QUESTION:
Ada hal yang ingin saya tanyakan, yaitu apakah benar kalau kita menikah dengan beda kasta misalnya sudra akan menikah dengan kesatria itu tidak bagus dalam berumah tangga?
Dan saya dengar kata orang-orang tua itu panes. Dan nantinya misalnya suatu saat nanti orang tua saya meninggal saya tidak boleh menyembahnya untuk terakhir kali. Padahal ini sangat penting sekali dalam kehidupan saya.
ANSWER:
Sebenarnya dalam Agama Hindu, masalah beda kasta dalam perkawinan tidak ada. Tetapi di masyarakat Hindu di Bali hal itu memang seperti yang dikatakan orang tua anda.
Jadi sebaiknya jangan menikah dengan lelaki yang berbeda kasta, karena akan timbul berbagai masalah yang bersumber dari dresta (tradisi) yang menyimpang dari weda.
Lebih baik cari yang aman saja yakni menikah dengan lelaki yang tidak berbeda ‘kasta’ dengan anda, karena untuk merubah cara pandang masyarakat yang terlanjur salah, memerlukan waktu lama, dan memerlukan kesepakatan massa.

sebelumnya saya minta maaf, karna lancang saya seorang luar hindu dan berpacaran dengan orang hindu,dalam hal ini calon mertua saya meminta tuk masuk hindu nantinya dan saya menyetujuinya
berawal dari situ saya mulai cari2 materi tentang agama hindu…
ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan:
1. bagiamanakah cara saya masuk ajaran hindu?
2. pacar saya sampai sekarang belum jg mengajak saya menikah,padahal secara ekonomi,umur dan batin sudah mapan. apakah ad syarat ato ketentuan tertentu tuk seorang hindu dalam menikah orang luar hindu ad kriteria tertentu??
sebelumnya saya ucapkan terima kasih atas bantuannya :)
1. Belajar Agama Hindu dapat dilakukan dengan auto didact, baca buku-buku tt hal ini. Saya anjurkan sebagai langkah awal membaca buku : Buku Pendidikan Agama Hindu untuk Perguruan Tinggi, Drs. I Gusti Made Ngurah, Penerbit Paramita, Surabaya, 1999
2. Ikuti kuliah di IHD atau STAH
3. Berkomunikasi dengan Sulinggih (Pendeta)
4. Tidak ada ketentuan/kriteria khusus yang bisa menyebabdkan penundaan perkawinan.
5. Anda mengikuti upacara Sudhi Waddani sebelum menikah.
saya mau tanya nih,, apa sih artinya tai lalat di pundak kiri…? kq hidup saya susah terus mencintai laki-laki selalu saja ditinggalkan apa penyebab semua ini apakah tuhan sedang menghukum saya ya,,,???
Mungkin belum ketemu jodoh yang pas. Sabar. Tai lalat di pundak kiri justru ciri baik, yakni pekerjaan lancar dan murah rejeki.
saya mau tanya… apakah maksud upacara “patiwangi” pada pernikahan beda kasta…. dan apa manfaatnya ?
suksma
@wayan: Upacara itu sudah tidak dianjurkan sejak tahun 1951 oleh Gubernur Sunda Kecil yang berkedudukan di Singaraja. Manfaatnya tidak ada, namun dipandang sebagai pemecah belah umat Hindu di Bali karena mengandung unsur-unsur feodalisme.
omswastyastu Bhagawan,
nunas pangampura antuk iwang titiang, meled antuk arsa matur ring Bhagawan
titiang pacang matur ngangge bahasa indonesia,
sedikit tidak setuju dengan pernyataan ini “karena untuk merubah cara pandang masyarakat yang terlanjur salah, memerlukan waktu lama, dan memerlukan kesepakatan massa.”
sepertinya kita menjadi orang-orang yang membiarkan kesalahan tetap berjalan di masyarakat, sedangkan Bhagawan sebagai seseorang yang lebih tahu daripada kami para umat. pernyataan saya ini hanya berdasarkan azas hak asasi manusia…terkadang beberapa pengalaman yang nyata terjadi di masyarakat, belum tentu seseorang yang berKASTA memiliki kemapanan BHATIN untuk selalu menjadi pasangan yang tepat dan bertanggung jawab.
yang sering menjadi perhatian saya, kerap terjadi kesemena-menaan pada salah satu pihak bila ternyata kehidupan rumah tangga tidak berjalan seperti yang diharapkan, dhi korbannya adalah perempuan. herannya, orang tua kita lebih memilih dan tetap berbangga saat anaknya “pulang” ke rumah ketika keretakan rumah tangga terjadi dengan tetap menguatkan hati berkat dalam embel-embel “ouh…menikah antar semeton, nda papa nak kamu menjanda”
haaahhh..lucunya masyarakat kita yang menganut paham ini, mengorbankan perasaan dan kehidupan seseorang hanya untuk kepentingan dan kebahagiaan semu orang lain!
sedangkan kita sendiri belum tahu, apa benar leluhur menginginkan hal seperti ini? kita membatasi diri dan terkadang merasa menjadi yang paling suci di antara orang-orang lain!
sepertinya kita hanya berkutat pada KEBANGGAAN BERGENGSI dan PENCITRAAN yang tak ada habisnya
suksma,
@dayu inten: Betul, namun masalah rumah tangga di setiap kasus selalu berbeda, baik dalam hal awal terjadinya kasus, maupun cara-cara mereka menyelesaikan maalahnya, tentu sangat dominan dipengaruhi oleh pola pikir yang terwujud dari kedewasaan dan pendidikan serta proses belajar/mengajarnya. Selain itu yang tak kalah pentingnya adalah peranan lingkungan/masyarakat. Feodalisme sebenarnya banyak dibentuk oleh masyarakat itu sendiri, bukan oleh elit-elit (kaum feudalism). Misalnya di Eropa, yang dahulu kental dengan fedalisme misalnya Perancis, Inggris, Belanda, akhirnya toh tumbang oleh masyarakat/rakyatnya sendiri melalui berbagai revolusi. Jadi kita di Bali bagaimana ? Silahkan menjawab sendiri. Kalau masih ada kalimat seperti ini di masyarakat : “Titiang nunasang antuk linggih” atau “Titiang kaulan Cokor I Dewa” atau “Titiang panjak saking dusun” maka jangan harap feodalisme di Bali akan sirna. Menurut pandangan saya, di Bali sekarang berkembang “Psideo Feudalism” atau “Shadow Feudalism” misalnya kiprah eklusif dari soroh-soroh tertentu. Kapan Bali maju kalau begini ?
Menurut saya, kasta di era facebook ini bukan ngeliat lagi dari keturunan tetapi dari perilaku dan intelektual.
@Ayu Widia: Betul, baca di blog ini : “Kasta”
suksma Bhagawan…
terpenting adalah sikap batin kita, jika kita EMAS, di mana pun akan tetap menjadi EMAS, tidak perlu bungkus yg mewah untuk melihat esensi dari si emas…
semoga masyarakat bali tetap berharmoni meski dengan perbedaan-perbedaan yang ada, dan tidak menghakimi siapapun yang berbeda dari mereka seperti yang terjadi belakangan ini di ranah BHINNEKA TUNGGAL IKA
@dayu inten: Betul sekali, itulah pribadi yang luhur, menghormati keragaman keyakinan, seperti yang pernah ditekankan oleh Gajahmada ketika beliau berhasil menyatukan Nusantara.
Bhagawan.., Saya mau tanya nih:
Saya ada rencana mau melakukan pernikahan dimana pasangan saya memiliki gelar “dewa ayu” sedangkan saya tidak punya. Dari pihak keluarga pasangan meminta agar saya melakukan nyentana baru bisa dilakukan pernikahan dengan alasan pasangan saya saudaranya perempuan semua dan hanya dia yg belum menikah, Jadi nantinya dia yang akan menjadi penerus keturunan. Setelah saya tanya sama keluarga saya, ternyata nyentana tidak dibenarkan oleh keluarga saya bahkan saya diancam akan tidak dianggap anak lagi jika nyentana. Adakah jalan tengah yang harus kami lakukan? kami tidak mempermasalahkan mau nyentana atau bukan, tapi kami ingin mendapat restu dari dua belah pihak keluarga kami? Apakah jika nanti ternyata saya tidak nyentana, nantinya keluarga pasangan saya akan ada salahnya kalau dilihat secara agama, karena tidak ada yang melanjutkan keturunannya. Terima kasih sebelumnya.
@budiastika: Hambatan-hambatan dalam pawiwahan sudah sejak zaman dahulu ada jalan keluarnya yang disediakan oleh Hukum Adat Hindu-Bali, yakni “merangkat” (kawin-lari). Tanyakan kepada tetua, pelaksanaan adat di desa anda, tt aspek tekhnisnya.
omswastyastu Bhagawan,
maaf sblmnya kiranya sy mohon penjelasan masalah kasta,, dmn slama ini sy mendengar pemahaman2 yg berbeda2 mengenai kasta,,,
apakah betul kasta itu adalah suatu bidang pekerjaan dmn seorang sudra adalah seorang petani ,kasta brahmana adalah seorang pendeta,dan sebagainya,,,,??? bila mana sy seorang yg berketurunan kasta sudra namun pada saat ini sy bekerja di bidang yg bukan menekuni pertanian namun dalam pemerintahan negara apakah saya masih dalam golongan kasta sudra yg dikenal sebagai petani???? dan apakah keturunan kasta brahmana masih bisa disebut seorang brahmana padahal belum menjadi pendeta/sulinggi/pedanda misalnya menjadi seorang prajurit,,,
mohon maaf sebelumnya kiranya bisa diberikan pencerahan mengenai pembahasan ini sehingga sy bisa lebih mengerti masalah kasta ini,,, ampura
Om Swastyastu Aji Bhagawan Dwija.
Semoga Aji dalam selalu keadaan sehat wal’afiat dan dilimpahi penuh keberkahan.
Saya seorang pemeluk agama Islam, umur saya sudah cukup untuk menikah dan saya sudah sanggup untuk membangun sebuah keluarga. Saya mencintai seorang wanita beragama Hindhu dan dia berkasta Brahmana. Saya sendiri berdarah Betawi-Jogja dan masih memiliki garis keturunan Panembahan Senopati Raja Mataram (itu bisa saya buktikan).
Kami saling mencintai, sayangnya hubungan kami seakan “abu-abu” karena perbedaan itu. Saya berniat serius dengannya, bahkan kami sudah berbicara untuk rencana menikah, alhasil kami sepakat akan tetap memeluk agama kepercayaan kami masing-masing. Dari pembicaraan kami, banyak sekali rintangan dan cobaan yang akan kami hadapi kedepan.
Ada beberapa hal yang mau saya tanyakan, yaitu:
1. Dalam ajaran agama Hindhu, apakah pernikahan beda agama di bolehkan? dalam agama saya masih perbedaan pendapat ulama (ada yang bilang boleh, ada yang bilang tidak).
2. Bila pacar saya menikah dengan saya, apa benar dia akan di usir dari kampung halaman bahkan dianggap sudah mati? pacar saya bilang akan dibuat upacara nyorot/turun tahta. Bila benar begitu, apa ada dalil’nya dalam ajaran Hindhu?
Jadi Aji Bhagawan Dwija, dengan rendah hati saya mohon diberikan penjelasan. Pahit manisnya penjelasan dari Aji, akan saya terima. Saya berkeyakinan ada celah kebijakan yang akan memudahkan dan memberikan jalan terang untuk niat baik kami ini.
Terima kasih banyak Aji,
Matur Suksume.
Mochamad Son
Jakarta
Om Swastyastu,
1. Secara eksplisit dalam Weda, tidak ada. Tetapi di Manawa Dharmasastra Buku ke-3 disebutkan bahwa tata cara perkawinan (pawiwahan) hendaknya mengikuti ketentuan-ketentuan yang diatur dalam Manawa Dharmasastra. Misalnya pada pasal 30 disebutkan bahwa ayah si wanita memberikan doa dan pesan kepada kedua mempelai dengan “mantra”. Jadi tafsir dari pasal ini mengkiaskan bahwa kedua mempelai adalah pemeluk Hindu.
2. Itu tergantung dari fanatisme dan feodalisme seseorang. Tidak semua sama seperti itu.
Saya ingin menanyakan apakah hindu bali dan hindu di India itu sama adanyaa????
saya memiliki kekasih beragama hindu(kasta brahma) dan berkebangsaan India sedangkan saya adalah seorang Kristiani. Kami berencana untuk menikah, APakah dgn perbedaan agama tersebut akan menjadi hal yg sulit untuk menjadi nyata???
Hindu-Bali dengan Hindu-India berbeda dalam srada dan upacara, walaupun mempunyai kesamaan dalam tattwa, yakni Weda. Perbedaan agama s/i di India saya tidak tahu, dibolehkan apa tidak. Soal kerukunan rumah tangga itu tergantung dari tebalnya cinta anda, ketulusan, kejujuran, kerelaan berkorban, pengertian, dll.