Mantram Pangeramped

QUESTION:

  1. Apakah ada yang disebut mantram pangeramped untuk digunakan ngaturang canang pengrawos pada saat upacara perkawinan.
  2. Mohon penjelasan tentang pengertian destar, ada yang bentuknya biasa ada yang mebongkos nangka.
  3. Pada saat Tumpek Wayang melaksanakan peselatan dengan duri pandan; apa maksudnya.
  4. Tentang upacara magedong-gedongan di Desa kami tidak lumrah, namun ada pelaksanaan nunas pelukatan jika kandungan sudah berumur 6 bulan; dimulai dari mandi di laut, mandi ke sungai suda mala (banyu mala) akhirnya melukat ke Sanggah, Kawitan, Pura. Pertanyaannya: apakah hal tersebut dapat disamakan dengan upacara magedong-gedongan.
  5. Ada yang nganyut ari-ari ke segara, dengan kepercayaan supaya iklas merantau. Pertanyaannya: apakah hal itu dapat dibenarkan.
  6. Pelangkiran menurut pengamatan tiang berawal dari punya bayi; namun sekarang sudah berkembang penggunaannya. Pertanyaan: siapakah yang dipuja di pelangkiran itu.
  7. Perlengkapan mebajang colong di desa kami: ada papah, reregek, pusuh, ayam. Apa maknanya.
  8. Saya punya anak 3 orang; semuanya tidak ada yang dibuatkan acara ulang tahun, namun pada saat otonan (hari lahir) tiang buatkan upacara kecil, nunas tirta; apakah benar sikap tiang begitu (tidak setuju dengan acara berulang tahun).
  9. Jika sudah nyegara gunung dilaksanakan, dikatakan sudah cukup, tidak perlu meajar-ajar lagi; mohon penjelasan

ANSWER:

1. Mantram “pengramped” (pengramped = gabungan/ gebogan) adalah puja yang dapat digunakan untuk nganteb banten secara umum di berbagai upacara, yaitu mantram Tribwana.

Canang Pengrawos adalah banten yang dihaturkan kepada Bhagawan Penyarikan (manifestasi Hyang Widhi) yang dimohon kehadirannya untuk menyaksikan serta merestui acara rapat/ pertemuan yang diadakan agar terlaksana dengan baik.

2. Destar bongkos nangka warna putih digunakan oleh sang Ekajati (kecuali Jero Gede) yang sudah mewinten dengan ayaban catur, sebagai simbol sudah membulatkan pikiran sebagai orang suci.

Di samping itu agar rontokan rambut tidak membuat banten leteh; destar bongkos nangka selain putih boleh digunakan oleh siapa saja. Destar biasa digunakan oleh masyarakat umum.

3. Untuk menolak bahaya (bhaya) atau merana; selain itu digunakan juga saat Penyepian, Galungan, atau bila ada wabah penyakit; penggunaan duri pandan disertai dengan tapak dara dari apuh (kapur sirih).

Mengenai penggunaannya pada hari Wuku Wayang dikaitkan dengan mitologi Bethara Kala yang sedang berkeliaran mencari Sanghyang Rare Kumara; agar tidak sampai beliau mengobrak abrik rumah, maka kita memasang duri pandan serta tapak dara di pintu gerbang rumah.

4. Upacara megedong-gedongan dilakukan saat kandungan berusia 6 bulan kalender karena jasmani bayi sudah lengkap; tujuannya adalah mohon keselamatan dan membersihkan jiwa raga si bayi agar tumbuh dan lahir dengan sempurna.

Susunan upacara: mebeakala, melukat (boleh ke laut, kelebutan, toya sudamala, atau di rumah saja), meprayascita, natab banten pegedong-gedongan: pengulapan/ pengambean, sesayut pamahayu tuwuh, penyeneng, peras, dan pegedongan matah.

Pantangan bagi si Ibu: wak capala (memukul/ menyiksa), wak purusa (bersenggama), tidak menyentuh mayat, tidak nyuwun tirta pengentas. Pantangan bagi Ayah: menghina orang/ mahluk lain, dan ngeret indrya. Kewajiban Ayah: membuat Ibu tenang/ tentram.

5. Ari-ari boleh di: tanam, anyut ke sungai, anyut ke segara.

Bila dianyut ke sungai atau segara, nanti di saat upacara tiga bulanan, harus mebajang colong di sungai atau di segara, atau di pekarangan, tetapi terlebih dahulu ngulapin “Nyama Bajang” dari sungai atau segara.

Bila tempat menanam ari-ari berbeda dengan tempat upacara bajang colong, maka tanah tempat menanam ari-ari dijumput lalu dibawa ke tempat upacara bajang colong.

6. Tergantung dari tujuannya.

Bila pelangkiran diadakan setelah upacara tiga bulanan, yang dipuja adalah Sanghyang Rare Kumara; bila diadakan setelah upacara perkawinan yang dipuja adalah Sanghyang Semara Ratih; bila diadakan di tempat berjualan, yang dipuja adalah Bethari Rambut Sedana; bila diadakan di tempat pemujaan Pandita/ Pemangku yang dipuja adalah Dewi Saraswati, dan seterusnya.

7. Simbol-simbol yang digunakan pada upacara Bajang Colong:

  • Papah bolong = Ari-ari
  • Mentimun = Lamas
  • Pusuh = Getih
  • Batu bulitan merajah Ang-Ah = Yeh Nyom
  • Ayam pesolsolan = Atma si Bayi
  • Reregek = Nyama Bajang (108)
  • Pane/ paso = Bumi
  • Air dalam pane/ paso = Akasa
  • Lesung batu = Kekuatan
  • Tangga tebu mepalit carang dapdap 3 buah: Sanghyang Semara-Ratih (tebu) dan Sanghyang Tri Sakti (tiga carang dapdap: Utpti-Stiti-Pralina) dipasang menghubungkan tanah, lesung batu, dan pane/ paso.

Maknanya adalah pada upacara Bajang Colong kita berterima kasih kepada kekuatan Ida Sanghyang Widhi Wasa karena telah menjaga/ memelihara bayi sejak pertemuan kama petak dengan kama bang. Kekuatan itu berupa Nyama Bajang yang jumlahnya 108 bernama antara lain: Bajang Dodot, Bajang Dedari, Bajang Bukal, dll.

Saat bayi lahir tugas Nyama Bajang berakhir. Lain halnya dengan Kanda Pat yang berupa: Ari-ari, Lamas, Getih, dan Yeh Nyom, beliau menjaga bayi sejak di kandungan sampai lahir seterusnya bahkan sampai Sanghyang Atma bersatu dengan Brahman.

Setelah Nyama Bajang diberi upah-upahan, beliau diminta kembali ke tempat asalnya. Sebelum bayi dimandikan dan megogo-gogowan di pane, terlebih dahulu menaiki tangga tebu sebagai simbolis memohon kekuatan Sanghyang Tri Sakti dan perlindungan Sanghyang Semara-Ratih (karena bayi lahir akibat dari hubungan alaki-rabi).

Waktu naik tangga itu melewati lesung batu sebagai simbol mohon agar si bayi kuat seperti Sri Kresna (mitologi Sri Kresna). Setelah itu barulah bayi dikenalkan dengan alam bhuwana agung, yaitu bumi (disimbolkan pane) dan akasa (disimbolkan air)

8. Benar, karena upacara otonan/ odalan bagi warga Hindu penting berdasarkan sastra Agama sedangkan perayaan Hari Ulang Tahun diadakan menurut penanggalan kalender Kristen/ Katolik.

9. Upacara nyegara gunung sama dengan me-ajar-ajar. Inti upacara ini adalah mepiuning kepada para Dewa yang ada di segara dan yang berstana di gunung bahwa upacara Pengabenan dan Nyekah sudah diselenggarakan serta mohon kehadapan Ida Sanghyang Widhi agar arwah leluhur (Sang Pitara) diterima/ bersatu dengan-Nya.

4 comments to Mantram Pangeramped

  • 1
    adi says:

    swastyastu..
    mhn dapat dijelaskan pengastawa yng bisa dipakai pada upacara
    megedong gedongan untuk melukat,natab banten pegedongan..
    suksma..

    • 1.1
      Bhagawan Dwija says:

      @adi: Sama seperti nganteb banten beakala untuk upaca magedong-gedongan, sedangkan untuk natab banten di bale, tergantung dari banten yang ada, misalnya suci, prayascita, pengulapan, pengambean, sambutan lebeng-matah, dll.

  • 2
    luh ayuni says:

    om svastyastu
    . Mantram “pengramped” (pengramped = gabungan/ gebogan) adalah puja yang dapat digunakan untuk nganteb banten secara umum di berbagai upacara, yaitu mantram Tribwana.

    napi madan mantram tribuana????
    suksma

  • 3

    Om Swastyastu,

    Mantram Tribuwana (Tribuwana stawa)
    ————————————————————–
    Om Siwa nirmala twam guyah
    Siwa tatwa para yanah
    Siwasya pranato nityam
    Candisaya namo stute

    Om Siwa niwedya carum dadami
    Amertamakam graham swaha
    Graham boktir laksanaya
    Om namo namah swaha

    Om jayartijayam awapnuyat
    Yasarti yasam apanuti
    Sidi sakalam awapnuyat
    Parama Siwa labati

    Om namo Siwaya swaha
    —————————————————————
    Om Santih, santih, santih, Om

Leave a Reply

  

  

  

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Subscribe without commenting