Keyakinan dan Kepercayaan

QUESTION:

  1. Agama Hindu memiliki Panca Srada, jika dikaitkan dengan keyakinan, apa bedanya keyakinan dengan kepercayaan, dan yang mana didahulukan, keyakinan atau kepercayaan.
  2. Yakinkah Panca Yadnya itu mengantarkan maksud kita kehadapan-Nya.
  3. Di mana letak perbedaan antara agama dengan adat, lalu bagaimana dengan keadaan di Bali dewasa ini.
  4. Mengapa pelaksanaan yadnya (upacara) di Bali berbeda-beda antara satu daerah dengan daerah lainnya. Apakah tidak ada pedoman (sastra) yang positip. Mengapa jika banyak tokoh yang ditanya, menjawab dengan singkat:… “itu desa kala patra”…
  5. Kelengkapan upacara dan upakara sering sulit didapat; apakah dapat diringkas agar lebih praktis dan efisien.
  6. Apakah perbedaan antara: jiwa, roh, dan atma
  7. Mahabarata dan Ramayana apakah hanya epos cerita atau kenyataan sejarah, lebih-lebih jika dihubungkan dengan awatara.
  8. Jika pengetahuan agama (Jnana) kurang apakah dengan Bhakti Marga cukup.

ANSWER:

1. Widhi Tattwa dari Panca Srada merupakan hal yang pokok sebelum menginjak kepada srada yang lainnya.

Sejak masa Brahmacari mulai ditanamkan kepercayaan akan adanya Ida Sanghyang Widhi Wasa, kemudian ketika menginjak dewasa melaksanakan Bhaktimarga, sejalan dengan pengembangan srada yang lainnya, yaitu Atma Tattwa, dan Karmapala.

Menginjak alam berumah tangga (Griahasta), bertambah pula aktivitas, maka  Karmamarga lebih menonjol dari Bhaktimarga sehingga dalam perkembangan kehidupan berumah tangga dan bermasyarakat, tumbuhlah srada Punarbawa.

Selanjutnya di usia menjelang senja (Wanaprasta) di saat mana anak-anak sudah dewasa, maka suka-duka dari pengalaman hidup  mengembangkan pikiran menjadi lebih dewasa (Jnanamarga) yang menumbuhkan keyakinan akan kebenaran Pancasrada.

Inilah dasar yang baik untuk menginjak ke alam Saniasin di mana dengan Rajamarga diharapkan dapat mencapai moksah (Jiwan Mukti).

2. Panca yadnya adalah: Dewa yadnya, Rsi yadnya, Pitra yadnya, Manusa yadnya, dan Bhuta yadnya.

Yadnya ada karena adanya Tri Rnam (tri = tiga, rnam = hutang), yaitu Dewa Rnam, Rsi Rnam, dan Pitri Rnam.

Yadnya artinya pengorbanan. Dewa Rnam “dibayar” dengan Dewa yadnya dan Bhuta yadnya; Rsi Rnam “dibayar” dengan Rsi yadnya; Pitri Rnam “dibayar” dengan Pitra yadnya dan Manusa yadnya.

Pancasrada merupakan dasar untuk percaya/ yakin akan adanya Rnam; jika sudah percaya/ yakin adanya Rnam maka akan percaya/ yakin perlunya yadnya.

Penjelasan lebih rinci:

  • Dewa Rnam adalah hutang kepada Ida Sanghyang Widhi Wasa yang telah menciptakan dan menghidupkan manusia dengan segala kebutuhannya.
  • Rsi Rnam adalah hutang jasa kepada Maha Rsi, Rsi, Nabe, Guru dll. yang telah berjasa mengajarkan ilmu pengetahuan, seni budaya, tuntunan hidup ,dan kesucian.
  • Pitri Rnam adalah hutang hidup kepada leluhur yang telah melahirkan dan membesarkan.

3. Hubungan antara Agama dan Adat dapat digambarkan sebagai berikut:

Adat cenderung berkonotasi dengan Hukum Adat karena pelaksanaan Adat mempunyai kekuatan “memaksa” sehingga dalam teori Ilmu Hukum, ini sudah dapat digolongkan sebagai Hukum, karena bila tidak dilaksanakan akan menimbulkan sanksi.

Pengenaan sanksi dikelola oleh Lembaga Adat (Kelian Banjar Adat/ Kelian Desa Adat); di samping itu Lembaga Adat kini sudah mempunyai “awig-awig” Tata laksana Adat.

Awig-awig tersebut bertujuan mencapai kebenaran, kebajikan, dan kedamaian dalam pergaulan sosial masyarakat, agar sejalan dengan konsep “Trihitakarana”, yaitu keselarasan hubungan antara: manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia, dan manusia dengan alam.

Oleh karena manusia dan alam semesta ini adalah ciptaan Tuhan, maka dasar dari Hukum Adat adalah Agama.

Keadaan di Bali dewasa ini: peranan Adat kadang-kadang dikesampingkan dan mendjadi rancu karena over lapping dengan Birokrasi Pemerintah. Bila tidak ditangani dengan hati-hati mungkin saja timbul konflik

4. Kerangka Agama Hindu ada tiga, yaitu: Tattwa (filsafat), Susila (etika), dan Upacara (ritual).

Tattwa dan Susila dipandu oleh Weda sehingga kedua hal ini di seluruh Bali sama. Upacara diselenggarakan berdasarkan pelutuk banten, dan petunjuk Sulinggih Dwijati, yang masing-masing berpedoman pada Lontar-lontar warisan Nabe yang sering  berbeda walaupun pada garis besarnya sama.

Di samping itu ada empat macam “Dresta” yang dituruti oleh Sang Yajamana, yaitu:

  1. Desa dresta adalah kebiasaan-kebiasaan yang berlaku di suatu daerah.
  2. Loka Dresta, yaitu kebiasaan-kebiasaan yang berlaku untuk sekelompok orang/ masyarakat.
  3. Kuna Dresta adalah tradisi yang berlaku sejak dahulu kala.
  4. Sastra Dresta adalah kebenaran menurut sastra.

Kebinekaan dalam upacara ini bukan penghambat, namun perlu dicari penyesuaiannya

5. Mempersiapkan banten untuk suatu upacara termasuk Bhaktimarga; kadang-kadang dibutuhkan kesabaran dan ketekunan untuk mengumpulkan bahan-bahan yang diperlukan.

6. Sama

7. Mahabharata dan Ramayana bukan sekedar ceritra, tetapi fakta sejarah.

Berbagai penelitian telah dilakukan di India, dan yang terkenal adalah ditemukannya prasasti Aihole dari Raja Puleskin II di mana disebutkan bahwa perang Bharatayuda terjadi pada tahun 3138 Sebelum Masehi.

Raja Pariksit (cucu Arjuna/ Pandawa) naik tahta menjadi Raja Astina pada tanggal 18 Pebruari 3102 Sebelum Masehi, menurut kesimpulan seorang ahli astronomi India bernama Aryabhatta.

Lapangan Kuruksetra yang luasnya sekitar 100 Km2 kini menjadi kota suci. Tempat di mana Sri Krisna menggelar Bhagawadgita terletak di pinggir Kuruksetra, kini bernama Jyotisara; tempat gugurnya Bhagawan Bhisma kini bernama Banagangga Bhisma.

Peninggalan epigrafis dan arkeologis yang berhubungan dengan Ramayana masih dapat dijumpai di India misalnya bekas istana Ayodhya; keturunan Hanuman dan Sugriwa yang dinamakan suku Adhivasi dapat ditemukan di Negara bagian Madhyapradesh di India.

Kitab Mahabharata yang kita warisi ditulis oleh Maha Rsi Vyasa, sedangkan Maha Rsi Adikavi Valmiki menulis Mahakavya Ramayana.

Para tokoh yang diceritrakan sakti  misalnya Gatotkaca dan Hanuman yang bisa terbang dan Antareja yang bisa masuk ke dalam bumi.

Demikian pula tokoh-tokoh lain dengan kesaktiannya masing-masing, juga tentang Dewa-Dewi/ Bhatara-Bhatari yang dapat turun ke Dunia bertatap muka bahkan bercakap-cakap dengan manusia, di jaman itu benar terjadi seperti yang telah dikemukakan oleh Rsi Bharadvaja, Rsi Atri, dan juga oleh para Yadhu, yakni Dinasti Sri Krisna.

Sri Krisna dan Rama adalah avatara Wisnu yang turun ke Dunia ketika zaman Dvaparayuga. Beliau mempunyai tanda-tanda untuk “dikenal” sebagai avatara, yaitu berupa “siddhi”, yaitu kekuatan adikodrati atau super normal, karena beliau manunggal sepenuhnya dengan Ida Sanghyang Widhi Wasa.

8. Catur marga berjalan bersama-sama, hanya ada yang lebih dominan sesuai dengan kemampuan masing-masing.

Dalam Bhagawadgita, Sri Krisna (avatara Wisnu) bersabda kepada Arjuna sebagai berikut:

…”Arjuna, siapa saja yang bekerja untuk-Ku dan menjadikan Aku sebagai tujuan utamanya, siapa saja yang berbakti kepada-Ku dan tidak terikat, tidak mempunyai rasa benci terhadap mahluk apa pun juga, akan segera mencapai Aku; ia yang mengetahui kelahiran dan karya-Ku yang suci tidak akan lahir lagi sesudah mati; ia melihat Aku di mana-mana, yang kekal diantara yang tidak kekal, yang bersemayam dalam semua mahluk; ia tetap melihat, Akupun tetap melihat dia. Mereka yang selalu menempatkan Aku dalam hatinya dan yang selalu mengabdi kepada-Ku dengan penuh kecintaan, akan Ku-tanggung bebannya dan Ku-beri apa yang mereka butuhkan; mereka senantiasa merasa puas dan gembira bila membicarakan tentang diri-Ku. Berkat rasa kasihku kepada mereka, Aku tingkatkan kemampuan mereka untuk membeda-bedakan, dan dengan sinar pengetahuan Ku-lenyapkan kegelapan serta kebodohan yang menghalangi pandangan mereka… dst”

1 comment to Keyakinan dan Kepercayaan

  • 1
    De'Oka says:

    Om suastiastu
    hal krusial yang perlu diwaspadai adalah pergeseran sumber hukum adat dari agama hindu menjadi kepentingan pribadi atau golongan. sehingga tercapainya tri hita karana akan semakin jauh dari titik idealnya. semoga case dalam artikel ‘sengsara’ ataupun ‘jero jempiring pada bagian ‘sketsa umat cfm stitidharma.org’ semakin diminimalisir di tanah bali. karena hukum adat jadi menderita….

    Om santih santih Santih Om

Leave a Reply

  

  

  

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Subscribe without commenting