QUESTION:
Titiang mohon penjelasan/ pencerahan yang lebih jelas perihal: Pelangkiran Di Kamar Tidur. Kamar Tidur I (Pertama), tiang menaruh pelangkiran kayu yang ditempel di dinding dan apabila maturan, banten dihaturkan kepada Ida Bhatara Dharma.
Kamar Tidur II (kedua), tiang juga menempatkan pelangkiran kayu, namun banten kahatur kepada Ida Shangyang Paturon. Sekarang karena saya telah membaca beberapa tulisan dari Ida Bhagawan bahwa Pelangkiran yang ada di kamar tidur itu khususnya ditujukan kepada Kanda Pat, untuk itu mohon saya diberikan tambahan pencerahan:
1. Apakah saya boleh mulai begitu saja (tanpa prosesi/ tanpa upacara apa pun) mengubah aktivitas saya itu, yaitu mulai dengan menghaturkan banten kepada Kanda Pat saja?
2. Apakah sebutan/ yang mesti diucapankan pada saat menghaturkan banten kepada Kanda Pat? Apakah “Sang Kanda Pat atau Sanghyang Kanda Pat atau sebutan lainnya?
3. Apakah setiap kamar tidur mesti ada pelangkiran kayu untuk Kanda Pat tersebut?
4. Saya juga sampai sekarang masih punya pelangkiran yang terbuat dari kayu dengan bentuk bundar yang ditaruh menempel di atas dipan/ tempat tidur (itu adalah pelangkiran anak saya yang paling kecil yang saat ini sudah Sekolah TK) dan banten kehatur kepada Ida Sanghyang Kumara-Kumari.
Apakah saya bisa berhenti melakukan aktifitas ini begitu saja (tanpa ada prosesi/ upacara apa pun) mengingat anak saya itu sudah usia di atas 3 bulan?
5. Di depan pintu kamar tidur, saya juga menempatkan 3 buah batu kecil bundar yang saya simboliskan sebagai tempat menghaturkan banten kepada saudara-saudara saya yang niskala
(tempat ari-ari yang saya secara simbolis saya jumput dari tanah-tanah tempat di mana ari-ari dari anak-anak saya yang dulunya ditanam kemudian telah beberapa kali saya pindahkan melalui menjumput tanahnya saja).
Apakah aktivitas saya menghaturkan banten, segehan, saiban ini dibenarkan ataukah keliru mengingat kanda Pat sudah dilinggihkan di Pelangkiran di dalam kamar tidur? Jika keliru, apakah saya cukup maturan untuk saudara-saudara niskala itu di Pelangkiran kamar tidur saja?
6. Saya pernah mendengar Dharma Wacana Ida Pedanda Made Gunung di Bali TV yang mengatakan bahwa kita harus ingat kepada saudara-saudara niskala pada setiap saat.
Khususnya setiap ada Upacara Otonon biasa/ 6 bulan, dan saat kajeng Kliwon dengan cara menghaturkan nasi kepelan warna 4 (Merah, Putih, Hitam, & Kuning yang lengkap diisi bawang jahe, porosan, uang logam/ kepeng, banten canang sari dan telur ayam satu butir yang sudah matang) di bawah di tengah halaman rumah.
Apakah hal ini sudah tepat, mengingat jika saya sudah melinggihkan Kanda Pat di Pelangkiran atau ada penjelasan tambahan/ lain? Jika tepat, apakah hubungannya Kanda Pat di Pelangkiran dengan saudara-saudara niskala yang dihaturin di bawah/ tengah halaman rumah?
7. Apabila ada keluarga saya yang tunggalan Dadia (desanya jauh dari tempat tinggal saya di Denpasar) ada salah satu keluarga yang meninggal dunia, kemudian saya sempat hadir ikut menyentuh mayatnya saat memandikannya dan kemudian “nyumbah”, apakah setelah di rumah, saya boleh sembahyang?
(tentunya, setelah mandi bersih/ keramas/ ganti pakaian bersih dan memerciki diri dengan tirta)/ maturan banten di semua pelinggah yang ada di sanggah saya di Denpasar
(seperti: di Pelinggih Surya, Kamulan (Rong Tiga), Rong Dua (Palinggih Hyang Pitara Pitari), Palinggih Taksu, Palinggih Tugu Karang, Palinggih di atas Lebuh, Palinggih di Pelangkiran (di kamar Tidur), Pelangkiran di Warung (Palinggih Ida Bhatara Dewa Ayu Melanting), dll yang ke semunya ada dalam lingkungan rumah?
Sekali lagi saya sempat menyentuh mayat dan perasaan masih sering terbayang mayat tsb.
8. Jika tidak boleh, sampai kapan batas sebel tsb, apakah satu hari atau 3 hari?
9. Jika saya tidak boleh, apakah istri saya/ anak saya yang tidak ikut melayat boleh maturan di semua Palinggih di rumah? Atau apakah istri/ anak-anak saya yang tak ikut melayat juga tidak boleh maturan/ mebanten, mengingat ikut “cuntaka/ sebel” (karena ada keluarga tunggalan Dadia yang meninggal dunia) itu?
Selama ini jika ada hal seperti itu, istri/ anak-anak saya cuma saya sarankan maturan banten hanya di palinggih Tugu Karang, Palinggih di atas lebuh dan di bawah-bawah saja (seperti: di natar sanggah, di tengah halaman rumah & di Lebuh saja selama periode 3 hari/ sebelum “ngetelunin”.
Sementara saya yang sempat melayat dan menyentuh mayat tidak merasa enak rasanya mebanten, tetapi hanya sembahyang berdiri (mengucapkan Gayatri Mantram/ Tri Sandya) di luar Sanggah. Betulkah cara seperti ini?
ANSWER:
1. Prosesinya hanya dengan ngaturang banten pejati di setiap pelangkiran di kamar tidur pada saat bulan purnama.
2. Sebutan beliau: Sang Kandapat
3. Ya, benar. Bila dalam satu kamar tidur dua atau lebih orang, cukup sebuah pelangkiran saja, karena pada hakekatnya Kandapat kita umat manusia itu satu, namun terpecah-pecah, sama halnya dengan Parama Siwa yang menjadi Siwa
4. Bisa, hentikan begitu saja
5. Cukup di kamar tidur saja, saiban dll di tempat menanam ari-ari mestinya sudah berhenti sesaat upacara tiga bulanan
6. Seperti yang diwacanakan oleh Ida Pedanda, maka di setiap aktivitas kita selalu mengingat dan memanggil Kandapat karena Kandapat dalam niskala telah berada juga di tubuh kita.
7. Apakah anda jero mangku? Kalau ya, maka anda harus mewinten ulang, atau bukan pemangku, agar natab banten prayascita
8. Cuntaka hanya bagi keluarga dekat sebatas me-mindon (ayah memisan). Jadi anda tak usah turut sebel, hanya prosesi pebersihan itu saja, mestinya natab banten prayascita
9. Cuntaka karena kematian tidak menghalangi kita bersembahyang/ maturan di sanggah pamerajan kita. Hanya di sanggah pamerajan orang lain tidak boleh masuk, apalagi di Pura lain, kecuali Pura Kahyangan Tiga (menurut lontar catur cuntaka).
Contoh yang realistis, kalau kita ngaben, kan kita juga ke sanggah pamerajan untuk minta tirta dan ngurip kajang, juga ke pura Kahyangan Tiga nunas tirta.

om swastiastu.
slamat siang pak
saya mau bertanya mantra pelangkiran?
Om Swastyastu,
Maturan canang di pelangkiran kamar tidur, tidak perlu menggunakan mantra, cukup dengan sesontengan dengan bahasa sehari-hari. Bila ngaturang pejati diwaktu purnama, gunakan puja sbb.:
Buktiantu sarwato dewah
Buktiantu triloka natah
Saganah sapariwarah
Sawargah sadasi dasah
Artinya :
O Para Dewata terimalah persembahan (yajnya) hamba
Terimalah di alam semesta
Karena hamba memuja-Mu
Yang berstana di alam semesta
Om Santih, santih, santih, Om
pada saat ada kematian di rumah kita sendiri/istri melahirkan, masih bolehkah kita smbhyang d sanggah merajan, jika masih tergolong cuntaka,,sampai kapan,,? suksma
om swastiastu ratu begawan….
ttyg jagi mateken,,napi matiyosan SANG KANDA PAT sareng CATUR SANAK?????????santukan serahi – rahine ttyg setate ngucap catur sanak mangde nyarengin sapamargin tytyange….titiang nunas mangde kapicayang sane patut ring ttyang.suksme_ayu,gianyar
om swastyastu.
permisi,saya mau tanya lagi.
kenapa bagi umat hindu posisi tidur tidak boleh menghadap selatan dan Barat? mohon pencerahan. terimakasih.
om santih,santih,santih om
swastyastu
maaf saya mau bertanya kenapa sekarang demi pembangunan dan mendapatkan PAD yang tinggi pura yang sudah ada sejak lama harus dipindahkan karena lokasi itu kena pembangunan
OM SUWASTIASTU BHAGAWAN MOHON IJINKAN SAYA BERTANYA APAKAH SESEORANG YANG TELAH BERSUMPAH DAN MELANGARNYA AKAN MENDAPAT KARMA SESUAI DENGAN JANJINYA ITU DAN APAKAH SUMPAH YANG DIUCAPKAN SECARA SENGAJA JUGA MENGAKIBATKAN KITA BISA TERKENA SUMPAH KITA SENDIRI.DEMIKIAN PERTANYAAN SAYA SEBELUMNYA SAYA UCAPKAN TERIMA KASIH.
Om Swastiastu Ida Pandita,
Titiang mohon pencerahan lagi mengenai :
apakah orang yang sudah diangkat menjadi Pemangku Pura Puseh/Desa di desanya apakah tidak diperbolehkan menengok/menjenguk orang meninggal(entah saat baru meninggal atau saat memandikan mayat), lebih-lebih orang meninggal tsb adalah ada hubungan keluarga? Benarkah demikian ? Sebab titiang pernah mendengar memang demiakian aturan di desa terkait. namun titiang juga pernah bertanya langsung kepada beberapa pemangku yang juga sudah diangkat di desa oleh Krama Desa, entah Pemangku Dalem, Pemangku Desa, dll mereka hadir saat ada memandikan mayat, namun mereka semua memakai pakaian Pemangku (serba putih lengkap) mengatakan kalau menjenguk orang meninggal “boleh saja”, tetapi tidak boleh menyentuh mayat . Nah mohon penjelasan, dasar pijakan/acuannnya agar saya mempunyai pegangan jika ada bertanya hal yang sama.
Kemudian kalau memanggil Jro Mangku, misalnya nama sebelum Ekajati, Ketut Jana, apakah kita panggil “Jro Ketut Jana, atau Mangku Ketut, apakah Ketut mangku, jika lebih tua (apakah Bli Mangku Ketut atau Bli Ketut Mangku), jika orang Tua apakah Bapa Mangku Ketut atau Mangku Bapa). Mohon pencerahan !! Suksma.
Om Shantih, Shantih, Shantih, Om
Wayan sariada
Denpasar
untuk pelangkiran di kamar tidur …
saya hanya percaya di kamar tidur hanya boleh menyembah semoton kita sareng papat ,ngk usah pakai mantra segala terlalu sulit ..
mantra itu artinya kata 2 sehari hari masa teman sehari ngk ngerti bahasa kita ….
om swastyastu , ,
mohon penjelasanny kalau d pelangkiran letaknya utara timur yaa ??
kalau saya biasanya di pelangkiran kamar tidur untuk ngayeng kepada Kanda Pat , , dan berdoa sebisanya saja untuk memohon perlindungan dan selalu didampingi kemanapun saya pergi saya selalu mohon ijin ,,,
om swasty astu bgawan,,,,
tiand dari sulawesi mau bertanya masalah rainan piodalan,,,
piodalan tiang di sanggah angarkasih julungwangi bertepatan dgn hari raya nyepi,,,,
sapunapi bisa dilaksanakan ato tidak piodalan titiang.
suksma,,om santi santi santi om..
om swastiastu begawan.
saya mau bertanya :
1. anak tyang baru meninggal 1 bulan yg lalu,. lalu apakah ari ari nya tetap di sembahyangin?
2. klo istilah ngelungah itu apa, dan bagaimna pesepsi upacaranya.
suksume begawan, mohon penjelaannya.
OM santhi,santhi,santi om,,