Konsekuensi Nikah Nyerod

QUESTION:

  1. Apa saja konsekuensinya bila nikah “nyerod”? Apakah ini dibenarkan secara agama?
  2. Apa benar nantinya bila orang tuanya meninggal, anaknya yang “nyerod” tidak dapat memberikan jalan untuk mereka dan saya dianggap anak tidak berbakti?
  3. Apakah bila menikah sebelumnya harus melakukan acara potong gigi?
  4. Bilamana menikah, kira-kira kapan waktu yang tepat?

ANSWER:

1. Tidak ada masalah dalam agama dan adat, karena hal itu tidak dilarang dalam kitab suci baik lontar maupun weda. Istilah nyerod itu hanya dresta (tradisi/ kebiasaan) yang tidak berdasarkan kitab suci (susastra).

Bahkan sejak tahun 1951 tradisi itu sudah tegas dihilangkan dengan Perda Gubernur Bali (termasuk NTB-NTT ketika itu). Kalau menikah, juga gelar atau titel kebangsawanannya tetap digunakan terus karena itu adalah nama yang diberikan ortu sejak lahir.

2. Tidak benar.

3. Upacara potong gigi/ mepandes/ mesangih, harus dilakukan setiap orang Hindu-Bali, karena tujuannya untuk mohon kepada Sanghyang Widhi/ Bhatara Semara-Ratih agar dibimbing dalam menempuh kehidupan remaja, selanjutnya ke jenjang perkawinan.

Jadi di saat upacara perkawinan, bila belum mepandes, sebaiknya mepandes dahulu, beberapa jam kemudian barulah upacara pawiwahan.

4. Cari hari-hari “kresnapaksa”, yaitu hari-hari dari tilem ke purnama, atau lihat kalender Bali buatan I Made Bija.

21 comments to Konsekuensi Nikah Nyerod

  • 1
    diah says:

    benarkah bila nikah nyerodang nantinya orangtua laki – laki tidak mendapat tirta pemegat dari ida pedande bil orang tuanya meninggal?

    • 1.1
      Bhagawan Dwija says:

      @diah: Mestinya tidak begitu. Kalau begitu namanya dendam. Bukankah Sulinggih seharusnya melayani semua umat Hindu dengan kasih sayang ?

  • 2
    widi says:

    mau bertanya:
    -apakah bila anaknya nikah nyerodang anaknya di anggap durhaka oleh orang tuanya????
    -anaknya juga di asingkan/dibuang oleh keluarganya baik keluarganya sendiri dan keluarga besarnya?
    -kalau ortunya meninggal, si anak yang sudah nikah nyerodang gak boleh menyentuh mayat ortunya?
    -dan tidak bisa lagi sembhyang di merajannya??
    terima kasih…..

    • 2.1
      Bhagawan Dwija says:

      @widi: 1. Tidak 2. Karena mereka belum memahami agama Hindu dengan baik dan juga tidak memahami HAM, disamping masih terbelenggu fanatisme Kasta. 3. Boleh bahkan harus.4. Boleh, sembahyang dimana saja boleh.

  • 3
    wayan artana says:

    Ratu bhagawan yang saya muliakan,

    Saya menanyakan masalah kerancuan kepercayaan yang menurut saya di bali. Karena menurut saya kita harus bakti dengan Ida Sang hyang Widhi sebagai Tuhan yang maha esa,tetapi dalam praktek sehari kita banyak dihadapkan kepada pemujaan yang berlebihan kepada sesuhunan, ratu ayu, ratu gede, betara sane melinggih di masing masing pura ber beda beda, jadi saya merasa terjadi pengurangan atau mengaburan atas bakti kepada Tuhan yang Maha Esa itu sendiri ( Ida Hyang Widhi)sebagai sumber dari segalanya.
    Bukan kah semua sesuhunan, ratu ayu, Ratu gede, Ratu mas Macaling dlll adalah ciptaan Ida Sang Hyang widhi.

    Suksma

    • 3.1

      Om Swastyastu,

      Pertanyaan yang sama sudah sering diajukan oleh pengunjung web kami, dan sudah dijawab pula dengan jelas/panjang-lebar. Untuk itu cari jawabannya di artikel kami : Doa sehari-hari……

      Om Santih, santih, santih, Om

  • 4
    geg ayoe says:

    om swastiastu,
    orang tua ( bapak ) saya sering banget mengalami kegagalan dlam usaha,sering sakit2an…..kata orang2 tua didesa saya,bapak sya durhaka kepada orangtuanya ( nenek ), tapi saya juga pernah menanykan kepada orang pinter ( istilah u balian ),kata beliau ‘ tidak ‘…yang jdi pertanyaan saya; bagaimana caranya saya sebagai anak membantu bapak saya,apakah ada upacara2 tertentu yang harus saya lakukan,suksma banyak tas bantuannya
    pm santi santi santi om

    • 4.1

      Om Swastyastu,

      Cara membantu ortu (ayah) gunakan cara-cara modern, jangan sedikit-sedikit pergi ke balian :
      1. Periksakan ke dokter (general ceck-up) mungkin ada gangguan kesehatan phisik.
      2. Konsultasi ke psychiatric, mungkin ada gangguan mental (mental disorders) dalam menjalani kehidupan atau bisnis.

      Om Santih, santih, santih, Om

  • 5
    sriyanto says:

    Dear Bapak yang terhormat,
    ada hal yang ingin kami ketahui berkenaan dengan perkawinan di Bali.
    ada kisah seperti ini Pak:
    terdapat seorang teman wanita(sebut saja namanya I Gusti) ..dengan kasta Kesatria, suatu hari pulang kerumah dengan di antarkan seorang laki laki berkasta Sudra(Sebut saja namanya Ketut) pulang kerumah si wanita.
    pada saat dirumah si I gusti, si ketut langsung melamar kepada orang tua di Igusti.padahal di sini Igusti tidak mencintai laki2 tersebut dan memang tidak menginginkan menikah dengan laki2 ini
    dengan pertimbangan baru kenal dan tidak mencintai.
    akan tetapi pihak orang tua Igusti memaksa Igusti harus mau menikah dengan laki2 ini yang kastanya Sudra. atau dengan pilihan harus keluar dari rumah.
    akhirnya dengan terpaksa wanita tersebut harus menikah karena Ibunya mengancam akan bunuh diri karena mendapatkan aib.

    mohon informasi, apakah memang demikian Pak, wanita tersebut harus menikah di saat di lamar laki2 yg kastanya lebih rendah yang tidak di cintainya, hanya karena mengantarkan pulang?
    karena wanita tersebut merasa di jebak oleh laki2 tersebut.

    • 5.1

      Om Swastyastu,

      Kisah ini cukup unik di zaman sekarang. Kok begitu mudahnya si wanita “masuk perangkap” ? Mestinya si wanita berpikir lebih cerdik dan bijak apalagi menyangkut masa depannya sendiri. Ancaman si ibu bunuh diri, saya kurang percaya. Orang mau bunuh diri itu mikirnya seribu kali (kalau dia waras). Jangan-jangan hanya gertak sambal saja. Satu lagi, kawin antar kasta kini di Bali sudah tidak masalah.

      Om Santih, santih, santih, Om

  • 6
    i made R Parwata says:

    Om swastiastu
    Ratu singgih pedane, malarapan antuk sarane puniki ( E-mail ) ruplik konsultasi puniki titiang jagi konsultasi, indik merajan sanggah, sane wenten ring pakarangan paibun titiang, inggih punike
    “ ring paibon/merajan keluarga titing wenten kalih sanggah sane kawastayang “ Ibu Pepaten “
    Menurut sejarah ( nenek Moyang ) titiang sane kaceritayang oleh para orang tua titiange mangkin, Wantah duk ipidan wenten leluhur titiang sane kene pancebaya “ Ngematiang jatme “ lan jatme sane kamatiang punike nagih sanggah “ sane kantos mangkin sanggah punike kawastanin Ibu Pepaten “
    Malarapan antuk pamahbanh titiange puniki, titing jagi mateken sareng ratu pedande, indik sanggah punike minekadi :
    1.Napi wenten ring sastra indik sanggah punike ?
    2.mangkin keluarga besar titiang jagi renovasi sanggah paibon punike, tur sanggah Ibu pepaten punike karancanyang jagi kepraline, dados napi nente?
    3.Napi bedane praline tekenin ngewindu ?
    4.sane nicenan titng payut kamargiang ( Merekine dengan nuntuk ke kemulan/ kesanggah Ibu ?
    sadurunge kecawis tiang ngaturan sukseme banget ring singgih pedanda, Om cantih,cantih, cantih Om

  • 7
    agus says:

    Saya punya pengalamanan menarik yang berkaitan dengan kawin nyerod, sorang Anak agung menikah dengan suaminya yang berasal dari soroh yang berbeda, lalu sebelum mereka mempunyai naka, suaminya meninggal, karena tidak ada keluarga suami yang mau bertanggung jawab dengan keneradaan Anak agung janda tersebut akhirnya anak agung pulang kerumah orang tuanya di puri, waktu berjalan, sampai akhirnya anak agung ini meninggal di puri, karena sudah dianggap nyerod, berarti dia sudah lepas dari keluarga besar, tidak ada keluarga besar yang mau bertanggung jawab mengupacarai mayat si anak-agung, pertanyaan saya :
    1. Dimana dia diaben?, apa dipakai sebagai kajangnya?
    2. Setelah acara ngeroras, daksina linggih itu dilinggigkan dimana? karena tidak bisa diterima oleh keluarga besar.
    3. Bagaimana cara mencari jalan keluar untuk hal-hal seperti itu ? karena zaman sudah semakin modern.

    • 7.1

      Om Swastyastu,

      Bagaimanapun perlu ada orang yang sukarela mengurus mayat/roh tersebut. Namun saya masih kurang jelas : “pulang kerumah ortu di Puri” apakah dia cerai/mepamit dari sanggah pamerajan alm suaminya ? Kalau tidak, berarti ia harus diurus oleh keluarga alm suami. Bila ia (mepamit), caranya sbb :
      1. Upacara pitrayadnya seperti biasa
      2. Kajang yang digunakan : kajang sari
      3. Tirta dari kahyangan tiga setempat
      4. Tidak ada upacara ngelinggihang. Jadi setelah nyekah abu sekah ditaburkan di segara, tidak dipendak lagi. Artinya beliau dimohon untuk ngayah pada Ida Bhatara Baruna.

      Om Santih, santih, santih, Om

  • 8
    w.nila says:

    Om Suastiastu,
    Hari gini ada wacana nikah nyerod. Emangnya, satu keluarga ada yang lebih rendah dari keluarga lain. Sehingga kalau nikah jadi lebih tinggi atau lebih rendah.Enak sekali dengan nikah aja jadi lebih tinggi dari keluarga lain. menurut saya sih perempuannya gak perlu ganti nama jadi “jero” atau jero mekel. Atapun menghilangkan nama Ida Ayu, atau Cok istri dsb. dan keluarga lain harus mengerti situasi sejarah Tetap aja dipakai nama pemeberian ortu masing masing.Ampura Ida Sri Bagawan, tiang nyerocos, Mohon koreksi Ida.

    • 8.1

      Om Swastyastu,

      “Nyerod” artinya tergelincir lalu jatuh. Kalau berbuat dosa baru bisa dikatakan nyerod yakni jatuh kelembah hina. Kalau kawin, ya tentu tidak nyerod karena kedua pihak berbahagia, senang. Perkawinan atau pawiwahan, dalam Manawa Dharmasastra disebut sebagai “dharma sampati” Dharma = perbuatan baik/mulia
      sampa = bersama-sama; ti = orang/manusia. Jadi dharma sampati artinya dua orang yang bersama-sama berbuat dharma. Disebut berbuat dharma karena melalui perkawinan mereka bisa meneruskan keturunan atau dengan kata lain memberikan kesempatan/peluang bagi roh leluhur purusha untuk punarbhawa/purnabhawa (re-inkarnasi).
      Nah dari rumusan itu, dimanakah ada peluang kata “nyerod” tadi ? Sekali lagi apa yang sering saya katakan, kini terbukti lagi kebenarannya, yakni : “Orang yang fanatik (sigug) biasanya orang yang pengetahuannya kurang, dan tentu saja ia belum tercerahkan oleh sinar suci Weda. Makanya banyak belajar, membaca, mendengar, sembahyang.

      Om Santih, santih, santih, Om

  • 9
    dexs says:

    BHAGAWAN. SAYA MAU BERTANYA, Saya punya pengalamanan, saya menikah dengan IDA AYU tapi saya anak sudra sehingga istrinya nyerod ke Sudra.saya mau menanyakan
    1. apakah ada halangan dalam kehidupannya baik secara ekonomi maupun kelangsungan hidup secara sekala niskala?

    alasan saya menanyakan ini banyak saya dengar dari masyarakat kalau menikahi orang yang lebih tinggi kastanya akan banyak halangan istilah PANES. MOHON PENJELASANYA TERIMAKASIH

    • 9.1

      Om Swastyastu,

      1. Jangan memakai kata Sudra dan Triwangsa, itu tidak baik
      2. Tidak ada halangan apa-apa bila anda menikah dengan Ida Ayu bila benar-benar atas dasar cinta, pengertian, kepercayan, harga-menghargai, rajin bekerja, hemat menabung, dll.

      Kalau anda penjudi/pemabuk, penganggur/malas, baru perkawinan anda jadi “panes”

      Om Santih, santih, santih, Om

  • 10
    ayu says:

    Om Swastyastu,
    Sebuah aturan adat dari jaman feodal yang sudah tidak relepan lagi dijaman modern seperti sekarang ini. Alangkah bijaknya jika para sepuh Tri Wangsa mau mengamandemen aturan-aturan adat yang justru sangat merugikan keluarga kedua belah pihak, bahkan memberikan peluang besar untuk beralihnya keyakinan umat Hindu Bali kelain hati. Kalau kita perhatikan sekarang ini banyak perempuan dari golongan Tri wangsa yang menderita karena kesulitan mencari pasangan hidup yang berasal dari wangsa sama karena jumlah perempuan dan laki-laki tidak seimbang, dan ujung-ujungnya menikah dengan umat lain dan mengikuti keyakinan suaminya. Hal seperti ini dilakukan untuk melepaskan diri dari keterikatan aturan adat yang tidak “fare”. Aturan adat yang seperti ini sangat berbahaya bagi keutuhan umat Hindu Bali.
    Om Santih Santih Santih Om

    • 10.1

      Om Swastyastu,

      Jangan mempersempit wawasan anda. Anda bebas berbuat apa saja yang baik asal tidak melanggar norma-norma : agama, hukum, susila, dll Kalau sumpek tinggal di Desa, ya pergi cari kerjaan di kota besar, Denpasar, Surabaya, Jakarta, dll. Cari lingkungan masyarakat yang baik-baik dan berpikir moderat.

      Om Santih, santih, santih, Om

Leave a Reply

  

  

  

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Subscribe without commenting