QUESTION:
- Pelinggih apa saja seharusnya ada di Sanggah Pamerajan Perumahan?
- Bolehkah pelinggih-pelinggih tersebut diletakkan berjejer dalam satu baris?
- Bolehkan diberi atap?
ANSWER:
1. Selain mengacu pada “Trimurti Tattwa” hendaknya juga membaca “Tutur Kuturan”, “Dwijendra Tattwa”, “Gong Besi” dan “Sanghyang Aji Swamandala”. Berdasarkan lontar-lontar itu maka pelinggih di Sanggah Pamerajan Perumahan adalah:
- Padmasari, stana pemujaan Sanghyang Siwa Raditya.
- Kemulan Rong Tiga, stana pemujaan Trimurti dan Roh leluhur
- Taksu, stana pemujaan Dewi Saraswati, shakti Brahma
- Sedahan Karang, stana Bhatara Kala, putra Siwa
2. Bila lahan terbatas, boleh diletakkan berjejer dalam satu baris, asal atap-atap pelinggih tidak dinaungi atau berada di bawah atap rumah tinggal, demi menjaga kesucian dan kesakralan pelinggih-pelinggih itu.
3. Boleh, dan tidak bertentangan dengan sastra yang ada. Di daerah-daerah yang curah hujannya lebat di Bali seperti di Bangli dan Buleleng bagian barat, ada ditemui Pura yang diberi atap seluruhnya.
4. Boleh digantikan dengan pelangkiran dari kayu. Banten di Penjor dihaturkan kepada Hyang Widhi dalam manifestasi-Nya sebagai ‘Ardhanareswari’ dengan kekuatan ‘Astaaiswarya’-Nya. Mantra yang diucapkan ketika ngaturang banten di Penjor:
OM KSAMASVA MAM JAGAT NATHA
SARVA PAPA NIRANTARAM
SARVA KARYAM IDAM DEHI
PRANAMAMI SURESVARAMOM TVAM SURYAS TVAM SIVAKARAS
TVAM RUDRA VAHNI LAKSANAH
TVAM HI SARVA GATAKARO
MAMA KARYAM PRAJAYATEOM KSAMASVA MAM MAHA SAKTE
HY ASTAISVARYA GUNATMAKA
NASAYET SATATAM PAPAM
SARVASMAI LOKAM DARSAYA
Artinya:
Tuhan, ampuni hamba
Ada banyak dosa di diri hamba
Perkenankanlah hamba memohon berkah-Mu
Hamba bersujud kepada-Mu
Tuhan, Engkau adalah “Surya” yang pemurah
Engkau juga “Rudra” yang bersemangat
Karena Engkau menyusup ke mana-mana
Maka kehidupan dan pekerjaan hamba berjalan lancar
Tuhan, ampuni hamba
Karena Engkau mengusai delapan kemaha-kuasaan
Engkau membasmi kejahatan dan penderitaan
Mohon kemuliaan-Mu tercipta di sini/ sekarang

Om Swastystu
Kebanyakan rumah di denpasar disamping mempunyai “merajan” dan “sedahan karang”, juga ditengah natahnya ada pelinggih menghadap ke barat yang dinamakan “sanggah pengijeng”.
Siapa yang melinggih di sanggah pengijeng tersebut?
suksme, Om Shanti,Shanti,Shanti,Om
Sanggah Pangijeng adalah pelinggih Kanda 4 yang sudah mantuk ke sunia dan manunggal dengan Brahman yakni : Siwa (bekas ari-ari), Sada Siwa (bekas lamas), Parama Siwa (bekas getih), dan Sunia Siwa (bekas yeh nyom) dari semua anggauta keluarga yang tinggal di tanah pekarangan yang sama.
Om Swastyastu,
Karena keterbatasan lahan, bolehkah ring pemarajan hanya ada pelinggih Padma sari saja.
Suksama,
Om Santih, santih, santih, Om
Sebaiknya membuat juga “pengayengan Kemulan Rong 3″ yang gunanya sebagai stana roh leluhur. Penting karena roh leluhur ingin selalu dekat dengan preti sentananya, terlebih-lebih bila tiba hari raya misalnya Sugian Bali, Galungaan, Ulihan, dll. Pengayengan itu sederhana walaupun berbentuk pelangkiran yang dipakukan ke tembok atau dibuatkan kaki ditanam di halaman, toh tidak memerlukan ruang yang besar. Demikian pula untuk Taksu dan Sedahan karang.
Sehubungan dengan palinggih di sanggah pemerajan diatas, dimana disebutkan adanya stana pemujaan Sanghyang Siwa Raditya, Sanghyang Trimurti dan Leluhur, dll.
1. Dimanakah Tempat pemujaan Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
2. Apakah Sanghyang Siwa Raditya tersebut adalah Sanghyang Widi Wasa, ( mengingat pengaruh aliran siwa yang kuat)
Suksma
@w.nila: Benar
Om swastyastu,
Menurut informasi yg pernah saya terima bahwa pada pelinggih sedahan karang kita tidak boleh menghaturkan bhakti. apakah benar seperti itu. tolong di jelaskan kenapa.
suksma
Om santhi santhi santhi
Tidak benar. Pelinggih Sedahan Karang adalah pelinggih Bhatara Kala, putra Siwa yang “bertugas” melindungi keluarga di pekarangan itu. Jadi patut disembah, terutama pada hari Tumpek Wariga (Tumpek Uduh) yang kini akan tiba tgl 13-11-2010; adakan upacara ngerasakin dengan banten secukupnya memakai guling babi
Saya ingin bertanya mengenai Sanggah Pemerajan sebagai berikut :
1)
Ada beberapa sanggah perumahan keluarga kecil yg saya perhatikan bahwa di sebelah selatan Kemulan rong tiga ada bangunan pelinggih juga Rong dua,namanya pelinggih Dewa Hyang.
Pertanyaan, Siapa yg berstana atau yg di puja di pelinggih rong dua tsb ?
2)
Di sanggah pemerajan yg lebih besar atau sanggah dadia atau panti ada bangunan seperti diatas juga yaitu di selatan pelinggih rong tiga ada bangunan Rong dua yg katanya bernama pelinggih Dewa Hyang atau Gedong Ibu.
Pertanyaan, siapa yg berstana atau yg di puja di pelinggih rong dua tsb ?
3)
Setelah upacara ngaben dgn rangkaian kegiatan me ajar ajar ke Pura goa lawah & besakih. Dan terakhir sanghang pitara di stanakan (di linggihkan) di sanggah.
Pertanyaan, di pelinggih yg mana di stanakan..? Apa bangunan pelinggih Kemulan rong tiga atau Pelinggih Dewa Hyang rong dua.
Mohon penjelasan.
Suksma
Om santi, santi, santi, om
@wayan suama: (1) Rong dua adalah linggih Sanghyang Arda Nareswari yakni Tuhan/Sanghyang Widhi dalam utaprota dua yang berlawanan : lelaki/perempuan, siang/malam, dharma/adharma, Ang – Ah
@wayan suama: (2) Bhatara Ibu Pajenengan (pihak pradana dari Bhatara Kawitan) (3) Di Batur Kkemulan dahulu, kemudian baru dipindahkan ke Pelinggih Raja Dewata.
Mana yang lebih dulu dipuja,,betara kawitan atau betara surya,,lalu saat nunas tirta mana yang lebih didahulukan tirta surya atau tirta kawitan saya bingung,,,,,,, terima kasih banyak
@jizo: Memuja : lebih dahulu Sanghyang Widhi. Nunas tirta : lebih dahulu Bhatara Kawitan. Penjelasan : dalam proses memuja, Tuhan-lah yang utama. Dalam nunas tirta juga Tuhan yang utama, maka tirta-Nya diletakkan dikepala, paling atas (jangan lagi ditumpuki lain-lain tirta.
apa saja runtutan upacara yg harus dilakukan,dari awal mendirikan pelinggih/merajan alit dan apa saja kelengkapan sarana upacaranya?dan apakah hrs pakai babi guling?
@eben: Urutan upacara : 1) Memangguh 2) Memirak 3) Mecaru 4) Mlaspas 5) Memakuh 6) Maurip-urip 7) mulang akah pedagingan, orti, ulap-ulap pelinggih/rumah 8) Memendak Ida Bhatara 9) Mekalahias 10) Ngelinggihang 11) Ngaturang banten pengenteg dan piodalan 12) Pemuspaan 13) Nunas tirta/bija 14) Parama santhi. Untuk memangguh perlu babi guling kucit muani selem belolot
Ratu Bhagawan,
Ohm Swastyastu
Di pemerajan rumah asal saya ada bangunan sebagai berikut:
Candi bentar menghadap ke selatan, masuk ke pemerajan ke utara.
Baru masuk disebelah timur menghadap ke barat, ada Ngerurah. Mohon penjelasan yang berstana di pelinggih ini. Apakah ini yang disebut Sedahan karang?
Disebelah utara Ngrurah ada rong tiga. Say sudah jelas dengan fungsinya untuk pemujaan tri murti.
Di utara menghadap ke selatan ada Taksu, saya juga sudah jelas fungsinya untuk pemujaan Dewi Saraswati.
Disebelah barat Taksu ada lagi satu pelinggih yang sama dengan Ngerurah. Menghadap ke Selatan. Mohon penjelasan yang berstana di pelinggih ini.
Di luar Pemerajan, Di Pojokan Kaje Kawuh dari pekarangn ( disebelah utara bale dauh, ada pelingging, yang disebut oleh orang tua saya sebagai penuggun Karang. Mohon penjelasan yang berstana di pelinggih ini.
Matur Sukesama
Gunartha
@Gunartha: Pangerurah adalah “pepatih” Ida Bhatara, yang asalnya adalah Bhatara Kala. Sebuah “taksu” lagi saya tidak tahu, bisa ditanyakan kepada pengelingsir keluarga, sebab Sanggah Pamerajan setiap keluarga berbeda-beda, menurut historis pendiriannya. Penunggun karang = sedahan karang adalah pelinggih wateking bhuta.
Matur Suksema ratu Beghawan,
Sayang sekali saya belum mendapatkan jawaban mengenai pelinggih yang disebelah Taksu, yang secara fisik sama dengan pengerurah. Padalah kami membangun rumah tersebut ketika saya masih SD. Semua pelinggih dirancang oleh kakek saya yang kebetulan seorang undagi yang biasa membuat bangunan rumah dan sanggah untuk para tetangga dan kerabat. Waktu itu kita tidak pernah bertanya fungsi semua pelinggih. Kami menerima saja apa yang dibuat oleh kakek. Termasuk bapak tidak pernah menanyakannya, sampai kakek meninggal dan saya sekarang berumur 43 tahun. Ketika sekarang saya kedatangan tamu atau teman atau relasi bertandang ke rumah, pelinggih di sanggah sepertinya menjadi salah satu obrolan wajib di antara kami. Tidak tahu mengapa demikian. Dan selalu pelinggih yang di sebelah barat Taksu yang menjadi pertanyaan dan saya selalu tidak bisa menjelasakannya.Ketika tahun lalu kami ada rejeki dan memugar semua pelinggih, kami bediskusi panjang, dan kami memutuskan untuk tetap seperti itu, tidak menguranginya, walaupun kami tidak tahu persis.
Sekali lagi matur suksema,
Gunartha
@Gunartha: Betul, agak sulit, karena bentuk pelinggih seperti itu banyak, namun fungsinya berbeda-beda. Cara lain adalah dengan anumana-pramana, tetapi saya perlu datang ke lokasi. Dimana anda ? Kalau masih berminat hubugi saya di HP 081-338-423-720
Saya mau bertanya. Di rumah saja ada 14 pelinggih yaitu: Pangrurah, Taksu, Pesaren, Ratu Mas Catu, Ratu Mas Pahit, Gunung Agung, Gedong Sari,Ratu Yang, Kemulan, Menjangan Saluwang, Pengaruman, Apit Luwang, Padmasari, dan Ratu Sedehan Karang. Dewa yang berstana di pelinggih tersebut siapa?
Matur Suksma.
@Dwi: Pangrurah : Bhatara Kala, Taksu : Bhatari Saraswati, Pesaren : Bhatara/i Semara-Ratih, Ratu Mas Catu : Bhatara Gunung Batur, Ratu Maspahit : Bhatara Majapahit (Tribuwanttunggadewi), Gunung Agung : Bhatara Putranjaya, Gedongsari : Bhatara Raja Dewata, Ratu Yang ….?, Kemulan : Bhatara Hyang Guru, Pengaruman : Bhatara samo daya, Apit Lawang : Bhatara Kala, Padmasari : Bhatara Tripurusha, Sedahan Karang : Bhatara Kala.
Om Swastyastu
Tyang mau tanya :
1. susunan pelinggih apa saja yang wajib didirikan di pura prajapati ?dimana bisa didapatkan dasarnya?
2. demi efisiensi tenaga dan biaya, apakah bisa odalan pura desa dengan odalan pura prajapati dilaksanakan pada hari yang sama?
Om Shanti, Shanti, Shanti Om
@Wayan Shantika: 1. Padmasana/Padmasari dan Mrajapati. 2. Tidak boleh karena pura desa adalah stana Bhatara Brahma, dan Mrajapati adalah linggih ancangan Bhatari Durga