Ngaben dan Aparabhakti

1. Panca Upakara yang terdiri dari unsur-unsur: daun, bunga, buah, air, api adalah sebagai cetusan rasa bhakti kepada Tuhan (Hyang Widhi).

Panca upakara sangat dibutuhkan bagi mereka yang tergolong Aparabhakti, yaitu yang mewujudkan rasa cinta kasih kepada-Nya dalam simbol-simbol, karena merasa tingkat kerohaniannya masih belum tinggi.

Cetusan rasa bhakti tumbuh karena:

  • Kerinduan untuk bertemu dengan Tuhan (Ida Sanghyang Parama Kawi)
  • Keinginan untuk berkorban
  • Keinginan untuk mewujudkan Tuhan

2. Panca Mahabhuta terdiri dari unsur-unsur: Pertiwi (tanah), Apah (air), Bayu (udara), Teja (panas) dan Akasa (ether). Panca Mahabhuta mula-mula diciptakan Hyang Widhi di alam semesta (Bhuwana Agung).

Ketika Tuhan mulai menciptakan manusia, maka unsur-unsur Panca Mahabhuta yang ada di alam semesta digunakan sebagai bahan, sehingga sekarang kita mengenal Panca Mahabhuta di Bhuwana Alit (tubuh manusia), yaitu:

  1. Pertiwi untuk menjadi tulang dan daging
  2. Apah untuk menjadi darah, kencing dan air kelenjar
  3. Bayu untuk menjadi oksigin di paru-paru
  4. Teja untuk menjadi suhu badan dan sinar mata
  5. Akasa untuk menjadi urat syaraf, rambut, kuku dan 9 lobang dalam tubuh manusia (telinga 2, mata 2, hidung 2, mulut, dubur, kelamin)

3. Sebagai akibat hubungan kelamin suami-istri maka terjadi pembuahan. Segera setelah terjadi pembuahan, maka roh/ atma ‘turun ke bumi’ dan menjadi embrio.

Embrio ini adalah panca mahabhuta yang ‘dipinjamkan’ kepada si-roh.

4. Embrio ini kemudian tumbuh dan berkembang dalam kandungan ibu makin lama makin sempurna kemudian menjadi bayi.

Selama dalam kandungan ibu, embrio ini dipelihara oleh dua golongan ‘kekuatan Sanghyang Widhi’, yaitu:

  • Kanda Pat: ari-ari, getih, lamas, yeh-nyom, yang bertugas memelihara pertumbuhan fisik.
  • Nyama Bajang: berjumlah 108, bertugas memelihara keajegan roh/ atma dalam tubuh.
  • Ketika bayi selamat lahir sampai berusia 105 hari maka diadakan upacara penyampaian terima kasih kepada Kanda-pat dan Nyama Bajang dalam suatu upacara ‘Telu Bulanan’ Wujud terima kasih itu dalam suatu banten yang disebut: ‘Bajang-Colong’

5. Setelah lahir dan tumbuh – dewasa – tua akhirnya manusia meninggal dunia.

Di saat ini roh tidak lagi membutuhkan badan/ panca mahabhuta, maka ‘pinjaman kepada Tuhan berwujud tubuh (yang sekarang sudah menjadi mayat)’ harus dikembalikan kepada Tuhan dengan terhormat dan baik-baik.

Proses pengembalian ini disebut sebagai menyatukan kembali Panca Mahabhuta di bhuwana alit dengan Panca Mahabhuta di bhuwana agung.

6. Cara ‘pengembalian’ inilah yang di Bali dinamakan dengan upacara Ngaben. Dalam upacara itu ada bentuk-bentuk upakara yang terdiri dari:

  • Banten kepada Sang Pencipta sebagai ucapan terima kasih karena telah ‘meminjamkan’ panca mahabhuta selama almarhum hidup
  • Banten kepada Leluhur di alam nirwana disertai permohonan untuk ikut membimbing si-roh dalam ‘perjalanannya’ menuju sunia-loka (karena roh leluhur sudah lebih dahulu berada di sana)
  • Banten kepada si-roh itu sendiri untuk ‘bekal dalam perjalanan’

Sumber/ acuan:

  1. Lontar Wrhaspati Tattwa
  2. Lontar Yama Purana Tattwa

1 comment to Ngaben dan Aparabhakti

  • 1

    Om Swastyastu,
    Nawegang Ratu Nak Lingsir, Tityang nunasang indik napi sane kebaos Bhatara Hyang Guru sane sembah tityang utawi Umat Hindu ring soang2 merajan utawi sanggah kemulan.Duaning wenten maosang punika hyang Tri Murti sane kebaos Hyang Bhatara Guru wenten taler sane maosang Leluhur utawi Lelangit iraga soang2…. sire sujatine Bhatara Guru punika mangda ledang palungguh Ratu midartayang ring tityang.Suksma antuk penampen ( Jawaban ) Palungguh Iratu.
    Om Santih Santih Santih Om

Leave a Reply

  

  

  

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Subscribe without commenting