Mengamalkan Nilai-Nilai Brata Siwaratri Dalam Kehidupan Sehari-Hari

Siwaratri dalam bahasa Jawa kuno berarti “malam Dewa Siwa” yaitu suatu malam di mana Dewa Siwa sebagai manifestasi Ida Sanghyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa), menggelar samadhi untuk kesejahteraan dunia dan umat manusia.

Hari yang mulia ini tiba sehari sebelum bulan gelap yang ketujuh menurut sistem kalender Hindu di Bali.

Acuan Siwaratri terdapat pada naskah-naskah suci berbahasa Sanskerta di India, yaitu: Sivapurana, Padmapurana, Garudapurana, dan Skandapurana. Sedangkan di Indonesia Siwaratri ditulis dalam lontar-lontar berbahasa Jawa kuno: Siwaratrikalpa, Siwaratribrata, Ajibrata, Puja Siwaratri, dan Tutur Siwaratri.

Siwaratri adalah wujud kasih sayang Tuhan kepada isi dunia terutama umat manusia dan oleh karena itu manusia sebagai ciptaan Tuhan yang utama sudah sewajarnya berbhakti kepada-Nya.

Wujud bhakti umat manusia dalam kehidupan sehari-hari tiada lain saling menyayangi semua mahluk ciptaan Tuhan. Siwaratri kemudian menjadi ajaran dan filsafat yang berkembang tidak hanya di India tetapi juga di seluruh dunia.

Pelaksanaan Siwaratri dalam konteks tradisi beragama Hindu adalah menyembah Dewa Siwa dan menggelar Brata: Upawasa, Jagra, dan Mona selama 36 jam dimulai sejak matahari terbit sehari sebelum bulan gelap ketujuh, sampai matahari terbenam pada bulan gelap ketujuh.

Dalam sistem kalender Hindu di Bali hari sebelum bulan gelap disebut panglong ping 14, dan hari pada bulan gelap disebut panglong ping 15. Bulan gelap di Bali disebut “tilem”. Brata Upawasa adalah berpuasa tidak makan dan minum, Brata Jagra adalah tidak tidur, dan Brata Mona adalah tidak berbicara.

BRATA UPAWASA

Berpuasa tidak makan dan minum sesuatu dalam rangkaian pelaksanaan Siwaratri sangat dianjurkan bagi pemeluk Hindu karena bermanfaat bagi kesehatan jasmani dan kesucian rohani. Dengan berpuasa organ-organ tubuh mengadakan konsolidasi untuk meningkatkan kesehatan badan dan kejernihan pikiran menuju pada kesucian rohani.

Berpuasa juga sebagai latihan pengendalian diri dalam bentuk mengekang keinginan-keinginan makan dan minum. Sesuatu yang enak dirasakan oleh lidah belum tentu bermanfaat bagi kesehatan jasmani dan rohani.

Oleh karena itu dalam kitab suci Bhagawadgita pemeluk Hindu diingatkan agar berhati-hati memilih makanan. Makanlah sesuatu yang “sattvika” artinya makanan yang suci sebagaimana disebut dalam Weda.

Kesucian makanan menyangkut berbagai aspek, antara lain: jenis makanan, prasadam dan cara mendapatkan makanan. Jenis makanan yang suci sebagian besar terdiri dari unsur flora yaitu dari bahan tumbuh-tumbuhan, biji-bijian, buah-buahan, dan madu. Dari unsur fauna adalah susu dan olahan susu seperti mentega, keju, dll.

Jenis makanan atau minuman lain yang digolongkan tidak suci adalah makanan-minuman yang membuat mabuk atau lupa diri dan yang menimbulkan rangsangan berbuat adharma.

Selain itu jenis yang merusak kesehatan dan tidak berguna bagi ketenangan pikiran juga dipandang tidak suci. Prasadam adalah makanan dari unsur daging tertentu, unsur flora dan unsur fauna yang terlebih dahulu dihaturkan sebagai persembahan kepada Tuhan dalam suatu upacara agama.

Makanan yang diperoleh secara langsung atau tidak langsung dari hasil kejahatan atau perbuatan adharma akan membuahkan dosa. Makan berlebih-lebihan dan tidak berhati-hati akan membuat manusia jauh dari kegembiraan dan kebahagiaan, membuat tumpulnya mata bathin, lamban dan malas.

Pada akhirnya makanan yang tidak sattvika akan merusak kesehatan jasmani dan rohani serta memperpendek umur manusia.

Sangatlah ironis bila manusia ingin mendekatkan diri kepada Tuhan tetapi masih terus makan tanpa kendali, memilih yang enak dirasakan lidah.

Sri Kresna bersabda bahwa jika manusia dapat mengendalikan nafsu makan dari rangsangan lidah maka ia akan mampu juga mengendalikan seluruh indrianya yang lain yaitu pendengaran, penglihatan, penciuman, dan rasa kulit. Di sini dapat kita simpulkan bahwa berpuasa adalah pangkal dari pembentukan moral yang baik.

BRATA JAGRA

Tidak tidur selama melaksanakan Brata Upawasa 36 jam bagi pemeluk Hindu yang tidak biasa melaksanakannya akan terasa berat. Namun jika sudah biasa akan menemukan keindahan dunia yang tiada taranya, karena menyaksikan saat pergantian alam dari siang – senja – malam – tengah malam – pagi secara bersinambungan.

Di saat-saat seperti itu timbul kesadaran pada kebesaran dan kekuasaan Tuhan sang pencipta. Pemandangan langit malam yang dihiasi bintang-bintang yang tak terhitung jumlahnya, matahari yang bangkit perlahan-lahan di ufuk timur dan terbenam perlahan-lahan pula di ufuk barat merupakan mekanisme yang menakjubkan. Siapakah gerangan yang mengaturnya?

Vibrasi kesucian akan menjalar ke segenap pikiran serta mengingatkan betapa kecilnya diri manusia jika dibandingkan dengan jagat raya yang tiada terbatas. Sifat-sifat menyombongkan diri, ingin berkuasa, serta menentang kodrat alam akan sirna. Kebiasaan jagra juga akan melatih kewaspadaan untuk mencapai kesadaran penuh tentang diri dalam melaksanakan aktivitas kehidupan sehari-hari.

Setiap saat manusia harus tetap sadar tentang hakekat kehidupannya di dunia. Pertanyaan-pertanyaan yang ditujukan kepada diri sendiri hendaknya selalu didengungkan: dari manakah asal saya atau siapakah saya, apa tujuan hidup saya atau apa yang wajib saya lakukan selama hidup, dan akhirnya ke manakah saya akan pergi?

Kitab-kitab suci Agama Hindu menyatakan bahwa manusia adalah ciptaan Tuhan yang utama. Roh manusia berasal dari Tuhan yang disebut Brahman kemudian atas kehendak-Nya menjelma kembali menjadi manusia.

Penjelmaan atau re-inkarnasi terjadi karena roh masih ternoda oleh dosa-dosa kehidupan di masa yang lalu. Manusia di dunia mempunyai tugas berat membersihkan dosa-dosa itu dengan tujuan jika tiba saat berpulang kembali kepada-Nya roh diharapkan sudah suci terbebas dari noda dosa sehingga patut bersatu kembali dengan Tuhan.

Jika hal itu disadari maka kehidupan manusia di dunia dikejar waktu yang sempit. Pertanyaan berikut akan menyusul: mampukah saya membersihkan dosa-dosa dalam waktu atau umur yang tersisa ini.

Maka gunakan waktu yang sempit ini untuk senantiasa berbuat kebajikan, menjalankan kehidupan sesuai dengan norma-norma Agama, norma-norma sosial, dan norma-norma hukum.

Melimpahkan kasih sayang kepada semua mahluk ciptaan Tuhan, kepada seluruh umat manusia tanpa membeda-bedakan derajat, golongan, keturunan, kedudukan dan berbagai bentuk perbedaan lainnya.

Filsafat “Tattvamasi” bahwa “Engkau adalah Aku dan Aku adalah Engkau” mengandung pengertian yang sangat luas dalam mewujudkan kasih sayang sesama umat manusia. Jika kita menyayangi diri sendiri maka janganlah menyakiti orang lain, karena jika demikian berarti menyakiti diri sendiri juga.

Dengan keyakinan bahwa semua umat manusia berasal dari Tuhan maka dalam pandangan Hindu manusia terikat dalam tali persaudaraan, sehingga perbuatan menindas atau menyakiti sesama manusia adalah bertentangan dengan kehendak Tuhan. Kasih sayang adalah kebajikan utama.

“Ahimsa” adalah filosofi Hindu yang berkembang dari Tattvamasi. Ahimsa tidak hanya berarti “tidak membunuh” atau “tidak menyakiti” tetapi juga dapat dikembangkan ke arah perwujudan kasih sayang yang sejati.

Kasih sayang adalah tindakan yang ethis oleh karena itu kasih sayang adalah “kebenaran dharma” Perbuatan yang tidak ethis berarti menjauhi kebenaran dan karena menyimpang dari dharma maka perbuatan tidak ethis adalah dosa.

Atas dasar pemikiran itu maka Mahatma Gandhi menyimpulkan bahwa segala bentuk “kekerasan” kepada orang lain akan berbalik pula menjadi kekerasan kepada diri sendiri.

Selanjutnya beliau mengatakan “semua manusia wajib memelihara dunia”, artinya dunia dengan segala isinya yaitu manusia, flora, fauna, dan semesta. Sebuah teks dari Vedanta: “Ekam eva advityam” merupakan kunci dari filsafat kasih sayang karena Tuhan menyatakan ketunggalan diri-Nya dan ketunggalan-Nya dengan semua mahluk termasuk alam semesta.

BRATA MONA

Tidak berbicara selama 36 jam membawa pikiran ke alam hening. Walaupun secara oral tidak berbicara, tetapi di dalam pikiran akan terjadi dialog intern berupa berbagai pertanyaan tentang hal-hal yang pernah dijalani dalam kehidupan yang lampau dan rencana-rencana di masa depan.

Brata Mona juga berarti memutuskan sementara komunikasi dengan orang lain, sehingga selama 36 jam kita sepenuhnya menggali permasalahan diri sendiri dan mencari solusi sendiri tanpa campur tangan orang lain.

Kebiasaan melaksanakan Brata Mona akan menguatkan pribadi, daya tahan mental, dan meningkatkan kemampuan memecahkan masalah. Hidup di dunia setiap hari menghadapi berbagai masalah dari yang kecil dan biasa-biasa saja sampai ke masalah-masalah besar yang menentukan jalan kehidupan.

Pengambilan keputusan dalam menghadapi masalah memerlukan pikiran yang jernih, kuat, strategis, dan akurat. Latihan-latihan Brata Mona juga akan menghasilkan sikap yang waspada dalam berbicara, artinya pembicaraan yang terkendali dan sadar sepenuhnya akan akibatnya.

Dalam kekawin Nitisastra Sargah V.3 disebutkan: “Karena bicara kita akan memperoleh kebahagiaan, karena bicara kita bisa mendapat kematian, karena bicara kita mendapat kesusahan, tetapi karena bicara pula kita mendapat sahabat”

Norma-norma Agama Hindu yang mengatur tentang bicara ada empat sebagaimana yang disebutkan dalam “Trikaya (Wacika) Parisudha”, yaitu:

  1. Tidak berkata-kata kasar, membentak, emosional, dan marah (Tan ujar apregas).
  2. Tidak berkata-kata kotor, memaki, membual (Tan ujar ahala).
  3. Tidak memfitnah (Tan ujar pisuna)
  4. Berkata jujur dan setia, artinya menepati janji dan berkata sesuai dengan pikiran dan kebenaran (Satya wacana)

Ketiga brata yaitu Upawasa, Jagra, dan Mona mempunyai tujuan yang sama yaitu mengarahkan manusia agar senantiasa dapat mengendalikan diri terhadap rangsangan-rangsangan yang diterima panca indra, waspada dengan kesadaran penuh dan berhati-hati dalam berpikir, berkata, dan berbuat.

Siwaratri sebagaimana halnya dengan hari-hari raya Hindu lainnya adalah tonggak-tonggak peringatan kepada pemeluk Hindu. Filosofi yang dikandung dalam setiap makna hari raya tidaklah berlaku dan dijalankan pada hari-hari raya itu saja, tetapi hendaknya dilaksanakan terus setiap hari secara konsisten dan bertanggung jawab.

Ketaatan setiap individu melaksanakan ajaran-ajaran Agama akan membuahkan masyarakat yang hidup rukun, damai, tenang, dan sejahtera. Kondisi inilah yang perlu diciptakan bersama karena dalam keadaan yang “moksartham jagaditha” Ida Sanghyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa) akan melimpahkan “wara nugraha”-Nya kepada umat manusia.

Sebaliknya dalam masyarakat di mana manusia saling bertikai, berkelahi, berperang, dan bertindak semaunya tanpa memikirkan kepentingan orang lain, Tuhan akan menjatuhkan hukuman yang dapat menyengsarakan seluruh umat manusia.

Sifat-sifat mementingkan diri sendiri atau kelompok serta menyalahkan pihak lain, menganggap orang atau kelompok lain lebih jelek, lebih bodoh, dan lebih hina adalah bertentangan dengan ajaran Agama Hindu. Tuhan tidak akan mencintai manusia yang tidak mencintai dan menyayangi sesamanya.

Walaupun ia mengekspresikan dirinya sebagai orang yang taat beragama, rajin sembahyang, sering berupacara, bila ia tidak melaksanakan kaidah-kaidah Agama dengan baik dalam pikiran, ucapan dan perbuatannya maka segala doa yang dimohonkan kepada Tuhan akan tidak terkabul, bahkan ia akan terseret ke lembah neraka.

Manusia yang dilahirkan kembali ke dunia menurut ajaran Agama Hindu membawa “karmawasana” yang terdiri dari dua unsur pokok yaitu “Swabhawa” dan “Swaguna”. Swabhawa adalah bibit-bibit sifat dan Swaguna adalah bibit-bibit bakat. Oleh karena itulah maka tingkah polah setiap manusia di dunia tidak akan sama.

Akan selalu berbeda baik dalam pendapat, keinginan, cita-cita, tujuan, dan aktivitas sehari-hari. Perbedaan ini memang diatur oleh Tuhan, agar kehidupan manusia dinamis. Dinamika akan menciptakan produktivitas, dan pada gilirannya produktivitas akan menuju pada kesejahteraan manusia.

Sangatlah keliru bila kita memandang suatu perbedaan sebagai bibit konflik. Di masyarakat yang kurang maju pendidikannya dan sempit dalam pola pikir biasanya memandang orang lain yang berbeda pendapat sebagai “musuh” yang harus dilawan dan dibinasakan.

Pemimpin-pemimpin masyarakat hendaknya benar-benar menempatkan diri sebagai “orang tua”, sebagai “guru” yang patut diteladani oleh para pengikutnya. Berbagai ajaran Agama yang bertujuan menegakkan kebenaran dan keadilan hendaknya diwujudkan bukan hanya sebagai slogan atau wacana saja, tetapi juga harus dibuktikan dalam kiprah sehari-hari.

Bhagawadgita menyiratkan suatu bentuk kerja yang dinamakan “nishkama karma” artinya bekerja tanpa memikirkan hasil atau manfaatnya saja, tetapi yang lebih penting diperhatikan adalah cara menuju keberhasilan itu.

Jadi dalam teori managemen nishkama karma dapat diartikan sebagai “process oriented” dan bukan “result oriented”. Process oriented dalam Agama Hindu adalah kerja yang berpedoman pada kitab suci Veda.

Lebih jauh dalam ajaran Sankhya Yoga selalu ditekankan bahwa seorang pemimpin harus selalu siap menerima kebenaran dan membuang ketidak benaran. Hanya pemimpin yang melaksanakan dharma akan mencapai kejayaan dan kemasyhuran karena itulah pahala bagi mereka yang tekun melakukan perbuatan baik (Atharvaveda VI.69.3).

Setiap orang hendaknya selalu berbuat kebajikan karena pahalanya akan melenyapkan kesusahan. Jalan kebajikan juga akan memberkahi kemakmuran dan dengan perbuatan yang berbudi luhur orang akan berjasa bagi umat manusia. Maka karena itulah ia disayang Tuhan (Rgveda V.51.15)

Sebagai penutup tulisan singkat ini ada ayat Rgveda X.10.1 yang patut diresapkan, sebagai berikut:

O CIT SAKHAYAM SAKHYA VAVRTYAM

Artinya: Perlakukanlah seseorang sebagai sahabat.

5 comments to Mengamalkan Nilai-Nilai Brata Siwaratri Dalam Kehidupan Sehari-Hari

  • 1
    ketut sugiarta says:

    ampura ratu tityang metaken; ring tilem kapitu dadya tyange ngaturang pujawali ring pura dalem tunon,ring linggasana,karangasem. yening ring dina ciwaratri (sehari sebelumnya): 1. napi patut aturang ring pura inucap ?
    2. napi puja astawa ring rahinan ciwaratri ?
    3. beberapa periode sane lintang,semeton tityang
    penganut sampradaya(saibaba)menggelar agnihotra
    ring rahina ciwaratri ring pura inucap. sinah
    sulit melakukan brata ring pura inucap ?
    matur suksme.

    • 1.1

      1. Bhakti ritatkala ngaturang piodalan, sekadi sampun kemargiang saking riin, manut desa, kala, patra.
      2. Bhakti ritatkala ngelarang brata siwa ratri : maulu antuk banten pejati, ngaryanang niyasa sekadi pemargin sang lubhdaka : paso medaging toya anyar, ring tengah pasone medaging daksina lingga sekadi linggan Bhatara Siwa. Ritatkala mejagra mulang don bila sekebidang ngantos 108 bidang. Puja astawa : puja ngaturang pejati lan puja/sehe nuntun Bhatara Siwa. Selanturne margiang japa-gayatri, utawi sane lianan : japa-ganesha, japa-Siwa, miwah sane tiosan minekadi japa-trayambhakam
      3. Sareng-sareng mapuja/mebanten lan ngelarang brata, ten kenapi-kenapi.

  • 2
    Mare says:

    bagaimana dengan nilai nilai yang terkandung dalam kehidupan di alam terbuka ?

  • 3

    [...] Mengamalkan Nilai-Nilai Brata Siwaratri Dalam Kehidupan Sehari-Hari [...]

  • 4

    [...] akan berjasa bagi umat manusia. Maka karena itulah ia disayang Tuhan (Rgveda V.51.15). Sumber :Nilai nilai berata siwalatri /** TABANAN **/ var sitti_pub_id = "BC0002292"; var sitti_ad_width = "610"; var sitti_ad_height [...]

Leave a Reply

  

  

  

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>