Penggunaan Kayu Sebagai Bahan Bangunan

Kayu untuk bahan bangunan di Bali dibedakan menurut kelompok kesakralan yang dikandung dalam pohon asal kayu itu.

Di Lontar Bhuwana Kosa dan Lontar Wrhaspati Tattwa dinyatakan bahwa Ida Sanghyang Widhi yang bermanifestasi sebagai Bhatara Brahma menciptakan isi bumi melalui tahapan proses sebagai berikut: Setelah air laut disurutkan melalui pembentukan es di kutub utara dan di kutub selatan, maka muncullah daratan.

Di atas daratan diciptakanlah pertama kali, pohon dan tumbuh-tumbuhan; setelah itu menyusul binatang pemahan tumbuh-tumbuhan; kemudian binatang pemakan binatang, dan terakhir, manusia.

Pohon-pohonan yang diciptakan-Nya berurutan dengan nama gelar:

  1. Pohon Prabu, misalnya: cendana (santalum album), wangkal (albizia procera), majagau (dysoxylum caulostachyum), dan nangka (artocarpus heterophyllus)
  2. Pohon Patih, misalnya: menengen (exoecaria agallocha), kutat (planchonia valida), dan jati (tectona grandis)
  3. Pohon Arya, misalnya: cempaka (michelia champaca), belalu (albizia chinensis), dan sentul (sandoricum koetjapi)
  4. Pohon Demung, misalnya: bentenu (melochia arborea), dan teep (artocarpus altilis)
  5. Pohon Tumenggung, misalnya: suren (toona sureni), dan bayur (ptrospermum javanicum)

Agar bangunan mempunyai kekuatan magic yang didasari kesucian sehingga penghuni atau pengguna bangunan mendapatkan kebahagian, ketentraman, kenyamanan, dan keselamatan, maka penggunaan kayu yang berasal dari pohon-pohon tersebut di atas diatur:

  1. Kayu Prabu, untuk bangunan-bangunan pelinggih-pelinggih di Pura dan Sanggah Pamerajan, misalnya: meru, gedong ibu, manjangan saluwang, bale pepelik, dll
  2. Kayu Patih, untuk bangunan-bangunan pendukung di Pura, seperti: bale piasan, bale pameosan, bale gong, gedong simpen, dll
  3. Kayu Arya, untuk bangunan-bangunan sakral di pekarangan rumah tinggal, misalnya: bale gede saka roras, sekepat saka sanga, dan bale petandingan
  4. Kayu Demung, untuk bangunan rumah tinggal, misalnya bale daja, bale dangin, bale dauh, dll
  5. Kayu Tumenggung, untuk bangunan kamar mandi, wc, dapur, dll

Penggunaan jenis kelas kayu yang tepat sesuai dengan tujuan penggunaan bangunan, disertai pula dengan upacara dan upakara pemelaspas yang tepat sangat disarankan.

Namun ketentuan-ketentuan di atas, khususnya untuk bangunan perumahan hanyalah sesuai bila rumah dibangun dengan style Bali yang khas. Untuk bangunan tidak menggunakan style Bali, ketentuan tentang pemilihan jenis kayu di atas tidak mengikat.

5 comments to Penggunaan Kayu Sebagai Bahan Bangunan

  • 1
    wayan wage says:

    Saya mau bertanya kayu apa cocok untuk bangunan bale dangin.apakah perlu melakukan upacar sebelum membuat bale dangin?

    • 1.1

      Om Swastyastu,

      1. Gunakan kayu Arya, lihat no. 3 pada artikel
      2. Ada upacara :
      a. mulang dasar
      b. memakuh ketika memasang lait, ngunggahang purus, memasang atap.
      c. melaspas, maurip-urip, mepasupati.

      Om Santih, santih, santih, Om

  • 2
    made says:

    saya mau bertanya apa kayu bayur bisa dipakai untuk membuat rumah tinggal ? mohon jawabannya dikirim ke email, terima kasih

  • 3
    I Made Suwartika says:

    Om Swastyastu

    Tiang Bertanya, saat ini di Bali khususnya di Desa-desa sudah banyak Kayu diganti dengan Besi, bagaimana menurut ida pandita ???

    i made suwartika

    • 3.1

      Om Swastyastu,

      Namanya “umah jejawaan” artinya rumah yang dibangun tidak mengikuti tata-titi yang diatur dalam lontar-lontar terkait. Dalam hal ini “jawa’ = jaba = luar, artinya diluar agama Hindu-Bali. Jadi tidak mempunyai nilai sakral.

      Om Santih, santih, santih, Om

Leave a Reply

  

  

  

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Subscribe without commenting