Ngaben, Nyekah, dan Mepaingkup

1. Ini adalah perjalanan roh yang sudah diupacarai Pitra Yadnya: ngaben – nyekah – mepaingkup.

2. Roh baru bisa ‘bergerak’ menuju sunia loka bila roh sudah terbebas dari ikatan-ikatan berupa:

  • Panca Mahabhuta, yaitu tubuh (stula sarira) yang terdiri dari unsur-unsur: pertiwi, apah, bayu, teja, akasa. Pelepasan Panca Mahabhuta ini dengan cara: ngaben.
  • Panca Tanmatra,  yaitu pengaruh-pengaruh panca indra kepada roh, ketika masih hidup: sabda tanmatra (dari pendengaran), rupa tanmatra (dari penglihatan), ganda tanmatra (dari penciuman), rasa tanmatra (dari lidah), dan sparsa tanmatra (dari kulit dan kelamin). Pelepasan Panca tanmatra ini dengan cara: nyekah.
  • Karmawasana tidak bisa dilepaskan, dibawa untuk dipertanggungjawabkan kepada Bhatara Yamadipati.

3. Mayat yang ditanam (mapendem ring pertiwi) atau mekingsan ring gni, belum bisa mantuk ke sunia, tetapi masih berada di ‘tegal penangsaran’

4. Perlu ditambahkan bahwa penjelasan ini berdasarkan kepercayaan dan keyakinan menurut Agama Hindu di Bali. Untuk mereka yang kepercayaan dan keyakinannya lain, tentu berbeda.

7 comments to Ngaben, Nyekah, dan Mepaingkup

  • 1
    manik says:

    OmSwastiastu, tiyang punya kakak yang sekarang ini sedang sakit yang berpusat dipinggang sebelah kirinya. dibawa keorang pintar katanya pegaen manusa sakti.apa sebenarnya itu? suksma atur titiang ratu.
    Omsanti santi santi

    • 1.1

      Om Swastyastu,

      Jangan cepat percaya hal-hal seperti itu. Periksakan ke dokter yang akhli dan ceck-up lengkap. Percayalah hanya kepada Sanghyang Widhi. Kalau benar ada manusia sakti yang hebat seperti dugaan itu, kenapa pendahulu kita di tahun 1945 berperang melawan Belanda, Jepang dengan senjata ? Leakin saja kan lebih efektif, tanpa harus menyabung nyawa ?

      Om Santih, santih, santih, Om

      • Putu says:

        Om Swastyastu,

        Ampura Ratu menarik sekali membahas hal mistik ilmu teluh dan orang pintar di bali,,saya sendiri masih bingung antara percaya dan tidak yakin dan tidak, untuk keberadaannya seperti desas desus di masyarakat ad yang bisa maap ngeleak (teluh pengiwa dsb) itu bagian dari ilmu leak yg tidak mematuhi aturannya sehingga bisa saja menyakiti siapa saja,
        dan keberadaan orang pintar pun sering di cari sebagai alternatif karna kunjung tidak sembuh setelah di check segala macam dan setelah di bawa ke orang pintar tsb dngan obat ( minyak, dilukat,di pijat dsb)berhasil sembuh namun demikian mnjadi “KETERGANTUNGN” kalau tidak nangkil dalam beberapa waktu mulai lagi sakit …Yang Saya tanyakan

        1.Benarkah ilmu pengiwa tidak mengikuti aturan pemakaiannnya,sehingga bisa menyakiti siapa saja?
        2.Apakah orang pintar (Balian) semua bisa di percaya? atau ngae” kalau menurut pendapat Ratu di atas “hati-hati menaggapi?
        3.Apakah setelah ber obat dan di temukan bukti bukti seperti saat di urut dengan minyak kulit yg bersih bsa mengeluarkan (ngaad,rambut putih panjang,dsb) memang adakah demikian Ratu?
        4.Bagai mana kita selaku manusia awam menanggapi hal hal ini,gerak menjadi terbatas,karna ada isu ne ‘nyakitin nak kluarga dsb’ saya sendiri percaya tidak percaya.
        5.Untuk menghadapi kita di tuntut pasrah, ber bhakti tulus pada Ida Shang Hyang Widhi,sebatas mana pasrah? tanpa berusaha pun kita salah,sedangkan kalau mau ber obat pula akan bingung takut takut di beri informasi seperti itu (gae tetangga,gae nyame,dsb)
        6.Berbanding terbalik dengan keadaan saat ini Ratu,mungkin pendapat Ratu benar kalau bisa kenpa tdak di pakai saat berperang melawan penjajah dahulu? apakah ada hubungannya dengan masalah kepercayaan yang berbeda Ratu?atau penganut pengiwa dahulu sangat sedikit berhubung pendahulu sebagian besar ber bhakti kepada Tuhan Bhatara Bhatari dsb berbeda dengan jaman KALI SAAT INI,ber lomba lomba saling sakiti demi mncapai tujuan

        Mohon pencerahan Ratu Bhagawan agar umat tidak salah kaprah dan terbiasa mendengar isu yg salah di artikan ujung ujungnya akan menciptakan perpecahan,

        Om Santih, santih, santih, Om

        • Om Swastyastu,

          1. “Ilmu Pengiwa” yang ada di Bali disebarkan oleh istri Mpu Kuturan yang bernama Rangda Nata Ing Dirah. Arti nama itu : rangda = janda; nata = ber-istana/berkedudukan; ing = di; Dirah : nama suatu tempat di Jatim. Beliau dijuluki seperti itu karena setelah ditinggalkan Mpu Kuturan ke Bali, beliau tetap berada di Jatim, mendalami ajaran Hindu sekte Bhairawa dan menulis lontar tentang pangeleyakan. Ilmunya ini di wariskan kepada anak perempuan satu-satunya yang bernama Diah Ratnamanggali. Ajaran ini kemudian ditulis dalam lontar bernama “Aji Pangleakan” Disebut “Pengiwa” berasal dari kata “kiwa” artinya kiri. Dengan demikian dalam bahasa Indonesia, boleh disebut “aliran kiri” Yang manakah “aliran kanan” ? Maka dalam paham sekte Bhairawa, kiri adalah sakti, dan kanan adalah dharma. Dalam tradisi agama lain,mungkin ini disamakan dengan aliran black magic dan white magic. Kalau dikatakan bahwa pengiwa adalah aliran sesat, bisa dikatakan ya dan tidak. Karena dasarnya Hindu sekte Bhairawa, adalah sekte yang memuja Sanghyang Widhi atas kekaguman para bhakta adanya asta aiswarya (8 kekuatan-Nya) yakni anima, laghima, mahima, prakamya, prapti, isitwa, wasitwa, dan kamawasayitwa. Keyakinan ini dikaitkan dengan keberadaan panca mahabhuta dalam tubuh manusia, dan adanya wateking bhuta-kala ciptaan Bhatari Durgha. Bila manusia melalui tapa, yoga, samadhi, dapat sedikit menguasai ilmu ini dan ada ciri-ciri paranormal di dirinya lalu digunakan/diarahkan ke jalan dharma, maka ia akan menjadi tokoh spiritual seperti para Sulinggih. Namun bila diarahkan ke jalan sakti menjadilah ia pengiwa atau dikenal di masyarakat sebagai leak.

          Tidak ada anjuran bagi umat Hindu untuk belajar ngiwa seperti yang dikemukakan diatas. Oleh karena itu dalam kata pengantar Lontar Aji Pangleyakan ditulis sebagai berikut : “Iki pinaka dasar ring pangiwa, yan sira mahayun manggelaraken pangiwa, iki maka pengawit, gelaraken ring sarira. Iki pasuryan pangiwa ngaran, salwiring ring pangiwa wenang iki regepakene rumuhun. Iki pinaka pasiwaniya, phalalania sidha kahidep………………..dst. Maknanya, sebelum belajar ngiwa, ketahuilah bahwa anda akan memuja dan menghamba pada shakti Siwa yang berwujud Durgha, bukan yang berwujud Uma.

          Kenapa lontar ini merupakan salah satu lontar wajib bagi Sulinggih ? Karena beliau harus mengetahui jalan yang benar dalam tugasnya memimpin umat. Bukankah Polisi yang baik harus mengetahui cara-cara mencuri ? Mengetahui tidak berarti melakukan.

          Ilmu pengiwa mudah menyeret manusia mempunyai prilaku asuri sampad, yakni sifat-sifat keraksasaan, sesuai dengan prilaku beberapa wateking bhuta-kala. Mereka ini meminta lelabaan (hadiah) berupa upeti tertentu secara periodik atau insidentil bila ada “proyek-proyek” khusus/besar. Manusia yang terjerat dalam kebanggan mempunyai kekuatan supra natural biasanya ada dorongan untuk pamer diri. Metodenya bermacam-macam, ada yang dengan jalan menyakiti lalu setelah dimintai tolong dia sendiri yang menyembuhkan.

          2. Bagaimana melawannya ? Tiada lain dengan menekuni ajaran agama, percayalah hanya kepada yang satu : Tuhan Yang Maha Esa (Ida Sanghyang Widhi Wasa). Karena dengan demikian, kekuatan-kekuatan positif dalam tubuh manusia secar niskala misalnya : panca mahabhuta, kanda-pat, ahamkara, manas dan budhi akan bangkit mengarahkan diri ke jalan dharma, serta menolak kekuatan-kekuatan asuri sampad, menjadi daiwi sampad. Untuk lebih cepat, efisien, dan kuat dalam pertahanan diri, bisa dibantu dengan yoga, terutama kundalini yoga, meditasi, berjapa, dan sembahyang trisandya/kramaning sembah secara rutin/teratur setiap hari.

          3. Di masyarakat Hindu-Bali, selain ada leak yang diuraikan diatas, ada kelompok balian. Mereka ini tidak melakukan kejahilan, tetapi seorang balian atau dukun, banyak yang ngiring paica Ida Bhatara, yang disebut taksu. Taksu tidak bisa dicari dengan sengaja, dipelajari, dll. tetapi taksu akan datang dengan sendirinya merupakan suatu keyakinan kuat bagi si penerima. Misalnya banyak balian yang mengaku sebagai iringan Ida Bhatara ring Pura Ratu Sakti Ped, dll. Para balian menyungsung Ida Bhatara yang distanakan dalam kamar suci atau Pura. Beliau senantiasa memohon kepada taksu petunjuk atas masalah yang dihadapi. Makin erat hubungan taksu dengan balian, hasilnya semakin baik/jelas. Demikianlah banyak dikenal balian yang mumpuni, namun tidak sedikit yang berpura-pura, ngaku-ngaku, bahkan menipu.

          Demikian penjelasan singkat ini. Bila ingin mendalami ilmu pangeleyakan, silahkan datang ke Gedong Kirtya Singaraja, cari lontar : “Aji Pangeleyakan” turunan lontar asli dari Gerya Sangket, Sidemen, Karangasem. Di salin/diketik oleh I Ketut Dana tanggal 12 September, 1988

          Om Santih, santih, sntih, Om

  • 2
    Oka ManikMas says:

    OSA.

    Beberapa pertanyaan untuk yg tiang sucikan Bhagawan Dwija

    1. Kenapa ada agama hindu Bali, hindu Jawa, hindu Kaharingan di Kalimanta, hindu Toba di Sumut, hindu Brahma di Luwu, hindu India dll?

    2. Dikaitkan dgn pitra yadnya, bila ada upcara yg berbeda dari hindu Bali, bgmn perjalanan roh ke sunia loka?.

    3. Pitra Yadnya dalam Hindu Bali sarat dgn upacara seperti ngaben, nyekah, dan karmawasana. Bila salah satu atau tidak dilaksanakan apakah orang hindu bukan hindu bali rohnya tdk mencapai sunia loka utk menghadap Sanghyang Yama Dipati?

    Mohon pencerahan Bhagawan. Suksma

  • 3
    Oka ManikMas says:

    OSA.

    Beberapa pertanyaan untuk yg tiang sucikan Bhagawan Dwija

    1. Kenapa ada agama hindu Bali, hindu Jawa, hindu Kaharingan di Kalimanta, hindu Toba di Sumut, hindu Brahma di Luwu, hindu India dll?

    2. Dikaitkan dgn pitra yadnya, bila ada upcara yg berbeda dari hindu Bali, bgmn perjalanan roh ke sunia loka?.

    3. Pitra Yadnya dalam Hindu Bali sarat dgn upacara seperti ngaben, nyekah, dan karmawasana. Bila salah satu atau tidak dilaksanakan apakah orang hindu bukan hindu bali rohnya tdk mencapai sunia loka utk menghadap Sanghyang Yama Dipati?

    Mohon pencerahan Bhagawan. Suksma OSSSO.

    • 3.1

      Om Swastyastu,

      Agama adalah keyakinan, yang pada gilirannya menumbuhkan kepercayaan atau srada. Dalam tradisi beragama Hindu di Bali, srada itu ada 5 yang dikenal dengan nama panca srada, yakni : dewa tattwa, atma tattwa, punarbhawa, karmaphala, dan moksah.
      Untuk mewujudkan kelima srada itu manusia (Hindu-Bali) ingin mencapai kepuasan spiritual melalui jalan bhakti. Jalan bhakti ada dua yaitu para bhakti dan apara bhakti. Sementara itu atas dasar panca srada, manusia meyakini bahwa keberadaan hidupnya di dunia adalah karena jasa atau kehendak dari tiga unsur yaitu : Sanghyang Widhi, Leluhur, dan Rsi (yang mengajarkan/menyebarkan agama Hindu). Oleh karena itu manusia merasa mempunyai hutang kepada ketiga unsur itu, yang dinamakan Tri-Rna (Tri-Rnam). Hutang kepada Sanghyang Widhi disebut Dewa-Rnam, kepada leluhur disebut Pitra-Rnam, dan kepada Rsi (sulinggih/rohaniawan) disebut Rsi-Rnam.

      Karena mempunyai hutang, maka manusia harus “membayar” dengan bhakti dan pengorbanan suci yang disebut yadnya. Maka dikenal ada 5 (panca) yadnya yakni : Dewa-Yadnya dan Bhuta-Yadnya untuk membayar Dewa-Rnam; Pitra-yadnya dan Manusa-yadnya untuk membayar Pitra-Rnam, dan Rsi-Yadnya untuk membayar Rsi-Rnam. Apa sebabnya ada penggabungan-penggabungan yadnya seperti diatas, karena pemahaman bahwa Dewa-Rnam telah mengadakan penciptaan manusia dan alam semesta (bhuta); yang lainnya, Pitra-Rnam karena adanya srada atma tattwa dan punarbhawa, misalnya keyakinan bahwa anak-cucu kita adalah roh leluhur yang sudah bereinkarnasi.

      Panca srada menimbulkan bhakti. Bhakti ada dua yaitu Apara-bhakti dan Para-bhakti. Apara-bhakti adalah bhakti melalui permohonan-permohonan, kepada Sanghyang Widhi untuk kesejahteraan semesta, lingkungan yang lebih kecil, keluarga, diri sendiri, dll. Para-bhakti adalah bhakti yang tingkatannya lebih tinggi, berupa penyerahan total kepada Sanghyang Widhi, tidak disertai dengan permohonan-permintaan, namun aktivitasnya diwujudkan berupa trikaya yang suci, bersih, dan nyata. Jenis yadnya ini misalnya drwya yadnya, tapa yadnya, dan jnana yadnya. Ketiga yadnya ini tidak ada hubungannya dengan Tri-Rnam, artinya dilakukan tanpa didasari kewajiban untuk membayar “hutang” Dalam istilah bahasa Indonesia, kelakuan ini disebut “kebajikan” yang nilainya lebih tinggi dari “kewajiban”

      Panca srada yang menimbulkan apara-bhakti memerlukan upacara dan upakara. Upakara adalah niyasa atau simbol-simbol.
      Yang terlihat berbeda diantara tradisi beragama Hindu di beberapa tempat adalah upacara dan upakara ini. Perbedaan disebabkan karena pengaruh budaya setempat. Dalam tradisi di Bali disebut : Desa – Kala – Patra, Desa mawacara.

      Tentu semuanya akan berpangkal pada awal uraian ini yakni : keyakinan. Sedangkan masalah keyakinan adalah hal yang sangat pribadi pada diri manusia, the human right (meeting a standard of conduct), sulit/hampir tidak bisa diperdebatkan.

      Om Santih, santih, santih, Om

Leave a Reply

  

  

  

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>