Ada pertanyaan dari teman-teman tentang Manawa Dharmasastra atau Manu Dharmasastra. Saya kutipkan kalimat dari Buku Parasara Dharmasastra (wedasmerti untuk kaliyuga) oleh Wayan Maswinara, penerbit Paramita 1999, pada halaman 2 – 3.
Menurut ajaran Hindu, masa atau jaman ini dibagi menjadi 4 yuga atau siklus, dan setiap samhita diperuntukkan bagi setiap yuga.
Parasara memandang bahwa Manu Samhita (Manawa Dharmasastra) sesuai bagi Satya-Yuga; Goutama Samhita bagi Treta-Yuga, Sangka dan Likhita sesuai bagi Dvapara-yuga, sedangkan Samhitanya Parasara sendiri diperuntukkan bagi Kali-Yuga, namun pembagian ini tak pernah diselidiki secara sungguh-sungguh.
Secara jujur Strange (ahli hukum Hindu) menyatakan:
“Kenyataannya hanya dengan Parasara Smrti saja yang dipakai sebagai dharmasastra bagi jaman sekarang, masih belum mencukupi kebutuhan, karena seperti vyavahara-kanda (bagian hukum adat) secara keseluruhan kurang mendalam sehingga suatu ulasan terbuka tentang smrti ini yang berkaitan tentang masalah tersebut tidak secara eksklusif didasarkan pada samhita-nya Parasara, di luar kutipan sloka dan acara, atau kanda pertama, yang cuma bermaksud bahwa pada jaman ini putra-putra bumi diperintahkan untuk mematuhi ketentuan-ketentuan dari peradilan.”
Kesimpulan saya:
1. Manu, Goutama, Sangka, Likita, dan Parasara semuanya berlaku di jaman sekarang, karena smrti-smrti itu saling melengkapi/ menyempurnakan. Dengan kata lain, tidak berarti di jaman Kali, lalu Manu smrti tak digunakan lagi.
2. Untuk ini, pembuktiannya dapat dilihat dari aturan-aturan tentang perkawinan di Manu Smrti, beberapa masih tetap digunakan, karena di smrti lain tidak ada.
3. Namun demikian ‘kebijaksanan’ manusia sesuai dengan desa – kala – patra – lah yang menentukan, pasal-pasal mana yang masih relevan, dan mana yang tidak bisa digunakan lagi.
4. Untuk hal nomor 3 di atas, pedoman kita dalam mencari kebenaran adalah:
- Sruti
- Smrti
- Sadacara
- Atmanastusti
Dalam masalah “Parisada” hanya diatur dalam Manu Smrti (Manawa Dharmasastra) saja, tidak ada di tempat lain.
Bila sekarang kita berani-berani mengabaikan MD XII sloka 110 – 114, tentu berpulang pada “karma-phala” kita sendiri, entah akan berakibat baik atau buruk, semuanya nanti akan dipertanggung jawabkan kepada Sanghyang Widhi di sunia loka.

Recent Comments