Mantra, Tantra, dan Yantra

QUESTION:

Saya sering mendengar kata-kata: mantra, tantra, dan yantra dalam penyelenggaraan upacara yang dipimpin oleh Sulinggih. Apakah artinya masing-masing dan apa bedanya?

ANSWER:

Mantra adalah catur Weda yaitu: Rg Weda, Yayur Weda, Sama Weda, dan Atharwa Weda.

Yantra adalah bentuk “niyasa” (= simbol = pengganti yang sebenarnya) yang diwujudkan oleh manusia untuk mengkonsentrasikan baktinya ke hadapan Ida Sanghyang Widhi Wasa, misalnya dalam perpaduan warna, kembang, banten, gambar, arca, dan lain-lain.

Tantra adalah konsep pemujaan Ida Sanghyang Widhi Wasa di mana manusia kagum pada sifat-sifat kemahakuasaan-Nya, sehingga ada keinginan untuk mendapatkan sedikit kesaktian.

Kaitan antara Mantra, Yantra dan Tantra dapat dilihat pada upacara Yadnya yang dipuput oleh Sang Wiku: ketika itu beliau memantra dengan mengucapkan kutipan-kutipan Weda, dengan sarana banten (Yantra), dan berkonsentrasi “ngelinggihang” Ida Bethara Siwa di ubun-ubun beliau (Tantra).

6 comments to Mantra, Tantra, dan Yantra

  • 1
    krishna says:

    maaf admin mw nx,ada g mantra untuk memikat wanita,??klo ada apa mantranya

    • 1.1

      Tidak ada, karena Tuhan mengajarkan kepada umatnya (kita yang beragama Hindu-Bali) untuk selalu berbuat baik (kayika, wacika, manacika – parisudha) Kalau anda berkelakuan baik, pasti akan menemukan wanita/gadis yang baik pula. Tetapi kalau anda mencari pasangan dengan cara-cara black-magic, yang akan ditemui pasangan yang tidak tepat, pembawa malapetaka dikemudian hari.

  • 2
    krishna says:

    maaf bhagawan,apa bedax bhawan,sanyasi dan pedanda,,?maaf sy lancang.

    • 2.1

      Pedanda, Bhagawan, Rsi Agung, Mpu, Rsi Bujangga, Dukuh, dll adalah gelar-gelar bagi pendeta Hindu-Bali (Sulinggih). Beliau adalah seseorang yang dikatakan Sang Dwijati, artinya “yang lahir kedua-kali” yakni lahir pertama sebagai anak (walaka) dari rahim Ibu, sedangkan kelahiran kedua, adalah setelah melakukan upacara Diksa, diyakini lahir dari “Ibu” Weda atas tuntunan seorang guru (Nabe) yang berwenang.
      Sanyasin juga gelar bagi penekun spiritual. Istilah ini banyak digunakan di India. Di Bali gelar ini tidak digunakan.

  • 3
    mN says:

    oM swastyastu tiang mau nayak ttg yantra atau simbol2 yang digunakan dalam upacara persembahyangan,bagi tiang dan beberapa org yang mungkin kurang mampu akan merasa berat kalau sembahyang dan upacara2 tertentu menggunakan banten ini itu,apa boleh dalam upacara tidak menggunakan banten2 itu.suksme

    • 3.1

      Om Swastyastu,

      Tiga kerangka Agama Hindu (Bali) adalah : tattwa (filsafat), susila (etika), dan upacara (ritual). Ketiganya tak dapat dipisahkan, bagaikan sebuah telur. Tattwa ibarat kuning telur yakni inti agama, Susila ibarat putih telur yakni prilaku/etika yang berdasarkan tattwa, dan Upacara ibarat kulit telur yakni ritual yang menghasilkan hubungan sakral atman dan brahman dalam memuja-Nya. Jadi sebenarnya upacara adalah unsur pengikat tiga kerangka itu.

      Dalam upacara ada upakara. Upakara adalah sesajen atau di Bali disebut “Banten”. Tidak ada agama-agama apapun di dunia ini yang tidak menggunakan sesajen, bagaimanapun bentuknya. Karena sesajen adalah : niyasa (simbul), wujud bhakti, dan persembahan. Upakara diperlukan karena manusia ingin mentransfer keyakinan niskala ke alam skala.

      Kesimpulannya, dalam upacara tidak mungkin tidak menggunakan banten. Memang sulit, susah, repot. Tapi kalau itu bisa diatasi akan timbul rasa lega dan dekat kepada-Nya. Lagi pula kesulitan adalah tantangan hidup. Maukah anda menyerah pada tantangan itu ? Umumnya manusia mempunyai naluri untuk mengatasi segala tantangan. Majulah, jangan berputus asa. Bisa dipelajari. Bahkan tidak lebih sulit dari mempelajari suatu iptek.

      Om Santih, santih, santih, Om

Leave a Reply

  

  

  

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>