Keajaiban dan Kesakralan Angka Sembilan

Keajaiban:

Bukti keajaiban angka 9 secara matematis dan objektif didemonstrasikan oleh dua orang, sebutkan si A dan si B

1. Langkah si A:
Menulis deretan angka ( 1 – 9) sebanyak 5 angka secara acak. Misalnya:

63742

Kemudian di bawah tiap-tiap angka itu ditulis titik, berurutan ke bawah sebanyak 4 baris, sehingga menjadi sebagai berikut:

63742
. . . . .
. . . . .
. . . . .
. . . . .

Di baris titik paling bawah diberi tanda jumlah dengan total penjumlahan:

63742
. . . . .
. . . . .
. . . . .
. . . . .
———
26374

Setelah itu mengganti titik-titik di baris ke 2 dan ke 4 dengan angka acak misalnya:

63742
58966
. . . . .
37428
. . . . .
———
263740

2. Langkah si B:
Mengganti titik-titik di baris ke 3 dan 5 dengan angka yang diperoleh dari pengurangan 9 dengan angka yang ada di atasnya, sehingga nampak sebagai berikut:

63742
58966
41033
37428
62571
———
263740

Keajaiban yang terbukti:

Jumlah angka 263740 sudah diketahui sebelum ada angka di baris lainnya, dengan asumsi:

  1. Jumlah 263740 adalah pergeseran angka 2 dan 0 dari deretan angka semula: 63742, dimana angka 2 dipindahkan dari belakang ke depan, dan angka 0 adalah akibat angka 2 dari deretan 63742 dikurangi 2 dari deretan angka 263740
  2. Semua angka bervariasi dari 1 s/d 9

Bila ingin mencoba dengan susunan angka lain, silahkan asal menggunakan cara dan asumsi seperti di atas.

Pembuktian keajaiban angka 9 dengan cara lain dapat juga dicoba sendiri tanpa teman:

Tulislah bentuk penjumlahan angka seperti contoh di bawah ini:

9 + 3 = 12 di mana 1 + 2 = 3 (angka 3 kembali pada angka penjumlah)

Contoh lain:

9 + 7 = 16 di mana 1 + 6 = 7 (angka 7 kembali pada angka penjumlah)
9 + 9 = 18 di mana 1 + 8 = 9 (angka 9 kembali pada angka penjumlah)

Asumsi: dalam penjumlahan menggunakan angka 1 – 9

Kesakralan:

Kesakralan angka 9 dalam keyakinan Agama Hindu di Bali:

Pada perhitungan matematis tersebut, terkandung makna yang sakral dari angka 9 sebagai berikut: Angka 9 adalah angka tertinggi yang selalu mengembalikan diri kepada asalnya, seperti terlihat pada butir 2 (langkah si B) di atas dan contoh pembuktian keajaiban yang kedua di atas.

Kemampuan untuk mengembalikan diri ke asal-Nya, dalam keyakinan Hindu di Bali, dikenal sebagai Trikona, yakni Utpatti, Sthiti, dan Pralina, yakni perputaran dari kelahiran, kehidupan dan kematian yang berlangsung terus di alam semesta atau Bhuwana Agung sebagai kehendak-Nya dalam wujud Sada-Siwa.

Dalam keyakinan Agama Hindu di Bali Sanghyang Widhi berkedudukan pula di sembilan arah mata angin, dikenal sebagai Dewata Nawa Sanggha, yakni:

  1. Timur (Purwa): Dewa Ishwara
  2. Tenggara (Agneya): Dewa Mahesora
  3. Selatan (Daksina): Dewa Brahma
  4. Barat-daya (Nairity): Dewa Rudra
  5. Barat (Pascima): Dewa Mahadewa
  6. Barat laut (Wayabya): Dewa Sangkara
  7. Utara (Uttara): Dewa Wisnu
  8. Timur Laut (Airsaniya): Dewa Sambhu
  9. Tengah (Madya): Dewa Tripurusha

Kesakralan lain: jumlah butiran ganitri dan jumlah helai daun bila yang digunakan pada brata Siwaratri 108. Angka 108 intinya 9 karena 1 + 0 + 8 = 9 sedangkan ½ x 108 = 54 di mana 5 + 4 = 9; demikian juga ½ x 54 = 27 di mana 2 + 7 = 9

Jumlah lubang dalam tubuh manusia 9 yakni: telinga (2), mata (2), hidung (2), mulut (1), kelamin (1), dubur (1)

Penutup tahun menurut perhitungan kalender Saka-Bali, jatuh pada hari bulan mati ke-9 (tilem kesanga), sedangkan tahun baru Saka-Bali jatuh pada penanggal ping pisan sasih ke-Dasa (tanggal 1 bulan kesepuluh), karena angka 10 di perhitungan kalender Saka-Bali = 0

1 comment to Keajaiban dan Kesakralan Angka Sembilan

  • 1
    supardi says:

    Yth. Bapak Pemilik Web Site
    Pertama mohon maaf bilamana ada kata yang kurang berkenan, saya pribadi sebagai seorang Muslim, namun gemar belajar ilmu agama, termasuk Hindu, Bunda, Kristen.
    Saya berharap Negeri ini menjadi aman, makmur dan sentosa. hal ini tentunya dapat diraih bangsa ini jika para penguasa / pemimpin negeri menyadari budaya kita, agama kita masing-masing dan saling menghormati satu sama lainnya.
    untuk itu saya berharap kepada seluruh penduduk negeri agar senantiasa sadar, sebagai manusia yang di utus Tuhan, untuk memelihara diri….dan bhumi (ibu pertiwi)
    terakhir saya berharap kepada pemimpin Umat masing-masing jangan sampai terpancing, dan terbecah belah tetap menjaga kesatuan NKRI
    Bravo Indonesia

    SUPARDI WATUGUNUNG DI TATAR BANTEN

Leave a Reply

  

  

  

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Subscribe without commenting