Nyepi vs The Silent Day

Short article from UNFCCC – Bali 2007

Dalam sidang-sidang UNFCCC, terminology ‘Nyepi’ tidak diterima oleh peserta, tetapi disetujui ‘The Silent Day’ (TSD) yakni tgl 21 Maret setiap tahun.

Memang sejak awal saya juga sudah hati-hati, karena memang benar antara Nyepi dengan TSD beda. Nyepi dalam rangka tahun baru saka di Bali berkaitan dengan agama Hindu, ritual, tattwa, dan susila. Continue reading Nyepi vs The Silent Day

Ogoh-Ogoh dan Nyepi

QUESTION:

Ida Pandita Nabe yang saya sucikan, sehubungan dengan ritual Nyepi pada bulan Maret ini dan dengan adanya pro dan kontra tentang “Ogoh Ogoh”.

Sehari sebelum Hari Raya Nyepi kami umat Hindu Bintan sebagaimana biasa di setiap perayaan Nyepi selalu membuat Ogoh Ogoh, karena keberadaan Ogoh Ogoh tersebut digunakan sebagai momentum yang baik untuk menarik wisatawan asing agar berkunjung ke Bintan Beach International Resort. Continue reading Ogoh-Ogoh dan Nyepi

Sanghyang

The Sanghyang is a divine force that enters the body of the entranced dancer. The Sanghyang song beseeches the spirit to descend from the heavens.

In Sanghyang Dedari (the dance of the angels), tiny girls who have never danced before are able to give accomplished perfomances of the Legong, whilst in Sanghyang Jaran (the horse dance), the man prance, snort, and canter unflinchingly over red hot coals. Continue reading Sanghyang

Alam Semesta Menurut Hindu

Kehidupan pemeluk Hindu menyatu dengan alam, karena:

1. Filosofi: Trihita-karana (tiga hal yang menyebabkan kebahagiaan): hubungan yang harmonis antara manusia dengan Tuhan (parhyangan), manusia dengan sesama manusia (pawongan), dan manusia dengan alam (palemahan).

Bila salah satu keharmonisan itu hilang/ terganggu maka hidup manusia akan sulit/ tidak bahagia. Karena itu umat Hindu selalu berusaha menjaga keharmonisan/ keseimbangan ketiga hal itu. Continue reading Alam Semesta Menurut Hindu

Purwa Daksina dan Prasawya

QUESTION:

Mohon penjelasan tentang istilah-istilah: “mapurwa daksina” dan “maprasawya” disertai makna dan contohnya dalam pelaksanaan upacara. Terima kasih.

ANSWER:

Mapurwa Daksina artinya dalam bahasa Kawi: purwa = timur, daksina = selatan, jadi mapurwa daksina adalah bagian dari ritual smarana dengan berjalan melingkar dari arah timur ke selatan atau dari kiri ke kanan sesuai dengan arah jarum jam sebanyak tiga kali (simbol utpti, stiti, pralina) sambil menyanyikan kidung-kidung sebagai simbol “peningkatan status” dalam upacara-upacara: Continue reading Purwa Daksina dan Prasawya