Pemerintah dan Agama

QUESTION:

Banyak kasus, pemerintah (Gubernur, Bupati, dan sebagainya) ikut mengurusi masalah keagamaan (Hindu) sampai pada pelaksanaan di lapangan. Kasus terakhir, Bupati Jembrana memerintahkan membongkar fondasi Pura Rambut Siwi. Apakah ini betul?

ANSWER:

Dalam tradisi beragama Hindu di Bali, pemerintah disebut sebagai Sang Angawa Rat artinya ‘yang berkuasa’. Sejak zaman dahulu Sang Angawa Rat bersama Sang Wiku (Pedanda) bekerja sama dalam urusan ritual khususnya yang menyangkut kepentingan rakyat/ umat. Pemerintah berkewajiban menyediakan dana, dan Pedanda memimpin ritual. Read more » Pemerintah dan Agama

Kuta

This area was once a poor fishing village with a black history of lepers and magic practitioners. Soon after, Kuta began to provide what visitors wanted and now that area has become a key point on the route from India through Southeast Asia to Australia Read more » Kuta

Rambutsiwi Temple

Is on a cliff top overlooking a breathtaking panorama of paddy fields on one side and the black sand beach on the other. Two caves overlook the sea, each with a view of the fisherman’s boats and seabirds hovering above. The temple itself was built by Dang Hyang Nirartha. According to legend, he made a gift of his hair to the temple. Hence the name Rambut Siwi, which literally means “Hair Worship!” Read more » Rambutsiwi Temple

Malaning Sasih

QUESTION:

  1. Bagaimana caranya mencari sasih mala/ malaning sasih?
  2. Penjor yang dibuat dan dipasang di pura, baik di Eka Kahyangan maupun di Tri Kahyangan mengapa tidak sama mendapat perlakuan seperti penjor di masing-masing rumah tangga setup hari raya Galungan?

ANSWER:

Malaning sasih, berasal dari kata Mala dan Sasih. Mala artinya ‘tidak baik’ dan ‘Sasih’ artinya bulan. Dalam sistem kalender Hindu-Bali atau populer dengan nama Kalender Saka-Bali, sasih yang dianggap mala adalah sasih Jyesta dan Sada. Read more » Malaning Sasih

Banten Caru Eka Sata

QUESTION:

1. Selama ini di Pura yang kami sungsung, setiap Tilem Kesanga selalu menghaturkan banten Caru Eka Sata (Caru Ayam Brumbun) untuk ke Bhuta Yadnya, disertai runtutan banten lain yang melengkapinya seperti pengulapan, pengambean, sorohan, peras, daksina, suci alit, Beakaonan, sesayut Durmenggala, dan prayascita dll sesuai yang tertulis di Buku Panca Yadnya.

Sedangkan untuk ke Dewa Yadnya kami hanya menghaturkan Pejati (Peras, daksina, tipat kelanan, ajuman, penyeneng alit, pesucian) dan soda/ ajuman untuk pelinggih yang keci-kecil. Read more » Banten Caru Eka Sata