QUESTION:
Ada hal yang ingin saya tanyakan, yaitu apakah benar kalau kita menikah dengan beda kasta misalnya sudra akan menikah dengan kesatria itu tidak bagus dalam berumah tangga?
Dan saya dengar kata orang-orang tua itu panes. Dan nantinya misalnya suatu saat nanti orang tua saya meninggal saya tidak boleh menyembahnya untuk terakhir kali. Padahal ini sangat penting sekali dalam kehidupan saya.
ANSWER:
Sebenarnya dalam Agama Hindu, masalah beda kasta dalam perkawinan tidak ada. Tetapi di masyarakat Hindu di Bali hal itu memang seperti yang dikatakan orang tua anda.
Jadi sebaiknya jangan menikah dengan lelaki yang berbeda kasta, karena akan timbul berbagai masalah yang bersumber dari dresta (tradisi) yang menyimpang dari weda.
Lebih baik cari yang aman saja yakni menikah dengan lelaki yang tidak berbeda ‘kasta’ dengan anda, karena untuk merubah cara pandang masyarakat yang terlanjur salah, memerlukan waktu lama, dan memerlukan kesepakatan massa.

om swatyastu, saya widya dari tabanan, saat ini saya sedang menjalin hubungan dengan seorang gusti. tetapi saat ini setelah saya pacaran selama 2 tahun mulai ada perdebatan dengan keluarga saya yang mengatakan bahwa sebaiknya menghindari laki-laki yang berkasta karena kemungkinan nanti pihak perempuan tidak bisa nyembah dan masuk ke mrajan bajang. nah, yang ingin saya tanyakan, adakah kutukan atau tulah jika pihak perempuan dari jabe yang sudah menjadi jero melanggar tradisi tersebut? atau itu hanya rumor saja? dimana saya harus mencari kepastian? dan langkah apa menurut bgawan yang paling tepat yang harus saya ambil? Suksma^^
Kalau kutukan sih tidak ada, akan tetapi pelanggaran ada?
Dan hal itu sangat susah untuk dijelaskan. Kalau anda ingin menjalani hubungan denga orang yang berwangsa lebih tinggi”akan tetapi hanya untuk perempuan” suatu hari nantinya apabila sudah nikah dan punya anak”itu juga kalau jadi mekel/jero” darah dari anak tersebut tidak sepenuhnya Gusti karena telah bercampur dengan darah yang lain….Kalau dari pihak Gusti tersebut sudah pernah mengambil orang”wanita” dari wangsa yang lebih rendah maka keturunannya tidak boleh lagi menikah dengan wangsa yang lebih rendah sampai dengan 2 kali…Apabila untuk ketiga kalinya maka tidak lagi disebut sebagai Gusti…Begitupun dengan wangsa-wangsa yang lainnya…Sekian dan terima kasih
om swastyastu Bhagawan.
saya berpikir bahwa jodoh sulit kita hindari. saya masih belum banyak pengetahuan. tapi, jika direnungkan dalam pikiran, sepertinya kasta adalah jurang pemisah terbesar di dalam perkawinan jika memiliki kasta berbeda.
Sdr Sudana, saya ingin sedikit komentar karena terusik dengan keadaan di Bali yang memang dibuat sedimikian rupa oleh pendahulu kita akibat kesalah pahaman pengertian tentang wangsa/warna dan kasta yang sudah terjadi berabad-abad.
saya merasa pertanyaan-pertanyaan tersebut sujatinya cocok dipertanyakan di abad sebelum 19, dimana paham kita masih belum maju. Kalau sekarang masih sering ditanyakan, saya geli sendiri dan paling baik jalani saja. contoh konkret, Pangdam Udayana, orang Bali dari golongan Hebat yang berhasil menjadi pucuk pimpinan tentara di Bali beristri dari lingkungan Puri Ubud. Malahan sukses, bahkan terbalik dengan virus menyesatkan yang diberitahu oleh segelintir orang demi mempertahankan statusnya.
Jadi terserah ke kita sendiri, mau pola pikiran maju atau masih suka menengok ke belakang dengan virus ketakutan yang sengaja disebarkan luaskan tersebut.
@All;
Om Swastiastu,
Cinta dan benci pada objek sesuatu berasal dari objek sesuatu tersebut, dan semuanya berasal dari indria, jadi cinta dan benci hanyalah sebuah penghalang. Intinya jangan terlalu mencintai seseorang dan jangan juga terlalu membenci seseorang, jika mencintai orang lain janganlah mencintainya karena kecantikan atau ketampanannya, harta kekayaan, kejayaan, status dan lain sebagainya. Intinya jika cinta ditolak ya janganlah menyalahkan orang yang menolak cinta anda, lihat dulu diri sendiri. Kalau tidak direstui jangan salahkan orang yang tidak merestui. Jadi janganlah hanya karena masalah kasta dan pernikahan beda kasta kita jadi memusuhi dan dendam kepada orang-orang yang berkasta. Dan juga jangan asal berkomentar ya sdr. ketut susila, agar tidak beda jauh antara nama dan perilaku. Jadi menurut saya sendiri, orang yang berpola pikir terlalu maju juga buruk, dan terbelakangpun juga buruk. Jadi jangan menyalahkan orang berkasta menyebarkan virus ketakutan, karena yang dibicarakan orang-orang memang banyak yang seperti nikah beda kasta itu panes dan sudah terbukti 85%. Saya tidak mendukung siapa-siapa, yang mau menyalahkan orang berkasta silahkan, sedangkan yang tidak juga silahkan. Yang masih kuat mempertahankan pendapatnya silahkan, dan yang tidakpun juga silahkan. Kita hanya bisa memasrahkan diri kepada TYME, karena sesungguhnya beliaulah yang berhak mengatur manusia dan bukan manusia yang mengatur beliau.
Dan yang saya herankan lagi kenapa ketika membicarakan masalah kasta yang dijadikan penguat adalah masalah cinta, sedangkan kita tahu bahwa cinta itu tidak sepenuhnya baik, dan cinta hanyalah sebuah perasaan yang muncul berdasarkan hawa nafsu/keinginan”kama”. Dan bukankah kama itu perlu dikendalikan, akan tetapi mengapa di sini terlihat tidak ada yang bisa mengendalikannya?
Dan saya sarankan katanya Ratu Bhagawan sudah memutuskan hubungan akan duniawi, lalu kenapa masih mengurusi masalah cinta, apalagi cinta yang timbul karena kama?
Apakah menjadi Sulinggih itu mengurusi masalah cinta dalam artian mencintai seseorang”beda jenis antara lelaki dan perempuan”?
Kalau ingin membuat postingan masalah kasta, tolong hindari masalah cinta, karena apapun yang dihubungkan dengan cinta yang menang pasti cinta, karena jaman sekarang cinta itu buta. Tidak memandang baik dan buruk, kalau sudah cinta yang baikpun bisa jadi buruk.
Lebih baik berpikiran yang jernih daripada menyalahkan orang lain yang belum tentu salah, apakah diri anda sudah lebih baik dari orang lain?
Om Snatih Santih Santih Om
made murdani, terima kasih atas komentar baliknya. karena kamu meresponse negative terhadap komentar saya, tampaknya kamu belum membaca komentarnya yoga. jadi coba baca lagi dengan baik sehingga kamu bisa proporsional.
Kamu katakan semuanya diatur oleh Tuhan dan pasrahkan semuanya thd Tuhan. Akan tetapi dibalik semua yang kamu katakan itu, tampaknya kamu ingin tetap melanggengkan sistem kasta yang sudah keliru itu dan menyebarkan wabah virus . apakah kamu pikir Tuhan mengurus 85% nikah beda kasta menjadi “panes”?…sekali lagi, jangan menyebarkan virus ketakutan bagi generasi muda Hindu….ntar minggat dan pindah agama mereka karena kena sakit virus..
@Ketut Susila;
Ooh sebenarnya kamu itu memang benar-benar iri ya terhadap orang yang berkasta?
Saya sudah membaca semua komentar di blog ini yang berkaitan dengan kasta, dan terlihat jelas sekali bahwa anda itu bersikap seperti itu. Wah wah bagaimana ya jadinya umat Hindu Bali kalau semuanya berpikir kyk kamu?,….Saya jadi curiga sama kamu, kamu berpendapat sama dengan Ratu Bhagawan, menganggap kasta itu adalah penyakit/virus?
Apakah kamu ini Ratu Bhagawan ato antek-anteknya?
Karena dari segi berkomentar dan mengeluarkan pendapat hampir sama..,,,…Sorry ya kalo salah, habis pendapatnya hampir sama sih?
Wah semua pendapat orang-orang di postingan ini saling memperkuat dirinya,,,Huh males liat komentar-komentar yang tak bermutu seperti di blog ini…Ada yang asal berkomentar, ada yang asal ngmong tanpa berpikir, ada juga yang sangat pendendam..Saya lebih setuju dengan pendapat mademurdana, dan bukan dengan pendapat yang lainnya…..Jujur ya saya tuh gak mentingin masalah kasta, yang penting orang berkasta itu besikap baik sesuai dengan kasta yang diembannya, dan tak masalah, it’s ok..No problem…..Tapi yang sekarang jadi masalah adalah orang-orang seperti anda….., kalopun ada yang berpindah agama karena masalah yang gak seharusnya dibahas sperti ini…Biarkan mereka berpindah agama, kalo memang itu kehendak mereka, kan gak dilarang UU???
Untuk apa anda mempermasalkan ini….Yang masih pengen ttp Hindu, apalagi Hindu Bali saya mohon untuk selalu waspada terhadap virus-virus perusak seperti ketut susila ini,,,yaa meskipun saya ini bukan org berkasta, tapii saya sudah muuuaaak melihat apalagi mendengar omongan virus-virus perusak ini, maleeeeeeees ahhhhh cuma itu-itu aja yang dpke bhasan, dan ujungnya juga itu” ajha, apalagi dsarnya cuma itu” ajha..Yen ada je raos bhatar nganikang kasta itu buruk, mara kagugu, ajak yen ada raos bhatara bahwa kasta itu baik, gugu yang masih..Jadi untuk sementara ini, karena belum ada raos bhatara lebih baik bersikap jernih dan hadapi semuanya..Baik yang berkasta, ataupun si virus perusak..???,,,So untuk apa memperpanjang masalah ini??….,,,, apalagi dengan mengatakan bahwa yang berkasta menyebarkan virus ketakutan??? tapi dipikir-pikir malah yang gak berkasta lebih banyak menyebarkan virus-virus kerusakan…Ahahahaha seperti anda,,,Namanya juga virus ya, kalo gak inangnya yang dihabisi pasti anak buahnya ttp ada, tpi kalo virus kasta siapa kira” inangnya ya???!!!!!! :D :P
beli AC klo panes..hehehe
saya juga pingin ikut berkomentar atas masalah ini.maaf tapi saya pingin memberi pendapat ttg perdepatan ini yg tak seharusnya jd panjang.komentar bayu juga murdana anda memang benar2 hebat ya.klo begini semua,ego yg maju gimna kelak hindu akan bertahan.sprti kata yoga,ada yg iri sama kasta yg lebih tinggi?klo saya sendiri tak pernah merasa iri dgn kasta yg mengaku lebih tinggi.karena ngga zamannya lagi,sekarang uang yg bicara.itu baru fakta.klo km punya uang bnyk akan ada banyak penangkilan,klo pun km org”sudra”.dan itu fakta.mengapa kita perlu baca sejarah,buku2 agama adalah untk mencapai kebijaksanaan hidup.supaya kita bisa saling menghormati satu sam lain.tak merendahkan org karena merasa paling tinggi.karena didileluhur kebanyakan kita bersaudara.kasta adalah pemahaman yg salah bertahun2.saya disini bukan penghapusan,tapi ngga dihapus pun kelak akan terhapus dgn sendirinya.karana bnyk orang merasa direndahkan oleh org2 yg kaku,yg mengaku kasta paling tinggi.apalagi menuntut hak2 istimewa dlm kehidupan masyarakat.hari gini?????ga ada yg mau coy,paling2 mereka akan tersisih.mengenai menikah dengan kasta yg lebih tinggi akan “panes”.panes apanya,perutnya.saya ada pengalaman.saudara saya nikah dengan dayu,hidupnya fine2 aja.rezeki melimpah,dirumah tangga biasa2 saja.yg satu,sepupu saya nikah sama anak agung.skrg biasa2 saja.yg lebih lucu lagi saya punya temen tamu,nikah sama dayu dari kelungkung,tpi dia fine2 aja ga panes.ngapain panes.klo nikah sama api baru anda lgsung diaben.
1.secara garis besar dapat ditarik kesimoulan bahwa,itu cuman
pikiran kalian sendiri.disamping untuk memperkuat setatus
sendiri.itu hanya semacam sugesti saja.buktinya hanya orang2
yg terlalu yakin dgn itu saja yg tertimpa kemalangan.
kita hidup dan pasti akan mati,orang kaya psti ada yg akan
miskin,tubuh ini pasti akan sakit dan kelak akan sampe ketanah wayah.setiap rumah kadang ada pertengkaran.kemalangan dan kemujuran akan slalu ada.tpi yg pasti bukan karena nikah beda”kasta”.
2.biasanya klo nikah dgn dayu “katanya” panes krn surya.
yg dimaksud surya adalah beliau yg medwijati yaitu pedandanya.
klo anak2nya yg belum didwijati ya biasa2 saja.
*.surya=artinya seorang brahmana harus sprti matahari
mampu memberi penerangan kpd umatnya.karena brahmana
menguasai pengetahuan weda.dan kegelapan pikiran hanya bisa
disingkirkan oleh lentera pengetahuan.
3.
*.siwa=yg dimaksud disini adalah sebagai”guru”rohani makanya
murid dipanggil sisya.
*.pedanda dri dasar katanya berarti tongkat.artinya seorang
brahmana harus bisa menuntun umatnya saat mereka tersesat
rimba kehidupan.
Tuhan tidak menilai orang dari kastanya pak, kasta kok diperdebatkan, itu hanya masalah garis keturunan saja,,,,, kapan Hindu bisa berkembang klo berkutat disini terus,,,