Sembahyang Menghadap Mana?

Menurut Lontar Tutur Kuturan, ada istilah “hulu” dan “teben”. Istilah ini muncul karena keterbatasan pikiran kita, kemudian memandang bahwa Tuhan itu seperti organ manusia, ada kepala, badan/ tangan, kaki.

Lihatlah misalnya lambang acintya, toh berbentuk manusia. Dari sini berkembang bahwa hulu itu kepala, teben itu kaki. Selanjutnya ini juga menjadi patokan utama, madya, dan nista mandala dari sebuah bangunan suci/ pura/ sanggah pamerajan. Read more » Sembahyang Menghadap Mana?

Manusia

“Nama” manusia:

  1. Atmaja, karena merupakan penjelmaan (ja) dari atma (roh).
  2. Anuja (lihat penjelasan manusia – no. 5), yakni anu (percikan – atom Brahman) yang menjelma (ja)
  3. Janma, karena terjadi dari proses penjelmaan(ja).
  4. Purusa, karena roh manusia berasal dari purusa (unsur dasar yang bersifat kejiwaan).
  5. Manusia, dari kata anu yang artinya: atom, yakni percikan kecil dari Brahman.
  6. Manusia, dari manu-shya (mahluk-pikiran): mahluk yang mempunyai pikiran. Read more » Manusia

Jero Mangku

Tata cara “pengangkatan” Jero Mangku yang telah disyahkan PHDI ada tiga, yaitu dengan cara:

1. Nyanjan atau nurunang Ida Bethara kemudian melalui sutri yang kodal ditunjuklah orang yang disenangi menjadi Jero Mangku.

2. Muspa memakai kwangen: beberapa orang yang dipandang memenuhi syarat sebagai Jero Mangku dikumpulkan lalu kepada mereka dibagikan kwangen yang salah satunya berisi aksara Ongkara yang diselipkan secara rahasia dan tersembunyi. Read more » Jero Mangku

Sanur

On the Eastern coastline, sheltered by the coral reef, the waves here are gentler than other areas of Bali. Sanur is a multitude of contrasts. As in the past, Fisherman still wander the beach and the colorful outrigger canoes can be hired for sailing trips along the coast and to outlying islands. In the last two decades the once sleepy village of Sanur has become an elite international resort, with huge hotel complexes offering first class accommodation and every modern facility to visiting tourists. Read more » Sanur

Pis Bolong

Beberapa waktu yang lalu ada teman yang menanyakan tentang pis bolong, berikut ringkasan penjelasannya, dengan referensi Buku Ida Bagus Sidemen: Nilai Historis Uang Kepeng, penerbit Larasan Sejarah, Denpasar, 2002:

1. Pis bolong mulai dikenal di Indonesia sejak tahun 1293 M semasa kejayaan Majapahit. Berasal dari perdagangan antara Majapahit dengan Cina. Read more » Pis Bolong

Pedagingan

Penggunaan “pedagingan” pada pelinggih-pelinggih atau bentuk-bentuk niyasa di suatu Pura atau Sanggah Pamerajan diatur dalam Lontar Bhuwana Tattwa Maha Rsi Markandheya, Gong Besi, dan Sanghyang Aji Swamandala.

Jika bangunan-bangunan itu tidak diberi pedagingan maka dalam Sanghyang Aji Swamandala disebutkan: Read more » Pedagingan

Meajar-Ajar - Tujuan, Pedoman dan Upakaranya

1. Pendahuluan

Istilah “meajar-ajar” adalah khas Buleleng, dinamakan juga sebagai kegiatan “ngaturang suci penerus”, yaitu ngiringan Bhatara Raja Dewata nangkil ke Pura-pura tertentu dengan tujuan mapiuning sudah selesai melaksanakan upacara Pitra Yadnya.

Selain itu tujuan meajar-ajar adalah lebih meningkatkan kesucian Bhatara Raja Dewata, sehingga para pengiringnyapun mendapat pahala karena telah melakukan “tirtha gamana”. Read more » Meajar-Ajar – Tujuan, Pedoman dan Upakaranya

Page 10 of 111« First...89101112203040...Last »