Kehidupan di Geria

1. Sebutan: panjak, parekan, kaula, sebenarnya berbau feodalisme. Artinya: hamba, sahaya, budak. Sisya artinya murid. Nanak artinya anakku sayang. Jadi tinggal pilih saja, mau pakai yang mana sesuai selera.

Kalau saya, tidak berani menggunakan sebutan panjak, parekan, kaula (karena saya bukan feodalis); juga tidak berani menggunakan sebutan sisya (karena saya belum didaulat menjadi gurunya). Continue reading Kehidupan di Geria

Hindu dan Bali – The Short Story

Dari sejarah perkembangan agama Hindu di Bali, nama agama yang dipeluk orang-orang Bali mulanya bernama Agama Tirta (Gama Tirta), kemudian setelah kedatangan Rsi Markandeya menjadi Agama Bali (upacara yang menggunakan upakara). Bali artinya = upakara.

Lalu berubah menjadi Agama Hindu-Bali (zaman Belanda) karena para ahli seperti Goris, Hooykas, dll melihat bahwa sebenarnya Agama Bali bersumber dari Weda, terbukti dari aplikasi Weda Parikrama, keempat Weda yang dinamakan ‘Sruti’ dan semua Upanisad yang dinamakan ‘Smerti’. Continue reading Hindu dan Bali – The Short Story

Tatoreh

Membuat tatoreh berasal dari pengembangan filsafat Dvaita yang bersumber dari Prasthana Traya, yaitu Upanisad, Bhagawadgita, dan Brahma Sutra.

Di India filsafat ini disebarkan oleh seorang Mahaguru, abhiseka: Sri Madhvacarya yang berpaham Vaisnavisme Madhva. Paham ini dibawa ke Indonesia pada tahun 530 Masehi dan dianut oleh para pemeluk paham Wisnu. Continue reading Tatoreh

Daksina, Pejati, dan Sesantun

Daksina sebagai banten tidak berdiri sendiri, tetapi dilengkapi dengan: tegteg, peras dan ajuman. Maka: daksina, tegteg, peras, ajuman satu set dinamakan ‘pejati’. Asal kata pejati adalah ‘sujati’ artinya sungguh-sungguh bhakti (apara bhakti) kehadapan-Nya.

Oleh karena itu pejati dipandang sebagai banten yang utama, maka di setiap set banten apa saja, selalu ada pejati. Dan pejati dapat dihaturkan di mana saja, dan untuk keperluan apa saja. Continue reading Daksina, Pejati, dan Sesantun