Kenapa di Hindu Banyak Sekali Melaksanakan Upacara Agama?

QUESTION:

Ida Pandita Sri Bhagawan yang saya hormati, saya ingin menyampaikan pengalaman saya ketika masih bertugas di luar Bali. Banyak teman-teman saya yang non-Bali bertanya, kenapa orang-orang Bali (Hindu) banyak sekali melaksanakan upacara-upacara agama, apakah memang begitu cara mereka beragama.

Jika demikian halnya alangkah banyak uang yang dikeluarkan untuk melaksanakan ajaran agama.

Pertanyaan teman saya ini tidak dapat saya jawab dengan tuntas, karena saya melihat kita di Bali memang demikian, banyak berupacara ini dan itu. Ketika itu saya hanya menjawab bahwa kita di Bali memang begitu sejak dahulu sebagaimana diturunkan oleh leluhur kita.

Pertanyaan saya kepada Ida Pandita Sri Bhagawan, apakah kita melaksanakan ajaran agama memang harus dengan banyak berupacara yang menghabiskan dana berjuta-juta?

ANSWER:

Terima kasih atas pertanyannya yang sangat bagus. Pandita akan mengawali penjelasan tentang adanya tiga kerangka agama Hindu, yaitu: Tattwa, Susila, dan Upacara.

Yang dimaksud dengan Tattwa adalah cara kita melaksanakan ajaran agama dengan mendalami pengetahuan dan filsafat agama.

Susila adalah cara kita beragama dengan mengendalikan pikiran, perkataan, dan perbuatan sehari-hari agar sesuai dengan kaidah-kaidah agama.

Upacara adalah kegiatan keagamaan dalam bentuk ritual Yadnya, yang dikenal dengan Panca Yadnya: Dewa, Rsi, Pitra, Manusa, dan Bhuta Yadnya.

Yang berkaitan dengan pertanyaan anda adalah kegiatan-kegiatan upacara yang lebih banyak terlihat dilaksanakan oleh umat Hindu di Bali, sedangkan segi-segi tattwa dan susila kurang diperhatikan, padahal menurut Weda Sruti, cara kita beragama di tiap “yuga” berbeda-beda.

Yuga adalah suatu siklus zaman yang lama waktunya di setiap zaman tidak menentu. Zaman keberadaan jagat raya ini dibagi dalam empat yuga, yaitu Kerta Yuga, Tritya Yuga, Dwipara Yuga, dan Kali Yuga.

Tiap periode (yuga) dikaitkan dengan unsur-unsur pokok:

  1. Perimbangan jumlah penduduk (manusia) dengan alam (kamadhuk)
  2. Pengaruh zaman pada sifat-sifat manusia
  3. Sumber-sumber alam yang tersedia

Zaman Kerta disebut sebagai zaman yang paling stabil, yaitu penduduk yang tidak banyak, sifat-sifat manusia yang baik/ positif, dan tersedianya sumber-sumber alam yang melimpah.

Kestabilan itu selanjutnya makin berkurang sehingga di zaman Kali keadaan sudah jauh berbeda, terutama mengenai berkurangnya sumber-sumber alam, dan perilaku manusia yang makin jauh dari dharma.

Oleh karena itu Hyang Widhi melalui para Maha Rsi mengingatkan umat manusia agar pelaksanaan ajaran agama tidak sama pada setiap zaman.

Di zaman Kerta dan Tritya, pelaksanaan upacara-upacara yadnya dengan menggunakan sarana upakara (banten) lebih menonjol daripada pengetahuan agama (tattwa) dan susila karena:

  1. Sumber-sumber alam masih melimpah
  2. Tingkat kecerdasan manusia masih rendah di mana segi positifnya manusia belum mempunyai pikiran macam-macam (masih lugu) dan gampang dibimbing oleh para Maha Rsi untuk melaksanakan ajaran agama

Di zaman Dwipara, apalagi di zaman Kali seperti sekarang ini cara kita melaksanakan ajaran agama harusnya lebih menekankan segi tattwa dan susila daripada upacara karena:

1. Kemampuan alam menyediakan keperluan manusia berkurang disebabkan jumlah penduduk meningkat drastis sedangkan alam: lahan, tanaman dan binatang makin berkurang.

2. Kecerdasan manusia meningkat namun dengan berbagai dampak negatifnya seperti: sad-ripu (kama, lobha, kroda, mada, moha, dan matsarya) yang semakin menonjol, dan umat makin sulit dibimbing oleh para pemuka agama selain karena jumlah mereka terbatas, juga karena banyak umat yang tidak menyadari perlunya siraman rohani.

Umat lebih mementingkan kebutuhan materi seperti sandang, pangan, papan, tetapi kurang memperhatikan kesehatan rohani, padahal kesehatan rohani akan membawa manusia pada perasaan yang suci, tenang, damai, dan bahagia.

Dengan penjelasan di atas, Pandita ingin menyampaikan bahwa di zaman sekarang ini umat agar melaksanakan tiga kerangka agama Hindu dengan bobot yang lebih banyak pada segi pemahaman tattwa dan menjaga susila sebaik-baiknya.

Upacara-upacara Yadnya tetap perlu dilaksanakan namun diupayakan sesederhana mungkin dengan biaya upakara yang terjangkau oleh kemampuan masing-masing. Janganlah memaksakan diri mencari dana seperti menjual tanah warisan leluhur, mencari hutang yang besar, lebih-lebih dengan ber-KKN.

Di beberapa tempat ada penduduk suatu desa yang mencari dana membangun Pura atau melaksanakan upacara Yadnya dengan mengadakan tajen. Hal ini tentulah sangat bertentangan dengan ajaran agama, karena tajen adalah judi, dan judi dilarang dalam agama Hindu.

Para leluhur kita telah mengajarkan bahwa sesajen (banten) itu dapat disederhanakan. Oleh karena itu dilihat dari volumenya, bebanten dapat dikelompokkan pada tiga jenis, yaitu:

  1. Banten yang alit
  2. Banten yang madya
  3. Banten yang utama

Banten sederhana (alit) tidaklah berati nilainya lebih rendah daripada yang madya dan utama, demikian sebaliknya. Yang menentukan sukses tidak suksesnya upacara Yadnya tidaklah terletak pada banten saja, tetapi yang lebih penting adalah niat berkorban dalam kesucian yang tulus dan iklas sebagaimana hakekat pengetian “Yadnya”.

Dalam konteks ini ada tiga jenis Yadnya, yaitu:

  1. Satwika Yadnya
  2. Rajasika Yadnya
  3. Tamasika Yadnya

Satwika Yadnya adalah Yadnya yang dilaksanakan secara tulus, suci, dan sesuai dengan kemampuan.

Rajasika Yadnya adalah Yadnya yang didorong oleh keinginan menonjolkan diri seperti kekayaan, kekuasaan, dan hal-hal yang bersifat feodalisme: kebangsawanan, kesombongan, penonjolan soroh, dll.

Tamasika Yadnya adalah Yadnya yang dilaksanakan oleh orang-orang yang tidak mengerti pada tujuan Yadnya. Dengan demikian jelaslah bahwa Yadnya yang terbaik adalah Satwika Yadnya.

Mengenai bebanten, ada disebutkan dalam lontar Yadnya Prakerti bahwa kita mempersiapkan banten sesuai dengan Desa, Kala, dan Patra.

Yang dimaksud dengan Desa adalah menggunakan bahan-bahan banten yang berasal dari lingkungan tempat tinggal kita. Kala adalah waktu yang tersedia untuk menyiapkan banten, dan Patra adalah dana yang tersedia untuk membeli bahan-bahan.

Jika kita perhatikan sekarang, banyak sekali umat menggunakan bahan-bahan banten yang tidak berasal dari desa kita seperti buah apel, pir, anggur, dan lain-lain.

Buah-buahan lokal seperti sabo, manggis, ceroring, kepundung, wani, kucalcil. dll. hampir tidak nampak. Itu tandanya bahwa di kebun-kebun penduduk jenis buah-buahan itu sudah langka.

Selain itu busung, biu, bahkan bebek dan ayam sudah didatangkan dari luar Bali. Busung datang dari Lombok atau Sulawesi, biu, bebek, dan ayam ber ton-ton didatangkan dari Jawa.

Keadaan seperti ini hendaknya menjadi perhatian kita yang serius dengan mengambil langkah-langkah yang positif misalnya: menanami lahan-lahan dengan bahan-bahan banten seperti pisang, kelapa gading, bunga-bungaan, buah-buahan, dll. Para peternak/ petani lebih giat lagi memelihara binatang seperti ayam, bebek, babi dll.

Langkah lainnya kembali kepada bahasan di atas, yaitu buatlah sesajen atau banten dengan sederhana tetapi tidak menyimpang dari sastra-sastra agama sehingga semua umat dapat melaksanakan upacara yadnya sesuai dengan kemampuan keuangannya masing-masing.

Sekianlah jawaban Pandita, semoga memuaskan.

18 comments to Kenapa di Hindu Banyak Sekali Melaksanakan Upacara Agama?

  • 1
    I Made Rincim Astawa says:

    OSA
    Setuju banget atas penjelasan Romo Bhagawan Dwija.
    Maafkan saya, kalau menurut saya kenapa kita kita tonjolkan upacara agama (terutama di bali) karena tingkat spiritualitas kita (sebagian besar) paling rendah jika di bandingkan umat hindu yang ada di luar bali….. mungkin kita menolak…tapi fakta tidak pernah berbohong.
    OSSSO

    • 1.1
      Bhagawan Dwija says:

      @I Made Rincim Astawa: Mungkin yang dimaksud “tingkat spiritualitas” dalam kalimat anda, adalah : pengetahuan tattwa. Kalau tingkat spiritualitas orang-orang Hindu di Bali dalam pandangan saya masih baik. Upacara/upakara di Bali adalah pembelajaran agama Hindu secara visual dengan methoda kreatif dan berkesenian, karena itu adalah panggilan jiwa/roh/atman manusia Hindu-Bali. Para Sulinggih kini di Bali melengkapi pengetahuan tattwa dari basic upacara/upakara, meningkat ke filosofi dari upacara/upakara itu dengan memberikan dharma wacana, kemudian bermuara pada susila/prilaku. Sehingga 3 kerangka Agama Hindu di Bali terwujud, sesuai dengan filosofi dari Pakem Gama Tirta yang menyebutkan : Ugama (upacara), Igama (pikiran) dan Agama (pedoman)

  • 2
    suandi says:

    Om Swastyastu
    apa tujuan tuhan menciptakan manusia?

    • 2.1
      Bhagawan Dwija says:

      @suandi: Tuhan menciptakan manusia dengan tujuan mengembangkan alam semesta. Dalam Lontar Siwa Lenggodbhawa disebutkan bahwa mula-mula Bhatara Wisnu hadir di dunia dalam bentuk air; selanjutnya Bhatara Brahma menciptakan tetumbuhan, binatang dan manusia. Manusia diciptakan dari unsur-unsur alam semesta yang disebut Panca Mahabhuta : pertiwi (tanah), apah (air), bayu (udara), teja (panas bumi/matahari), dan akasa (angkasa). Tuhan juga menciptakan adanya tripramana dalam diri manusia : sabdha (berbicara), bayu (bertenaga) dan idep (berpikir). Dengan adanya idep maka Bhatara Brahma mudah mencipta melalui kreasi manusia, untuk keejahteraan manusia dan alam semesta.

  • 3
    mekele says:

    maaf,,saya ikut gabung..:)…menurut pendapat saya tuhan menciptakan manusia karena atma2 yg merupakan pelayan tuhan tidak mau melayani tuhan dgn baik,,maka diciptakanlah alam semesta beserta segala jenis yg bersifat material,terbatas yg merupakan proses seleksi mana atma yg akan kembali ke asalnya,,dan mana yg akan mengalami penderitaan terus menerus akibat dosa2 nya…

    ===============================================================

    jika masalah penciptaan,,Sri Visnu lah yg melakukan penciptaan primer(alam semesta) dan Brahma yg lahir dari pusar Sri Visnu,,menjadi arsitek alam semesta (sekunder) dimana bahan2 nya sudah disiapkan oleh Sri Visnu,,dan tinggal Brahma yg harus “merakitnya”…..maaf pengetahuan saya terlalu dangkal..:)..salam…

  • 4
    yan uye says:

    saya sangat puas atas penjelasan tentang Zaman keberadaan jagat raya ini dibagi dalam empat yuga, yaitu Kerta Yuga, Tritya Yuga, Dwipara Yuga, dan Kali Yuga.

    terima kasih Bhagawan Dwija

    • 4.1
      Bhagawan Dwija says:

      @yan uye: Terima kasih kembali. Kini kita berada di zaman Kali (Kaliyuga sengara) Setelah ini akan tiba pralaya (kiamat), entah kapan, hanya Tuhan Yang Maha Mengtahui. Walau kita/lingkungan kita ada di zaman Kali, usahakan diri kita sendiri berada di zaman Kertha. Artinya walaupun susah bagaikan menegakkan benang basah, kita tak boleh berhenti menegakkan dharma, apapun risikonya. Jangan justru mencari pembenaran palsu dengan dalih zaman Kali, zaman edan, nek ora melu edan yo ora keduman !

  • 5
    markus tri says:

    Selamat siang,

    Sebelumnya perkenalkan,nama saya markus tri..
    mohon infonya tentang jenis-jenis bunga yang
    banyak digunakan pada upacara keagamaan di bali.

    Trimakasih

  • 6
    dewa wujayadnya says:

    Selamat siang ratu bhagawan
    Om swasti astu dumogi sami kerahayuan,,,
    titiang dewa wijayadnya,,,titiang jagi metaken indik karma lan kematian punapi kewentenannyani,, santukan akeh piragi titiang anak jagi budal ketanah wayah meweh pesan dadiastun ipun cingakan titiang medrue prilaku becik dawag ring mercepada,,,
    ring hindu wenten ten ajaran punapi carane yening malih pidan yen sampu linsir mande mresidayang memargi ketanah wayah mangda gampang nenten sue sakit ring pekoleman,,,, inggih sukseme ratu bhagawan, om shantih,shantih, shantih,, om

    • 6.1

      Om Swastyastu,

      Pitaken duwene, yukti pitaken sane banget mautama, mawinan nika sampun kebawos tutur kadiyatmikan. Wenten buku sane mewasta : Jnana-Siddhanta. indayang rerehin ring toko-toko buku ring Denpasar, menawi wenten. Yening ring Gedong KIrtya Singaraja, wenten lontar sane mewasta Tutur Kediyatmikan, daging ipun pateh sekadi Janana Siddhanta. Ten presida tiang ngunggahang deriki mawinan akeh pisan paridabdabnyane. Mangkin jagi utsahayang mekarya “resume” jagi kaunggahang ring website puniki. Suksma

      Om Santih, santih, santih, Om

  • 7
    maulana ishaq says:

    setiap menyambut kedatangan tahun baru, warga hindu bali merayakan hari raya nyepi dan tentunya melaksanakan catur brata.catur brata adalah kewajiban bagi orang Hindu di bali, tapi kenapa NYEPI dan CATUR BRATA juga di paksakan kepada umat non HINDU di bali??, jelas-jelas hal ini melanggar HAM dan Demokrasi di Indonesia.
    yang perlu di catat adalah BALI bukan punya Orang HINDU saja, tetapi punya orang-orang yang punya KTP BALI dan umumnya Indonesia.
    bahkan di negara asalnya pun nyepi tidak sekaku di Bali.
    maaf sebelumya,dan terimakasih,

    • 7.1
      Suranegara says:

      bung maulana disini bukan tempat berdebat tentang keyakinan, akan ada banyak hal pembatah yg bs saya kumpulkan dari orang Bali/Hindu Bali di luar bali ketika di diskriminasikan oleh mayoritas. dan itu tidak akan selesai2 jika di debat. tentang pemahaman anda tentang demokrasi jg dangkal, saran saya pahamilah apa sebenarnya itu demokrasi dan HAM. satu lagi. satu2nya tempat di dunia yang merayakan hari raya nyepi adalah di Bali. tidak ada di India. terima kasih… sama-sama!

      • Ya, ketika ada konfrensi dunia UNFCCC di Nusadua, Bali tahun 2007 kebetulan saya ikut dan menjadi pembicara di event yang membahas tentang upaya manusia untuk menjaga kelestarian alam semesta. Ketika itu saya menyampaikan bahwa bumi perlu diistirahatkan sehari saja untuk mengurangi polusi (pencemaran) terutama dari gas carbon dioksida. Salah satu caranya, adalah seperti local genius yang mentradisi di Bali, dalam wujud Nyepi (The silent day). Para hadlirin terkagum-kagum dengan tradisi nenek moyang kami di Bali, yang sudah berpikir jauh kedepan, tentang kelestarian alam. Pada penutupan konfrensi, semua negara mendukung ide The Silent Day. Aplikasinya diserahkan kepada negara masing-masing. Maka sekarang banyak kita dengar ada gerakan-gerakan positif kearah ini misalnya : adanya hari tanpa kendaraan mobil, ada pemadaman listrik hanya dalam 1 jam, ada jalan tertentu yang dibebaskan dari kendaraan selama beberapa jam, dll.

        Kami tidak menggunakan istilah Nyepi ketika itu, tetapi menggunakan istilah The Silent Day, karena kami tidak ingin mengkait-kaitkan ajaran Hindu-Bali kepada mereka yang tidak berkeyakinan sama. Namun yang penting makna Nyepi ternyata bermanfat bukan hanya kepada orang-orang HIndu di Bali saja, tetapi bermanfaat pula bagi seluruh alam semesta, termasuk manusia/mahluk hidup lainnya dimanapun berada di dunia ini.

  • 8

    Om Svastyastu Ratu Begawan Sane wangiang tityang, nawegang pisan kewentenan tityang seantukan tambete kelintang, tyang wenten pitaken mejeng ring ratu Begawan , Sekadi tityang ring Desa wenten istilah Mesiwa ring salah sinunggil Griya, kocap penglingsir tityang panjak Griya, seantukan Mesiwa utawi Berguru. Kalo sang Guru sampun mangkin lebar Utami wafat, napi tetap tyang mesiwa ring Griya punika ? Napi tyang pindah mesiwa sang Dwi Jati Sane tiosan ? Suksma lan sinampurayang kirang-langkung atur tityang, Om Santih Santih Santih Om…

    • 8.1

      Om Swastyastu,

      Yening nganutin daging cakepan/lontar sane mewasta Eka Pratama, kawiyaktian ipun sami Sulinggih punike pateh dados sang acarya dewa bhawa, sang patirtaan, sang upadesa, sang katrini katon.
      Nanging yening pitaken sekadi inucap, tiang nyukserahang ring desa – kala – patra duwene.

      Om Santih, santih, santih, Om

  • 9

    Osa,.Yth. Ida Pandita Sri Bhagawan, saya orang Bali yang sejak kecil sudah tinggal di luar Bali, saya mau bertanya bagaimana cara mengetahui kepasekan…..kata orang tua saya dari Pasek Tangkas Kori Agung yang kawitannya katanya ada di gerih,….itu betul gak ya…? trus saya mau minta tolong mencarikan nama buat anak saya yang diperkirakan akan lahir tanggal 20 Juli 2013 sekitar wayang – klawu……berjenis kelamin laki-laki. Atas bantuannya tyang ucapkan banyak-banyak terimakasih….OSSSO

    • 9.1

      Om Swastyastu,

      Pamerajan Agung Arya Tangkas Kori Agung ada di Desa Gerih.
      Nama anak :
      Lelaki : Gde Tangkas ……….(nama keluarga/ayah)
      Perempuan : Luh Gede Tangkas …………(nama keluarga/ayah)

      Om Santih, santih, santih, Om

Leave a Reply

  

  

  

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Subscribe without commenting