Bali dan Kekinian

Orang Bali zaman silam yang dikenal dan ditulis oleh para anthropologist sebagai yang berbudi pekerti luhur karena keyakinan atau kepercayaannya serta melaksanakan ajaran-ajaran Agama Hindu-Bali dengan baik, yang berjiwa halus terlihat dari budaya kesenian bermutu tinggi, yang ramah tamah, toleran, satya wacana, jujur, rendah hati, suka bergotong royong, dan nilai-nilai mulia lainnya, kini telah porak poranda karena orang Bali tidak mampu mempertahankannya.

Salah seorang Maha Rsi yang tiba di Bali dari Jawa Timur pada abad ke-11, bernama Mpu Kuturan. Beliau menulis sebuah lontar: Pakem Gama Tirtha yang kemudian dikenal sebagai salah satu upanisad tentang Agama yang pertama kali dianut oleh penduduk di Pulau Bali. Read more » Bali dan Kekinian

Kerawuhan

Hakekat kerawuhan hendaknya ditinjau dari logika berdasarkan Sastra Agama. Apakah mungkin Ida Sanghyang Widhi Wasa melalui Bethara-Bethari manifestasi-Nya mewujudkan bentuk diri memasuki badan atau suksma seseorang?

Bukankah Beliau “Acintya” tidak dapat dibayangkan, dipikirkan, apalagi dilihat dengan mata atau didengar suaranya? Hanya Maha Rsi tertentu di jaman Weda saja yang dapat menerima wahyu-wahyu-Nya. Read more » Kerawuhan

Cara Mendapatkan Sumber Kehidupan

Cara mendapatkan sumber kehidupan bagi umat Hindu diatur dalam Manawa Dharmasastra *) Buku ke-4 “Atha Caturtho ‘Dhyayah” antara lain pada pasal 3 berbunyi:

YATRAM ATRA PRASIDDHYARTHAM, SWAIH KARMABHIRAGARHITAIH, AKLESENA SARIRASYA KURWITA, DHANASAMCAYAM

artinya: Untuk tujuan mendapat nafkah guna menunjang kehidupan, seseorang hendaknya mengumpulkan penghasilannya dengan menjalankan usaha yang tidak tercela sesuai dengan swakarma-nya tanpa membuat dirinya terlalu payah tidak menentu. Read more » Cara Mendapatkan Sumber Kehidupan

Mahabrata

1. Di bagian akhir cerita, Yudistira di Neraka (maya katanya) 13 hari lamanya terus Neraka maya menjadi Surga di hari ke-13 sejak Yudistira di sana. Kenapa 13?

Angka 13 dalam Hindu adalah angka yang keramat, karena dalam Sanskrit dan juga terbawa dalam Bahasa Jawa Kuno disebut sebagai “trio dasa sakti’ artinya 13 manifestasi Sanghyang Widhi, Yang Maha Esa, atau yang 13 itu adalah 1 jua adanya. Read more » Mahabrata

Sandat

Pesawat Garuda nomor penerbangan GA 347 mendarat dengan mulus di Bandara Ngurah Rai Denpasar tepat pada jadwal yang tertera pada tiket Jakarta – Denpasar yakni 22.30 Wita.

Nyoman Sedana tak sabar menungu antrean penumpang yang turun. Semua bawaannya sudah dijinjingnya dengan hati-hati. Di tas kecil ada beberapa botol parfum bermerk Extreme Bvlgari yang masih utuh terbungkus rapi seperti semula dibeli siang tadi di Singapore. Read more » Sandat

Waktu Odalan Sanggah

QUESTION:

Apakah kalau sanggah sudah dipelaspas (misal buda cemeng menail) untuk 6 bulan yg akan datang pada hari wuku yg sama, sanggah harus diodalin.

Karena ini hanya sanggah kecil saja sedangkan sanggah asli/ besarnya ada di karangansem odalan tiap ukir. Kalau ya, apa saja bantennya? Apa cukup dengan banten asoroh? Read more » Waktu Odalan Sanggah

Status Anak

QUESTION:

Saya memiliki putra yang lahir di luar nikah tanpa ada upacara pernikahan, baik sekala maupun niskala. Sejak usia 3 bulan anak saya diasuh oleh neneknya. Pertanyaan yang ingin saya sampaikan adalah: Bagaimanakah status putra saya secara administratif?

Kalau diasuh dan dijadikan anak angkat oleh orang tua saya bagaimana carannya karena secara otomatis anak saya akan menjadi adik saya. Apakah sah secara Hindu, bagaimana upakaranya? Read more » Status Anak

Page 10 of 111« First...89101112203040...Last »