Pendirian Penunggun Karang

QUESTION:

Seperti kita lihat, di sekitar Pasar Anyar – Singaraja orang mendirikan Penunggun Karang ada di emper toko, ada di dalam toko, dan ada di atas atap.

Kalau di pedesaan, ada yang membangunnya di tengah pekarangan, di depan kori luar, atau di bagian dalam kori. Penunggun Karang ada yang menghadap ke timur, barat, utara, dan selatan.

Pertanyaan:

  1. Apa mitos pendirian Penunggun Karang?
  2. Sebaiknya Penunggun Karang di mana ditempatkan?
  3. Kalau melaspas Penunggun Karang apa perlu “ngerauhang” untuk menanyakan siapa nama Penunggun Karang yang baru didirikan itu?
  4. Pada Tumpek Pengatag apa perlu ngaturang guling di Penunggun Karang?
  5. Kalau Penunggun Karang terkena renovasi ke mana sebaiknya dipindahkan?

ANSWER:

1. Istilah Penunggun Karang dalam Sastra Dresta disebut Sedahan Karang (di perumahan) untuk membedakan dengan Sedahan Sawah (di sawah) dan Sedahan Abian (di kebun/ tegalan/ abian).

Dalam lontar Kala Tattwa disebutkan bahwa Ida Bethara Kala bermanifestasi dalam bentuk Sedahan Karang/ Sawah/ Abian dengan tugas sebagai Pecalang, sama seperti manifestasi beliau di Sanggah Pamerajan atau Pura dengan sebutan Pangerurah, Pengapit Lawang, atau Patih.

Di alam madyapada, bumi tidak hanya dihuni oleh mahluk-mahluk yang kasat mata, tetapi juga oleh mahluk-mahluk yang tidak kasat mata, atau roh.

Roh-roh yang gentayangan misalnya roh jasad manusia yang lama tidak di-aben, atau mati tidak wajar misalnya tertimbun belabur agung (abad ke 18) akan mencari tempat tinggal dan saling berebutan.

Untuk melindungi diri dari gangguan roh-roh gentayangan, manusia membangun Palinggih Sedahan.

2. Sedahan Karang boleh ditempatkan di mana saja asal pada posisi “teben” jika yang dianggap “hulu” adalah Sanggah Kemulan.

Karena fungsinya sebagai Pecalang, sebaiknya berada dekat pintu gerbang rumah. Jika tidak memungkinkan boleh didirikan di tempat lain asal memenuhi aspek kesucian.

Yang perlu diperhatikan, bangunan Palinggih Sedahan harus memenuhi syarat:

  1. pondamennya batu dasar terdiri dari dua buah bata merah masing-masing merajah “Angkara” dan “Ongkara”
  2. sebuah batu bulitan merajah “Ang-Mang-Ung”; berisi akah berupa tiga buah batu: merah merajah “Ang”, putih merajah “Mang”,dan hitam merajah “Ung” dibungkus kain putih merajah Ang-Ung-Mang
  3. di madia berisi pedagingan: panca datu, perabot tukang, jarum, harum-haruman, buah pala, dan kwangen dengan uang 200, ditaruh di kendi kecil dibungkus kain merajah padma denganpanca aksara diikat benang tridatu
  4. di pucak berisi bagia, orti, palakerti, serta bungbung buluh yang berisi tirta wangsuhpada Pura Kahyangan Tiga.

Persyaratan ini ditulis dalam Lontar Widhi Papincatan dan Lontar Dewa Tattwa. Jika palinggih sedahan tidak memenuhi syarat itu, yang melinggih bukan Bhatara Kala, tetapi roh-roh gentayangan itu antara lain Sang Butacuil.

3. Tidak perlu; sebaiknya hindari tradisi “ngerauhang” sebab dikhawatirkan jika mereka tidak benar-benar kodal, malah akan menyesatkan kita.

Ikuti saja sastra dresta. Apa pula gunanya mengetahui nama sedahan karang? Bukankah di kota Singaraja ini ada ribuan sedahan karang, lalu bagaimana beliau membagi-bagi nama yang berbeda ke masing-masing sedahan itu? Perlu sistem kearsipan yang baik bukan? Nah lucu dan tidak masuk akal.

4. Boleh saja ngaturang guling, kalau mampu, kalau tidak mampu ya seadanya saja. Bakti kita kepada Ida Sanghyang Widhi Wasa/ manifestasi-manifestasi-Nya bukan diukur dari besar-kecil atau mahalnya nilai banten, tetapi dari kepasrahan, keihlasan, ketulusan, dan kesucian bathin kita menghadap-Nya.

Jika sedahan karang di-”urip” dengan benar, maka fungsi-Nya sebagai pecalang sangat bermanfaat untuk menjaga ketentraman rumah tangga dan menolak bahaya sehingga terwujudlah rumah tangga yang harmonis, bahagia, aman tentram, penuh kedamaian.

5. Jawabannya sama dengan nomor 2 di atas.

30 comments to Pendirian Penunggun Karang

  • 11

    Om Swastiastu

    Titiang I Gede Budiarta, mau bertanya: apakah penunggun karang boleh ditempatkan di lantai 2 rumah titiang.

    Suksma,
    Om shanti shanti shanti om

  • 12
    i made says:

    Om Swastiastu,
    Tityang mau bertanya, apakah penunggun karang boleh menggunakan pelangkiran yang ditempatkan didekat gerbang rumah?

    Mohon pencerahannya.
    Suksema.

  • 13
    i made says:

    Om Swastiastu,
    Tityang mau bertanya, apakah penunggun karang boleh menggunakan pelangkiran yang ditempatkan didekat gerbang rumah?

    Mohon pencerahannya.
    Suksema.

  • 14

    Kalau sifatnya darurat (sementara) boleh, limitnya 6 bulan saja. Agar diganti dg yang permanen

  • 15
    i made says:

    Om Swastyastu,,
    nggih matur suksema atas pencerahannya.
    Om Santih3x Om..

  • 16
    nyoman widnyana says:

    om Swastiastu
    Sedurungne tityang nunas ampura riantukan ketambetan tityang ring atur basa.
    Ring perantauan tityang medue genah karang wantah 1 are, ring kaja kangin wantah mesisa kirang langkung malih 2 meter persegi kemanten

    Sane jagi takenang tityang, palinggih napi sepatutnyane kewangun?
    Napi persyaratane?

    Tityang nunas wejangan
    Matur suksma

    • 16.1

      Om Swastyastu,

      Kira-kira cukup untuk membangun sebuah Padmasana saja, namun perlu diperhatikan agar air cucuran atap bila hujan tidak menimpa bangunan itu. Prosedur tata cara/upakara membangun Padmasari/Padmasana, lihat di Web ini artikel tt Padmasana.

      Om Santih, santih, santih, Om

  • 17
    Gung Budhi says:

    Om Swastiastu,

    Titiang mau bertanya mengenai penempatan penunggun karang apakah letaknya di depan rumah (msh dlm pekarangan rumah) atau bisa dibelakang rumah ? posisi rumah titiang yg akan dibangun menghadap selatan, mohon penjelasannya….Matur Suksma

Leave a Reply

  

  

  

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Subscribe without commenting