Gerbang Hindu Di Kedung Gebang

Wawan Adi Prastiyo, sosok pemuda Hindu yang energik mengajak saya pulang ke kampungnya di Tegaldlimo, Banyuwangi, di awal Juni 2004 bertepatan dengan Hari Pagerwesi dan Piodalan Agung di Pura Swadharma, Desa Kedung Gebang, Kecamatan Tegaldlimo, Banyuwangi.

“Umat Hindu di sana sangat mengharapkan Romo berkunjung untuk muput Piodalan dan menyampaikan dharma wacana” pintanya melalui telpon. Read more » Gerbang Hindu Di Kedung Gebang

Sumpah Hari Cendani

Sumpah Hari Cendani (Hari = Wisnu, cendani = kekuatan/ keras seperti batu marmer, jadi keseluruhan artinya: Dewa Wisnu sebagai pemelihara termasuk memelihara kedamaian dunia dan kejujuran pemimpin, telah menyaksikan sumpah dan akan mengenakan sanksi yang berat apabila sumpah itu dilanggar).

Disebut pula sumpah “sanghyang hari cendani” dikenal juga sebagai “sumpah corana” dilaksanakan dengan upacara sebagai berikut: Read more » Sumpah Hari Cendani

Asta Aiswarya

Asta Aiswarya adalah bentuk dan sifat ke-Maha-Kuasa-an Sanghyang Widhi skala dan niskala, yang terdiri dari delapan kekuatan, sehingga Aiswarya sering pula disebut Asta Aiswarya:

  1. Anima: sangat halus
  2. Laghima: sangat ringan
  3. Mahima: sangat besar dan sangat luas, tak terbatas
  4. Prapti: dapat mencapai segala tempat
  5. Isitwa: melebihi segala-galanya
  6. Prakamya: kehendak-Nya selalu tercapai
  7. Wasitwa: sangat berkuasa
  8. Yatrakamawasayitwa: kodrati tidak dapat diubah Read more » Asta Aiswarya

Gianyar

It has been the stamping ground of Bali’s earliest dynasties in recorded history. It is here that the first great lines of Hinduized Kings established themselves. Pejeng was to center of power until the early 14th century, when the last line of Warmadewa was defeated by Majapahit Empire, under Gajah Mada, in 1343. Read more » Gianyar

Meru

Sebuah Bangunan Suci Karya Jenius Maha Rsi

Meru adalah salah satu bentuk niyasa berupa bangunan suci stana Ida Bhatara (manifestasi Ida Sanghyang Widhi Wasa) yang dalam tradisi beragama Hindu di Bali disebut pelinggih. Bangunan meru terdiri dari tiga bagian, yaitu:

  1. Bagian pertama adalah pondamen atau bebaturan dibuat dari bahan batu, semen, paras, batu-bata, dengan ornamen yang disebut karang gajah, karang paksi, dan karang bun.
  2. Bagian kedua, di atas bebaturan ada gedong yang biasanya dibuat dari bahan kayu atau pasangan batu.
  3. Bagian ketiga atap atau kereb yang bertumpang-tumpang, dibuat dari bahan kayu dan ijuk. Terkadang atap bertumpang ini dibuat pula dari bahan seng, genting, atau semen-beton. Read more » Meru