QUESTION:
Bagaimana sikap kita ketika melakukan Panca Sembah yg dipimpin oleh Pemangku/ pemuput karya, apakah kita juga ikut mengucapkan mantra Panca Sembah berbarengan dgn Pemangkunya (walau dalam hati ) atau boleh dgn doa permohonan sesuai keinginan masing-masing.
Saya biasanya mengikuti sesuai mantra Panca Sembah, walau berbisik/ dalam hati saja, sekaligus supaya bisa hafal mulai sembah Puyung (tangan kosong) sampai Puyung kembali/ penutup (menghaturkan suksma/ terimakasih).
ANSWER:
Bila ada kesepakatan mengenai bait-bait yang digunakan dalam kramaning sembah, bagus sekali kalau kita bersama-sama ikut mengucapkannya.
Tetapi karena kramaning sembah itu bervariasi (tidak seperti trisandya yang sudah baku), ada yang menambahkan dengan beberapa bait menurut keyakinannya masing-masing maka dikatakan bahwa kramaning sembah hanya diucapkan oleh yang memimpin persembahyangan, maksudnya agar tidak “meceradukan”.
Walau demikian, mengucapkan dalam hati juga cukup bagus, walaupun masih belum sempurna, karena dalam Samaweda disitirkan bahwa tripramana agar ditunjukkan oleh manusia, ketika bersembahyang:
- Sabda = pengucapan mantra yang benar
- Bayu = gerakan mudra dan/ atau gentha
- Idep = konsentrasi pikiran menuju kepada-Nya

Om Swastyastu
Mendirikan Padmasana dan panglurah, sudah mecaru tapi tidak ada pendeman atau pedagingan, tahu setelah melihat kembali hebel/batako belum disemen. saya tidak tahu benar proses mecaru karena saya sudah diskusi dengan pak mangku yang muput.
Minta informasi apa yang mesti dilakukan, apakah harus mencaru ulang.
saya sudah nunusang ulang, ternyata masih kurang mecaru lagi di sumur mengunakan siap selem.
Sebelumnya mecaru dan mplaspas padma sampun nunsang.
suksema
Om santi santi santi om.
I Nyoman Arjana
Om Swastyastu,
1. Baca di web ini tt “Padmasana” semua petunjuk cara membangun dan upacara yang berkaitan sudah ada disana. Juga jenis-jenis Padmasana, bentuknya, letaknya dan Stana Bhatara untuk masing-masing jenis Padmasana sudah ada.
2. Namun demikan, menjawab pertanyaan Nyoman, dapat dilakukan langkah-langkah sebagai berikut :
a. Mecaru ekasata
b. Buatkan lobang dibelakang bangunan Padmasana, kemudian tanamkan batu dasar (2 bh bata merah, 1 bh kelungah, 1 bh batu bulitan) semuanya dibungkus kain putih, diikat benang tridatu, merajah, diisi kwangen mejinah 11 keteng.
c. Kedalam lobang itu juga dimasukkan akah
d. Memakuh, melaspas, dan mepasupati bangunan
e. Memasang pedagingan dibagian tengah bangunan dan di puncak bangunan
f. Memasang ulap-ulap, orti, palakerti
g. Memendak Ida Bhatara dengan sebuah daksina lingga
h. Mekalahyas
i. Ngelinggihang
j. Ngaturang banten ayaban
k. Muspa, nunas wangsuhpada, mebija
l. Parama santih
3. Tatacara membangun pengelurah sama seperti diatas
4. Sumur mecaru dengan ekasata ayam hitam
5. Untuk seluruh pekarangan perlu ada upacara memangguh
Bila mengadakan upacara, minta bantuan/pemuput dari Sulinggih yang mumpuni agar upacaranya tidak sia-sia atau pemborosan karena mesti diulang lagi dari awal.
Om Santih, santih, santih, Om
Om Swastyastu
Apakah ada tingkatan untuk muput Caru ?
diberitahu sama saudara untuk muput caru manca sata sebaiknya oleh ida Pedanda.
Rencana sebelumnya untuk mecaru panca sata muput pemangku sekalian banten dari saudara di Lampung dan rumah ada di Jawa barat.
Apakah efek secara niskala kalau melakukan caru yang berulang ulang.
Om Santi santi santi om
I Nyoman Arjana
Om Swastyastu,
1. Pemuput upacara/upakara caru memang bertingkat. Untuk caru ekasata cukup oleh Jero Mangku saja. Tetapi untuk caru panca sata oleh Sulinggih. Bila carunya lebih besar misalnya caru balik sumpah dan yang lebih tinggi lagi oleh trisadaka bersama-sama, yakni Sulinggih-sulinggih siwa, bodha dan rsi bujangga. Ini disebabkan karena makin tinggi tingkat carunya, maka semakin banyak bhuta yang di-somya. Masing-masing sulinggih tersebut diatas, memang mempunyai kemampuan khusus untuk muput upacara/upakara itu.
2. Lebih baik ikuti pedoman yang ada dari pada upacaranya sia-sia.
3. Caru memang diadakan berulang-ulang, minimal setahun sekali yakni pada menjelang nyepi. Ada juga caru yang dilakukan insidentil misalnya sebelum ngodalin, ngenteg linggih, memangguh, tilem ke-6, nangluk merana, dll. Efek secara niskala, menuju kepada keajegan trihita karana : parhyangan, pawongan dan palemahan.
Lihat lebih jauh tt caru pada artikel “Caru” di blog ini.
Om Santih, santih, santih, Om
Om Swastyastu
Untuk kawitan masih menggunakan plangkiran dan dipaku nempel di tembok teras atas rumah berdampingan dengan padma sana, apakah boleh plangkiran untuk kawitan nempel ketembok ?
Sebelumnya dengan pak mangku pemuput caru disarankan membuat kemulan tapi keluarga di Bali menyarankan jangan membuat kemulan /rong Tiga dengan alasan di bali Sangah gede
Suksekma
Om Santi santi santi om
I Nyoman Arjana
Om Swastyastu,
Itu namanya pengayengan, boleh.
Om Santih, santih, santih, Om
Om Swastyastu,
Ida Singgih Bhagawan yang saya hormati, saat ini saya sedang mendalami sikap tangan saat sembahyang, lantas ada beberapa persoalan yang perlu saya tanyakan kepada Ida Bhagawan, yaitu:
1.Bahwasannya Sikap tangan yang baik saat melakukan sembahyang adalah “cakupang kara kalih”, Bagaiman posisi tangan (“cakupang kara kalih”) yang benar saat menyembah (1) Ida Sanghyang Widi, (2) Para Dewa, (3) Bhatara/Leluhur, (4) para Rsi, (5) Bhuta, (6) Manusia. Mohon Ida Bhagawan menjelaskan!
2.Saat sebelum bertrisandya ada sikap Asana dan Pranayama, Ida Bhagawan menulis bahwa sikap tangan saat Asana dan Pranayama sama yaitu “kedua tangan di paha dengan telapak ke atas”. Di sumber lain (vedasastra.files.wordpress.com) tentang Tata cara sembahyang diuraikan bahwa sikap tangan saat Asana dan Pranayama adalah “kedua tangan di paha dengan telapak ke atas, ibu jari disatukan dengan jari telunjuk”. Mohon diberi penjelasan mana yang baik dan benar!
Om Swastyastu,
Ada di web ini artikel tentang mudra, coba dicari. Disitu ada petunjuk lengkap disertai gambar-gambar sikap tangan.
Om Santih, santih, santih, Om
apa tujuan panca sembah termasuk metirta dan membija?
suksma
om swastyastu,
titiang wenten pitaken:
Bagaimana pendapat tentang perkawinan sebelum menikah dan sesudah menikah serta apa kaitannya dari sisi agama hindu?
mohon jawabannya….
suksma,,,,
om santi,santi,santi om
bagaimana pendapat anda tentang tujuan panca sembah termasuk metirta dan mebija?
perkawinan sesudah menikah dan apa kaitanya dengan agama hindu?
Om Swastyastu,
Ya pertanyaannya membingungkan. Kalau maksudnya hubungan sex diluar perkawinan (pernikahan), ada artikelnya di web ini.
Om Santih, santih, santih, Om
mengapa posisi tidur tidak boleh menghadap selatan dan barat??? thank,,