Penggalian Dana

QUESTION:

1. Apakah dibenarkan dalam penggalian dana untuk biaya pembangunan tempat suci atau untuk biaya piodalan dengan melaksanakan judi seperti tajen dan sejenisnya.

2. Titiang mohon sesontengan-sesontengan agar mudah diucapkan, dapat dimengerti serta tepat pada tujuan:

  1. Pada waktu meseh lawang
  2. Pada waktu mapepegat dengan benang tridatu
  3. Pada waktu pelaksanaan maperas

3. Pada upacara ngaben ada banten “Tetukon”; apa fungsi dan falsafahnya.

ANSWER:

1. Judi dalam bentuk dan untuk tujuan/ alasan apapun ada di luar jalan Dharma, karena dalam arena judi banyak kemungkinan terjadi pelanggaran prinsip-prinsip Trikaya Parisuda; misalnya bila kalah, mereka akan iri kepada yang menang (adengkiya ri drwianing len); bila menang membuat orang lain menderita (himsa).

Oleh karena itu jauhkanlah judi bahkan dari angan-angan. Cara mencari dana di jalan Dharma masih banyak  Sering terjadi di masyarakat bahwa judi menjadi suatu pembenaran dalam penyelenggaraan yadnya; misalnya “tabuh rah” akhirnya menjadi arena judi sabungan ayam; ini sudah menyimpang dari ke-Dharmaan.

2. Sasontengan

2.1 Upacara Meseh lawang melalui beberapa tahapan, dan yang dapat diucapkan dengan sesontengan adalah tahapan-tahapan: penganteb caru, penganteb beakala, dan penganteb bebangkit.

Yang tidak dapat diucapkan dengan sesontengan adalah tahapan-tahapan: mereresik, mlaspas banten, penganteb ke Surya, pamuktian Dewa, ngarga tirta caru, narpana ke sawa, pamuktian Bhuta, ngaksama Jagatnata, dan nganteb peras.

Tahapan yang dapat diucapkan dengan sesontengan adalah tahapan yang dapat diselenggarakan oleh Pamangku; tahapan yang tidak dapat diucapkan dengan sesontengan adalah tahapan yang diselenggarakan oleh Pandita, karena sesana Pandita adalah amuja dengan mantram.

2.2. Sasontengan mapepegat:

Om kaki mandar nini mandar, kaki tutup nini tutup, kaki pisah nini pisah, pegat angen-angen sang pejah tekeng sentana sira, pegat pratali, mesat sanghyang Atma, mulih maring cintya bhuwana, nemu delana padang. Om rah pat astra ya namah swada.

2.3 Sasontengan maperas tidak ada karena tahapan maperas menyatu dengan upacara metapak dan upacara narpana yang dilaksanakan oleh Pandita.

3. Banten Tatukon adalah “niyasa” (pengganti yang sebenarnya) atau simbol kelengkapan badan manusia yaitu: arak sebagai darah, paya tanduk dua, tuung bulan, nangka, timbul, beligo, pare, botor, kacang-kacangan, temu-temuan, bija ratus, batu kesumba, sebagai jeroan badan, mentimun sebagai kaki, dan piling-piling sebagai mata.

1 comment to Penggalian Dana

  • 1
    I Nyoman Somantiyasa says:

    1. Mohon Penjelasan Tentang Sesana Seorang Pemangku
    2. Apa makna/suksmaning me ajar-ajar dan ke pura mana saja semestinya kita tangkil waktu me ajar-ajar

    Suksma

Leave a Reply

  

  

  

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Subscribe without commenting