Mawinten – The Short Story

Mawinten berasal dari Bahasa Kawi (Jawa Kuno) artinya: mawa = bersinar-sinar; inten = permata; arti lengkapnya: bersinar-sinar bagaikan permata.

Adalah tradisi beragama Hindu di Bali yang bertujuan mohon “waranugraha” Hyang Widhi untuk memberikan kesucian bathin kepada seseorang. Continue reading Mawinten – The Short Story

Puja Trisandya, Kramaning Sembah, dan Me-Saiban

Puja Trisandya dilaksanakan tiga kali sehari karena menurut Lontar Niti Sastra, kita sebagai penganut Hindu Sekte Siwa Sidanta memuja Matahari (Surya) sebagai keagungan dan kemahakuasaan Hyang Widhi. Matahari juga sumber energi atau sumber kehidupan.

Pemujaan itu dimulai pagi-pagi menyongsong terbitnya matahari (sekitar jam 05.30), siang hari tepat jam 12.00 ketika Bumi berada dalam posisi yang menerima panas Matahari maksimum, dan sore hari ketika matahari menjelang “tenggelam” (sekitar jam 18.30). Continue reading Puja Trisandya, Kramaning Sembah, dan Me-Saiban

Pikiran dan Ketenangan Jiwa

QUESTION:

Saya ingin bertanya tentang pikiran dan ketenangan jiwa. Apakah benar dosa yang paling berat adalah dosa pikiran?

Ketika sembahyang pikiran saya sering ga nyatu, saya juga sering berpikiran negatif dalam banyak hal, saya mohon bantuannya kepada bhagawan bagaimana cara menenangkan pikiran dan menyatukannya, adakah puasa atau mantramnya, mohon bantuannya terima kasih. Continue reading Pikiran dan Ketenangan Jiwa

Mamandung

Ketut Sutrisna sejak di Sekolah Dasar terkenal sebagai anak yang rajin, tekun, ulet, jujur, dan sopan santun. Mungkin karena “karma wasana” dan pengaruh horoskop bintang kelahirannya Pisces maka ia tumbuh menjadi anak yang baik, berbudi luhur, dan pintar.

Temannya pun banyak karena dia pandai bergaul, suka menolong, dan tidak segan berkorban bagi orang lain. Ayah-Ibunya sangat sayang, ke mana-mana mereka selalu mendengar buah bibir orang, Sutrisna anak panutan di Desa Sepang, 40 kilometer arah barat Singaraja. Continue reading Mamandung