QUESTION:
- Napi suksman tur falsafah guling pemapag ring upacara tiga bulanan.
- Napi wenten suksman bebangkit sareng guling bebangkit; napi falsafahne.
- Napi kasuksman Pinandita sedurung nganteb mangda ngajeng sedah/ tampinan.
- Napi suksman adigama lan dewagama pada: pamangku waktu nganteb, dan pamangku dengan para pejabat yang datang sembahyang.
- Napi hubungan antara banten jejanganan waktu manusa yadnya dengan sok cegceg pada pengabenan. Read more » Guling Pemapag Pada Upacara Tiga Bulanan
Kalau ditelusuri Sejarah Bali, ternyata di sekitar abad 11 – 14 para Sulinggih/ Maha Rsi tugasnya lebih banyak sebagai ‘Acarya’, yaitu memberikan dharma wacana, berkeliling ke desa-desa, bahkan tanpa diundang.
Beliau berinisiatif sendiri mengumpulkan umat untuk diajak berbincang-bincang tentang dharma. Bukti sejarah, adanya pura-pura: Pulaki, Ponjok Batu, Rambut Siwi, Peti Tenget, Sakenan, dan lain-lain sebagai penghormatan/ pemujaan kepada Ida Danghyang Nirartha karena di tempat-tempat itu beliau pernah ‘mondok’ memberikan dharma wacana. Read more » Dang Acarya
Filosofi upacara nyegara gunung: nyegara (ke-segara) mensucikan roh leluhur dengan sapta (7) gangga (air suci), yakni 7 sungai suci di India: Gangga, Sindhu, Saraswati, Yamuna, Godawari, Narmada, Sarayu.
Di tempat-tempat tersebut Weda diwahyukan kepada 7 Maha Rsi: Grtsamada, Wiswamitra, Wamadewa, Atri, Bharadwaja, Wasista, Kanwa. Read more » Nyegara Gunung
QUESTION:
Seputar perbedaan pendapat dan tafsir pada Kalender Bali.
ANSWER:
Keluhan yang anda sampaikan sering terdengar di kalangan umat Hindu khususnya di Bali. Menurut pendapat saya sebaiknya di Bali ada organisasi para penyusun kalender yang menyatukan pendapat dan tafsirnya sehingga kalender yang dibuat mereka sama. Read more » Tafsir Kalender Bali
Derma atau pemberian sesuatu kepada kaum fakir miskin yang dalam agama lain disebut zakat fitrah, di dalam ajaran Agama Hindu disebut sebagai Drwya yadnya.
Drwya dalam Bahasa Kawi berarti barang-barang yang dimiliki; sedangkan Yadnya artinya pengorbanan suci yang tulus ikhlas. Jadi Drwya Yadnya arti bebasnya: memberikan barang-barang milik kita kepada orang lain yang membutuhkan, didasari oleh hati suci dan tulus ikhlas tanpa pamrih. Read more » Drwya Yadnya
Saya ingin menyampaikan bahwa setiap hari bangun pagi saya merasa takut memikirkan bagaimana masa depan Hindu di Bali, melihat perkembangan dari hari ke hari dari godaan yang bertubi-tubi pada semeton kita Hindu, datang dari berbagai penjuru.
Adanya “pendatang haram” pemulung, tukang bakso, kaki lima, tukang gali, pedagang acungan, wanita penjaga cafe, dll. Siaran TV yang banyak iklannya, VCD, anak-anak SMU yang berbicara dengan teman sesama Bali menggunakan bahasa Indonesia dialek Betawi: nyokap lu, bokap lu, gue sih kagak doyan, dll. sering saya dengar di pilihan lagu di radio, kirim salam antar teman. Read more » Hindu di Bali dan Masa Depannya
Ketika saya me-tirtayatra ke Nepal dan India tahun 2004, saya melihat tatanan ‘Pura’ di Nepal dan di Bali sama, yakni menyatu dengan alam.
Bentuk ‘pelinggih’ di Nepal yang disebut ‘Nyatapol’ serupa dengan di Bali yang kita sebut ‘Meru’. Bedanya, Nyatapol beratap beton sedangkan di Bali beratap ijuk, lalang, atau genting (genting tidak disarankan). Read more » Model Pura di Bali dan Nepal
|
|
Recent Comments