Memahami dan Meyakini Hindu

QUESTION:

Saya telah melakukan upacara pawiwahan. Kebetulan istri saya sebelumnya bukan beragama Hindu. Sebagai seorang kepala rumah tangga, saya berkewajiban membimbing istri saya untuk memahami dan meyakini agama Hindu.

Yang pertama yang bisa saya ajarkan kepada istri saya adalah tentang tata cara beribadah menurut agama Hindu. Saya sangat dibantu dengan artikel tentang Doa Sehari-hari menurut Hindu dari Ida Nabe.

Menurut pendapat saya, pedoman tata cara beribadah menurut Hindu ini sudah sangat mencukupi bagi saya untuk membimbing istri saya. Tapi ada beberapa hal yang masih menjadi pertanyaan bagi saya:

1. Sebelum melakukan persembahyangan kita harus membersihkan diri kita dahulu, membasuh muka, membersihkan kaki, gosok gigi, dsb.

Pada tuntunan yang Ida Nabe tulis, semua aktifitas itu ada mantranya. Pertanyaan saya: semua aktivitas membersihkan diri itu umumnya dilakukan di kamar mandi, apakah mantra dari masing-masing aktivitas tersebut juga kita ucapkan di kamar mandi?

2. Pada saat melakukan panca sembah, sembah ke-2 sampai dengan ke-4 menggunakan sarana bunga dan kwangen. Kebetulan saat ini saya bekerja di luar bali, dan belum punya rumah sendiri (kos).

Pertanyaan saya: karena tidak tersedianya sarana bunga, apakah sembah ke-2 sampai ke-4 boleh saya lakukan tanpa harus menggunakan bunga?

3. Selesai melakukan panca sembah, diteruskan dengan me-tirta. Dalam tuntunan yang Ida Nabe tulis, saya belum menemukan doa atau mantra yang diucapkan untuk me-tirta.

Permohonan saya: mohon kemurahan hati Ida Nabe untuk menambahkan doa me-tirta.

4. Dilanjutkan dengan me-bija. Dalam tuntunan yang Ida Nabe tulis, saya belum menemukan doa atau mantra yang diucapkan untuk me-bija. Tapi saya temukan artikel yang Ida Nabe tulis tentang MEBIJA DAN MUSPA.

Pertanyaan saya: apakah makna dan tujuan dari me-bija ini? apakah arti dari penempatan bija (ubun-ubun, sela-sela alis, pangkal tenggorokan, bahu kanan, bahu kiri, belakang leher, belakang telinga kanan dan kiri)?

5. Biasanya aktivitas terakhir yang saya lakukan adalah melakukan japamala, dengan melantunkan gayatri atau puja siwa (Om Namah Siwaya).

Dalam tulisan Ida Nabe tentang JAPAMALA, disebutkan, pada saat melakukan japamala mantra yang dilantunkan adalah gayatri, tryambhakam, dan catur dasa siwa (bagi Sulinggih Siwa).

Permohonan saya: kiranya Ida Nabe berkenan memberikan dan menjelaskan mantra tryambhakam dan catur dasa siwa

6. Apakah urutan ritual sembahyang yang saya lakukan (tri sandya, panca sembah, me-tirta, me-bija, japamala) di atas sudah benar?

7. Apakah tata cara sembahyang dituliskan secara eksplisit di dalam weda/ catur weda?

8. Bagaimana dengan waktu yang tepat untuk melakukan sembahyang? apakah ini juga dituliskan secara eksplisit dalam weda/ catur weda?

9. Apakah mantram tri sandya (6 bait), panca sembah, me-tirta, me-bija, japamala ada di dalam weda/ catur weda?

Mohon pencerahan dari Ida Nabe.

ANSWER:

1. Benar, diucapkan di mana kegiatan itu dilakukan

2. Bunga harus digunakan, karena bunga lambang Siwa, sedangkan Siwa dalam agama Hindu-Bali adalah Tuhan. Demikian pula penggunaan dupa (Brahma) dan air (Wisnu)

3. Doa me-tirta:

  1. OM BRAHMA, WISNU, ISHWARA YA NAMAH (meketis 3x)
  2. OM SIWA AMERTHAYA NAMAH, OM ANG-UNG-MANG, GANGGA AMERTA SIWAYA NAMAH (meraup 3x)
  3. OM AWIGNAMASTU NAMO SIDHAM (meketis lagi di ubun-ubun)

4. Arti penempatan bija:

  1. Di ubun-ubun: untuk menguatkan atma
  2. Di dahi/ sela-sela alis: untuk memuja Siwa (trinetra)
  3. Di pangkal tenggorokan: untuk menguatkan kundalini (tujuh cakra di dalam tubuh)
  4. Di pangkal leher belakang: untuk menolak bhaya
  5. Di daun telinga bawah kiri-kanan: untuk mengendalikan panca indriya

5. Catur Dasa Siwa hanya untuk Sulinggih, maaf. Mantra Trayambhakam:

OM TRAYAMBHAKAM YAJAMAHE
SUGANDHIM PUSHTI WARDANAM
URVARUKA MIWA BHANDANAT
MRTIYOR MUKSHEYA MAAMRITAAT

6. Berjapa lebih baik di awal. Note: berjapa = kata kerja, Japamala = benda yang digunakan berjapa (tasbih)

7. Tidak

8. Tidak karena Hindu-Bali bukan agama doktrin, tetapi sanatana dharma

9. Tidak

12 comments to Memahami dan Meyakini Hindu

  • 1
    dewa says:

    setelah melihat dan membaca item no.5 disana dijelaskan bahwa mantram tersebut hanya untuk sulinggih. sebagai orang awam saya ingin bertanya, apakah maksudnya selain sulinggih tidah boleh mengucapkan mantram itu, seandainya iya, knapa? mohon pencerahannya..
    suksma..

    • 1.1

      Mantra catur dasa Siwa adalah mantra-mantra untuk nuwur Ida Bhatara Siwa dalam 14 utaprota-Nya. Mantra-mantra ini digunakan oleh para Sulinggih dalam prosesi “ngili-atma” yakni suatu prosesi ketika :
      1. Nyuryasewana
      2. Ngentas atma/Mrelina
      3. Nyeda-raga dan nanginin
      Jadi untuk masyarakat umum (bukan Sulinggih) :
      1. Tidak berguna
      2. Belum diijinkan karena belum mediksa

      • putu dedik says:

        apakah siva itu Tuhan kita ? knpa bukan sri krishna,rama,sri caitanya,atau avatara2 sri maha vishnu yg lainnya dan vishnu sendiri ? karena di bhagavad gita djelaskan smuanya.. mohon di petunjuknya suksma..

        • Bagus says:

          @putu dedik; siva adalah Tuhan, dan Vishnupun juga Siva namanya,,,karena semua para dewa itu siva, baik itu Siva, Sada Siva, dan Paramasiva.

  • 2
    yuni says:

    om swastyastu.saya mau tanya lebih jelas kenapa dalam melakukan persembahyangan kita melakukan mebije,apa makna dari mbije di dahi? mohon dijelaskan.terimasih

  • 3
    putu dedik says:

    @bagus : suksma, bhagavad gita atau gitopanisad adalah hakekat segala pengetahuan veda dan upanisad2 kesusastraan veda. dsini djelaskan krishna yg pertama kali bersabda/memberitahu pengetahuin ini kepada dewa matahari kemudian isvaku lalu ke manu dan yg terkhir arjuna.. untuk lbh lanjut’y dan lebih jelasnya mohon bacalah bhagavad gita menurut aslinya.. suksma

  • 4
    Bagus says:

    @putu dedik; suksma, tapi ingat meskipun krisna adalah Awatara Dewa Visnu, bukan berarti beliau adalah Tuhan. Beliau hanyalah Dewata dalam tingkatan Sada Siwa, dan yang dianggap Tuhan/Ida Sang Hyang Widhi Wasa adalah Paramasiwa. Dan sedikit logika, Dewa itu Maha sampurna, tak ada pengetahuan yang tidak diketahui oleh para Dewata, baik itu Sang Surya. Pengetahuan yang dimiliki oleh Sang Krisna juga dimiliki oleh Dewata yang lain, bahkan Dewa Varuna sekalipun. Tak ada yang tak beliau ketahui, karena semua pengetahuan dimiliki oleh Para Dewata. Janganlah menjadikan Agama Hindu di Bali sebagai penyembah satu Dewa, akan tetapi semua Dewata harus kita sembah, karena Agama Hindu adalah Agama Siwa. Oleh karena itu mengapa agama hindu di Bali sering disebut sebagai Siwa Sidanta.

  • 5
    wayan widana says:

    om swastyastu,..

    penjelasan pak bagus super sekali,. pak bagus gimana dengan pertanyaan bu yuni tadi pak,.??saya juga mengganjal di benak,.
    sapa tau pak bagus bisa menjelaskan,..

    om santi santi santi om,.
    terimakasih sebelumnya

    • 5.1
      wayan widana says:

      all# maafkan saya tidak membaca penjelasan dari atas,..
      sekarang telah mengerti makna mebija,.
      maafkan kebodohan hamba,..

  • 6
    putu dedik says:

    Suksma:) bli jangan mengatakan sprti itu dulu..silahkan cari kebenarannya dlu di b’gita atau sri srimad bhagavatam..indah’y berbagi suksma :)

  • 7
    made puja says:

    bhagawan dwija,
    Mohon bantuaannya untuk doa/mantra membuat air thirta yg baru kita ambil dari sumur.
    Sukme

    • 7.1

      Om Swastyastu,

      Air dari sumur atau dari kran/leding atau dari mata air, disebut “toya tabah” artinya air murni. Untuk digunakan sebagai pencuci atau air minum, gunakan mantra “Om toya Gangga amerthaya namah swaha” Namun bila akan digunakan sebagai tirta/wangsuh pada perlu melalui beberapa tahapan proses :
      1. Air itu di “ukup” atau diasapi dengan asap menyan, majagau, dll yang membuatnya harum dan “nyangluh” misalnya di asap pembakaran/ukupan, ditaburi gula pasir, oneng (sejenis siput laut) dll.
      2. Setelah diukup maka toya ukupan itu dituangkan kedalam sangku atau siwamba (bagi sulinggih), lalu dimantrai dengan proses “pengargaan” menurut petunjuk yang diatur dalam Weda Parikrama. Mantra-mantra ini banyak, merupakan gabungan dari pemujaan-pemujaan “apsu-Dewa” (Dewa Air), “peganggaan” (mohon kehadiran sapta Gangga) serta mantra-mantra yang berhubungan dengan permohonan kehadiran Dewa-Dewi didalam toya ukupan itu.
      3. Setelah prosesi ngarga-tirta selesai sekitar 1 jam, barulah toya ukupan itu bisa disebut Tirta. Artinya tirta adalah toya ukupan yang sudah mengandung fibrasi dan berkah Dewa-Dewi.
      4. Tirta yang selanjutnya dimantrai lagi dengan pemujaan Bhatara Ista Dewata, bernama “wangsuh-pada”

      Om Santih, santih, santih, Om

Leave a Reply

  

  

  

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Subscribe without commenting