Pelinggih di Sanggah Pamerajan

QUESTION:

  1. Pelinggih apa saja seharusnya ada di Sanggah Pamerajan Perumahan?
  2. Bolehkah pelinggih-pelinggih tersebut diletakkan berjejer dalam satu baris?
  3. Bolehkan diberi atap?

ANSWER:

1. Selain mengacu pada “Trimurti Tattwa” hendaknya juga membaca “Tutur Kuturan”, “Dwijendra Tattwa”, “Gong Besi” dan “Sanghyang Aji Swamandala”. Berdasarkan lontar-lontar itu maka pelinggih di Sanggah Pamerajan Perumahan adalah:

  1. Padmasari, stana pemujaan Sanghyang Siwa Raditya.
  2. Kemulan Rong Tiga, stana pemujaan Trimurti dan Roh leluhur
  3. Taksu, stana pemujaan Dewi Saraswati, shakti Brahma
  4. Sedahan Karang, stana Bhatara Kala, putra Siwa

2. Bila lahan terbatas, boleh diletakkan berjejer dalam satu baris, asal atap-atap pelinggih tidak dinaungi atau berada di bawah atap rumah tinggal, demi menjaga kesucian dan kesakralan pelinggih-pelinggih itu.

3. Boleh, dan tidak bertentangan dengan sastra yang ada. Di daerah-daerah yang curah hujannya lebat di Bali seperti di Bangli dan Buleleng bagian barat, ada ditemui Pura yang diberi atap seluruhnya.

4. Boleh digantikan dengan pelangkiran dari kayu. Banten di Penjor dihaturkan kepada Hyang Widhi dalam manifestasi-Nya sebagai ‘Ardhanareswari’ dengan kekuatan ‘Astaaiswarya’-Nya. Mantra yang diucapkan ketika ngaturang banten di Penjor:

OM KSAMASVA MAM JAGAT NATHA

SARVA PAPA NIRANTARAM

SARVA KARYAM IDAM DEHI

PRANAMAMI SURESVARAM

OM TVAM SURYAS TVAM SIVAKARAS

TVAM RUDRA VAHNI LAKSANAH

TVAM HI SARVA GATAKARO

MAMA KARYAM PRAJAYATE

OM KSAMASVA MAM MAHA SAKTE

HY ASTAISVARYA GUNATMAKA

NASAYET SATATAM PAPAM

SARVASMAI LOKAM DARSAYA

Artinya:

Tuhan, ampuni hamba

Ada banyak dosa di diri hamba

Perkenankanlah hamba memohon berkah-Mu

Hamba bersujud kepada-Mu

Tuhan, Engkau adalah “Surya” yang pemurah

Engkau juga “Rudra” yang bersemangat

Karena Engkau menyusup ke mana-mana

Maka kehidupan dan pekerjaan hamba berjalan lancar

Tuhan, ampuni hamba

Karena Engkau mengusai delapan kemaha-kuasaan

Engkau membasmi kejahatan dan penderitaan

Mohon kemuliaan-Mu tercipta di sini/ sekarang

85 comments on this post.
  1. adnyana:

    Om Swastystu
    Kebanyakan rumah di denpasar disamping mempunyai “merajan” dan “sedahan karang”, juga ditengah natahnya ada pelinggih menghadap ke barat yang dinamakan “sanggah pengijeng”.
    Siapa yang melinggih di sanggah pengijeng tersebut?
    suksme, Om Shanti,Shanti,Shanti,Om

  2. dewabagus:

    Om Swastyastu,

    Karena keterbatasan lahan, bolehkah ring pemarajan hanya ada pelinggih Padma sari saja.

    Suksama,
    Om Santih, santih, santih, Om

  3. Bhagawan Dwija:

    Sanggah Pangijeng adalah pelinggih Kanda 4 yang sudah mantuk ke sunia dan manunggal dengan Brahman yakni : Siwa (bekas ari-ari), Sada Siwa (bekas lamas), Parama Siwa (bekas getih), dan Sunia Siwa (bekas yeh nyom) dari semua anggauta keluarga yang tinggal di tanah pekarangan yang sama.

  4. Bhagawan Dwija:

    Sebaiknya membuat juga “pengayengan Kemulan Rong 3″ yang gunanya sebagai stana roh leluhur. Penting karena roh leluhur ingin selalu dekat dengan preti sentananya, terlebih-lebih bila tiba hari raya misalnya Sugian Bali, Galungaan, Ulihan, dll. Pengayengan itu sederhana walaupun berbentuk pelangkiran yang dipakukan ke tembok atau dibuatkan kaki ditanam di halaman, toh tidak memerlukan ruang yang besar. Demikian pula untuk Taksu dan Sedahan karang.

  5. w.nila:

    Sehubungan dengan palinggih di sanggah pemerajan diatas, dimana disebutkan adanya stana pemujaan Sanghyang Siwa Raditya, Sanghyang Trimurti dan Leluhur, dll.
    1. Dimanakah Tempat pemujaan Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
    2. Apakah Sanghyang Siwa Raditya tersebut adalah Sanghyang Widi Wasa, ( mengingat pengaruh aliran siwa yang kuat)
    Suksma

  6. Wijaya:

    Om swastyastu,

    Menurut informasi yg pernah saya terima bahwa pada pelinggih sedahan karang kita tidak boleh menghaturkan bhakti. apakah benar seperti itu. tolong di jelaskan kenapa.

    suksma
    Om santhi santhi santhi

  7. Bhagawan Dwija:

    Tidak benar. Pelinggih Sedahan Karang adalah pelinggih Bhatara Kala, putra Siwa yang “bertugas” melindungi keluarga di pekarangan itu. Jadi patut disembah, terutama pada hari Tumpek Wariga (Tumpek Uduh) yang kini akan tiba tgl 13-11-2010; adakan upacara ngerasakin dengan banten secukupnya memakai guling babi

  8. Bhagawan Dwija:

    @w.nila: Benar

  9. wayan suama:

    Saya ingin bertanya mengenai Sanggah Pemerajan sebagai berikut :

    1)
    Ada beberapa sanggah perumahan keluarga kecil yg saya perhatikan bahwa di sebelah selatan Kemulan rong tiga ada bangunan pelinggih juga Rong dua,namanya pelinggih Dewa Hyang.
    Pertanyaan, Siapa yg berstana atau yg di puja di pelinggih rong dua tsb ?

    2)
    Di sanggah pemerajan yg lebih besar atau sanggah dadia atau panti ada bangunan seperti diatas juga yaitu di selatan pelinggih rong tiga ada bangunan Rong dua yg katanya bernama pelinggih Dewa Hyang atau Gedong Ibu.
    Pertanyaan, siapa yg berstana atau yg di puja di pelinggih rong dua tsb ?

    3)
    Setelah upacara ngaben dgn rangkaian kegiatan me ajar ajar ke Pura goa lawah & besakih. Dan terakhir sanghang pitara di stanakan (di linggihkan) di sanggah.
    Pertanyaan, di pelinggih yg mana di stanakan..? Apa bangunan pelinggih Kemulan rong tiga atau Pelinggih Dewa Hyang rong dua.

    Mohon penjelasan.

    Suksma
    Om santi, santi, santi, om

  10. Bhagawan Dwija:

    @wayan suama: (1) Rong dua adalah linggih Sanghyang Arda Nareswari yakni Tuhan/Sanghyang Widhi dalam utaprota dua yang berlawanan : lelaki/perempuan, siang/malam, dharma/adharma, Ang – Ah

  11. Bhagawan Dwija:

    @wayan suama: (2) Bhatara Ibu Pajenengan (pihak pradana dari Bhatara Kawitan) (3) Di Batur Kkemulan dahulu, kemudian baru dipindahkan ke Pelinggih Raja Dewata.

  12. jizo:

    Mana yang lebih dulu dipuja,,betara kawitan atau betara surya,,lalu saat nunas tirta mana yang lebih didahulukan tirta surya atau tirta kawitan saya bingung,,,,,,, terima kasih banyak

  13. eben:

    apa saja runtutan upacara yg harus dilakukan,dari awal mendirikan pelinggih/merajan alit dan apa saja kelengkapan sarana upacaranya?dan apakah hrs pakai babi guling?

  14. Bhagawan Dwija:

    @eben: Urutan upacara : 1) Memangguh 2) Memirak 3) Mecaru 4) Mlaspas 5) Memakuh 6) Maurip-urip 7) mulang akah pedagingan, orti, ulap-ulap pelinggih/rumah 8) Memendak Ida Bhatara 9) Mekalahias 10) Ngelinggihang 11) Ngaturang banten pengenteg dan piodalan 12) Pemuspaan 13) Nunas tirta/bija 14) Parama santhi. Untuk memangguh perlu babi guling kucit muani selem belolot

  15. Bhagawan Dwija:

    @jizo: Memuja : lebih dahulu Sanghyang Widhi. Nunas tirta : lebih dahulu Bhatara Kawitan. Penjelasan : dalam proses memuja, Tuhan-lah yang utama. Dalam nunas tirta juga Tuhan yang utama, maka tirta-Nya diletakkan dikepala, paling atas (jangan lagi ditumpuki lain-lain tirta.

  16. Gunartha:

    Ratu Bhagawan,

    Ohm Swastyastu

    Di pemerajan rumah asal saya ada bangunan sebagai berikut:

    Candi bentar menghadap ke selatan, masuk ke pemerajan ke utara.

    Baru masuk disebelah timur menghadap ke barat, ada Ngerurah. Mohon penjelasan yang berstana di pelinggih ini. Apakah ini yang disebut Sedahan karang?

    Disebelah utara Ngrurah ada rong tiga. Say sudah jelas dengan fungsinya untuk pemujaan tri murti.

    Di utara menghadap ke selatan ada Taksu, saya juga sudah jelas fungsinya untuk pemujaan Dewi Saraswati.

    Disebelah barat Taksu ada lagi satu pelinggih yang sama dengan Ngerurah. Menghadap ke Selatan. Mohon penjelasan yang berstana di pelinggih ini.

    Di luar Pemerajan, Di Pojokan Kaje Kawuh dari pekarangn ( disebelah utara bale dauh, ada pelingging, yang disebut oleh orang tua saya sebagai penuggun Karang. Mohon penjelasan yang berstana di pelinggih ini.

    Matur Sukesama
    Gunartha

  17. Bhagawan Dwija:

    @Gunartha: Pangerurah adalah “pepatih” Ida Bhatara, yang asalnya adalah Bhatara Kala. Sebuah “taksu” lagi saya tidak tahu, bisa ditanyakan kepada pengelingsir keluarga, sebab Sanggah Pamerajan setiap keluarga berbeda-beda, menurut historis pendiriannya. Penunggun karang = sedahan karang adalah pelinggih wateking bhuta.

  18. Dwi:

    Saya mau bertanya. Di rumah saja ada 14 pelinggih yaitu: Pangrurah, Taksu, Pesaren, Ratu Mas Catu, Ratu Mas Pahit, Gunung Agung, Gedong Sari,Ratu Yang, Kemulan, Menjangan Saluwang, Pengaruman, Apit Luwang, Padmasari, dan Ratu Sedehan Karang. Dewa yang berstana di pelinggih tersebut siapa?

    Matur Suksma.

  19. Gunartha:

    Matur Suksema ratu Beghawan,

    Sayang sekali saya belum mendapatkan jawaban mengenai pelinggih yang disebelah Taksu, yang secara fisik sama dengan pengerurah. Padalah kami membangun rumah tersebut ketika saya masih SD. Semua pelinggih dirancang oleh kakek saya yang kebetulan seorang undagi yang biasa membuat bangunan rumah dan sanggah untuk para tetangga dan kerabat. Waktu itu kita tidak pernah bertanya fungsi semua pelinggih. Kami menerima saja apa yang dibuat oleh kakek. Termasuk bapak tidak pernah menanyakannya, sampai kakek meninggal dan saya sekarang berumur 43 tahun. Ketika sekarang saya kedatangan tamu atau teman atau relasi bertandang ke rumah, pelinggih di sanggah sepertinya menjadi salah satu obrolan wajib di antara kami. Tidak tahu mengapa demikian. Dan selalu pelinggih yang di sebelah barat Taksu yang menjadi pertanyaan dan saya selalu tidak bisa menjelasakannya.Ketika tahun lalu kami ada rejeki dan memugar semua pelinggih, kami bediskusi panjang, dan kami memutuskan untuk tetap seperti itu, tidak menguranginya, walaupun kami tidak tahu persis.

    Sekali lagi matur suksema,

    Gunartha

  20. Bhagawan Dwija:

    @Gunartha: Betul, agak sulit, karena bentuk pelinggih seperti itu banyak, namun fungsinya berbeda-beda. Cara lain adalah dengan anumana-pramana, tetapi saya perlu datang ke lokasi. Dimana anda ? Kalau masih berminat hubugi saya di HP 081-338-423-720

  21. Bhagawan Dwija:

    @Dwi: Pangrurah : Bhatara Kala, Taksu : Bhatari Saraswati, Pesaren : Bhatara/i Semara-Ratih, Ratu Mas Catu : Bhatara Gunung Batur, Ratu Maspahit : Bhatara Majapahit (Tribuwanttunggadewi), Gunung Agung : Bhatara Putranjaya, Gedongsari : Bhatara Raja Dewata, Ratu Yang ….?, Kemulan : Bhatara Hyang Guru, Pengaruman : Bhatara samo daya, Apit Lawang : Bhatara Kala, Padmasari : Bhatara Tripurusha, Sedahan Karang : Bhatara Kala.

  22. Wayan Shantika:

    Om Swastyastu
    Tyang mau tanya :
    1. susunan pelinggih apa saja yang wajib didirikan di pura prajapati ?dimana bisa didapatkan dasarnya?
    2. demi efisiensi tenaga dan biaya, apakah bisa odalan pura desa dengan odalan pura prajapati dilaksanakan pada hari yang sama?
    Om Shanti, Shanti, Shanti Om

  23. Bhagawan Dwija:

    @Wayan Shantika: 1. Padmasana/Padmasari dan Mrajapati. 2. Tidak boleh karena pura desa adalah stana Bhatara Brahma, dan Mrajapati adalah linggih ancangan Bhatari Durga

  24. I Nengah Suidirtha:

    Om Swastyastu

    Tiang mau bertanya bagainmana sebenarnya bentuk sanggah pengijeng di tengah natar, dulu dirumah saya dibuat oleh orang tua berbentuk ” Padma Sari “, mohon penjelasan suksma

  25. Bhagawan Dwija:

    @I Nengah Suidirtha: Itu adalah pelinggih sedahan karang, bentuknya dari bebatuan, mempunyai rong satu dan beratap, juga dari bebatuan.

  26. awan:

    Pintu masuk ke sanggah pemerajan apakah hrs dr selatan atau boleh dari Barat?

  27. I PUTU GEDE RAYUSA:

    Om Swastyastu
    Pelinggih surya yang ada di halaman rumah apakah harus terbuka atau pakai atap krn banyak tapsiran berbeda mohon penjelasan

  28. I PUTU GEDE RAYUSA:

    Om swastyastu

    Pelinggih surya yang ada di halaman rumah >>>apakah harus terbuka atau ada atapnya karena banyak tapsiran yang berbeda mohon penjelasan

  29. bhagawan dwija:

    Tergantung dari lokasi, mana “hulu” dan mana “teben” Kalau pemedal berada di teben, artinya di “kauh” (barat), atau di “kelod” (utara atau selatan menurut sima/tradisi setempat)

  30. bhagawan dwija:

    Kalau pelingih Surya biasa disebut Padmasari atau Padmasana, tidak pernah diisi atap. Lihat lontar Dwijendra Tattwa dan Gong Besi.

  31. kadek:

    Om Swastyastu….
    Ratu bhagawan tyang ingin bertanya….
    tyang punya paman yang sudah lama tinggal di jawa. Sampai anak-anaknya sudah besar,,,baru pulang ke Bali bersama istrinya (istrinya dulu beragama islam kini sudah masuk hindu)dan buat rumah di Bali. Sewaktu di jawa,,,hanya membuat pelangkiran saja di kamarnya. Lalu ketika membuat rumah di Bali,,,paman tyang itu tidak mau membuat sanggah kemulan dan taksu,,,dia hanya ingin membuat padmasana. Paman tyang berkata katanya “biar tidak kebanyaan buat sanggah, toh sudah ada satu dirumah asal. Nanti kalau kebanyaan buat sanggah,,,nanti malah tidak ada yang ngurusin” begitu katanya. Menurut ratu,,,apakah boleh dalam sebuah rumah tinggal,,,hanya membuat padmasana,,..?
    Suksma ratu….
    Om Santih Santih Santih Om

  32. bhagawan dwija:

    Om Swastyastu,

    Menurut Lontar Tutur Kuturan dan Lontar Gong Besi, seyogyanya di sebuah rumah tinggal ada “pamerajan alit” yang terdiri dari 1. Padmasari, linggih Bhatara Tripurusha : Parama-Siwa, Sada-Siwa, dan Siwa. Ini adalah pemujaan kepada Tuhan, baik sebagai Nirguna Brahman maupun sebagai Saguna Brahman.
    2. Kemulan Rong-3, linggih Bhatara Hyang Guru dan di bawahnya (batur kemulan) linggih roh leluhur yang sudah suci.
    3. Taksu, linggih Bhatari Saraswati, penganugrah Ilmu Pengetahuan.
    4. Sedahan Karang, linggih Bhatara Kala (putra Siwa)
    Jadi kalau tidak lengkap, maka kurang sempurna, dalam artian pemujaan kita kurang lengkap. Selain itu bila rerahinan, roh leluhur kita apakah tidak dihaturi sesajen (soda) ?
    Om Santih, santih, santih, Om

  33. ketutbagia:

    Om Swastyastu….
    Ratu bhagawan tyang ingin bertanya….
    apakah perbedaan padmasari dan anglurah.

  34. bhagawan dwija:

    Padmasari adalah stana Ida Sanghyang Widhi dalam utaprota sebagai siwa, sada-siwa dan parama-siwa. Dengan kata lain, utaprota dari Nirguna-Brahman, menjadi Saguna-Brahman. Anglurah/Pangerurah adalah stana Bhatara Kala (putra Bhatara Siwa) dalam dharma-Nya sebagai pengatur/pengawas di Pura atau Sanggah Pamerajan. Kalau Padmasari bentuk bangunannya menggunakan bedawangnala, angsa, dan garuda mungkur, namanya Padmasana. Mengenai jenis-jenis Padmasana, lihat di web ini “Padmasana”

  35. made supartana:

    om swastiastu sri bhagawan , saya mau menanyakan apakah perlu dibuatkan padmasari/ padmasana lagi di sanggah alit saya, yang mana baru ada kemulan , taksu dan penglurah . dan natah pekarangan saya ada pelinggih kayak padmasari yg terbuka, di desa itu disebut pelinggih surya. saya mohon penjelasannya. suksma om shanti3x om

  36. Agung:

    ratu pedanda tyng mau tanya,,
    apakah ada urutannya kalau kita mebanten sehari-hari?? apakah boleh diacak ?? kalau tidak, bagaimana urutan meaturan banten canang sari yang benar? (kalau dirumah, bagaimana urutannya, kalau di mrajan bagaimana urutannya) apakah dari pemesuan dulu, baru masuk ke mrajan, atau dari mrajan (yg mana yg didahulukan di bantenin) ?
    suksma ratu

  37. Agung:

    ratu, tyang punya kamar suci tapi tidak tahu siapa yang brstana disana?
    apa ada fungsi dari kamar suci?
    trus, apa ada waktu piodalan pada kamar suci??
    suksma ratu..

  38. bhagawan dwija:

    Om Swastyastu,
    1. Untuk pamerajahan paumahan pelinggih yang ada di bagian hulu karang (kaja, kangin atau kaja-kangin) adalah : padmasari, kemulan rong 3, dan taksu; untuk di pekarangan rumah dekat pemedal ada sedahan karang (tugu)
    2. Padmasari seharusnya berada di bagian hulu (lihat penjelasan 1). Kalau di tengah-tengah pekarangan namanya bukan Padmasari walaupun bentuknya serupa. Biasanya disebut : pengubengan, yakni stana bhatara-bhatari raja-dewata (leluhur)

  39. bhagawan dwija:

    Siapa yang membangun/membuat kamar suci itu ? Coba tanyakan kepadanya, sebab pengadaan kamar suci ada berbagai tujuan, antara lain untuk :
    1. Meditasi/berjapa
    2. Menyimpan benda-benda pusaka, sakral, atau paica-paica
    3. Pengayengan Ida Bhatara, karena tidak mempunyai pamerajan paumahan.
    Ada tidaknya piodalan tergantung dari :
    1. Ida Bhatara yang distanakan disana
    2. Pekayunan paia-paica/benda sakral itu, biasanya melalui petunjuk Ida Bhatara melalui Jero Tapakan di beras-jinah.

  40. bhagawan dwija:

    Urutan ngaturang banten/canang sari/saiban di pamerajan :
    1. Dari pelinggih utama di utama mandala misalnya Padmasari, Kemulan rong 3, Taksu, dll
    2. Ke madya/nista mandala : candi bentar, pengapit lawang, lebuh, dll
    Urutan ngaturang banten/canang sari/saiban di perumahan :
    1. Sedahan karang, pelangkiran-pelangkiran didalam rumah/kamar tidur
    2. Saiban untuk bhuta-kala : dapur, jeding, sampat, talenan, pisau, lesung, tanah pekarangan, pemedal rumah.

  41. bhagawan dwija:

    Om Swastystu,

    Pelinggih sejenis padmasari yang disebut “surya” sebenarnya bukan pelinggih sanghyang tripurusha, tetapi pelinggih “pengubengan” atau pengayatan kepada para dewa/bhatara. Jadi untuk kelengkapan pamerajan alit, perlu membangun padmasari di hulu kemulan rong 3, sebagai stana tripurusha : siwa-sadasiwa-paramasiwa.

    Om Santih, santih, santih, Om

  42. ketut:

    Yang Terhormat ratu Bhagawan,
    Titang mau bertanya, apakah orang lain yang bukan anggota keluarga kita diperkenankan ikut sembahyang di merajan keluarga ? Kalau tidak, apa akibatnya jika orang lain ikut sembahyang di merajan keluarga kita ? Suksma

  43. dewa gede:

    Om Swastyastu,
    Ratu Peranda sane banget suciang tityang, nawegang tityang wenten pitaken akidik, indik merajan kemulan punika kocap genah pemujaan Dewa Trimurti sareng Roh leluhur, sane jagi takenang tityang, Roh Leluhur punika ring rong sane dija magenah…? Suksma…

  44. bhagawan dwija:

    Om Swastyastu,

    Kemulan rong 3 linggih Sanghyang Trimurti, atau Bhatara Hyang Guru. Roh leluhur yang sudah suci (sudah melalui proses pitrayadnya lengkap), distanakan di “batur kemulan” yakni ruangan dibawah rong 3 (antara bebaturan dan rong 3)

    Om Santih, santih, santih, Om

  45. bhagawan dwija:

    Om Swastyastu,

    Kalau ada “orang-lain” yang ikut bersembahyang di Sanggah-Pamerajan kita, apa salahnya ? Asal dia bersembahyang dengan ketulusan hatinya, bukan karena “menjilat” atau ingin mencari muka. Misalnya si A adalah pejabat tinggi, lalu si B yang ingin disayang si A ikut sembahyang (memuja leluhur) si A. Ini namanya sembahyang yang tidak tulus, bukan “dharma” namanya, bahkan “adharma” karena melibatkan Agama untuk kepentingan sesaat.

    Om Santih, santih, santih, Om

  46. dewa gede:

    inggih suksma, malih siki ring merajan tityang wenten bale piyasan, sapasira sane melinggih ring bale piyasan punika.? Suksma.

  47. bhagawan dwija:

    Om Swastyastu,

    Bale Piasan punika genah ngelinggihang niyasa/simbul Ida Bhatara sesampun mahias, minekadi pratima, arca, ampilan, utawi daksina lingga ngraris katuran banten piodalan utawi karya tiosan. Yen sampun penyineban Ida Bhatara, prelingga Ida Bhatara sampun kaunggahang malih ring gedong simpen, mangkin bale piasan punika wantah keanggen ngenahang banten alit-alit ritatkala rerainan, minekadi galungan, kuningan miwah sane lianan.

    Om Santih, santih, santih, Om

  48. moehar:

    Ratu peranda, Tiyang mau bertanya Apakah boleh hanya dibangun Sanggah Kemulan dan Tugu Karang pada area perumahan?….

  49. I Nym. Winata:

    Om Swastyastu,
    Hyang Bhagawan ada yang ingin saya tanyakan tentang piyasan di sanggah. saya mempunyai piyasan yang kayunya masih kuat dan bagus, terutama (saka-nya / tiangnya ada 4 buah)namun belum di ukir. Berkeinginan untuk diukir pada tiangnya, juga kayu lainnya agar kelihatan lebih baik, dan ingin saya bongkar kembali untuk diukir. Namun beberapa sumber di desa saya mengatakan, bahwa tiang/saka yang sudah di bakuh atau di urip tidak bisa di turunkan lagi untuk di ukir. Harus ganti dengan yang baru.

    Yang ingin saya tanyakan pada Hyang Bhagawan
    “APAKAH HARUS DEMIKIAN?

    saya haturkan banyak terima kasih.
    Nunas pawecana hyang Bhagawan
    Om santih, santih, santih om

    Suksma
    I Nyoman Winata
    Kediri-Tabanan

  50. dewa gede:

    om swastyastu,
    Ratu Peranda nawegang tityang wenten pitaken akidik, sapesira sane melinggih ring genah pelangkiran sane wenten ring kamar tidur? Suksma…

  51. bhagawan dwija:

    Om Swastyastu,

    Sebaiknya lengkap. Namun bila lahan sempit, buatkan pengayengan untuk Padmasari dan Taksu.

    Om Santih, santih, santih, Om

  52. bhagawan dwija:

    Om Swastyastu,

    Boleh, tetapi mengikuti prosedur awal : mapiuning, ngingsirang Ida Bhatara dengan menggunakan niyasa daksina lingga, kemudian pelinggih lama di pralina, barulah dikerjakan atau dibangun kembali sesuai keinginan.
    Setelah selesai adakan upacara seperti dari awal : mecaru, mlaspas, mepasupati, dan ngelinggihang Ida Bhatara.

    Om Santih, santih, santih, Om

  53. bhagawan dwija:

    Om Swastyastu,

    Sang Kanda-Pat. Cingakin indik puniki ring web

    Om Santih, santih, santih, Om

  54. I Nyoman WINATA:

    Om Swastyastu,
    Suksma pisan tityang kaatur majeng ring hyang bhagawan, seantukan sampun nyawis pitaken tityang. Galang manah tityang sampun polih penyawis saking hyang bhagawan.

    Om santih-santih-santih om

  55. wayan dibali:

    Nawegang Ratu Peranda tityang jagi matur akidik!
    1. Napi sarana upacara sane alit/niste anggen mlaspas Padmasari?
    2. Punapi tata cara/urutan/proses bebantenan punike?
    3. Napi dados tityang(selaku kepala keluarga)nguningan/ngantebang/muput?
    Iggih asapunika tunas tityang. Tityang matur suksme

  56. Budika:

    Om swastyastuRatu Bhagawan
    tityang jagi wenten pitaken akidik…
    ring sanggah mrajan tityang wenten palinggih rong kalih.. napi fungsi palinggh punika? lan sire sane ngalinggihin palinggih punika..
    suksma atur tityang Ratu. Om santhi santhi santhi Om

  57. bhagawan dwija:

    Om Swastyastu,

    Sampun wenten ring website puniki, artikel tt Padmasana (berbagai bentuk/kegunaan), jangkep ngawit ngereruak, melaspas, mulang akah pedagingan, sarwaning tata-titi upacara lan upakara.

    Dados sakewanten nunas tirta-tirta pemuput :
    1. Caru pengeruak (Caru brunbun)
    2. Pemelaspas, pemasupati
    3. Tirta banten
    4. Tirta panugrahan
    Lan : batu dasar, akah pedagingan, ulap-ulap, orti, daksina lingga, saking Gerya Ida Sulinggih sane nampek saking genah duwene.

    Om Santih, santih, santih, Om

  58. mardi:

    om swastiastu,, tityang metaken,,, dirumah tityang sanggah merajannya wenten sanggah pengayeng dan tugun karang saja,, alasannya krn lahan tidak cukup.. napi dados kenten nggih ratu bhagawan??

  59. mardi:

    om swastiastu,, tityang metaken,,, dirumah tityang sanggah merajannya wenten sanggah pengayeng dan tugun karang saja,, alasannya krn lahan tidak cukup.. napi dados kenten nggih ratu bhagawan?? suksma banget atur tityang… om santhi santhi santhi om….

  60. ayu sukajaya:

    ratu begawan..
    ampure ttyang ngangen bahasa campuran,,,
    ttyg mataken indik sane patut dihaturkan tur sire sane aturin…puniki :
    ttyg meneng ring pekarangan baru,, madue mrajan: PADMASARI,KEMULAN RONG 3, TAKSU,PIYASAN.
    SANTUKAN TTYNG KELINTANG NAMBET…ring PADMASARI DADOS PENGAYENGAN RING DIJE MANTEN?
    SELAMA INI MERTUA TTYNG NGATURANG BANTEN RING PIYASAN UNTUK NGAYENG KE PASASTI RING PURA KAWITAN, PURE KAWITAN,SANE MELINGGIH RING PIYASAN, BETARE HYANG KOMPYANG,,,,AKEH CANANGNE WENTEN 6 TANDING…..NAPIKE NIKE SAMPUN PATUT? ATAU MOHON TTYG DIJELASKAN SANE PATUTNE SAPUNAPI ???/
    SUKSME

  61. dewa mahardika:

    Om swastyastu
    Bhagawan, saya mau nanya tentang merajan dadia/merajan kawitan? Pelinngih apa saja yang harus ada? Apa Fungsi Pelinngih Tersebut?
    Dan Apa Fungsi Merajan Kawitan/dadia?
    Sekarang ini, di merajan dadia kami bangunanya belum lengkap tidak ada meru? Apa fungsi Meru tersebut? Apakah ada hubungannya merajan kawitan dengan kehidupan warga dadianya. Selama ini kami sudah bekerja keras, tapi satu pun dari keluarga kami yang berhasil baik yang bekerja di sektor pertanian, bagunan ataupun di PNS. Apakah ada hubunganya dengan merajan kawitan kami yang belum lengkap. Suksma

  62. gede agus:

    om swastyastu ratu,
    singkat kata mau bertanya apa benar pelinggih merajan alit itu ketinggiannya berbeda. misalnya sanggah surya atow pengijeng harus lebih tinggi dari pelinggih lainnya. kedua padmasari harus lebih tiingi dari pelinggih kemulan??? ini tiang dapat dari tukang yang memasang pelinggih tityange ring rumah.

  63. kalerpau:

    Om swastiastu, saya mau nanya tentang nama pelinggih yang berada di pekarangan rumah yang terletak disebelah angkul-angkul rumah (pemesu), dan yang melinggih disana.suksma

  64. made sudirna:

    Om Swastyastu Ratu Bhagawan
    Tiyang tinggal di perantoan luar bali, kami melakukan piodalan untuk paibon dan kawitan dan beberapa odalan lainnya, tetapi kami tidak memiliki pelinggih kawitan dan ibu, semuanya hanya pengayatan, apakah semua ini sudah cukup benar atau bagaimanakah sebaiknya( apakah harus nangiang pelinggih tersebut) kami berjumlah 13 KK dan sudah lebih 30th di perantauan, matur suksme

  65. made sudirna:

    Om Swastyastu Ratu Bhagawan
    Tiyang ingin bertanya dan mohon pencerahannya
    Tiyang sudah berkeluarga dan tinggal dalam 1 pekarangan yang sama dengan orang tua tiyang, tetapi kami sudah memiliki 1 kemulan, apakah setiap keluarga baru atau KK seperti saya harus memiliki kemulan baru/sendiri, ataukah bisa/boleh kemulannya bersama orang tua dan kakak tiyang, matur suksme lan nunas ampure bila bahasa dan cara penyampaiannya kurang tepat

  66. nengah suardana:

    sayaakan ngelisirang sanggah dirumah ,dahulu saya hanya punya kemulan satu ,sedangkan saya bermaksud membuat kemulan ,yang adegan (kaki 6 berjumblah enam ),sedangkan ,apakah saya harus,se membuat kemulan taksu…menurut orang tua terdahulu kita boleh membuat kemulan hanya satu,,,seprti yg akan saya buat ..maklum ketebatsan tempat ,sedangkan saya bersaudara hanya @ orang tapi sudah berkeluarga semua …mohan di berika jawaban…yg,,pasti…atas ini taing aturkan suksma

  67. nengah suardana:

    mohon maaf…saya ber maksud memindah kan sanggah saya ,karna keterbatasan tempat .haruskah saya membuat kemulan taksu…,saya bersaudara 2 orang..karna saya semuanya sudah berkeluarga …tempat hanya ada satu …saya berharap anda bisa memberikan jawaban..yg tepat.

  68. puturiska:

    Om Swastiastu,
    Ratu Bhagawan titiang matur pitaken: dados ngingsirang pelinggih kemulan wiadin taksu saking rumah lama ke rumah baru? yan dados sapunapi pemargin ipun miwah napi upakara bebantenan sane kemargiang?

    Suksma

    Om Santhi Santhi Santhi

  69. dewa wijayadnya:

    om swasti astu ratu begawan titiang jagi mataken indik ngentosang pelinggih, nanging dasarn ipun nenten je mekisid,,, punapi upekara sesampu titiang ngentosing ponika,,,napi perlu malih titiang mupuk pedagingan, mendem lan nasarin,,,, sukseme antuk galah,, om chantih, chantih, chantih,,om

  70. Putu Gede Nata:

    Om Swasti Astu
    Tityang Putu Saking jembrana
    tityang jagi nunasang paindikan pemerajan
    dumugi Ida Ratu Bhagawan ngicenin Sesuluh

    Asapuniki Ratu Bhagawan
    Sekarang saya sudah pindah rumah dari rumah pokok tyang
    tetapi rumah yang baru tyang bangun ini tidaklah jauh dari rumah pokok saya dan di rumah pokok saya tersebut sudah ada Sanggah gede.
    pertanyaan tityang bolehkah tyang membangun Merajan di rumah saya yang baru ini? dan kl boleh apa saja yang di perbolehkan?

    Suksma Ping Banget Aturang tityang

    ampure niki bahasa tityang gado2

    Om Shanti Shanti Shanti Om

  71. ketut suantara:

    ratu begawan nunas sugra, tityang jagi nunasang ring peumahan tityang angkul-angkul tityang genahnyane numbak bale dangin, sakewanten sikut angkul-angkul punika kepica saking mangku dalem, dados napi nenten nike? napike wenten nyakitin nike ratu? suksma aturan tityang

  72. sudiartagedekapuk:

    om swastiastu ida ratu bhagawa,tiang jagi metaken,
    1 apa bede rong tiga dengan kemulan dapdap,(yg biasa ada d desa pupuan)
    2 d rumah keluarga saya sdh ada palinggih padmasari,rong 2,dan kemulan dapdap,sedan karang di luar area.
    3 rencana keluarga mau bangun rong 3,biar sesuai dgn aturan mpu kuturan,pelinggih rong 2 apa dprelina atau bagaimana
    4 jika sdh ada palinggih rong 3 yg baru apa hrs ada proses nuntun dr dadia.dan apa sanggah dapdap d tiadakan

    suksme majeng ida ratu bhagawan

  73. bhagawan dwija:

    Om Swastyastu,

    1/2. Kemulan turus dapdap dan mekereb lalang atau duk, nika tradisi/loka dreste. Tetap digunakan sebagai stana Ida Bhatara Hyang Guru. Sedangkan Kemulan rong 3 adalah ajaran Ida Mpu Kuturan, sebagai stana Sanghyang Tiga Sakti.
    3. Tidak diprelina karena rong 2 adalah pelinggih Ardha nareswari
    4. Tidak

    Om Santih, santih, santih, Om

  74. bhagawan dwija:

    Om Swastyastu,

    Yening wangunan paumahan nike ten nganggen sukat asta kosala-kosali lan asta bhumi, punika dados.

    Om Santih, santih, santih, Om

  75. bhagawan dwija:

    Om Swastyastu,

    Menurut lontar Tutur Kuturan, pada setiap perumahan perlu diadakan sanggah pamerajan alit yang terdiri dari bangunan : kemulan rong 3, dan taksu. Dalam Dwijendra Tattwa, perlu ditambahkan pelinggih padmasari. Untuk dipekarangan rumah perlu dibangun pelinggih sedahan karang, dan diluar pagar rumah (di telajakan – dekat jalan) dibangun pelinggih Lebuh.

    Om Santih, santih, santih, Om

  76. bhagawan dwija:

    Om Swastyastu,

    Bila rumah/pekarangan lama dijual, boleh dipindahkan. Tata caranya :
    1. Buatkan pelinggih baru lengkap s.d di plaspas
    2. Tuntun Ida Bhatara yang melinggih di tempat lama ketempat baru
    3. Pelinggih lama di pralina

    Om Santih, santih, santih, Om

  77. bhagawan dwija:

    Om Swastyastu,

    Bila anda berkumpul dengan saudara kandung, boleh ada satu pamerajan alit saja.

    Om Santih, santih, santih, Om

  78. bhagawan dwija:

    Om Swastyastu,

    Perlu membuat pelinggih Ida Bhatara Kawitan, karena jumlah kk sudah banyak dan akan terus berkembang, dan anda juga akan menetap seumur hidup disini.

    Om Santih, santih, santih, Om

  79. bhagawan dwija:

    Om Swastyastu,

    Betul, karena ada “jenjang” manifestasi Ida Sanghyang Widhi Wasa sebagai Saguna Brahman di masing-masing pelinggih lain, sedangkan Padmasana adalah tripurusha yakni Paramasiwa (Nirguna Brahman), Sadasiwa, dan Siwa.

    Om Santih, santih, santih, Om

  80. bhagawan dwija:

    Om Swastyastu,

    Namanya Sedahan Karang, yakni stana Bhatara Kala, putra Siwa yang melindungi dan mengatur/mengawasi manusia.

    Om Santih, santih, santih, Om

  81. bhagawan dwija:

    Om Swastyastu,

    Runtutan upacarane sapuniki :
    1. Memangguh
    2. Mecaru
    3. Melaspas, memakuh, maurip-urip
    4. Mendem akah pedagingan, ngunggahang orti, lan ulap-ulap
    5. Memendak Ida Bhatara – mekalahyas
    6. Ngaturang banten pengenteg alit.

    Om Santih, santih, santih, Om

  82. Tu Agus:

    Rahajeng Wengi Ratu Sri Bhagawan yang Titiang Muliakan, mohon petunjuk dan pecerahan;

    Dimerajan Dadia titiang sedang dilakukan renovasi,dan sebelumnya sdh minta petunjuk Ida Anak Lingsir Ring Griya Juwuk Manis Negara dan Ida anak lingsirpun ngenikang bahwa pemerajan titiang punika kalo dilihat dari jajaran pelinggihnya sdh bisa disebut pemerajan Panti bahkan dadia agung dan selama hampir 60 thn kami sebgai pengempon tdk prnh ada kesakitan ato kesisipang krn jajaran pelinggih tsb. perlu juga titiang jelaskan dimana dalam jajaran pelinggih dimareajan tsb dibagi jdi 3 blok jajaran :(1)di ulu kawuh keselatan adalah jajaran pelinggih kawitan dg satu pengabih alnglurah bumi dikelod kawuh termasuk didalamnya jajaran pelinggih menjangan Sluang dg ulunya Padmsana dikaja kawauh, (2) jajaran di sebelah utara jajaran pelinngih Sanggah Suwun Kemulan sakti (termasuk pelinngih rong 3)diabih oleh 1 anglurah bumi paling ujung timur/kaja kangin, 3. Jajarajaran pelinggih diselatan merupakan jajaran pelinggih Hyang ibu/paibon jg diabih oleh alungrah bumi kelod kangin.

    1. tetapi Dalam proses perjalanan renovasi tsb beberapa org semeton titiang py tujuan yg agak nyeleneh ada beberapa pelinggih yg mau diingkup/dilebur dijadikan satu (anglurah bumi masing2 jajaran tsg di ingkup dijadikan satu dg yg kelod kangin yg merupak anglurah bumi hyang ibu…

    Pertanyaan titiang apakah benar tujuan tsb dan apakah ada sastra yg menyebutkan hal tsb…?)

    2.Padmasana yg lgkp dg bedawang nalanya akan dirubah menjadi padmasari (dgn alasan pemaerajan dadia/panti tsb akan dirubah statusnya menjadi merajan alit) dan dg alasan tsblah padmasan akan diganti dan dipindahkan yang linggih sebelumnya ada dikaje kawuh mau dipindah ke arah kaja kangin satu jajaran dgn jajajran pelinngih paibon/hyang ibu…yg letaknya disor dg jajaran pelinggih yg titiang sebutkan diatas krn kaja kawuh itu dijadikan ulu oleh karena pemedal ada di kelod kangin.

    Pertanyaan Titiang : bagaimana sebaiknya tindakan titiang apakah didukung apa tidak…?
    dan apakah memang ada sastra yg bisa dijadikan dasar pertimbangan utk kasus no 2 diatas…?

    Titiang kira utk sementara itu dulu yg perlu titiang tanyakan, dan mohon petunjuk dari Ratu Bhagawan bagaimana tindakan yg mesti titiang ambil ??? untuk lebih jelasnya nanti akan titiang lengkapi dg denah pemerajan titiang.

    Titiang Nunas Gengrenesinampura sawireh Bhasa yg tiang gunakan bhs gado-gado. MATUR SUKSEMA.

    TU AGUS SEPANG.

  83. bhagawan dwija:

    Om Swastyastu,

    Pada prinsipnya, kalau mengadakan renovasi (perbaikan, bukan pembangunan baru), tidak dibolehkan merubah letak, bentuk dan urutan pelinggih-pelinggih. Karena generasi yang sekarang tidak mengetahui sejarah/riwayat berdirinya pura panti itu. Setiap pamerajan/pura kawitan/pura panti bahkan kahyangan tiga di seluruh Bali tidak ada yang persis sama baik dalam jumlah pelinggih maupun bentuk serta urutan letaknya. Sekali lagi karena sejarah masing-masing berbeda. Jadi dalam hal ini apa yang kenikain olih Ida Sulinggih di Juwuk Manis, ikuti saja, karena beliau yang tahu dan bertanggung jawab.

    Kalau membangun sanggah pamerajan/Pura yang baru diatas tanah baru, maka boleh mengikuti petunjuk yang ada baik tertulis berupa lontar/buku-buku, dll. Namun tetap mohon petunjuk dari Sulinggih yang akan dimohon muput upacara duwene.

    Om santih, santih, santih, Om

  84. nyoman widnyana:

    Om Swastyastu

    Sedurungne tityang nunas ampura menawita basan tityang nenten manut ring tata basa

    Langsung kemanten.
    Tityang ring perantauan medue karang wantah 1 are, ring kaja kangin wantah kantun mesisa kirang langkung 2 meter persegi kemanten.
    Sane jagi takenang tityang, palinggih napi kemanten sepatutne kewangun? napike dados ngewangun palinggih pengayatan/pengayengan merupa Padmasari lan Taksu kemanten? Napi bebantenane pinih alit sepuputne.

    Inggih asapunika pitaken tityang, sweca Ratu Bhagawan mapaica wejangan.
    Matur suksma

    Om Santhi, Santhi, Santhi Om

  85. bhagawan dwija:

    Om Swastyastu,

    Indayang ukur/sukat,napi presida mekarya Padmasari lan Sedahan Karang. Ilingang mangdene pelinggih punika ten keni cacapan raab umahe. Yen ten presida, mekarya Padmasari kemanten, ngraris sedahan karange karyanang merupa pelangkiran mepacek ring tembok pagare.

    Om Santih, santih, santih, Om

Leave a comment