Jero Gede dan Jero Mangku Gede

QUESTION:

Ida Sri Bhagawan yang saya hormati, saya melihat di Desa-Desa banyak ada orang yang bergelar Jero Gede dan Jero Mangku Gede, di mana mereka menjadi seperti itu bukan karena kejumput oleh Ida Bethara di suatu Pura atau Sanggah Pamerajan, tetapi karena belajar sendiri lalu mawinten.

Beberapa diantara mereka ada yang bersikap berlebihan misalnya mengambil alih tugas Jero Mangku yang resmi serta muput-muput karya di masyarakat. Mohon penjelasan Ida Sri Bhagawan, apakah tindakan mereka itu dapat dibenarkan?

ANSWER:

Terima kasih atas pertanyaannya yang sangat bagus. Pertanyaan seperti ini sering Pandita temukan ketika ber-Dharmatula ke Desa-Desa.

Bahwa setiap orang ingin mawinten itu hal yang bagus karena sesuai dengan filsafat Catur Ashrama.

Mawinten berasal dari kata Mawa artinya bersinar, dan Inten artinya permata. Jadi orang yang mawinten diibaratkan bersinar sebagai permata (cemerlang) oleh sinar kesucian.

Kewajiban utama seseorang yang mawinten adalah menjaga kesucian pikiran, perkataan, dan perbuatan. Gelar seseorang yang mawinten antara lain: Jero Mangku, Jero Mangku Gede, Jero Gede, dll.

Khusus untuk gelar Jero Gede, diberikan oleh beberapa Nabe (guru) yang ngawintenin anak-anak didiknya sebagai calon Pandita, oleh karenanya sering juga disebut sebagai Bhawati berasal dari kata Bhawa artinya calon dan Ti artinya orang.

Jadi gelar Jero Gede adalah gelar sementara yang bersangkutan menjadi sisia aguron-guron.

Mengenai gelar Jero Mangku Gede, diberikan oleh beberapa Nabe bagi anak-anak didiknya yang telah melaksanakan pawintenan dengan ayaban Catur, tetapi mereka tidak langsung menjadi calon Pandita.

Setiap sisia (siswa) yang mendapat anugrah gelar seperti itu mempunyai tanggung jawab yang cukup berat secara sekala dan niskala. Tanggung jawab pada niskala adalah bhakti kepada Hyang Widhi dan taat pada kaidah-kaidah kesucian Kayika, Wacika, dan Manacika.

Tanggung jawab secara sekala adalah menjaga nama baik Guru Nabe-nya serta mengabdi pada kepentingan masyarakat.

Mereka tidak berwenang mengambil alih tugas seorang Jero Mangku resmi di suatu Pura atau Sanggah Pamerajan, karena Jero Mangku yang resmi itu adalah di-”jumput” oleh Ida Bethara atau dengan istilah lain, beliau adalah Jero Mangku Tapakan Widhi.

Andaikata kemahiran Jero Mangku Tapakan Widhi dirasa masih kurang, Jero Mangku Gede atau Jero Gede yang bukan Tapakan Widhi dapat membagi ilmunya tetapi tidak boleh menyisihkan apalagi mengambil alih tugas-tugasnya.

Bilamana Jero Gede/ Jero Mangku Gede ingin ngaturang ayah di suatu Pura atau Sanggah Pamerajan harus minta ijin dahulu kepada Jero Mangku Tapakan Widhi dan Kelian Dadia/ Kelian Pemaksan.

Seorang Jero Gede/ Jero Mangku Gede belum dapat dikatakan “muput” karena beliau belum ngelinggihang puja. Istilah yang tepat adalah “nganteb”, untuk mana beliau harus mendapat panugrahan terlebih dahulu dari Guru Nabe-nya.

Bila tidak mendapat panugrahan dapat dikatakan sebagai “nyumuka” artinya memada-mada Sulinggih di mana dalam Lontar Siwa Sasana dan Lontar Ataki-taki Diksa disebutkan bahwa orang yang nyumuka akan mendapat kutukan dari Ida Bethara Siwa.

Demikianlah penjelasan Pandita, semoga memuaskan.

1 comment to Jero Gede dan Jero Mangku Gede

Leave a Reply

  

  

  

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Subscribe without commenting