajeng kliwon wenten sane sembahyang lintangan galah 12….
minab punika prasid antuk titing nyawis, ampure yen wenten iwang, dumogi Ida Bhagawan prasida nyawisin sane jangkep naler sane patut….. Rahayu semeton tiang sareng sami…
Om Santih Santih Santih Om
Om Swastyastu,
1. Tenget dalam kasus ini bisa diartikan sakral. Sudah pasti tempat yang suci adalah sakral karena doa, puja, mantra pada bhakta terpusat di tempat ini
2. Pahalanya seperti yang dimaksud dalam puja Ayu Werdhi, adalah dirghayusa, kesucian, kebahagian, satyam, siwam, sundaram. Baca tt artikel ini di website ini.
3. Maksudnya bukan seperti jam kerja kantoran. Jam 12 pun tidak disebutkan dalam susastra kita, tetapi maksudnya, bersembahyanglah sebelum bajeg surya (tengah hari) karena energi alam semesta (panca mahabhuta : pertiwi, apah, bayu, teja, akasa) bangkit dari pagi hingga mencapai klimaksnya di bajeg surya. Ini disebut masa uttpti dan shtiti. Sedangkan setelah bajeg surya disebut masa pralina (pengembalian ke asalnya) atau tamasika (beristirahat)
Om Santih, santih, santih, Om
Apakah pada hari raya nyepi kita boleh mebanten? Kalau boleh banten apa saja yg kita haturkan?
Om Swastyastu,
1. Boleh, gunakan banten yang umum : pejati, dan tidak menggunakan bunyi-bunyian tape, gong, dll. atau melanggar catur berata, namun penggunakan dupa, api takep dan suara gentha dibolehkan. Ini diatur dalam buku Kesatuan tafsir terhadap aspek-aspek agama Hindu, keputusan paruman Sulinggih.
2. Demikian pula bila hari Sipeng bertepatan dengan hari odalan di Pura, maka Odalan tetap dilaksanakan, asal tidak datang ke Pura menggunakan kendaraan, dll. Ini bisa dibijaksanai, misalnya sejak pengerupukan sudah ada di Pura sehingga tidak berlalu-lalang di hari Sipeng. Sambil melakukan yoga-samadhi di Pura. Keesokannya setelah ngembak Gni, baru pamit dari Pura.
3. Demikian pula upacara lain misalnya manusa yadnya yang pas tiba bersamaan dengan Sipeng, misalnya telu bulanan dan otonan, yang tidak bisa digeser ke hari lain, tetap dijalankan menurut ketentuan diatas. Kalau upacara lain yang tidak berkaitan dengan pancawara, saptawara dan wuku, digeser ke hari lain saja.
Om Santih, santih, santih, Om