Upacara Untuk Bale Banjar

QUESTION:

Bale banjar yang pernah digunakan untuk kegiatan perorangan, apakah perlu diupacarai sesudah menggunakannya?

ANSWER:

Bale Banjar yang pernah digunakan untuk perhelatan perorangan perlu diupacarai dengan caru ekasata, tujuannya mengembalikan keharmonisan Trihitakarana. Continue reading Upacara Untuk Bale Banjar

Narat

Hiruk pikuk di Pura Desa tiada henti-hentinya sejak tadi pagi. Hari ini adalah Hari Piodalan, memperingati berdirinya Pura yang megah setiap hari Umanis Galungan sejak berabad lampau.

Kemarin lambang-lambang Ida Bhatara sudah diturunkan dari Gedong Simpen, diiring mesucian ke segara. Sekitar jam sembilan pagi saya mulai muput upacara piodalan, atas permintaan panitia beberapa minggu sebelumnya. Continue reading Narat

Padmasana – Rewriting Version

1. Sejarah Padmasana

Pemujaan Sanghyang Widhi Wasa sebagai Bhatara Siwa berkembang di Bali sejak abad ke-9. Simbol pemujaan yang digunakan adalah Lingga-Yoni. Keadaan ini berlanjut sampai abad ke-13 pada zaman Dinasti Warmadewa.

Sejak abad ke-14 pada rezim Dalem Waturenggong (Dinasti Kresna Kepakisan), penggunaan Lingga-Yoni tidak lagi populer, karena pengaruh ajaran Tantri, Bhairawa, dan Dewa-Raja. Lingga-Yoni diganti dengan patung Dewa yang dipuja sehingga cara ini disebut Murti-Puja. Continue reading Padmasana – Rewriting Version

Sebel atau Cuntaka

QUESTION:

  1. Apa makna upacara: ngogo yuyu, ngogo udang.
  2. Seperti biasanya setelah upacara ngaben, maka dilakukan upacara meajar-ajar ke Pura-Pura di Bali misalnya: Besakih, Silayukti, dll. Apakah tidak cukup diselesaikan dalam Desa Adat Buleleng saja.
  3. Dalam mass media surat kabar baru-baru ini (Bali Post) dimuat tulisan Mohan S. antara lain mengatakan sbb.: …umat Hindu di Bali dalam melaksanakan Agama berlandaskan pada Lontar-lontar dan juga Weda. Yang saya tanyakan mengapa harus berdasarkan lontar-lontar, mengapa tidak selalu dilandasi/ berdasarkan Weda saja. Mohon penjelasan. Continue reading Sebel atau Cuntaka

Nyi Roro Kidul Rauh

QUESTION:

Belum lama ini saya membaca di koran Bali Post bahwa ada orang kerauhan Nyi Roro Kidul dan menyatakan kepada umat yang sedang bersembahyang bahwa Bali aman dari bencana tsunami.

Dalam hal ini saya bertanya:

  1. Apakah rakyat Bali percaya pada keberadaan Nyi Roro Kidul, bukankah itu kepercayaan yang ada di Jawa?
  2. Bukankah di Bali orang percaya pada Dewa Baruna sebagai penguasa lautan, lalu kalau ada lagi Nyi Roro Kidul bagaimana mengaitkan hal ini, apakah Nyi Roro Kidul itu termasuk ista dewata juga? Continue reading Nyi Roro Kidul Rauh