Membaca Weda
QUESTION:
- Saya sampai sekarang belum pernah membaca Weda, apakah sebaiknya saya harus membaca Weda?
- Di zaman sekarang ini, paling gampang menilai sesuatu dengan membandingkan dengan yang lain. Umat lain sangat mengagung-agungkan Kita Suci-nya. Saya sebagai umat Hindu, punya Weda saja tidak, apalagi pernah membaca, atau menerapkan ajaran Weda?
- Saya ingin membaca Weda, tentunya dengan bahasa yang saya mengerti (terjemahannya ada). Boleh atau tidak?
- Apakah saya harus memenuhi kualifikasi tertentu agar bisa membaca Weda.
- Di mana saya bisa memperoleh Weda?
ANSWER:
Anda tidak perlu merasa kecil hati, karena prinsip dasar agama Hindu berbeda dengan agama-agama lain, yaitu: Hindu bukanlah agama doktrin, tetapi agama kebebasan, dalam artian memberikan kebebasan kepada umatnya untuk mendekatkan diri kepada Tuhan melalui 4 cara, yaitu: bhakti marga, karma marga, jnana marga, dan yoga marga.
Kebanyakan dari kita menitikberatkan pada bhakti dan karma marga. Bila anda mau meningkat ke jnana marga, maka bacalah kitab-kitab weda atau lontar, yang sudah merupakan resume dari weda, atau berguru kepada seorang Wiku (Pandita – bukan Pinandita).
Banyak buku-buku di jual di toko. Di mana alamat anda? kalau di Bali, buku-buku weda itu mudah ditemukan di toko buku.
Agama lain disebut agama doktrin karena ‘mengharuskan’ umatnya membaca kitab suci, walau trikaya (pikiran, perkataan, dan perbuatannya) sering dijumpai tidak sesuai dengan kitab sucinya. Jadi mereka tidak menekankan pada bhakti dan karma marga.
Weda adalah kitab suci yang tidak berawal dan tidak berakhir, jadi bagaimana membukukan sesuatu yang tak berawal dan tak berakhir?
Buku-buku weda yang kita jumpai sekarang hanya sebagian kecil dari cuplikan-cuplikan (kebanyakan) yang menyangkut kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu jangan berharap kita mempunyai kitab weda yang utuh jadi satu buku seperti kitab suci agama lain.
pradnya:
October 11th, 2010 at 18:50
SAYA SETUJU BANGET BAHWA AGAMA HINDU SANGAAT LUWES TAPI PADA INTINYA SAMA. BAYANGKAN BERIBU BANYAK SUKU RASA PAKAIANNYA BEBAS ORANG JAWA PAKE BAJU JAWA ORANG BALI PAKE BAJU BALI TAPI PADA INTINYA TETAP AGAMA HINDU.
Bhagawan Dwija:
October 14th, 2010 at 16:55
@pradnya:
Betul
Nyoman Sudiarta:
December 17th, 2010 at 15:43
Om Swastyastu,
Apa yang disampaikan Ratu Bhagawan, saya setuju, namun di era sekarang ini terutama umat Hindu diluar Bali, saya berpendapat wajib mempelajari lebih banyak lagi dari sisi Jnana Marganya, karena2 anak kita sekarang ini lebih kritis dan selalu bertanya tentang hal-hal yang logis, sehingga umat Hindu kedepan lebih kuat dan tidak mudah lompat ke Agama lain.
inggih demikian, matur suksma
regards,
Nyoman Sudiarta.
Bhagawan Dwija:
January 26th, 2011 at 20:19
@Nyoman Sudiarta: Benar, karena diantara “Yadnya” Jnyana Yadnya dan Drwya Yadnya adalah yang paling utama.
:
April 7th, 2011 at 19:26
[...] Sumber : http://stitidharma.org/membaca-weda/ [...]
Bhagawan Dwija:
April 7th, 2011 at 19:47
@Haruskah Kita Membaca Weda?: Pertanyaan lengkapnya apa ?
yansu athe:
May 13th, 2011 at 15:49
om swastyastu
bhagawan,sy mau menanyakan isi dari bhagawad gita yg sampai skarang blm sy mengerti maksuda,yaitu *APA YANG TIDAK ADA TIDAK AKAN PERNAH ADA DAN APA YANG ADA AKAN SELALU ADA*Mohon penjelasannya.matur suksme
om santih,santih,santih om
Bhagawan Dwija:
May 19th, 2011 at 00:49
@yansu athe: Pada Bab ke-IX Navamo’dhyayah membahas tentang Rajawidya Rajaguhya Yogah (Tuhan melampaui segala ciptaan-Nya) seluruh pasalnya (34) dapat menjawab pertanyaan anda, terutama pasal 4 : maya tatam idam sarwam jagad awyakta-murtina, mat-sthani sarwa-bhutani na caham tesw awasthitah : seluruh alam raya ini terselimuti oleh-Ku melalui wujud-Ku yang tak termanifestasikan; semua mahluk ada pada-Ku tetapi Aku tak ada pada mereka. Maksudnya : Tuhan meresap berada dimana-mana dalam alam semesta ini, tetapi sifatnya mengatasi, transendental. Dia sebenarnya adalah jauh mengatasi penglihatan sesuatu yang dalam ikatan ruang dan waktu.
arnawa:
March 7th, 2012 at 17:53
om swasti astu bhagawan
tiang yang lahir dan besar di bali , jarang mendapatkan pelajara tentanga weda ,namun hanya kebanyakan tentang adat dan budaya hal itu yang sering membuat diri saya malu dan bahkan kecewa saat di tanya 108 inti weda
sekarang pertanyaan tiang dapatkan inti 108 weda itu untuk mewakili catur weda sebgai suci kita , seperti kitab kepercayaan lain yang misa menunjukan dengan bangga kita mereka
sukma
arnawa
bhagawan dwija:
March 19th, 2012 at 17:06
Om Swastyastu,
Tidak perlu merasa malu dan rendah diri terhadap orang yang beragama lain. Agar mempunyai pengetahuan yang cukup tentang Weda, bisa ditempuh cara-cara sebagai berikut :
1. Mengikuti kuliah di Unhi
2. Belajar sendiri dengan membaca buku-buku Agama Hindu yang kini sudah banyak tersedia di toko-toko buku
3. Meminta bimbingan seorang Sulinggih terdekat atau yang mumpuni.
Pengetahuan itu tidak datang dengan sendirinya, tetapi harus dikejar, dicari, dipahami, dihayati. Untuk ini perlu kemauan keras, disiplin yang tinggi, dan niat yang suci.
Ada buku yang baik yang saya sarankan untuk mendalami Weda secara mudah dan cepat : Weda, Sabda suci, Pedoman Praktis Kehidupan, oleh I Made Titib (Prof. Dr), Penerbit Paramita, Surabaya, 1996. Isi buku itu antara lain memuat :
1. Pengertian Weda
2. Kedudukan kitab suci Weda
3. Para Rsi dan Chanda Weda
4. Konsepsi ketuhanan dalam Weda
5. Pembagian kitab suci Weda
dst.
Untuk membeli buku tentu saja perlu modal/dana. Jadi sisihkan penghasilan anda setiap bulan untuk mengkoleksi buku-buku Agama.
Om Santih, santih, santih, Om
komang adi darminto:
July 29th, 2012 at 11:21
om swastiastu
maaf sebelumnya,saya mau bertanya.ini kisah keluarga saya.dulu kakek saya para normal,tpi beliau sudah almarhum,trus waktu metuun kakek sya diturunkan lah iring-iringan kebpk sya,berhubung bpk saya tidak tau bagaimana cara merawat pemberian yg diturunkan kakek saya,dia cuma sembahyangi saja!karna kita tidak tau!tahun ketahun keluarga saya hancur dan pada akhirnya ibu saya gila,ditanyakanlah kepd para normal,dn dibilang iring-iringan kakek saya yg membuat semua tu terjadi dari hancurnya keluarga sampai ibu saya gila!semua upacara sudah pernah dilakukan di rumah!tpi tetap tdk ada perubahan!sampai2 saya bosan dan jenuh karena hal ini!sampai akhirnya ibu saya sembuh,beberapa tahun kemudian ibu saya tdk sakit langsung meninggal,dan sesudah ngaben kita metuunang ibuk saya,ternyata ibu saya di tunas katanya sama iring-iringan kakek saya karna ibu saya rajin sembhyang!ibu saya emang rajin sembahyang 3kali sehari tak penah lepas!apa ada di ajaran agama hindu seperti itu???kenapa kk sulit bngt jadi agama hindu???maaf sebelumnya!saya jga agama hindu saya rajin sembahyang!kk bisa seperti itu!apakah tidak cukup dg saya sembahyang kenapa harus ada iring-iringan???bagaiman seharusnya sekarang saya???saya minta petunjuk!maaf sebelumnya jika ada kata yg tidak berkenan!saya hanya ingin minta solusi!terimakasi
Broto sindu:
October 15th, 2012 at 08:35
Om swastiastu Bhagawan
saya mohon penjelasan isi dari Samaveda Agni Mantra 64 ,Atharvaveda book 20 mantra1 , mantra 2, mantra3, mantra4
terimakasih
sindu
Wida:
October 23rd, 2012 at 15:25
Bisakah saya dijelaskan ttg konsep trisula weda?
i wayan surata:
December 17th, 2012 at 18:56
om swasti astu bhagawan , sy pemeluk hindu yg taat tp bee=lum pernah membaca weda hanya melihat sj, apa betul weda itu satu paket isinya sembilan dan harganya lumayan mahal ,saya sudah pesan pd guru agama anak saya di pasraman santika di malang.minta petunjuk bhagawan/
ozaraelena:
January 6th, 2013 at 12:36
Weda adalah kitab suci yang tidak berawal dan tidak berakhir? saya kurang mengerti maksud bapak karena kalimat ini jelas menunjukkan bahwa ada campur tangan manusia dalam kitab weda..
dan kenapa banyak ayat weda satu dengan yg lainnya begitu bertentangan? contohnya adalah ayat tentang terbentuknya bumi dan matahari? lalu bagaimana kita manusia bisa mendapatkan pedoman hidup dari kitab yg begitu banyak ditemukan pertentangan?
awe ng:
March 19th, 2013 at 17:27
Sayapun baru memulai baca bagawadgiya atau ramayana, tidak mudah unt mengerti. Beda dgn kitab suci lainnya, anda punya masalah? Buka bab dan ayat nya. Selesai. Beda dgn Weda, kita hrs cari dan cari. Agama nhindu tdk menakut nakuti. Kalo saya tdk sembahyang saya akan masuk neraka. Keadaan kita sekarang dan nanti akan ditentukan oleh karma kita masing2. Jadi dasarnya panca srada.