Upacara Sawa Preteka Mapendem Ring Geni

PENDAHULUAN

Upacara Sawa Preteka Mapendem Ring Geni adalah bentuk upacara pembakaran bagi jenasah yang baru meninggal dunia, tetapi belum dapat disebut Ngaben. Cara ini ditempuh bilamana:

  1. Kekurangan biaya ngaben.
  2. Bila masih ada panglingsir sang lina yang belum diaben.
  3. Ada rencana dalam waktu dekat akan ngaben bersama keluarga lain. Continue reading Upacara Sawa Preteka Mapendem Ring Geni

Lak-Lak

Dingin di bulan Juli membuat I Kacir malas bangun pagi. Baru saja dia menutup seluruh badan dengan selimut, ibunya menggedor pintu kamar sambil berteriak: “Bangun tut, sube das lemah, tulungin meme ngajang dagangan!” (bangun Ketut, sudah hampir pagi, tolong ibu mengangkuti barang dagangan!).

I Ketut Kacir ngerepak (tergesa-gesa) bangun melempar selimut, dan mendekati ibunya yang sedang menjunjung penarak (bakul besar). “Mekemuh malu, abe men oot pesake ane di beten gelebege” (berkumur dulu, lalu ambilkan sekam yang ada di bawah lumbung). Continue reading Lak-Lak

Medewi

Located about 27 kilometers west of Denpasar. The area was a forest with “Ketket”, or thorny trees. The thorny forest means “Alas Meduwi” in Balinese. Because of this, people agreed to call it “Meduwi”, then changed into the current name of Medewi. The beach is flat, stony, and has long rolling waves, so it is very suitable for surfing and sunset watching. Continue reading Medewi

Lis

Pendahuluan

Lis adalah salah satu bagian penting dari sekelompok banten karena merupakan alat pensucian. Menurut Lontar Yajnya Prakrti, banten memiliki tiga arti sebagai simbol ritual yang sakral. Kalimat yang dikutip dari lontar itu:

SAHANANING BEBANTEN PINAKA RAGANTA TUWI, PINAKA WARNA RUPANING IDA BHATARA, IAN PINAKA ANDA BHUWANA

Artinya: Semua jenis banten melambangkan diri kita sendiri atau umat manusia secara umum, melambangkan kemahakuasaan Ida Sanghyang Widhi, dan melambangkan alam semesta. Continue reading Lis