Nikah Beda Kasta

QUESTION:

Ada hal yang ingin saya tanyakan, yaitu apakah benar kalau kita menikah dengan beda kasta misalnya sudra akan menikah dengan kesatria itu tidak bagus dalam berumah tangga?

Dan saya dengar kata orang-orang tua itu panes. Dan nantinya misalnya suatu saat nanti orang tua saya meninggal saya tidak boleh menyembahnya untuk terakhir kali. Padahal ini sangat penting sekali dalam kehidupan saya.

ANSWER:

Sebenarnya dalam Agama Hindu, masalah beda kasta dalam perkawinan tidak ada. Tetapi di masyarakat Hindu di Bali hal itu memang seperti yang dikatakan orang tua anda.

Jadi sebaiknya jangan menikah dengan lelaki yang berbeda kasta, karena akan timbul berbagai masalah yang bersumber dari dresta (tradisi) yang menyimpang dari weda.

Lebih baik cari yang aman saja yakni menikah dengan lelaki yang tidak berbeda ‘kasta’ dengan anda, karena untuk merubah cara pandang masyarakat yang terlanjur salah, memerlukan waktu lama, dan memerlukan kesepakatan massa.

33 comments to Nikah Beda Kasta

  • 11
    Mantra says:

    omswastyastu Bhagawan,
    Mnrt saya, jika kita berbicara kasta adalah sebuah kesalahan Dari dulu yg harus dirubah dengan cara kesepakatan bersama adalah sebuah pemikiran yg perlu dibahas panjang dan efeknya perpecahan. Krn sangat berhubungan dengan leluhur, yg menyebabkan perasaan penghinaan thd leluhur yg berkasta jika ingin menghilangkan kasta itu sendiri.

    Diluar dr sejarah.. Mnrt saya, Kasta ada sebagai arahan dan contoh seseorang dalam bertindak, yg berkasta harus jd panutan. artinya.. Seseorang yg berkasta itu hrs memperlihatkan sikap dan perbuatan yg cocok utk dicontoh, bahkan sebagai penengah dan termasuk membantu menyelesaikan permasalahan di masyarakat, Seseorang yg dipercaya. Kejadian sekarang, banyak org berkasta yg tidak memberikan contoh yg bijak, akhirnya yg dibawahnya merasa tidak ada bedanya dgn dirinya. Bahkan merasa semakin ditindas dan diinjak haknya, mereka mulai gerah mempertanyakan eksistensi kasta itu sendiri. Itu sebabnya baru skrng ini org mulai mempertanyakan eksistensi kasta..
    Jadi kasta jangan disalahkan, tp yg patut disalahkan adalah orgnya yg tidak sanggup mengemban kasta itu sendiri.
    Di mata tuhan semua sama tanpa ada perbedaan, saya setuju sekali.. Tp bukan itu masalahnya, terkadang seseorang berkasta itu dihormati bukan saja krn kastanya, tp krn jasa leluhurnya yg menyebabkan keturunannya itu dihormati. Ada sejarah yg patut dipikirkan.

    Akhirnya saya mohon jangan lg kita membicarakan kasta, tp mari kita jalani hidup ini penuh dengan kebersamaan dan sadar diri.

    • 11.1

      Om Swastyastu,

      Memang seharusnya demikian. Baca lebih lanjut di web ini tt perbedaan “Kasta” dengan “Warna” Juga ada baiknya membaca “Caste” dari Encyclopedia Americana buku ke-5 halaman 775

      Om Santih, santih, santih, Om

  • 12
    parmadi says:

    dalam logika saya yang masih awam dengan ajaran agama serta adat yang sudah menjadi satu kesatuan, sempat berfikir apakah Tuhan menciptakan kasta dan warna ini yang sudah termuat dalam Veda atau hanya kesepakatan leluhur kita jaman dahulu sehingga seolah-olah telah terjadi penyimpangan dari makna sebenarnya?”
    Tuhan menyatukan kita tapi kenapa seolah kita yang memisahkannya?

    dari cara awam saya berfikir:
    1. Brahmana, ksatria, waisya dan sudra hanya untuk orang yang bersangkutan saja tergantung dari Profesi dan jasanya, bukanlah karena keturunan.
    2. bukankah Sidarta Gautama(Budha) adalah awatara kesembilan, coba telusuri kenapa awatara kesembilan hadir? bukankah karena terjadi penyimpangan Umat hindu telah melakukan penyimpangan dalam Kasta.

    #mohon maaf jika ada kekeliruan mengenai pendapat saya, saya yang masih perlu belajar lagi tentang ajaran Veda yang sesungguhnya, suksma
    Om Santih, Santih, Santih Om

  • 13

    Om Swastyastu,

    Silahkan membaca kembali semua artikel di web ini yang berkaitan dengan kasta, warna, wangsa, karena sudah dijelaskan panjang lebar.
    Pendapat anda tetap dihargai, dan terima kasih.

    Om Sanntih, santih, santih, Om

  • 14
    icha says:

    ehm emang bener apa bli begitu mama saya dr buleleng dr kasta brahmana sementra nikah sama papa saya yg g punya ksta tp g ada masalah apa2 lnggeng ampe sekarang, saya jd bngung ajaran ini gimana soalnya tiap saya brtanya mama saya jrang mau jawab

  • 15
    nuada says:

    yth. shri begawan.
    sy sering dengar dari org yg pernah baca weda, katanya dalam weda yg ada warna( FROFESI ) dan bukan kasta. Sy coba cari2 dan hubungkan dg sejarah di Bali seperti ada pengingkaran atau mencurangi dari golongan tertentu. Shgsampai saat ini umat jadi binggung. Keadaan seperti itu dari jaman dulu ada upaya dari gol, tertentu mengkapling masyarakat bali shg jadi pembodohan masyarakat(umat) hindu di bali sampe sekarang. Shg ajaran hindu tradisional jauh menyimpang dari weda( pancapilar, satya, darma, shanti, prema dan ahimsa Umat kayaknya berguru pd guru yg salah/tidak paham dg weda.hanya mengandalkan pength. mule keto.Generasi muda hindu hendaknya bangkit bersama ayo kita kembali ke jati diri hidu “weda” tak ada yg lain. suksme beghawan.

    • 15.1

      Om Swastyastu,

      Betul, untuk memahami dan menghayati Sanatana Dharma, yang kini dinamakan Agama Hindu, apalagi Agama Hindu di Bali, kita perlu terus belajar dan banyak membaca, berdiskusi, dan mendengarkan para Sulinggih/Rohaniawan ketika beliau medharma wacana melalui media : TV, Radio, Website, Buku, dll. Jangan tergesa-gesa mengambil kesimpulan apa-apa, khawatir kalau kesimpulan itu kurang pas.

      Om Santih, santih, santih, Om

  • 16
    putu says:

    Sri Bhagawan yth.

    pembahasan masalah kasta, merupakan salah satu hal kursial yang rentan menimbulkan perpecahan. hal itu tentu karena ada pihak-pihak yang bertentangan. dalam sudut pandang saya pengelompokan dan pembedaan lapisan masyarakat bukan hanya didasarkan pada sistem kasta semata, tetapi justru lebih kompleks dari itu. perbedaan treh keturunan pun merupakan salah satu media yang rentan menimbulkan perpecahan. menurut sudut pandang saya pribadi, disinilah salah satu titik lemah kita umat hindu sehingga keberadaan hindu sulit berkembang dibandingkan agama lainnya di indonesia disamping mungkin disebabkan oleh lemahnya pemahaman kita terhadap ajaran Hindu yang adiluhung.dalam pandangan saya banyak memang ada darmawacana, dan ceramah keagamaan lainnya tetapi pembahasan masalah filsafat, tatwa dan etika masih sangat kurang dibandingkan dengan pembahasan upacara itu sendiri meski memang ketiganya sama-sama penting. namun disisi lain mengingat perubahan dan perkembangan zaman yang menuntut adanya dinamika maka pemahaman filsafat dan etika perlu mendapatkan perhatian khusus. oleh karena itu melalui kesempatan ini pula saya mohon kepada Sri Bhagawan untuk lebih banyak memberikan pencerahan-pecerahan kepada umat tentang filsafat etika dan nilai-nilai ajaran agama hindu.
    mohon maaf apabila komentar saya melenceng dari topik yang ada.

    • 16.1

      Om Swastyastu,

      Terima kasih atas sarannya. Namun perlu dipikirkan bahwa web ini menampung keluhan, aspirasi, unek-unek, buah pikiran, dan apa saja yang menyangkut agama dan budaya Hindu khususnya tradisi beragama Hindu di Bali. Tidak sedikit juga artikel kami berisi dharma wacana dan pencerahan lain dalam bentuk artikel sketsa umat dan satua basa Beleleng, maksudnya agar ada variasi, tidak menjemukan. Tentu pengunjung web kami ada yang senang dan ada yang tidak senang bahkan merasa tersinggung. Itu wajar saja, karena pada umumnya manusia tidak senang bila dirinya dikoreksi. Itulah dinamika kehidupan, penuh dengan masalah tidak bisa ditutupi atau diangap tidak ada, hanya dengan tujuan menyenang-nyenangkan diri. Seperti biasanya dalam dunia maya, kalau tidak senang dengan artikel atau berita apa saja, yang bersangkutan dapat sign-out dengan santai saja.

      Om Santih, santih, santih, Om

  • 17
    Wayan Sandhi says:

    Yth, Sri Bagawan.

    Memang masalah kasta sangat rentan kalau di bahas karena akan menyinggung banyak perasaan terutama bagi orang-orang yang merasa terlibat di dalamnya.

    Saya adalah orang Sudra/Jabe (menurut warna bukan dilihat dari kasta) menikah dengan seoarng Ida Ayu dari Sanur. Memang pertamanya pernikahan kami tidak direstui oleh karena saya dianggap melanggar dresta/kebiasaan kita di Bali (Hindu), tetapi syukur tidak berselang lama akhirnya kami diterima sebagai menantu karena hal itu toh juga telah terjadi.

    Menurut saya yang awam ini bahwa : Jodoh, rezeki, hidup dan mati seseorang semuanya telah di gariskan oleh Ida Shang Hyang Widhi Wasa (TYME) sehingga hal tersebut tidak dapat kita hindari. Sebenarnya saya tidak pernah bercita-cita ingin menikah dengan seorang : Ida Ayu ataupun yang lain yang dianggap kastanya lebih tinggi, tapi sekali lagi bahwa itu adalah karunia/takdir dari Ida Shang Hyang Widhi Wasa yang harus saya jalani. Jika berbicara panes/dingin apabila kita menikah dengan gadis/lelaki yang berbeda kasta itu tergantung juga dari individu itu sendiri karena banyak orang menikah dengan kasta yang sama mereka hidupnya jadi panas (sering ribut) dalam keluarga karena mereka tidak bisa menahan egonya masing-masing. Maka benar orang bijak mengatakan bahwa “Dewa ” ade di Deweke yang artinya bahwa apabila kita dalam menjalani hidup bisa berpikir secara arif dan berbuat dengan bijaksana maka tidak ada orang merasa tersakiti. Kuwalitas (kemampuan) seseorang untuk mengendalikan diri dari hal-hal yang bersifat negative disanalah kita dapat melihat sifat ” Dewa ” dalam diri kita sendiri.

    Maaf saya tidak bermaksud menggurui siapapun karena pengalaman hidup saya masih sangat sedikit dan masih perlu banyak belajar dari para pengelingsir yang sudah lebih dulu mengenyam asam garam kehidupan sehari-hari dan dalam kehidupan beragama.

    Suksme

  • 18
    SANJAYA says:

    Om Swastyastu

    Saya seorang yg bisa dikatakan dari golongan sudra , dan suatu ketika saya bertemu dan menjalin hubungan dengan salah seorang yg termasuk golongan Brahmana , akan tetapi saat pasangan saya mengatakan tentang hubungan saya kpada keluarganya knapa keluarganya menentang dengan keras hubungan saya dan malah mengatakan ” Lebih baik kamu memikirkan keluargamu dan kastamu ”
    apakah seharusnya seperti itu pendapat seseorang tentang perbedaan kasta tanpa terlebih dahulu mengetahui bagaimana sebenarnya sifat , caracter , kehidupan , dan pola pikir saya .

    yang saya ingin tanyakan,
    apakah seorang yang berkasta sama dengan dia dapat melakukan hal yang lebih baik dari saya ?
    dan memberikan segalanya yang lebih baik dari yang saya berikan ?

    karna saya telah mencoba melakukan yang terbaik yang mampu saya berikan dan saya tunjukan ,
    tapi apakah itu semua tidak berarti karena perbedaan kasta itu sendiri ?

    mohon petunjuk dan penjelasan dari Sri Bagawan
    Suksma

    om cantih cantih cantih om

  • 19
    Rio says:

    Yth Bapak Bhagawan<

    mohon informasi berkenaan dengan pernikahan antar kasta di bali, tepatnya di padang Aji Karangasem..

    ada kisah sebagai berikut :

    - ada seorang wanita berkasta ksatria(sebut namanya Igusti)suatu ketikan bertemu dengan seorang laki2 berkasta Sudra (sebut namanya wayan)..dan akhirnya laki2 tersebut mengantarkan wanita tersebut pulang kerumah..tanpa di ketahui wanita tersebut…laki2 tersebut melamar wanita tersebut kepada keluarga besarnya…padahal kita tahu hal seoperti ini banyak di hindari…
    dan wanita tersebut menolak untuk menikah dengan laki2 tersebut karena tidak mencintai dan baru kenal…akan tetapi dari pihak orang tua tetap memaksa wanita tersebut menikah dengan wayan….akhirnya wanita tersebut dengan terpaksa menikah dengan wayan…hanya karena diantarkan pulang kerumah dengan berboncengan motor.
    apakah hanya dengan mengantarkan pulang dan langsung melamar wanita tersebut , si wanita harus menerimanya? padahal kita tahu si wanitapun akan turun kasta

    terima kasih
    Rio

  • 20
    putu says:

    Om swastyastu,
    saya tertarik dengan apa yang saudara rio sampaikan, dan itu saya rasa tidak hanya terjadi sekali dua kali dan bahkan tidak hanya terjadi di satu tempat saja. saya yakin dan percaya bahwa di era seperti saat ini masih ada kejadian-kejadian seperti itu. menikah dengan alasan yang menurut saya tidak realistik. Dalam sudut pandang saya pribadi tradisi seperti itu semestinya di telaah kembali karena akan merugikan pihak wanita yang semestinya kita lindungi dan kita jaga. di sisi lain dengan adanya tradisi seperti itu, dimana pun itu tentu akan dimanfaatkan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab dan tentunya demi kepentingan pribadi.
    Saya sependapat bahwa kita perlu melestarikan dan mengajegan tradisi dan budaya bali, tapi kita pun harus cermat, tradisi yang seperti apa. jelas bahwa tradisi yang perlu kita ajegkan adalah tradisi dan budaya adiluhung yang akan membawa kita kepada kesejahteraan dan ketentraman dan menurut saya bukan berarti bahwa semua tradisi harus tetap dipertahankan padahal tradisi dan budaya tersebut bertentangan dengan hati nurani dan terlebih-lebih merugikan kita sendiri.

    om santih, santih, santih om

Leave a Reply

  

  

  

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Subscribe without commenting