“Nama” manusia:
- Atmaja, karena merupakan penjelmaan (ja) dari atma (roh).
- Anuja (lihat penjelasan manusia – no. 5), yakni anu (percikan – atom Brahman) yang menjelma (ja)
- Janma, karena terjadi dari proses penjelmaan(ja).
- Purusa, karena roh manusia berasal dari purusa (unsur dasar yang bersifat kejiwaan).
- Manusia, dari kata anu yang artinya: atom, yakni percikan kecil dari Brahman.
- Manusia, dari manu-shya (mahluk-pikiran): mahluk yang mempunyai pikiran.
Awal penciptaan (Utpatti):
Tuhan (Sanghyang Widhi/Sanghyang Acintya) yang semula adalah Nirguna Brahma (Parama Siwa) yang tidak berbentuk, tidak beraktivitas, kosong, menjadikan diri-Nya Saguna Brahma (Sada Siwa) yang berwujud, beraktivitas, dan terisi.
Sada Siwa terdiri dari dua unsur kemahakuasaan: Purusa dan Prakrti. Purusa adalah unsur kemahakuasaan dalam kejiwaan dan Prakrti adalah unsur kemahakuasaan dalam kebendaan.
Prakrti mulanya menciptakan Bhuwana Agung (alam semesta) yang terdiri dari Panca Mahabhuta: pertiwi, apah, bayu, teja, dan akasa.
Tahap berikutnya Prakrti membentuk pula tubuh manusia dari unsur-unsur Panca Mahabhuta di Bhuwana Agung itu:
- Dari pertiwi (tanah), terbentuk tulang dan daging (bagian yang keras dari tubuh manusia).
- Dari apah (air), terbentuk: darah, air kencing, air keringat, lemak, lendir, ludah, (bagian yang cair dari tubuh manusia).
- Dari bayu (angin), terbentuk udara dalam tubuh manusia di paru-paru, rongga perut, oksigin dalam darah, (bagian yang berangin/udara dalam tubuh manusia).
- Dari teja (matahari), terbentuk suhu badan yang hangat, dan sinar mata yang cemerlang (bagian yang panas dalam tubuh manusia).
- Dari akasa (angkasa), terbentuk urat syaraf, rambut, kuku, dan 9 lobang dalam tubuh manusia (bagian-bagian yang sensitif).
Oleh karena itu tubuh manusia disebut Bhuwana Alit atau Sthula Sarira.
Purusa di Bhuwana Agung (alam semesta) tetap bersemayam sebagai Sada Siwa, mengatur peredaran bumi, bulan, bintang, pergerakan angin, perputaran arus laut, pengaturan musim, dll.
Purusa di Bhuwana Alit (tubuh manusia) menjadi Jiwatma atau Suksma Sarira, atau Lingga Sarira, atau Tri Antah Karana yang terdiri dari:
- Buddhi, yang berfungsi menentukan keputusan.
- Manas, yang berfungsi berpikir.
- Ahamkara, yang berfungsi sebagai perasa dan bertindak.
Salah satu unsur Tri Antah Karana yakni Ahamkara, mendapat sinyal dari Panca Buddhindriya (lima syaraf penangkap) yang ada di sthula sarira yakni:
- Caksuindriya (penglihatan)
- Srotendriya (pendengaran)
- Ghranendriya (penciuman)
- Jihwendriya (rasa lidah)
- Twakindriya (rasa kulit/kelamin)
Ahamkara meneruskan sinyal yang ditangkap oleh Panca Buddhindriya kepada unsur kedua dari Tri Antah Karana, yaitu: Manas. Manas berfungsi mempertimbangkan serta menyampaikan beberapa alternatif keputusan kepada unsur Tri Antah Karana yang ketiga yakni Buddhi.
Setelah Buddhi memutuskan, keputusan itu dikembalikan ke Ahamkara untuk dilaksanakan oleh Panca Karmendriya (lima pelaku):
- Panindriya (tangan)
- Padendriya (kaki)
- Garbhendriya (perut atau bagian tubuh yang lain)
- Upasthendriya (kelamin lelaki) atau Bhagendriya (kelamin perempuan)
- Paywindriya (anus)
Kehidupan (Sthiti):
Prilaku manusia, tergantung dari proses yang terjadi pada Tri Antah Karana. Proses ini, terutama pada Manas dan Buddhi dipengaruhi oleh Triguna yakni: Guna Satwam (ketenangan, kedamaian), Guna Rajas (ambisi, kegiatan, dinamika), dan Guna Tamas (kemalasan, ketidak pedulian).
Triguna berasal dari pembawaan roh ketika menjelma, dan dari pengaruh lingkungan hidup. Kombinasi Triguna membentuk Sampad (sifat). Sampad dikenal ada dua jenis, yaitu Daiwi Sampad yakni sifat-sifat kedewataan, dan Asuri Sampad yakni sifat-sifat keraksasaan.
Manusia bisa berprilaku dharma kalau Manas dan Buddhi mendapat pengaruh positif dari Daiwi Sampad; sebaliknya bila Manas dan Buddhi mendapat pengaruh negatif dari Asuri Sampad, terjadilah prilaku yang adharma.
Sinyal-sinyal dari Panca Buddhindriya yang masuk pada Tri Antah Karana, membentuk “selubung Suksma Sarira” yang disebut Panca Tan Matra (lima unsur yang tidak terlihat) terdiri dari:
- Rupa tan matra (dari caksuindriya atau penglihatan)
- Sabda tan matra (dari strotendriya atau pendengaran)
- Ganda tan matra (dari grhanendriya atau penciuman)
- Rasa tan matra (dari jihwendriya atau lidah)
- Sparsa tan matra (dari twakindriya atau kulit/kelamin)
Panca Tan Matra dan prilaku dari Ahamkara membekas dan membelenggu Suksma Sarira sebagai Karma Wasana yang mengandung Panca Kosa yaitu:
- Annamaya kosa: bersumber dari sari-sari makanan
- Pranamaya kosa: bersumber dari pernafasan
- Manomaya kosa: bersumber dari olah pikiran
- Wijnanamaya kosa: bersumber dari pendalaman pengetahuan
- Anandamaya kosa: bersumber dari kebahagiaan hidup
Kematian (Pralina):
Disaat kematian Suksma Sarira masih terbelenggu oleh: 1. Panca Mahabhuta, 2. Panca Tan Matra, dan 3. Panca Kosa atau Karma Wasana, sehingga Jiwatman (Purusa) tidak dapat bersatu kembali kepada asalnya yaitu Sada Siwa.
Upacara Pitra Yadnya terdiri dari tiga tahapan yaitu:
- Ngaben, bertujuan untuk mengembalikan Panca Mahabhuta dari Bhuwana Alit ke Bhuwana Agung (menghilangkan belenggu Panca Mahabhuta)
- Nyekah, bertujuan untuk melepaskan belenggu Panca Tan Matra dari Suksma Sarira
- Mepaingkup, adalah proses menstanakan Jiwatman di Sanggah Pamerajan
Panca Kosa atau Karma Wasana, tidak dapat dilepaskan dari Jiwatman dengan upacara pitrayadnya. Nilai Karma Wasana inilah yang menentukan apakah Jiwatman dapat bersatu kembali dengan Brahman, proses mana disebut Moksah, yakni bilamana karmawasana baik, atau Jiwatman harus Punarbhawa (menjelma kembali) sebagai manusia atau mahluk yang derajatnya lebih rendah bila karmawasana tidak baik.
Kaitan Karmaphala dengan Karmawasana:
Karmaphala adalah hasil dari perbuatan; ada tiga jenis yaitu:
- Prarabda Karmaphala: perbuatan yang dilakukan semasa hidup dimana hasilnya diterima/dirasakan di masa kehidupan itu pula.
- Kryamana karmaphala: perbuatan yang dilakukan semasa hidup tetapi hasilnya diterima setelah meninggal dunia di sunia-loka.
- Sancita karmaphala: perbuatan yang dilakukan semasa hidup dan hasilnya diterima/dirasakan pada kehidupan berikutnya setelah kematian dan punarbhawa.
Prarabda karmaphala langsung berpengaruh pada Sthula Sarira dan Tri Antah Karana di saat manusia hidup. Kryamana karmaphala melekat pada Karmawasana dan Sancita karmaphala berpengaruh pada Sthula Sarira dan Tri Antah Karana pada kehidupan berikutnya setelah punarbhawa.
Demikianlah proses Trikona: Utpatti – Sthiti – Pralina berlangsung dan berulang terus, sampai tiba masanya atman aworing acintya (moksah)
Pencerahan:
Pemahaman tentang “Manusia” seperti diuraikan di atas berguna bagi kita dalam dua segi. Segi yang pertama, mengenal diri sendiri dengan kesadaran tinggi untuk menjawab tiga pertanyaan:
- Dari manakah saya atau siapakah saya?
- Apa yang patut saya lakukan dalam kehidupan?
- Ke manakah nanti akhir perjalanan hidup saya?
Segi yang kedua, mengenal orang lain di sekitar kita. Sebagai mahluk sosial kita tidak dapat menghindar dari interaksi antar manusia dalam berbagai kegiatan dan profesi dengan motifasi di bidang: sosial, ekonomi, politik, pendidikan, budaya, dan lain-lain.
Berbekal pemahaman tentang “Manusia” seperti diuraikan diatas, kita dapat mengatur strategi komunikasi yang efektif dalam upaya memenangkan persaingan atau mencapai tujuan yang kita inginkan dalam personel manajemen.
Selain itu kita dapat menilai seseorang secara objektif dan memahami prilakunya sehingga dapat beradaptasi dengan baik dalam suatu lingkungan atau komunitas tanpa meninggalkan kepribadian sendiri.
Pada hakekatnya dunia (madyapada) ini bagaikan sebuah mesin cuci pakaian. Atman yang “kotor” karena Karmawasana yang buruk, perlu “dicuci” dengan prilaku yang dharma dalam kehidupan sehari-hari, agar bersih/suci sehingga diharapkan pada saatnya Jiwatman dapat mencapai Moksah.
Bagaimana cara berprilaku dharma?
Melaksanakan ajaran-ajaran agama dengan benar dan disiplin tinggi, agar Manah dan Buddhi dikuasai oleh Daiwi Sampad.
Om A no bhadrah krattavo yantu visvatah

Om Swastiastu
Penulis yang saya hormati
Di atas dijelaskan tentang Tri Purusa, Parama Siwa,Sada Siwa..tapi belumdi jelaskan posisi Siwa sendiri sebagai tri purusa ke3.di mana posisi Siwa itu sendiri? kalau dirunut menurut tulisan diatas..
Parama Siwa = NirGuna Brahman
Sada Siwa = Purusa di Bhuwana Agung (alam semesta) /Saguna Brahman
apakah Siwa = Jiwatman? Sang Diri?
bila dimungkinkan, saya berharap jawabannya bisa dikirim via email :) di myheavensent[at]gmail.com
Trima Kasih
Om Canti Canti Canti Om